NovelToon NovelToon
Istri Pilihan Sang Mayor

Istri Pilihan Sang Mayor

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Ibu Tiri / Menikahi tentara
Popularitas:46.7k
Nilai: 5
Nama Author: Eli Priwanti

Latifah, seorang guru di pondok pesantren, menjalani kehidupan sederhana dengan mengabdikan dirinya untuk mendidik para santri.

Setahun lalu, seorang anak perempuan berusia lima tahun bernama Kahiyang Ayudia datang dan menetap di pesantren tersebut. Kahiyang adalah putri seorang Mayor TNI bernama Abimanyu Wicaksono yang sedang bertugas di Lebanon.

Atas perintah sang ayah, Kahiyang dititipkan kepada Neneknya agar tumbuh menjadi anak yang mandiri dan berakhlak mulia.

Seiring berjalannya waktu, Latifah semakin menyayangi Kahiyang dan menganggapnya seperti anak sendiri. Namun, kebahagiaan itu terusik ketika kedua orang tuanya berniat menjodohkannya dengan seorang duda beranak satu. Latifah tentu saja menolak karena belum siap menjadi seorang istri sekaligus ibu sambung.

Tanpa sepengetahuannya, pria yang dijodohkan dengannya ternyata adalah Abimanyu, ayah dari Kahiyang, anak yang begitu disayanginya.

Akankah Latifah menerima takdir tersebut dan membuka hatinya untuk sang Mayor?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sidang pernikahan

Beberapa hari setelah pertemuan keluarga di Lembang, Mayor Abimanyu Wicaksono mulai mengurus berbagai persyaratan pernikahannya dengan Latifah. Sebagai seorang prajurit TNI AD, Bima memahami bahwa pernikahan mereka bukan hanya membutuhkan persiapan keluarga, tetapi juga harus melalui prosedur kedinasan yang berlaku.

Pagi itu, Bima datang bersama Latifah ke markas tempat proses administrasi dan pemeriksaan persyaratan pernikahan dilaksanakan. Latifah mengenakan gamis sederhana berwarna lembut dengan hijab yang rapi, sementara Bima tampil dengan seragam dinasnya.

“Bagaimana, Bu Latifah? Sudah siap?” tanya Bima ketika mereka berjalan menuju ruangan yang telah ditentukan.

Latifah mengangguk, meski ada sedikit kegugupan di wajahnya.

“Insyaallah siap, Pak. Hanya saja, saya masih merasa gugup karena belum pernah menjalani proses seperti ini.”

Bima tersenyum tipis. “Tidak perlu terlalu tegang. Jawab saja setiap pertanyaan dengan jujur. Saya akan mendampingi Anda selama prosesnya.”

“Baik, Pak Mayor.”

Mendengar panggilan itu, Bima meliriknya sekilas.

“Kalau sedang di luar kedinasan, Anda tidak harus selalu memanggil saya dengan sebutan itu.”

Latifah tersipu kecil. “Maaf, Pak. Saya masih belum terbiasa.”

“Tidak apa-apa. Nanti juga terbiasa,” jawab Bima, membuat Latifah tersenyum canggung.

Tak lama kemudian, keduanya dipersilakan memasuki ruangan untuk menjalani pemeriksaan berkas dan sesi tanya jawab sesuai prosedur yang berlaku.

Di dalam ruangan, seorang perwira yang bertugas memimpin pemeriksaan membuka dokumen mereka.

“Mayor Abimanyu Wicaksono, benar bahwa Saudara bermaksud melangsungkan pernikahan dengan Saudari Latifah Azalea?”

“Benar, Komandan,” jawab Bima tegas.

“Apakah keputusan ini sudah dipertimbangkan dengan matang? Mengingat Saudara merupakan prajurit aktif yang memiliki tanggung jawab kedinasan dan kemungkinan penugasan sewaktu-waktu.”

“Sudah, Komandan. Saya memahami konsekuensi tugas saya sebagai prajurit. Saya juga telah membicarakan hal ini dengan calon istri saya, termasuk tanggung jawab dan kehidupan keluarga yang akan kami jalani.”

Perwira itu kemudian mengalihkan pandangannya kepada Latifah.

“Saudari Latifah, apakah Saudari memahami bahwa menjadi istri seorang prajurit berarti harus siap menghadapi situasi ketika suami menjalankan tugas di luar rumah, bahkan dalam waktu yang tidak selalu dapat dipastikan?”

Latifah menarik napasnya perlahan sebelum menjawab.

“Insyaallah, saya memahami hal tersebut. Saya tahu bahwa tugas seorang prajurit tidak selalu mudah. Saya akan berusaha mendukung suami saya selama menjalankan tanggung jawabnya, tanpa melupakan kewajiban kami sebagai pasangan suami istri.”

“Apakah Saudari menerima pernikahan ini atas kemauan sendiri, tanpa paksaan dari pihak mana pun?”

“Benar, Komandan. Saya menerima perjodohan ini atas keputusan saya sendiri setelah mempertimbangkannya dengan keluarga dan berdoa memohon petunjuk kepada Allah.”

Bima menoleh sekilas kepada Latifah. Ada rasa lega yang muncul dalam hatinya ketika mendengar jawaban perempuan itu.

Pemeriksaan berlanjut dengan pertanyaan mengenai latar belakang keluarga, kesiapan membangun rumah tangga, serta pemahaman mereka terhadap tanggung jawab masing-masing. Setelah seluruh pertanyaan selesai, petugas kembali memeriksa kelengkapan dokumen yang telah diserahkan.

“Baik, Mayor. Berkas Saudara dan calon istri akan diproses sesuai ketentuan yang berlaku. Untuk tahapan selanjutnya, Saudara akan menerima informasi melalui bagian yang menangani administrasi pernikahan.”

Bima mengangguk hormat. “Siap, Komandan. Terima kasih.”

Latifah turut mengucapkan terima kasih sebelum keduanya meninggalkan ruangan.

Di luar gedung, Latifah menghembuskan napas panjang. Baru kali ini ia menyadari betapa banyak hal yang harus dipersiapkan sebelum menjadi istri seorang prajurit.

“Alhamdulillah, akhirnya selesai juga, Pak,” ucapnya lega.

Bima menatapnya dengan senyum tipis.

“Setidaknya, satu tahapan sudah kita lalui. Masih ada beberapa hal yang perlu diselesaikan sesuai prosedur, tetapi kita jalani satu per satu.”

Latifah mengangguk. “Ternyata menjadi istri seorang Mayor bukan perkara sederhana.”

“Menjadi istri seorang prajurit bukan tentang pangkat saya, Bu Latifah,” jawab Bima serius. “Pangkat hanya bagian dari pekerjaan. Yang lebih penting adalah bagaimana kita saling menghormati, menjaga kepercayaan, dan menjalani rumah tangga dengan baik.”

Latifah terdiam sejenak, lalu tersenyum.

“Saya akan mengingatnya, Pak.”

Bima membukakan pintu mobil untuk Latifah. Sebelum masuk, perempuan itu menatapnya dan memberanikan diri bertanya.

“Pak Bima, apakah Bapak benar-benar yakin ingin menikahi saya? Kita bahkan belum lama saling mengenal.”

Bima terdiam sesaat. Ia tidak ingin memberikan janji manis yang belum mampu ia tepati.

“Saya memang belum bisa mengatakan bahwa saya mencintai Anda, Bu Latifah. Namun, saya yakin ingin mencoba membangun kehidupan bersama Anda. Saya ingin mengenal Anda lebih jauh dan memberikan kesempatan bagi pernikahan ini untuk tumbuh dengan baik.”

Latifah menunduk, menyembunyikan senyum kecil di wajahnya.

“Kalau begitu, mari kita sama-sama belajar, Pak.”

Bima mengangguk. “Kita sama-sama belajar.”

Mobil pun mulai meninggalkan area markas. Proses sidang pernikahan telah mereka lalui, sementara tahapan berikutnya masih menunggu sesuai ketentuan yang berlaku.

Bagi Bima dan Latifah, hari itu bukan sekadar tentang berkas dan persetujuan kedinasan. Hari itu menjadi langkah nyata menuju kehidupan baru, kehidupan yang akan mereka bangun perlahan, dengan kesabaran, tanggung jawab, dan harapan agar Allah meridhoi ikatan yang sebentar lagi akan mereka jalani.

*

*

Sepulang dari markas, Bima mengantar Latifah kembali ke kediaman orang tuanya. Sepanjang perjalanan, suasana di dalam mobil terasa tenang. Latifah sesekali memandang ke luar jendela, sementara Bima fokus menyetir.

“Bu Latifah,” panggil Bima setelah beberapa saat.

“Iya, Pak?”

“Setelah tahapan administrasi ini selesai, kita perlu membicarakan persiapan pernikahan dengan keluarga. Saya tidak ingin semuanya hanya diatur oleh orang tua kita tanpa mempertimbangkan keinginan Anda.”

Latifah menoleh. “Saya setuju, Pak. Saya juga ingin pernikahan ini dipersiapkan dengan baik. Namun, saya tidak menginginkan pesta yang terlalu mewah.”

“Saya pun berpikir demikian. Yang terpenting, akad nikah berjalan lancar dan sesuai ketentuan.”

Latifah tersenyum kecil. “Kalau boleh tahu, Bapak ingin menikah kapan?”

Bima sempat terdiam. “Kalau seluruh persyaratan sudah terpenuhi dan keluarga sepakat, saya berharap tidak terlalu lama. Tetapi, saya ingin memastikan Anda benar-benar siap.”

“Saya siap, Pak. Insyaallah.”

Bima mengangguk, lalu kembali memusatkan perhatian pada jalan. Entah mengapa, jawaban sederhana itu membuat hatinya terasa lebih tenang.

Sesampainya di rumah Latifah, Ustaz Umar dan Umi Aisyah menyambut kedatangan mereka. Setelah mempersilakan Bima duduk, Ustaz Umar mulai menanyakan proses yang telah mereka jalani.

“Bagaimana, Bima? Apakah semuanya berjalan lancar?”

“Alhamdulillah, Abi. Pemeriksaan dan sesi tanya jawab sudah kami lalui. Sekarang tinggal menunggu proses selanjutnya sesuai ketentuan kedinasan.”

Ustaz Umar mengangguk lega. “Syukurlah. Semoga semua urusan kalian dimudahkan.”

“Aamiin,” jawab Bima dan Latifah hampir bersamaan.

Umi Aisyah kemudian tersenyum kepada putrinya. “Lalu, bagaimana persiapan pernikahannya? Apa kalian sudah membicarakan tanggal?”

Latifah melirik Bima sebelum menjawab, “Kami sepakat membicarakannya bersama keluarga, Umi. Kami ingin memastikan semua persyaratan selesai terlebih dahulu.”

“Bagus. Jangan sampai persiapan membuat kalian terburu-buru,” ujar Umi Aisyah.

Bima mengangguk sopan. “Saya juga ingin meminta restu Abi dan Umi. Saya memang belum bisa menjanjikan rumah tangga yang sempurna, tetapi saya akan berusaha menjadi suami yang bertanggung jawab bagi Latifah.”

Ustaz Umar menatap Bima dengan penuh kesungguhan.

“Abi tidak meminta kamu menjadi manusia sempurna, Bima. Cukup jadilah suami yang jujur, menghargai istri, dan tidak melupakan Allah dalam keadaan apa pun.”

“Insyaallah, Abi. Saya akan mengingat nasihat itu.”

Di sudut ruangan, Latifah mendengarkan percakapan mereka dengan hati yang perlahan menghangat. Ia tahu jalan yang dipilihnya bukanlah jalan yang mudah. Masih ada banyak hal tentang Bima yang belum ia ketahui, begitu pula sebaliknya.

Namun, untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa pernikahan ini tidak hanya menjadi keinginan kedua keluarga. Bima pun mulai menunjukkan kesungguhannya.

Malam harinya, ketika Bima telah kembali ke Jakarta, ponsel Latifah bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang kini mulai dikenalnya.

Bima: Sudah beristirahat, Bu Latifah?

Latifah: Belum, Pak. Baru selesai membantu Umi di dapur.

Bima: Jangan tidur terlalu larut. Besok Anda masih punya kegiatan mengajar di pesantren, bukan?

Latifah tersenyum membaca pesan itu.

Latifah: Iya, Pak. Bapak juga jangan lupa beristirahat setelah bekerja.

Beberapa saat kemudian, sebuah pesan baru muncul.

Bima: Terima kasih sudah bersedia berjalan bersama saya dalam proses ini. Semoga kita bisa saling mengenal dengan baik sebelum hari pernikahan tiba.

Latifah membaca pesan itu berulang kali. Ia lalu mengetik balasan singkat.

Latifah: Aamiin. Semoga Allah membimbing langkah kita, Pak Bima.

Setelah mengirim pesan tersebut, Latifah meletakkan ponselnya dan menatap langit malam dari jendela kamar.

Di tempat lain, Bima juga memandangi layar ponselnya sebelum tersenyum tipis.

Belum ada cinta yang tumbuh di antara mereka. Namun, di tengah segala keraguan dan masa lalu yang belum sepenuhnya mereka tinggalkan, keduanya mulai belajar membuka pintu hati sedikit demi sedikit, tanpa paksaan, dengan harapan bahwa kelak mereka benar-benar bisa menjadi pasangan yang saling menguatkan.

Bersambung...

1
Dua Putri
malam pertama penasaran pasti seru y kk p
Nar Sih
wah...grgr luka kena pisau cukur eh...malah dpt ciuman ☺️
Ayu FazRina Satiasari
baca nya jd ikut senyum senyuumm eee....😍😍😍😍gemeezz dech Mayor Bima kalo bucinn😍😍😅🤭🤣
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Applaud//Applaud//Applaud/
total 1 replies
Teh Euis Tea
cieeee sosor trs pak mayor gpp berdarah jg palingan jeding dikit 🤣🤭
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: jeding kaya bebek 🤣🤣🤣
total 1 replies
Teh Euis Tea
cieeeee udah mulai ada rasa rasa, kaning ganggu aj km mah baru nyentuh ujungnya jga jd deh 🤭🤭🤭🤭🤭
Teh Euis Tea
ustad firman aku tolak ta'arufnya abisnya km jd pebinor aku balik lg ke Rafatar aj 🤭🤭🤭🤭🤭
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: sentil kak Monggo aku ikhlas 🤣🤣🤣
total 3 replies
Atik Kiswati
udah mulai cinta ruh....😍
Sastri Dalila
🤣🤣
Nar Sih
latifah...itu tanda nya benih,,cinta sdh muncul dan bntr lgi bermekaran ☺️🥰🥰
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: betul kak 🤣
total 1 replies
sri hastuti
sdh waktunya mereka bahagia thor, jangan biarkan uztad firman jd penggangu rumah tangga mereka, kasihan latifah 🙏🙏
Sastri Dalila
🤗🤗🤗
Nar Sih
belajar terima keadaan ustaz,latifah sdh berkeluarga semoga segra kmu temukan ganti nya
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: siip kk ☺️
total 1 replies
Dua Putri
bguss sekali... gk sabar lihat mayor Bima bucin
Atik Kiswati
ketidak sengajaan yg membuat org perpikiran buruk.....
Teh Euis Tea
nyari penyakit km mah ustad ingat woyy lathifah istri orang suaminya mayor loh ustad
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
Teh Euis Tea
wahhh ustad firman jgn gitu ntar ketauan pak mayor jd kelar hidupmu ustad
Teh Euis Tea: ho'oh kak🤭
total 2 replies
Teh Euis Tea
ustad firman udah jgn mikirin trs lathifah Kitakan lagi ta'aruf 🤭🤭🤭🤭🤭
Teh Euis Tea: 🤭🤭🤭🤭🤭
total 2 replies
Nar Sih
kejujuran dlm rmh tangga emang harus dijga ,seperti bima dan latifah ,grgr ustaz firman jdi gosip deh buat latifah ,
Nar Sih
ustaz firman kasih perhatian buat latifah ,hati,,ifah semoga kmu gk tergoda lgi
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: siip kk
total 1 replies
Teh Euis Tea
senyum senyum ngebayangin semalam, lumayanlah ada kemajuan 🤭
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: iya dong, harus ada kemajuan kak 🤣🤣🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!