Hazella Adeline, atau Hazel, adalah gadis 19 tahun yang dikenal sebagai bad girl. Meski keras kepala dan berani, Hazel sebenarnya memiliki hati yang sangat baik. Saat pindah sekolah, Hazel harus tinggal di rumah kakaknya, Cateline, yang ternyata sudah menikah selama dua tahun dengan seorang pria bernama Sagara. Namun, Sagara jauh dari bayangan Hazel tentang seorang suami. Ia terlihat penakut, mudah menangis, selalu mengalah, dan sering menjadi sasaran amarah Cateline. Hazel pun selalu membelanya hingga tanpa sadar mulai menyukai pria itu. Hazel tahu perasaannya salah karena Sagara adalah suami kakaknya. Ia berusaha menahannya. Hingga sebuah rahasia perlahan terbongkar. Sagara ternyata mengalami amnesia dan tidak mengingat siapa dirinya sebelum kecelakaan. Tak ada yang tahu bahwa sebelum kehilangan ingatan, Sagara adalah mafia paling kejam sekaligus salah satu pria terkaya di dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8
Pagi harinya, suasana di area dapur terasa jauh lebih tenang dari biasanya. Hazel yang sudah mengenakan seragam sekolah rapinya duduk di kursi bar, menikmati piring nasi goreng hangat buatan Sagara. Di seberang meja, Sagara sibuk memotong beberapa buah segar, mengoleskan krim di pipinya yang masih agak memar dari insiden kemarin.
Hazel mengunyah pelan, memperhatikan gerak-gerik pria jangkung itu. Sebuah pertanyaan mendadak terlintas di kepalanya.
"Kak Sagara," panggil Hazel, memecah keheningan. "Selama dua tahun tinggal di sini... kau sudah pernah pergi keliling kota? Maksudku, jalan-jalan melihat tempat hiburan atau sekadar cuci mata?"
Sagara menghentikan gerak pisau di tangannya sejenak. Pria itu menoleh pada Hazel, lalu menggelengkan kepalanya dengan raut wajah yang amat polos.
"Tidak pernah, Hazel," jawab Sagara pelan, menyunggingkan senyum canggung. "Aku hanya keluar kalau Nona Cateline menyuruhku membeli bahan makanan ke supermarket terdekat. Selebihnya... aku cuma di rumah."
Hazel mendecak pelan, menggeleng tak percaya. Hidup dalam kurungan mansion megah tanpa pernah menikmati indahnya dunia luar—Cateline benar-benar memperlakukan pria ini seperti burung dalam sangkar emas.
"Ya sudah," cetus Hazel mantap, menepuk meja pelan. "Besok kan hari libur. Aku yang bakal temani kamu jalan-jalan keliling kota. Kita datangi tempat-tempat seru!"
Mata Sagara berbinar kaget. "E-eh? Beneran, Hazel? Tapi... apakah boleh?"
"Tentu saja boleh! Tidak ada yang bisa melarangmu," tekan Hazel tegas, menyunggingkan senyum hangat.
Namun, sebelum Sagara sempat membalas, suara langkah kaki yang menyeret dan tidak stabil terdengar dari arah pintu masuk utama. Dentakan sepatu hak tingginya terdengar berantakan.
Tak lama kemudian, sosok Cateline muncul di ambang ruang makan. Pakaian kerjanya yang semalam kini tampak agak kusut, rambut cantiknya berantakan, dan wajahnya terlihat pucat. Begitu ia melangkah makin dekat, menyengat aroma alkohol yang sangat menyengat dan pekat menguar dari tubuhnya. Wanita itu baru saja pulang setelah minum-minum semalaman.
Cateline menyandarkan tubuhnya pada dinding, menatap Hazel dan Sagara dengan pandangan sayu dan teler.
"Sagara..." panggil Cateline dengan suara serak dan berat khas orang mabuk berat.
Ia memegang kepalanya yang terasa berputar hebat, lalu menunjuk Sagara dengan jari jarumnya yang gemetar. "Buatkan aku minuman peningkat stamina... atau peninggi cairan... cepat! Kepalaku mau pecah!"
Hazel memutar bola matanya malas, menyilangkan tangan di dada melihat tingkah kakaknya yang memuakkan itu. Namun berbeda dengan Hazel, Sagara yang pada dasarnya penurut dan terbiasa melayani langsung meletakkan pisaunya.
"Baik, Nona. Tunggu sebentar, aku buatkan teh lemon hangat dengan madu," sahut Sagara buru-buru, raut wajahnya kembali panik dan cemas seperti biasa.
Pria itu dengan cepat bergerak menyalakan kompor dan mengambil lemon dari lemari es, sama sekali tidak memedulikan tatapan geram dari Hazel yang melihatnya begitu mudah diperintah oleh wanita mabuk itu.
Atmosfer SMA Garuda Nusantara terasa berbeda sejak Hazel menginjakkan kaki di gerbang depan. Bisik-bisik yang kemarin terdengar penuh kekaguman, kini berganti menjadi tatapan sinis, celaan, dan tawa meremehkan dari setiap sudut koridor.
Berita burung menyebar begitu cepat. Di berbagai grup percakapan sekolah, beredar rumor dan dokumen anonim yang menyebutkan identitas asli Hazella. Kata anak haram, hasil perselingkuhan, dan pembawa sial menjadi topik hangat yang dilemparkan murid-murid sambil melirik ke arahnya.
Saat Hazel berjalan menuju kelasnya di lantai dua, tiga cewek populer sengaja menghadang langkahnya di tengah koridor yang ramai.
"Lihat deh, anak haram sok cantik ini tetap berani tampil dengan muka tebal," ejek cewek berambut pirang sambil bersedekap dada. "Pantas saja tak punya nama belakang saat perkenalan kemarin. Ternyata memang tak diakui keluarga! Cuma sampah pengganggu!"
Murid-murid di sekitar koridor mulai berkerumun, menantikan reaksi meledak-ledak atau tangisan dramatis dari Hazel.
Namun, ekspresi Hazel tetap tenang tanpa cela. Tidak ada raut tersinggung, sedih, ataupun malu di wajah cantiknya. Hazel justru menghentikan langkah, menegakkan tubuhnya, lalu menyunggingkan senyum miring yang teramat dingin dan meremehkan.
Dengan santai, Hazel menyelipkan beberapa helai rambutnya ke belakang telinga. Ia menatap cewek yang mengejeknya dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pendar mata yang mengintimidasi.
"Lalu?" tanya Hazel, suaranya terdengar begitu tenang namun sanggup membungkam riuh koridor. "Kau mau apa?"
Cewek pirang itu melongo, kehilangan kata-kata. "A-apa?"
"Aku tanya, lalu kau mau apa?" ulang Hazel, memajukan wajahnya selangkah. "Statusku anak haram atau bukan, apa itu mengubah fakta bahwa otakmu tetap tidak bisa menyaingiku? Atau itu membuat hidupmu yang membosankan ini mendadak jadi lebih berguna? Kalau cuma mau menyebar gosip murahan, mending singkirkan badanmu dari jalanku. Sangat mengganggu."
Tanpa menunggu balasan, Hazel menabrak bahu cewek itu dengan sengaja dan melangkah pergi dengan penuh keangkuhan. Orang-orang di koridor saling berbisik heran, tak mengira cewek 19 tahun itu sama sekali tidak bisa ditumbangkan oleh cercaan.
Begitu sampai di kelas 12 IPA 1, Kirana langsung menyambut Hazel dengan raut wajah sangat cemas. Kutu buku berkacamata itu menarik tangan Hazel dan mendudukkannya di bangku mereka.
"Hazel, kamu tidak apa-apa?!" bisik Kirana penuh perhatian. Tangannya mengepal erat di atas meja. "Aku sudah dengar gosip gila yang beredar di grup sekolah pagi ini. Merek sungguh jahat dan tidak punya perasaan! Jangan dengarkan kata-kata mereka ya, Hazel. Di mata aku, kamu tetap Hazella yang keren, baik, dan kuat. Aku bakal selalu di samping kamu!"
Melihat binar ketulusan di balik kacamata tebal Kirana, dinding pertahanan Hazel mendadak melunak. Ia tersenyum tipis, meremas balik jemari Kirana dengan hangat.
"Terima kasih, Kirana. Aku sama sekali tidak terpengaruh kok," ujar Hazel pelan. "Kata-kata sampah seperti itu tidak akan bisa menjatuhkanku."
Hazel lalu mengalihkan pandangannya keluar jendela kelas, memandangi langit pagi dengan matanya yang memicing tajam. Amarah dingin perlahan merayapi dadanya. Tidak perlu menebak siapa aktor intelektual di balik menyebarnya informasi pribadi ini sampai ke lingkungan sekolah barunya. Siapa lagi yang punya niat jahat dan akses untuk mempermalukannya kalau bukan wanita gila di rumah itu?
"Cateline bangsat..." umpat Hazel sangat pelan dengan nada penuh kebencian, gigi-giginya bergemelutukan. "Gue tahu elo yang melakukan semua ini. Elo pikir dengan begini gue bakal nangis dan memohon-mohon ke elo? Jangan harap.
double up y thor 😄🙏
kasihan si hazel ...