Apa yang akan terjadi jika Dua dunia di pertemukan dalam sebuah keputusan penting?, dan ini terjadi pada Dua manusia yang di pertemukan secara tidak sengaja, LANGIT Wanita dengan semua kendali penuh dan kekuasaannya, sedangkan BUMI laki-laki sederhana dengan semua kelebihannya.
Yuk ikuti ceritanya, di jamin seru, menggemaskan dan juga menegangkan.
Salam Author Sinho, jangan lupa Bahagia ya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sinho, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Aroma kopi hitam dan kayu manis sisa makan malam masih tertinggal samar di udara saat Jaka Dewanta bangkit dari kursi makannya.
Langkah kakinya yang berat namun pasti memberi isyarat tak terbantahkan. Pria tua itu menoleh sedikit, memberikan anggukan kecil yang sarat perintah kepada dua orang muda yang masih duduk di hadapannya.
"Ikut Kakek ke ruang kerja," suara Jaka terdengar berat, menggema rendah di ruang makan keluarga Dewanta yang megah.
Bumi dan Langit saling berpandangan. Langit meremas jemarinya yang mendadak dingin. Di sampingnya, Bumi tetap tenang.
Bumi menggenggam tangan Langit sejenak, memberikan remasan hangat yang menenangkan, sebelum mereka berdua berdiri dan mengekor di belakang sang patriark.
Ruang kerja Jaka Dewanta adalah jantung dari seluruh kekaisaran bisnis Dewanta Group. Dindingnya dilapisi kayu jati tua, dipenuhi rak-rak buku tebal dan piagam penghargaan. Di tengah ruangan, sebuah meja kerja mahoni berukuran besar berdiri kokoh.
Jaka berjalan ke balik meja, tidak langsung duduk, melainkan berbalik dan bersedekap.
Suasana mendadak hening. Jaka menatap Bumi dengan pandangan menyelidik. Mata tua yang telah menyaksikan ratusan negosiasi bisnis tingkat tinggi itu menyipit, memindai setiap jengkal ekspresi di wajah Bumi.
Ia mencari keraguan, ketakutan, atau ketamakan yang biasa ia lihat pada pria-pria kelas atas yang mencoba mendekati cucunya. Namun, yang ia temukan pada Bumi hanyalah tatapan lurus, tenang, dan tidak berkedip.
Setelah beberapa detik yang terasa seperti satu dekade bagi Langit, Jaka akhirnya mengembuskan napas lega. Ketegangan di bahunya tampak mengendur.
"Kamu punya nyali, Bumi," cetus Jaka membuka suara, memecah kebekuan.
"Padahal kamu hanyalah seorang laki-laki biasa. Sebagian besar orang dengan latar belakang sepertimu akan gemetar atau sibuk menjilat saat berdiri di ruangan ini."
Bumi tersenyum tipis, tidak merasa tersinggung sedikit pun. "Tuan Dewanta, mesin motor yang rusak tidak akan selesai diperbaiki dengan sikap gemetar atau jilatan. Mereka hanya merespons ketepatan dan kerja keras. Saya rasa manusia juga tidak jauh berbeda."
Jaka terkekeh rendah, sebuah suara yang jarang sekali terdengar di rumah itu.
"Benar. Sangat benar. Di dunia industri yang penuh tipu daya ini, nyali dan kesetiaan jauh lebih langka daripada selembar ijazah dari universitas terbaik dunia. Ijazah bisa dibeli dengan uang, Bumi. Tapi karakter? Itu ditempa oleh keringat dan kejujuran."
Pria tua itu kemudian mengalihkan pandangannya kepada Langit. Tatapan menyelidik yang tajam tadi seketika melunak, digantikan oleh sorot mata penuh cinta yang begitu dalam, meski tetap dibalut ketegasan khas seorang kepala keluarga.
Langit adalah permata hatinya, satu-satunya cucu yang ia besarkan dengan penuh kehati-hatian setelah orang tua gadis itu tiada.
"Kakek tahu apa yang dibicarakan orang-orang di luar sana tentang hubungan kalian," kata Jaka, suaranya melembut namun bertenaga.
"Tapi Kakek tidak peduli. Malam ini, di ruangan ini, Kakek memberikan restu penuh untuk pernikahanmu dengan laki-laki pilihanmu."
Mendengar ucapan itu, Langit merasakan dadanya bergemuruh. Setitik air mata kebahagiaan mulai menggenang di sudut matanya. Beban berat yang selama berbulan-bulan mengganjal di hatinya runtuh seketika.
Namun, atmosfer emosional itu mendadak berubah ketika Jaka kembali menatap Bumi, kali ini dengan alis yang terangkat sebelah.
"Tapi tunggu dulu, Bumi," ujar Jaka sambil berjalan mendekati sofa. "Ada satu hal teknis yang mengganjal di pikiran saya sejak makan malam tadi."
Bumi menegakkan posisinya. "Apa itu, Tuan?"
"Ada yang bilang, minggu lalu kamu memperbaiki Moge antik milik orang kaya yang mogok di jalan. Dan kamu hanya meminta bayaran seratus ribu rupiah karena katanya 'cuma kabel yang longgar'. Apa itu benar?" tanya Jaka dengan nada menginterogasi yang sangat serius.
"Betul, Tuan Dewanta. Kerusakannya memang hanya minor," jawab Bumi jujur.
Jaka menepuk dahinya sendiri sambil menggeleng-gelengkan kepala dengan ekspresi frustrasi yang dibuat-buat, namun tetap terlihat elegan. "Astaga, Bumi. Kamu calon menantu keluarga Dewanta, tapi kemampuan bisnismu payah sekali! Moge itu harganya miliaran! Harusnya kamu menagihnya lima juta rupiah, lalu bilang kalau kamu harus memesan suku cadang khusus dari Jerman yang dikirim menggunakan merpati pos terlatih! Dari mana kamu akan memberi makan cucuku kalau keuntungan lima belas kali lipat saja kamu lewatkan?"
Langit tidak bisa menahan diri lagi. Ia tertawa renyah, suara tawanya yang merdu memecah ketegangan ruang kerja itu. Bumi ikut terkekeh, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Saya rasa saya harus belajar banyak tentang 'seni melebih-lebihkan' dari Anda, Tuan," sahut Bumi dengan nada bercanda yang sopan.
"Panggil aku Kakek," potong Jaka, senyumnya kini mengembang lebar. "Dan ya, nanti kita jadwalkan kursus singkat bisnis licik bersamaku. Tapi untuk sekarang, mari bicara serius."
Wajah Jaka kembali berubah formal, memancarkan aura wibawa seorang pelindung. Ia melangkah mendekati Bumi, menatap langsung ke dalam manik mata pemuda itu.
"Bumi, industri dan dunia di luar sana adalah hutan belantara yang kejam. Keluarga Dewanta memiliki banyak musuh dan pesaing. Langit adalah kelemahanku, sekaligus harta terbesarku. Jaga dia dengan baik. Jangan pernah membiarkan serigala-serigala di luar sana menyakitinya, baik dengan kata-kata mereka maupun dengan ambisi mereka. Bisakah kamu melakukannya?"
Suasana kembali senyap, menunggu jawaban. Bumi tidak butuh waktu lama untuk merangkai kata.
Ia membusungkan dadanya, menatap balik sang konglomerat tua dengan tatapan yang memancarkan keteguhan luar biasa. Sikapnya tegas, suaranya lugas tanpa ada keraguan sedikit pun.
"Kakek Jaka," ucap Bumi, menyebut panggilan baru itu dengan penuh rasa hormat.
"Saya mungkin tidak punya pasukan pengawal atau benteng baja untuk melindunginya. Tapi saya punya tangan yang bisa membangun kembali apa yang rusak, dan hati yang tidak akan pernah berkhianat. Saya berjanji kepada Kakek, di hadapan Tuhan, saya akan menjaga Langit dengan nyawa saya sendiri. Selama saya masih bernapas, tidak akan ada satu serigala pun yang diizinkan menyentuh atau menyakitinya."
Kata-kata Bumi yang begitu jantan dan berwibawa bergetar di udara, merasuk langsung ke lubuk hati Jaka Dewanta.
Pria tua itu mengangguk pelan, merasa sangat puas. Ia tahu, di balik kesederhanaan pakaian Bumi, terdapat jiwa seorang pelindung sejati yang tidak bisa dibeli dengan materi.
Langit yang sejak tadi menahan emosinya, kini tidak sanggup lagi membendung air matanya. Tangisnya pecah—bukan karena kesedihan, melainkan karena rasa lega dan haru yang teramat sangat.
Ia melangkah maju, melewati Bumi, dan langsung menghambur ke pelukan kakeknya. Ia memeluk pria tua itu dengan erat, menyembunyikan wajahnya di dada Jaka yang selalu menjadi tempat teramannya sejak kecil.
Jaka mendekap cucunya dengan penuh kasih, mengusap rambut panjang Langit dengan tangan tuanya yang gemetar karena emosi. Pria tua itu tersenyum lembut, menatap Bumi yang berdiri tegak menghormati momen mereka.
"Sudah, jangan menangis lagi, sayang," bisik Jaka pelan di telinga Langit, suaranya serak menahan haru. "Sudah saatnya ada orang lain yang menggantikan posisi Kakek untuk menjagamu. Seseorang yang lebih muda, lebih kuat, dan memiliki martabat yang tinggi. Orang itu adalah Bumi, calon suamimu. Kakek tahu, bersamanya, kamu akan selalu aman."
Di ruang kerja yang hangat itu, di bawah saksi bisu buku-buku tua dan restu yang tulus, sebuah babak baru kehidupan telah dimulai.
Langit perlahan melepaskan pelukannya, menghapus air matanya, lalu berbalik untuk menggenggam tangan Bumi.
Tak peduli dengan ikatan kontrak pernikahan yang di sepakati, hal itu akan dipikirkan nanti, saat ini, di hadapan sang Kakek, dua tangan yang berbeda latar belakang itu kini bertautan erat.
Yuk mana komennya, jangan lupa VOTE ya.