NovelToon NovelToon
L.S. Underworld

L.S. Underworld

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Bad Boy / Mafia
Popularitas:295
Nilai: 5
Nama Author: ANDIKA,312

Andika pria miskin asal Makassar yg mencoba mengadu nasib di negara Amerika,tepatnya di los Santos,dia berharap menjadi kaya raya dan dapat hidup dengan layak setelah merantau di sana,akan tetapi dia justru terjerumus ke dalam dunia gelap los Santos

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANDIKA,312, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 2

Keesokan malamnya, tepat pukul sembilan malam, Andika langsung melepas celemek restoran, melemparkan kain pel ke sudut ruangan, dan melangkah keluar dari Little Seoul tanpa menoleh lagi. Berbekal alamat di kartu nama lusuh, ia berjalan cepat menuju sebuah bengkel tua di sudut Strawberry.

Suara dentuman musik hip-hop berat menggema dari dalam bengkel yang remang-remang. Di sana, Lamar sedang berdiri bersandar pada kap mobil sport berwarna hijau menyala sambil mengunyah permen karet.

"Tepat waktu, homie! Saya suka gaya kau," panggil Lamar begitu melihat kehadiran Andika. "Lihat mobil di belakang saya ini? Tugas pertamamu sederhana, tapi butuh mental baja."

Lamar menunjuk sebuah mobil sedan hitam berkaca gelap yang terparkir di pojok garasi. "Di dalam bagasi mobil itu ada tiga koper 'paket khusus'. Tugasmu cuma mengemudikan mobil itu dan mengantarkannya ke seorang pembeli di dermaga Del Perro Pier. Kalau berhasil, Rp20.000.000 tunai langsung masuk ke kantongmu malam ini juga."

Mendengar nominal Rp20.000.000, jantung Andika berdegup kencang. Itu jumlah uang yang tidak pernah ia bayangkan bisa didapatkan hanya dalam waktu satu jam selama bekerja di restoran.

"Tapi ingat," peringat Lamar, raut wajahnya mendadak serius. "Jangan pernah buka bagasi itu, dan kalau ada sirine polisi meraung di belakangmu... jangan sekali-kali berhenti. Tekan gas sekuat tenaga."

Andika menerima kunci mobil yang dilempar Lamar. Tangan Andika sempat gemetar sebentar, namun ia segera menggenggam kunci itu erat-erat. Ia masuk ke dalam kabin sedan hitam yang berbau kulit mahal dan minyak mesin, menyalakan mesinnya yang meraung halus, lalu perlahan melaju membelah kegelapan jalanan Los Santos.

Perjalanan awal terasa mulus. Namun, begitu mendekati kawasan pesisir menuju Del Perro, lampu sirine merah-biru mendadak menyala di kaca spion Andika, diiringi suara klakson nyaring mobil patroli LSPD (Los Santos Police Department).

“Mobil sedan hitam, segera tepi kendaraan Anda!” gema suara polisi dari megapon.

Darah Andika mendidih. Keringat dingin mulai membasahi dahi dan telapak tangannya. Bayangan kembali ke kamar kos sempit di Davis dan harus mencuci piring seumur hidup terlintas sekilas di pikirannya.

"Tidak... saya tidak akan menyerah di sini!" gumam Andika keras-keras dalam bahasa Indonesia.

Dengan nekat, Andika menginjak pedal gas dalam-dalam. Sedan hitam itu melesat cepat, meliuk-liuk di antara padatnya lalu lintas malam Los Santos, meninggalkan raungan sirine polisi yang berjuang mengejarnya dari belakang. Perjalanan berbahaya Andika untuk menjemput kekayaan di kota ini baru saja dimulai.

Raungan mesin V8 sedan hitam itu melengking tinggi saat Andika memindahkan gigi secara agresif. Sirine polisi LSPD meraung-raung di belakangnya, kini bertambah menjadi tiga mobil patroli yang mengejar dengan kecepatan penuh.

"Ancuk! Baru juga hari pertama sudah begini!" umpat Andika penuh adrenalin, tangannya cengkeram erat pada kemudi.

Satu mobil polisi mencoba melakukan manuver PIT, menyenggol bumper belakang kanan sedannya hingga mobil Andika sempat hilang kendali dan melintir 90 derajat. Ban mencicit keras, membakar aspal dan menyemburkan asap tebal di tengah jalan raya Del Perro. Dengan refleks cepat—berbekal pengalamannya meliuk-liuk di jalanan padat—Andika membanting setir ke kiri, menginjak rem tangan sekejap, lalu menancap gas kembali hingga mobilnya berputar penuh dan melesat masuk ke gang sempit di antara dua gedung tinggi.

Brak! Spion kirinya hancur menghantam tempat sampah besi, tapi Andika tidak peduli. Mobil patroli di belakangnya terlalu lebar dan malah tersangkut menghantam tembok gang.

"Satu lepas!" teriak Andika.

Namun, drama belum berakhir. Begitu keluar dari gang dan menembus jalan utama menuju dermaga Del Perro Pier, helikopter LSPD muncul dari balik cakrawala malam, mengarahkan lampu sorot raksasa tepat ke atas roof mobilnya. Suara baling-baling memekakkan telinga.

"Pengemudi sedan hitam, matikan mesin atau kami mengambil tindakan tegas!"

Jalanan di depan, persis di pintu masuk dermaga, sudah dibarikade oleh dua mobil polisi yang melintang dengan petugas bersenjata siap menembak. Jarak tinggal dua ratus meter. Jika berhenti, ia dipastikan membusuk di penjara Los Santos dan mimpinya jadi kaya raya sirna seketika.

"Prinsipnya orang Makassar... pantang surut sebelum terkembang!" pekik Andika.

Bukannya mengerem, Andika justru menginjak pedal gas sejadi-jadinya. Ia tidak mengarahkan mobil ke barikade jalan, melainkan membanting setir ke kanan, menaiki trotoar, dan memanfaatkan papan kayu konstruksi yang miring sebagai tolakan.

Wush! Sedan hitam itu terbang melintasi barikade polisi, melayang beberapa meter di udara sebelum mendarat keras di atas papan kayu dermaga Del Perro dengan benturan hebat yang memercikkan bunga api!

Dua mobil patroli yang mengejar di bawah tidak sempat berhenti dan menghantam barikade mereka sendiri. Di atas dermaga yang sepi dan remang, Andika terus memacu mobilnya menuju ujung kontainer, meloloskan diri dari jangkauan lampu sorot helikopter yang terhalang konstruksi atap dermaga.

Ia berhenti tepat di balik tumpukan kontainer tua. Suasana mendadak hening, hanya tersisa deru napas Andika yang terengah-engah dan suara desis mesin mobil yang panas.

Dari balik kegelapan, dua pria berbadan tegap dengan pakaian serba hitam melangkah keluar. Salah satunya mendekati kaca jendela Andika dan mengetuknya pelan.

"Kerja bagus, Anak Muda. Lamar tidak bohong soal mentalmu," kata pria itu dengan suara berat. Ia melemparkan sebuah tas koper kecil melalui jendela yang terbuka.

Andika membuka resleting tas itu. Di dalamnya tertumpuk rapi ikatan uang tunai kertas merah.

"Total Rp50.000.000. Lamar bilang bagianmu Rp20.000.000, tapi karena aksi manuver gila di atas barikade tadi, bos kami kasih bonus Rp10.000.000 lagi," lanjutnya sambil tersenyum tipis.

Menggenggam Rp30.000.000 tunai di tangannya malam itu, rasa lelah dan gemetar di tubuh Andika seketika menguap. Untuk pertama kalinya di Los Santos, ia merasakan sensasi manis dari risiko besar yang terbayar tuntas.

Dengan koper berisi uang tunai Rp30.000.000 di pangkuannya, Andika menyandarkan kepala ke sandaran jok mobil. Jantungnya masih berdegup kencang, tapi senyum puas terukir lebar di wajahnya. Hanya dalam satu malam, ia berhasil mengantongi uang yang jauh lebih besar daripada gajinya selama berbulan-bulan membanting tulang di dapur restoran.

Ponsel murah di saku celananya bergetar hebat. Nama Lamar tertera di layar.

"Yo, Andika! Kau masih bernapas, homie?" suara Lamar terdengar setengah tertawa di seberang telepon. "Anak-anak dermaga baru saja telepon. Mereka bilang kau terbang menembus barikade LSPD seperti aksi stuntman film Vinewood!"

"Masih hidup, Lamar," jawab Andika sambil terkekeh pelan, mengusap keringat di dahi. "Uangnya sudah ada di tangan saya. Rp30.000.000 bersih."

"Bagus! Itu baru langkah awal, Brother," sahut Lamar antusias. "Malam ini kau resmi membuktikan kalau kau punya keberanian. Besok, kita tinggalkan rumah sempitmu di Davis itu. Kita mulai bisnis yang lebih besar!"

Andika menutup telepon, lalu mengemudikan sedan hitam itu kembali ke area pemukiman dengan santai, menghindari jalan-jalan protokol yang masih dijaga polisi.

Sesampainya di rumah kontrakan sempitnya di Davis, Andika tak lagi memandang ruangan itu dengan rasa keputusasaan. Ia duduk di pinggir tempat tidur yang reot, mencampakkan koper uangnya ke atas meja, lalu menghitung lembar demi lembar rupiah di tangannya.

Ekspektasinya kini bergeser. Bekerja jujur sebagai tukang cuci piring memang aman, tapi tidak akan pernah membuatnya dipandang di kota yang keras ini. Malam itu menjadi titik balik bagi Andika: ia memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya di restoran Little Seoul dan sepenuhnya masuk ke dunia bawah tanah Los Santos bersama Lamar.

Keesokan harinya, hal pertama yang dilakukan Andika adalah melunasi seluruh sisa sewa rumah kecilnya di Davis dan langsung berkemas. Dengan uang tunai di tangan, ia berpindah ke sebuah apartemen yang jauh lebih layak di daerah La Puerta—lengkap dengan pemandangan jalanan kota dan garasi pribadi.

Sore harinya, Andika berdiri di depan cermin apartemen barunya. Ia menanggalkan pakaian kusam bekas restoran dan menggantinya dengan jaket kulit hitam yang gagah, celana cargo, serta sepatu boots yang kokoh.

Saat ia sedang merapikan penampilan barunya, pintu apartemen diketuk keras. Saat dibuka, Lamar sudah berdiri di sana membawa dua pucuk pistol berkaliber besar dalam tas duffel, dengan cengiran khasnya.

"Siap-siap, Andika," ujar Lamar sambil melemparkan satu pistol ke arah Andika. "Ada geng jalanan di El Burro Heights yang mencoba menahan wilayah pengiriman kita. Hari ini, kita tunjukkan ke mereka siapa penguasa baru di jalanan ini!"

Andika menangkap pistol itu dengan mantap, memeriksanya sebentar, lalu menyisipkannya ke balik jaket kulitnya. Rasa takut yang dulu menyelimutinya kini berganti menjadi ambisi yang menyala-nyala. Petualangan sesungguhnya untuk menguasai kota Los Santos baru saja dimulai.

Lamar menepuk bahu Andika dan memutar badannya menuju pintu keluar apartemen. Saat pintu besi itu terbuka, dua orang pria sudah berdiri bersandar di balik koridor, menunggu dengan gaya santai tapi memancarkan aura ketegangan khas jalanan.

Pria pertama mengenakan kaus biru dongker dengan postur tubuh atletis dan tatapan mata yang tenang namun tajam. Pria kedua bertubuh tinggi besar, mengenakan jaket kulit berbulu dengan gaya rambut dreadlocks, serta kacamata hitam yang bertengger di hidungnya sambil menghembuskan asap tipis.

"Nah, ini dia dua orang brothers yang saya ceritakan!" seru Lamar dengan gaya hebohnya yang khas.

Lamar menunjuk pria berkaus biru. "Ini Franklin Clinton, sepupu sekaligus partner bisnis terbaik saya di jalanan Los Santos. Kalau soal mengemudikan mobil saat dikejar polisi atau membaca situasi di lapangan, tidak ada yang bisa tandingi anak ini."

Franklin melangkah maju, mengamati penampilan Andika dari atas ke bawah sebelum mengulurkan tangannya. "Yo, man. Lamar sudah cerita soal aksimu terbang menembus barikade LSPD di Del Perro Pier kemarin malam. Gila juga keberanianmu, tapi kerja bagus. Senang kenal denganmu, Andika."

Andika menyambut jabat tangan erat dari Franklin. "Senang kenal kau juga, Franklin. Di Makassar, kalau sudah di jalanan, kami tidak kenal kata mundur."

Franklin terkekeh pelan. "Suka saya dengan gaya bicaranya."

Lamar kemudian beralih merangkul pria ber-dreadlocks di sebelahnya. "Dan yang ini, kenalkan, ini Jacob Hughes. Tapi semua orang di jalanan memanggilnya Little Jacob, atau cukup L.J.. Dia baru saja terbang dari Liberty City untuk urusan 'pasokan senjata'."

L.J. mengangguk perlahan, suaranya terdengar berat dan sangat dalam dengan aksen Patois/Jamaika yang begitu kental hingga Andika harus memasang telinga baik-baik untuk memahaminya.

"Me deh ya, brethren! Respect," ucap L.J. sambil menyodorkan salam kepalan tangan (fist bump) ke Andika. "Lamar bicarakan banyak hal tentang kau, man. Kota ini keras, tapi kalau kau punya mental, kau bisa dapatkan berapa pun rupiah yang kau mau di Los Santos. Senjata yang kau pegang itu? Pasokan langsung dari saya. Top class mechanism, tidak bakal macet saat baku tembak."

"Terima kasih, L.J. Senjata bagus begini memang yang saya butuhkan," balas Andika sambil menepuk pelan pistol di balik jaket kulitnya.

"Oke, sesi perkenalannya selesai!" potong Lamar sambil menepuk kedua tangannya keras-keras. "Di bawah sudah ada empat pintu SUV hitam yang disiapkan L.J. Target kita hari ini: El Burro Heights. Orang-orang geng di sana menahan pasokan barang senilai Rp500.000.000 milik kita, dan mereka pikir kita cuma gertak sambal."

Franklin memeriksa isi magazin pistolnya, lalu menatap Andika. "Siap buat kerjaan besar pertamamu bareng tim penuh, Andika?"

Andika menyunggingkan senyum tipis, merapikan letak jaket kulitnya, lalu melangkah paling depan menuju tangga. "Ayo. Jangan biarkan mereka simpan uang kita terlalu lama."

Keempatnya turun ke area parkir basement, tempat sebuah SUV hitam berukuran besar dengan kaca gelap penuh sudah menyala. L.J. mengambil alih kemudi, sementara Franklin duduk di kursi penumpang depan. Andika dan Lamar mengisi baris kedua, memuat beberapa tas taktis berisi magazin cadangan dan pelindung tubuh.

"Dengar semuanya," ujar Franklin sambil memutar badannya ke belakang saat SUV mulai membelah jalanan La Puerta menuju arah timur. "El Burro Heights itu wilayah perbukitan. Mereka punya posisi ketinggian dan jumlah personel yang banyak. Rencananya sederhana: L.J. dan Lamar bakal lakukan tembakan pengalih dari arah jalan utama, sementara saya dan Andika masuk lewat celah kilang minyak di bagian samping untuk ambil kembali koper isi Rp500.000.000 itu."

L.J. menghembuskan asap tipis sambil terkekeh pelan, tangannya stabil memegang kemudi. "Set di t'ing dem proper, ya know? Tembakan pengalih dari saya bakal bikin mereka berpikir seluruh LSPD yang datang menyergap."

SUV melaju cepat menanjak ke kawasan industri El Burro Heights. Bangunan-bangunan kilang minyak tua dan tumpukan pipa karat mendominasi pemandangan. Dari kejauhan, tampak sekitar sepuluh pria bersenjata sedang berkumpul di luar sebuah gudang tua, berjaga ketat.

"Sekarang!" teriak Franklin.

L.J. mendadak menginjak rem, membanting setir hingga SUV melintang di tengah jalan. Lamar langsung membuka jendela dan memuntahkan rentetan tembakan dari senapan otomatisnya!

Dada-dada-dada-dat!

Suara letusan senjata menggema hebat di area bukit. Orang-orang geng di luar gudang kaget bukan main dan langsung berhamburan mencari perlindungan, membalas tembakan ke arah SUV L.J. dan Lamar.

Memanfaatkan kekacauan itu, Andika dan Franklin melompat keluar dari pintu samping yang berseberangan. Mereka berlari cepat merunduk di balik tumpukan pipa besi raksasa, mengitari area samping gudang.

"Andika, kau lindungi sisi kiriku!" perintah Franklin singkat.

Dua anggota geng mendadak muncul dari balik pintu samping gudang sambil mengarahkan pistol. Tanpa ragu, Andika menarik pistol di balik jaket kulitnya, mengarahkan bidikan dengan tenang, dan melepaskan tembakan presisi.

Bang! Bang!

Kedua musuh roboh seketika. Franklin menoleh sebentar, memberikan acungan jempol pada refleks cepat Andika sebelum menendang pintu samping gudang hingga terbuka lebar.

Di dalam gudang yang remang, sebuah koper perak besar tergeletak di atas meja kayu, dikelilingi tiga pria bersenjata lainnya. Baku tembak jarak dekat pun tak terelakkan. Suara selongsong peluru jatuh gemerincing di atas lantai semen bersahut-sahutan dengan letusan senjata.

Andika berlindung di balik tumpukan drum oli, membalas tembakan demi tembakan bersama Franklin. Menggunakan teknik pergerakan taktis, mereka berhasil menumbangkan sisa anggota geng dalam hitungan menit.

Andika mendekati meja, menyambar koper perak itu, dan membukanya sedikit. Di dalamnya, tumpukan rapi lembaran rupiah senilai Rp500.000.000 terpampang jelas.

"Barang aman, Franklin!" seru Andika.

"Bagus! Sekarang saatnya keluar sebelum bala bantuan mereka datang!" jawab Franklin.

Keduanya berlari keluar ke jalan utama. L.J. sudah menyejajarkan SUV dengan pintu terbuka lebar, sementara Lamar masih terus memberikan tembakan penutup dari dalam mobil.

Andika dan Franklin melompat masuk, dan L.J. langsung menginjak pedal gas dalam-dalam, meninggalkan El Burro Heights yang dipenuhi asap dan raungan sirine dari kejauhan.

"Haha! Kerja luar biasa, homies!" tawa Lamar pecah di dalam mobil. "Rp500.000.000 kembali ke tangan kita!"

Franklin menepuk bahu Andika dengan senyum bangga. "Refleksmu bagus di dalam tadi, Andika. Kau bukan cuma berani di balik kemudi, tapi juga tenang di bawah tekanan."

"Bredda dis a real warrior, me tell ya," timpal L.J. dari kursi kemudi.

Sambil menyandarkan badannya ke kursi SUV yang melaju membelah malam Los Santos, Andika menggenggam koper di pangkuannya. Hari itu, ia bukan lagi sekadar perantau yang terdesak uang sewa rumah—ia telah menjadi bagian dari kru paling berbahaya dan disegani di Los Santos.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!