"Katanya sahabat masa kecil itu cuma masa lalu, tapi kenapa kehadirannya bisa menghancurkan masa depanku?"
Bagi Nawang, Timy adalah segalanya—cowok yang berjanji melindunginya di bawah inisial kalung T&N. Tapi segalanya berubah saat Kanaya, teman masa kecil Timy yang rapuh dan penuh trauma, kembali hadir. Demi alasan kemanusiaan, Timy perlahan melangkah terlalu jauh hingga melupakan janji-janjinya pada Nawang.
Saat Nawang memilih mundur karena lelah dianaktirikan, Rendy—Ketua OSIS berhati es—hadir menawarkan sandaran baru.
Di saat Timy tersadar dirinya hanya dijadikan pelampiasan egois oleh Naya, semuanya sudah terlambat. Penyesalan Timy membawanya pada Jihan, gadis misterius yang diam-diam membalut lukanya.
Ini bukan sekadar cerita tentang cinta segitiga, melainkan tentang melepaskan yang sia-sia, menyembuhkan luka, dan menemukan kedewasaan di koridor sekolah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyesalan Terhebat Ketiga 35.
Aroma es krim vanila bercampur udara segar sore hari di taman kota entah bagaimana berhasil mengikis sedikit demi sedikit sisa sesak di dada Nawang.
Sudah lama sekali, sejak terakhir kali dia bisa duduk di tempat terbuka seperti ini tanpa perlu mengecek ponselnya setiap lima menit.
Tanpa perlu merasa waswas jika tiba-tiba ada panggilan darurat yang akan merusak harinya.
Di sebelahnya, Rendy duduk dengan santai.
Cowok itu hanya memesan es krim cokelat standar.
Sikapnya tetap seperti biasa— Punggung tegak, pakaian rapi tanpa cela meski setelah seharian di sekolah, dan ekspresi wajah yang cenderung datar. Rendy bukan tipe cowok yang akan bertingkah konyol atau melempar gombalan murah untuk menghibur perempuan. Dia terlalu tertata untuk itu.
Namun, justru ketenangan itulah yang saat ini paling Nawang butuhkan. Sebuah kepastian yang tidak menuntut apa-apa.
"Habisin, Wang. Keburu cair," ucap Rendy datar, matanya lurus menatap anak-anak kecil yang sedang mengejar gelembung sabun di dekat air mancur.
Nawang terkekeh pelit. "Sabar, Ren. Ini juga lagi diusahain. Lagian lo milih tempatnya pas banget lagi angin kencang begini."
"Biar otak lo rada adem," balas Rendy langsung, singkat tapi telak.
Nawang tertegun sejenak, lalu tawa renyahnya pecah. Itu bukan tawa palsu yang biasa dia pasang di depan teman-teman kelasnya agar tidak dikasihani setelah putus dari Timy.
Ini tawa lepas. Tawa yang membuat matanya menyipit dan bahunya naik turun.
Rendy menoleh sedikit. Sudut bibirnya terangkat, sangat tipis, hampir tak kentara jika Nawang tidak sedang melihatnya.
Bagi orang lain, Rendy mungkin terlihat seperti robot yang kaku dan terlalu perfeksionis.
Tapi bagi Nawang, di balik semua sikap dingin dan efisiensi bicaranya, Rendy adalah orang pertama yang menyadari bahwa dia sedang tidak baik-baik saja, tanpa perlu Nawang menangis dramatis terlebih dahulu.
"Makasih ya," bisik Nawang setelah tawanya mereda. Dia menjilat ujung es krimnya yang mulai meleleh ke jari. "Buat es krimnya. Buat... tempat ademnya."
"Gak perlu dipikirin. Gue cuma gak suka lihat orang bermuka kusut di sekitar gue. Merusak pemandangan," sahut Rendy, kembali ke mode ketusnya yang khas.
Nawang hanya mencibir, tapi hatinya menghangat. Dia tahu itu cara Rendy menyembunyikan perhatiannya.
Bersama Rendy, semuanya terasa masuk akal dan terprediksi. Tidak ada kejutan manipulatif, tidak ada pembatalan janji di menit-menit terakhir demi alasan "kemanusiaan" yang buram.
Sementara itu, sekitar lima puluh meter di balik rimbunnya pohon palem botol, sebuah dunia yang berbeda sedang runtuh.
Timy berdiri di sana. Kedua tangannya tenggelam di dalam saku almamater sekolah yang sudah kusut. Matanya merah, bukan karena mengantuk, tapi karena menahan badai emosi yang sejak siang tadi mengaduk-aduk isi dadanya.
Timy mengikuti mereka.
Sejak bel pulang sekolah berbunyi, sejak dia melihat Nawang berjalan bersisian dengan Rendy menuju parkiran, Timy seperti kehilangan fungsi otaknya sendiri.
Kakinya melangkah seperti mesin otomatis, mengendarai motornya dari jarak aman, hingga berakhir di taman kota ini.
Menyaksikan pemandangan di depannya rasanya lebih menyakitkan daripada dihantam balok kayu tepat di ulu hati.
Timy melihat bagaimana Nawang tertawa.
Tawa yang sangat dia kenali. Tawa yang dulu selalu menjadi miliknya setiap kali mereka pulang kehujanan atau saat dia berhasil membelikan martabak manis kesukaan gadis itu.
Namun, sudah berapa lama tawa itu hilang? Timy mencoba mengingat-ingat, dan dadanya semakin ngilu saat menyadari bahwa selama satu semester terakhir, yang dia berikan pada Nawang hanyalah kerutan dahi, ucapan maaf yang terburu-buru, dan punggung yang menjauh karena harus berlari menghampiri Naya.
"Udah selesai, Timy. Batas kita udah jelas semenjak lu milih teman kecil lu. Tolong jangan bikin diri lu kelihatan makin kasihan"
Kata-kata terakhir Nawang kembali terngiang, berputar-putar di kepalanya seperti kaset rusak. Dulu, Timy menganggap kalimat itu sebagai wujud kecemburuan yang egois.
Sekarang, setelah kebenaran tentang Naya telanjang di depan matanya, kalimat itu berubah menjadi vonis mati atas kebodohannya sendiri.
Nawang tidak egois. Nawang hanya lelah menunggu seseorang yang matanya selalu melihat ke arah lain.
Timy memperhatikan bagaimana Rendy menyodorkan selembar tisu kepada Nawang dengan gerakan yang sangat natural ketika es krim gadis itu menetes ke dagu.
Nawang menerimanya sambil tersenyum manis—jenis senyuman penuh rasa percaya yang sekarang sudah tertutup rapat untuk Timy.
Remasan tangan Timy di dalam sakunya semakin erat, hingga kertas laporan medis Naya yang sengaja dia bawa berbunyi kersik, hancur total. Rasa sesak yang luar biasa menghimpit tenggorokannya.
Ingin rasanya dia berlari ke sana, berlutut di depan Nawang, dan berteriak, “Wang, gue udah tahu semuanya! Naya bohongin gue! Gue gak berniat ninggalin lo waktu itu!”
Tapi, logika Timy yang tersisa menahan kakinya di tempat.
Kalau pun dia maju sekarang, apa yang berubah? Apakah kebohongan Naya bisa menghapus fakta bahwa Timy-lah yang memilih untuk melangkah pergi? Kebohongan Naya adalah pemicunya, tapi tangan yang melepaskan genggaman Nawang adalah tangannya sendiri.
Timy yang memilih untuk menjadi pahlawan bagi orang asing, dan menelantarkan ratunya sendiri di tengah hujan.
Rendy kemudian berdiri, mengisyaratkan bahwa hari sudah semakin sore dan mereka harus pulang. Nawang mengangguk patuh, ikut berdiri sambil membersihkan roknya dari beberapa helai daun kering.
Mereka berjalan beriringan menuju area parkir, meninggalkan area air mancur.
Timy memundurkan langkahnya, bersembunyi lebih dalam di balik bayangan pohon besar saat keduanya berjalan melewati jalur pedestrian yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Dia bisa melihat wajah Nawang dari dekat selama beberapa detik. Kulitnya yang terkena semburat cahaya senja, matanya yang tidak lagi meredup lesu. Nawang terlihat... mulai hidup kembali. Tanpa dirinya.
Saat motor Rendy perlahan bergerak membelah jalanan kota yang mulai padat, Timy akhirnya keluar dari persembunyiannya. Dia berjalan gontai menuju bangku kosong yang baru saja ditinggalkan oleh Nawang dan Rendy.
Timy duduk di sana, tepat di posisi Nawang duduk tadi. Sisa hawa hangat di bangku semen itu seolah mengejeknya. Dia menunduk, menatap lantai semen yang dipenuhi bayangan daun yang bergoyang.
Setitik air mata yang sejak tadi dia tahan akhirnya jatuh, membasahi ujung sepatunya.
Bahunya bergetar kecil.
Di tengah keramaian taman kota yang egois, Timy harus menelan bulat-bulat kenyataan paling pahit dalam hidupnya: dia telah menukar berlian demi sebuah batu palsu yang beracun.
Dan sekarang, saat dia ingin kembali, tempatnya di sisi Nawang sudah digantikan oleh orang lain yang jauh lebih menghargai keberadaan gadis itu.
Penyesalan itu datang lambat, namun dayanya menghancurkan tanpa sisa.
......................
...****************...
Tbc,