NovelToon NovelToon
Biar Luka Itu Kubawa Pergi, Letnan!

Biar Luka Itu Kubawa Pergi, Letnan!

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Penyesalan Suami / Menikahi tentara / Tamat
Popularitas:987.1k
Nilai: 4.8
Nama Author: Deyulia

Selama tiga tahun, Nayra mendedikasikan hidup untuk suaminya, Lettu Ardana Prajakelana. Seorang pria abdi negara yang merangkap profesi sebagai psikolog kesatuan. Semua terjadi karena perjodohan.

Namun, menjelang usia pernikahan yang ke ketiga, sebuah nama lain justru sering digaungkan Ardana. Mantan kekasihnya kembali, mengemis harap dan memohon Ardana menceraikan Nayra. Lalu apa yang akan terjadi dengan pernikahan Ardana dan Nayra setelah mantan kekasih Ardana kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deyulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3 Belahan Jiwa

     Kain hasil rajutan tangan Nayra tergantung cantik di dinding. Digantung dengan hanger yang dikaitkan ke atas paku. Ia menatapnya lama. Betapa ia mengagumi hasil karyanya sendiri. Seorang bocah perempuan tersenyum memegang sekuntum bunga dahlia kesukaan Nayra.

     "Kapan kamu hadir, Nak? Mama sudah ingin ditemani kamu, untuk menemani Mama menyulam, menulis atau sekedar mencurahkan isi hati Mama?" gumamnya bertanya pada gambar wajah bocah perempuan yang berhasil ia gambarkan dari hasil kolaborasi beberapa benang rajutannya.

     Bocah dalam kain rajutan itu seperti tersenyum, ia seakan berkata 'sabar Mama, aku sedang berjalan menuju Mama'.

     Lamunan Nayra buyar begitu saja, ia buru-buru mengucap istighfar. Nayra sadar, ia sudah terlalu jauh. Mengajaknya bicara gambar dalam rajutan itu, sudah salah. Ia seperti mulai terobsesi dan merasa jenuh harus menunggu dua garis merah itu muncul di alat tes kehamilan.

     "Ya Allah, maafkan hamba," ucapnya lirih sembari menyeka air mata yang mulai turun.

     "Kapan rahim ini ditumbuhi janin? Jangan sampai perempuan yang bernama Tiana itu merebut hati Mas Arda. Seandainya aku sudah hamil, mungkin saja Mas Arda akan berubah sikap. Aku yakin, Mas Arda akan menghangat. Sebab dia sudah beberapa kali mempertanyakan kehamilanku."

     "Kapan dong rahim kamu hamil?" ulangnya lagi mempertanyakan pertanyaan yang sama pada rahim yang saat ini diusapnya. Air mata Nayra kembali menetes. Ia tidak sanggup menahan perasaan sedih karena harus menunggu kapan ia akan hamil.

     "Ting."

     Notifikasi pesan WA berdering, Nayra segera meraih ponselnya lalu membuka aplikasi hijau itu.

     Pesan dari Nepa tertera di sana.

     "Nay, besok sore ada halal bihalal alumni Unikom, kamu datang ya. Dekat kok di kafe sebelah Aoka."

     Nayra berpikir sejenak, lalu ia mulai membalas pesan dari Nepa salah satu teman terdekatnya sejak SMP.

     "Aku nggak janji, ya, Nep. Kalau ada izin dari suami, aku pasti datang. Tapi kalau nggak, jangan ditungguin ya."

     "Ok. Ajak saja suami kamu sekalian. Banyak kok yang bawa pasangannya." Nepa membalas.

     "Baiklah, kita lihat saja besok, ya."

     Balasan terakhir itu menjadi penutup pesan WA antara Nayra dan Nepa. Nayra meletakkan ponselnya di atas meja. Nayra kembali dengan kesibukannya. Kini ia mulai menulis, menulis sebuah kisah yang persis dengan apa yang dirasakan saat ini.

     Bahkan dari hobby menulis itu, Nayra sudah berhasil menerbitkan buku. Namun hanya dicetak untuk pribadi saja, tidak untuk disebarluaskan.

     Jam di tangan sudah menunjukkan pukul 12.00 siang, Nayra bangkit. Sebelum meninggalkan ruangan yang ia beri nama Sanggar Mini, yang luasnya kurang lebih 4x4 itu, ia kembali menatap gambar di dalam kain hasil rajutannya tadi. Gambar bocah perempuan yang tersenyum padanya dengan sekuntum bunga dahlia di tangan. Tanpa sadar, tangannya kembali merayapi perut rampingnya, yang entah kapan akan ditumbuhi janin.

***

     Malam mulai merayap, jam di dinding sudah menyentuh angka sepuluh. Nayra gelisah, sebab suaminya masih belum pulang. Tidak ada pesan apa-apa dari Ardana seperti saat di hari anniversary yang ketiga. Berhubung Nayra belum bisa memejamkan mata, ia kembali keluar kamar, menuruni tangga untuk menuju ruang tamu. Di sana ia membuka gorden sedikit, mengintip siapa tahu suaminya sudah menunjukkan tanda-tanda pulang.

     Lima menit kemudian, suara deru mobil Ardana mulai terdengar. Benar saja, itu mobil Ardana. Ia menuruni mobil, lalu membuka pagar rumah, tidak lupa tangan kanannya memegang ponsel yang ia tempelkan di daun telinga kanan.

     Nayra saat itu bingung, apakah ia harus menyambutnya atau tidak? Sementara Ardana selalu membawa kunci rumah sendiri dan selalu berpesan kalau pintu cukup dikunci saja lalu kuncinya harus dicabut dari lubang kunci. Nayra mematuhi semua perintah Nayra. Dan saat ini, dia sedang bingung. Apa yang harus dia lakukan?

     Namun, ketika tubuh Ardana sudah berada di depan pintu, Nayra segera menjauh lalu buru-buru menuju kamar. Di sana ia membaringkan tubuh, pura-pura tertidur pulas. Bahkan napasnya sejenak ia atur, supaya benar-benar seperti orang tidur.

     "Krietttt...."

     Suara pintu kamar terdengar dibuka, derap langkah kaki Ardana mulai mendekat.

     Ardana berdiri menatap tubuh yang terbaring di atas ranjang. Nayra terlihat sudah tertidur pulas di sana. Sementara itu, ponsel Ardana masih menyala.

     "Gimana, tadi hasilnya sudah bagus belum?" Ardana berbicara dalam telpon.

     "Lumayan, Mas. Tapi, kenapa tadi Mas Arda tidak bisa menemui aku?" sambut suara di ujung telpon sana. Meski tidak diloudspeaker, tapi Nayra mampu mendengarnya.

     "Tiana, Mas tadi ada juga pasien di klinik Sesko. Ada calon penerbang yang mesti di cek kesiapan psikologis dan mentalnya. Besok ketemu, ya. Mumpung Mas week end," balasnya mesra.

     "Ok deh Mas, aku tunggu."

     "Baik belahan jiwa. Sampai jumpa besok." Ardana mengakhiri percakapannya di dalam telpon. Kemudian ia melangkah menuju ruang ganti untuk membuka seragamnya di sana. Seharian ini, ia sungguh lelah dengan pekerjaan, banyak siswa calon penerbang yang dievaluasi psikologis.

     Nayra yang sejak tadi hanya pura-pura tidur, menangis dalam diam ketika ia mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Ardana di telpon pada seseorang. "Belahan jiwa?". Sementara dirinya, sepertinya hanya dianggap bayangan yang numpang tinggal di rumah ini oleh Ardana.

     Sakitttt sekali, hati Nayra benar-benar sakit. Tapi, ia mencoba menahan semua. Dia tetap berpura-pura tertidur pulas.

     Lima belas menit kemudian, Ardana mulai menaiki ranjang. Ia mendekat, lalu meraih bahu Nayra. Wajahnya sedikit menunduk, mengintip wajah Nayra yang diduganya pulas. Hati Ardana tiba-tiba berdesir hebat, ketika melihat wajah Nayra terlihat sangat sedih. Ia seakan baru melihat kesedihan di wajah Nayra.

     Ardana kembali ke posisi semula, ia membaringkan tubuhnya dan berusaha memejamkan mata.

     Keesokan harinya. Sikap Nayra berusaha biasa, ia menyiapkan sarapan pagi seperti biasanya. Kebetulan hari ini Ardana juga libur akhir pekan, Sabtu dan Minggu. Nayra selalu bersemangat jika akhir pekan, melayani Ardana dengan pelayanan terbaiknya, meskipun Ardana tetap bersikap dingin dan datar.

     "Mas, nanti siang sekitar jam dua, Nay ada acara halal bihalal bersama teman alumni kampus, Mas Arda bisa temani Nay, tidak?" tanya Nayra sesaat setelah mereka menyudahi sarapan pagi.

     "Apa, halal bihalal? Jam dua? Aku sepertinya tidak bisa, aku ada janji dengan salah satu pasien di RSAU."

     "Bukannya, Mas Arda libur?" Nayra masih menyimpan penasaran, padahal ia sudah tahu jawaban apa yang akan Ardana berikan.

     "Iya, tapi aku terlanjur ada janji. Kamu pergi halal bihalal saja sendiri. Aku tidak akan sempat untuk menemani kamu. Lagian, tumben-tumbenan kamu ada acara seperti itu di luar rumah, biasanya juga tidak?" balas Ardana.

     "Oh, ya, sudah kalau Mas Arda tidak bisa. Berarti nanti Nay boleh pergi, Mas?" tanyanya meyakinkan.

     "Kan sudah aku bilang, pergi saja. Di mana acaranya?"

     "Dekat, Mas. Di samping Aoka," sahut Nayra dengan wajah menunduk, ia kecewa ternyata Ardana lebih memilih pergi dengan orang yang berada di dalam percakapan telponnya.

     "Apalagi dekat. Buat apa harus ditemani aku?" dengusnya sambil berlalu.

     Nayra tercenung sedih. Ajakannya tidak berarti apa-apa dibanding ajakan dari seseorang yang disebut Ardana 'belahan jiwa'.

Jangan lupa dukungan dan ingat, bagi pembaca baru maupun lama yang belum follow Author, silahkan follow ya. Selamat membaca.

Bagaimana di bab 3 Nayra sudah sangat menyedihkan belum ya?

1
PNC
klo sy lbh milih ga bersama lg
maaf ini sy pribadi
utk anak tetap boleh dekat
tp tdk hrs bersama lg
itu klo sy
Lina Zascia Amandia: Iya Kak. Pilihan ada di masing2 kita.... 🙏🙏... lanjut ya Kak...
total 1 replies
PNC
lagian demi kemanusiaan kenapa manggil si mantan sayang
penting ya menyembuhkan dengan manggil panggilan ditambah sayang
PNC
dokter kok jadi saraf juga
psikolog apa itu
edi edi 123
lanju6
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
ya sayang banget Tiana ga happy ending sm Setyadi padalah kalo nikah bisa namain anaknya Setiana hehe
Lina Zascia Amandia: Heheh.. iya bnr ya Kak? Beneran nih Kakak mau kisah Tiana dan Setyadi? Nanti sy siapin deh. Asal mampir ya... 😄😄🙏🙏
total 1 replies
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
Jadinya nama nya Setyadi ya bukan Sutikno 😆
Lina Zascia Amandia: Wkwkwkwkkwk
total 1 replies
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
lah kok jd Setyadi wkwk perasaan waktu itu namanya Suktino, inget banget aku sampe komentar : dia selingkuh dr Ardana ke Sutikno 🤣 sekarang malah Setiyadi 🤣 kamu selingkuh berapa kali Tia 😆
Lina Zascia Amandia: Ah yg bnr, biar sy cek. Gini nih kalo nulis gak sy catat nama pemerannya di buku. Suka kelupaan.
total 1 replies
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
kasian juga si nepa 3 taun bantu ngurusin mbak nya yg stress mana hubungan persahabatan nya juga jd renggang 🙂
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
dih, cemburu sama tama.. tama bukan tiana ya yg stress wkwk tama bisa dikasitau baik2 ga kayak tiana dikit2 tantrum 😛
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
disini nih kak bi neni nya wkwk
Lina Zascia Amandia: Wah... nanti sy revisi deh ya... makasih atas ketelitiannya.
total 1 replies
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
perasaan di atas nama nya bi neni jd bi ratni 🤣
Lina Zascia Amandia: Siap, nanti sy revisi ya.
total 3 replies
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
ya temen situ juga sangat mengecewakan dipikir jd nayra selama tiga taun ga banyak makan ati apa 😏
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
setelah ku pikir2 nama tokoh nya trah Ar-ana semua ya wkwk Ardana, Arkana, Aryana cuma beda huruf ketiganya doang 😆
Lina Zascia Amandia: Hehehe... iya Kak..... 🤭🤭
total 1 replies
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
lah mama nya arda ganti nama wkwk perasaan karina kok jd kirana 😂
Lina Zascia Amandia: Karina Kak. Wah... kayaknya sy salah tulis. Nanti direvisi ya...
total 1 replies
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
wah belum tau dia, perempuan kalo pergi dengan kemarahan & kecewa bisa tiba2 jd mandiri, apalagi kalo ada duit bisa tiba2 ke paris padahal kalo di dalem kota aja gatau mana utara selatan barat sm timur 😂🙏
Lina Zascia Amandia: Betul.. mm
total 1 replies
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
wkwk lu kata nayra jin apa ya di suruh muncullah 😆
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
HAHAHA kena deh 🫵🏻😛
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
harusnya kalo dia tau ardana suami sahabatnya dr awal dia bisa langsung kasitau ardana kalo mbak nya stress wkwk tp gpp walaupun terlambat untung si nepa masih waras ga pro ke pelakor 😂
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
ini nepa ga di kenalin sm ardana juga sama si nayra? ga dateng di nikahannya nayra kah? kok pas ketemu ardana di rs dia ga ngenalin ardana juga sebagai suami sahabatnya.. kalo dia tau ardana suami sahabatnya dr lama kan pas di rs dia tau tuh kalo mbak nya berusaha ngejebak dan di nikahin ardana harusnya bisa kasitau ardana dr awal kisah mbak nya jd rumah tangga ardana sm nayra ga gugur bunga 😆
ℳ𝒾𝒸𝒽ℯ𝓁𝓁 𝒮 𝒴ℴ𝓃𝒶𝓉𝒽𝒶𝓃🦢
aku masih bingung ini nepa temenan sm nayra udah lama kan ya? apa cuma temen nongkrong yg kadang2 aja? kok bisa ga tau kakak nya si nepa udah tahunan temenan 🙄 aku kalo udah temenan bertahun tahun apalagi udah sampe main ke rumah pasti sedikit banyak tau kakak/adeknya temen trus ortunya slnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!