Setelah menikah dengan Silas Crane, Nara Aeris mulai merasakan kebosanan. Hidupnya hanya dipenuhi dengan berbaring, makan, dan menghabiskan uang suaminya.
Tapi ternyata itu cuman bertahan beberapa hari.
Sejak sebuah sistem informasi harian yang bernama Lyra, tiba-tiba muncul di atas kepalanya dan memberikan satu informasi setiap hari. Hidupnya tidak jadi membosankan!
Hari-hari dipenuhi gosip menyenangkan.
【 Ketua Cabang Grup Ardent diam-diam memindahkan tiga puluh miliar sebelum menandatangani surat perceraian. 】
【 Pewaris keluarga Rothwell menikahi sekretarisnya secara diam-diam. 】
Mata Nara berbinar.
"Bukankah gosip seperti ini terlalu menyenangkan?"
Karena Nara Aeris suka berbagi, ia akan selalu melakukan siaran langsung untuk berbagi kepada para penggemarnya. Tentu saja! Gosip bagus harus dibagikan.
Internet mulai macet akibat tingkah laku Nara, dan dia dijuluki Ratu Gosip.
Let's Start The Story!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ly-Ra?, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29. Neraka Di Balik Gerbang Akademi 2
Suara sepatu Dedi masih terdengar mondar-mandir di lorong, ketika Nathan berdiri menghadap dinding.
Anak laki-laki itu berusaha menjaga kedua kakinya tetap lurus. Namun, lututnya terus bergetar. Betisnya terasa panas akibat pukulan rotan sebelumnya, sementara telapak kakinya nyaris tidak sanggup lagi menopang tubuhnya.
Di belakangnya, beberapa anak lain juga berdiri dalam posisi yang sama. Tidak ada yang berani bergerak. Bahkan ketika Dimas terdengar menahan batuk, tidak seorangpun berani menoleh.
Jam dinding menunjukkan pukul 21:47.
Seharusnya mereka sudah berada di kamar. Seharusnya mereka bisa beristirahat setelah menjalani kegiatan sejak pagi. Namun, di Akademi Pembinaan Digital Bina Insan, waktu istirahat bisa dicabut kapan saja. Tidak ada yang tahu kapan hukuman berakhir, sebab para pembina selalu punya alasan untuk memperpanjangnya.
"Masih ada yang mau membantah?" tanya Dedi.
Tidak ada jawaban.
Dedi berjalan di belakang mereka. Sesekali ujung rotannya mengetuk lantai, menghasilkan bunyi kecil yang membuat bahu anak-anak itu menegang.
"Bagus. Berarti kalian mulai mengerti."
Nathan menundukkan kepala, dia ingin sekali duduk. Bahkan hanya untuk beberapa menit. Namun, perkataan Arman sebelumnya masih terngiang di telinganya.
Orangtuamu mengirim kamu ke sini supaya tidak merepotkan mereka lagi.
Kalimat itu terus berputar di kepalanya.
Apa benar begitu?
Apakah Mama dan Papa merasa dirinya merepotkan?
Nathan berusaha mengingat percakapan terakhirnya dengan sang ibu, sebelum dikirim ke akademi. Saat itu, ibunya hanya meminta dia mengurangi waktu bermain gim, dan lebih memperhatikan sekolah. Nathan tampak kesal, bahkan membanting pintu kamar karena tidak terima ponselnya dibatasi.
Namun, dia tidak pernah menyangka akan berakhir di tempat seperti ini.
Dia ingin meminta maaf. Dia ingin mengatakan bahwa dirinya tidak akan bermain gim berlebihan lagi. Bahkan, kalau perlu, dia bersedia tidak menyentuh komputer atau ponsel selama berbulan-bulan.
Asalkan bisa pulang.
Asalkan bisa bertemu Mama dan Papa.
"Hei, kamu!"
Suara Dedi membuat Nathan tersentak.
"Siapa yang mengizinkan kamu menggerakkan kaki?"
Nathan buru-buru kembali berdiri tegak. "Maaf, Pak."
Dedi mendekat, kemudian mengangkat rotan yang dipegangnya. "Kalau masih bisa minta maaf, berarti masih punya tenaga."
Nathan memejamkan mata, ketika rotan menghantam bagian belakang betisnya.
Rasa sakitnya menjalar sampai ke lutut. Tubuhnya hampir terhuyung, tetapi dia memaksakan diri agar tidak jatuh.
"Jangan pura-pura lemah."
Nathan mengigit bibir, dia tidak berani menjawab.
Di ujung lorong, pintu ruang administrasi terbuka. Rudi keluar sambil membawa sebuah buku catatan . Dia sempat memperhatikan anak-anak yang sedang dihukum, sebelum berjalan menghampiri Dedi.
"Pak Dedi, Pak Surya mencari Anda."
Dedi mendecakkan lidah. "Sekarang?"
"Iya. Katanya ada urusan dengan anak perempuan."
Tatapan Dedi langsung berubah, dia menyerahkan rotan kepada Arman yang sejak tadi berdiri di depan pintu.
"Awasi mereka. Jangan ada yang bergerak sebelum aku kembali."
Arman mengangguk.
Dedi kemudian mengikuti Rudi menuju ruang administrasi. Pintu di belakang mereka tertutup, menyisakan suara langkah kaki yang semakin menjauh.
Namun, anak-anak itu tetap tidak berani bergerak.
Mereka sudah belajar, bahwa tidak adanya pembina di depan mata, bukan berarti hukuman telah selesai.
Di kamar asrama perempuan, Rani duduk di tepi ranjang dengan kedua tangan saling menggenggam.
Usianya baru lima belas tahun. Rambutnya yang biasanya dikepang dua kini terurai berantakan, sebagian menempel di pipi akibat keringat. Sejak sore, dia belum berani mengangkat wajah setiap kali mendengar langkah kaki di luar kamar.
Di ranjang sebelah, Lilis memperhatikan pintu.
"Ran," bisiknya, "kamu masih sakit?"
Rani tidak langsung menjawab, dia hanya mengangguk kecil.
Lengan kirinya terasa nyeri sejak tadi sore. Ada bekas kemerahan di dekat pergelangan tangannya, karena seseorang mencengkeramnya terlalu kuat. Namun, dia tidak berani meminta obat kepada petugas kesehatan.
Siska memang bekerja di bagian medis, tetapi Rani sudah tahu bahwa tidak semua keluhan akan ditanggapi sebagai keluhan.
Kadang-kadang, mereka justru dituduh mencari perhatian.
"Besok jangan bilang apa-apa lagi," bisik Lilis. "Aku takut mereka bakal melakukan sesuatu yang lebih buruk."
Rani menatapnya. Ada banyak hal yang ingin dia katakan, tetapi semuanya terasa tersangkut di tenggorokan.
"Aku cuma bilang aku nggak mau masuk ke ruangan itu lagi."
Lilis menunduk.
Dia tahu ruangan yang dimaksud Rani.
Ruangan kecil di belakang administrasi itu awalnya disebut ruang konseling pribadi. Anak-anak perempuan terkadang dipanggil ke sana dengan alasan pemeriksaan kesehatan, evaluasi perilaku, atau pembinaan khusus.
Namun, setiap kali seseorang keluar dari ruangan itu, wajah mereka selalu berubah.
Ada yang menangis diam-diam. Ada yang langsung masuk kamar mandi dan mencuci tangannya berkali-kali. Ada pula yang mendadak tidak mau berbicara selama berhari-hari.
Rani termasuk salah satunya.
Tiga malam lalu, dia dipanggil untuk menjalani konseling karena dianggap tidak disiplin. Di dalam ruangan itu, Dedi melontarkan komentar yang membuatnya tidak nyaman. Ketika Rani berusaha menjauh, pria itu justru menarik lengannya dan menyuruhnya duduk kembali.
Dia juga menyentuh bagian tubuh Rani tanpa izin, lalu mengatakan bahwa seorang anak perempuan harus belajar bersikap patuh kepada orang dewasa.
Rani langsung menolak.
Dia bahkan sempat berkata akan melaporkan kejadian itu kepada ibunya.
Namun, Dedi hanya tertawa.
"Memangnya siapa yang akan percaya sama kamu?"
Kalimat itu masih teringat jelas.
Dedi mengatakan bahwa laporan akademi menyebut Rani sebagai anak yang suka berbohong dan sulit diatur. Jika dia membuat tuduhan, orang-orang justru akan menganggapnya sedang mencari alasan untuk menghindari pembinaan.
Setelah itu, Rani diancam akan dipindahkan ke ruang isolasi jika mengulangi perkataannya.
Sejak malam tersebut, dia tidak pernah benar-benar merasa aman.
Ketukan keras di pintu membuat Rani dan Lilis sama-sama tersentak.
"Rani!"
Wajah Rani langsung pucat.
Lilis spontan menggenggam tangannya. "Jangan dibuka."
Ketukan terdengar lagi, kali ini disertai suara Rudi.
"Rani, keluar. Ada pemeriksaan."
Rani menatap pintu dengan napas tertahan.
"Aku sakit," jawabnya pelan.
"Kalau sakit, justru harus diperiksa."
"Aku bisa besok saja?"
Pintu mendadak terbuka dari luar.
Rudi berdiri di ambang pintu dengan wajah kesal. Dia memegang kunci cadangan yang biasa digunakan petugas asrama.
"Jangan banyak alasan. Pak Surya menunggu."
Rani tidak bergerak.
Rudi melirik Lilis yang masih memegang tangannya. "Kamu juga mau ikut dipanggil?"
Lilis segera melepaskan genggamannya.
Rani berdiri dengan kaki gemetar. Dia sempat menoleh kepada Lilis, berharap gadis itu mengatakan sesuatu atau setidaknya mengikutinya sampai lorong. Namun, Lilis hanya bisa menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
Mereka berdua tahu bahwa keberanian kecil pun bisa mendatangkan hukuman.
"Jalan," perintah Rudi.
Rani mengikuti pria itu keluar.
Rasa tidak aman, dan takut menjadi satu. Dia tidak tahu apa yang akan mereka lakukan padanya, dia sudah tidak tahan berada disini.
Mah, Rani ingin pulang.
...----------------...
tetap sehat dan semangat Thor