DATANG UNTUK MEMBAYAR
(Orang Mati Datang Membayar Janjinya)
"Tanggal delapan saya bayar, Cik..."
Maya berjanji melunasi utangnya tepat tanggal delapan. Lalu ia menghilang.
Hingga malam itu, pintu digedor. Maya berdiri di sana — menyerahkan uangnya.
Namun pagar terkunci rapat dari dalam. Dan kabar menyebut: Maya sudah meninggal dua minggu lalu.
Siapa yang baru saja membayar?
Tentang janji, kehormatan, dan sosok yang melintasi kematian demi menepati kata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4: SUARA DI SEBERANG SALURAN
Nada dering panggilan telepon selulerku bergema pelan di sepanjang lorong belakang kantor bank yang sepi.
Suara tut terputus-putus itu berulang tiga kali di dekat telinga keduaku, memecah deru halus pendingin udara gedung. Setiap detik menunggu nada panggil itu tersambung terasa amat panjang dan menekan dada.
Tuuut... Tuuut...
Aku memegang erat ponsel genggamku dengan jari-jari tangan kanan yang terasa agak dingin. Ujung jemariku sedikit gemetar saat menatap permukaan dinding semen lorong yang membisu di hadapanku.
Klek!
Suara klik dari kaitan saluran telepon di seberang sana mendadak terdengar menyambar keheningan.
Desis halus dari sambungan telepon langsung menyusup memenuhi pengeras suara ponselku. Hawa dingin di lorong belakang kantor terasa makin menggigit kulit tanganku.
"Halo? Sopo iki?"
Suara perempuan paruh baya dengan nada agak serak dan curiga menyapa dari seberang saluran. Suara itu terasa sangat akrab di telingaku, persis seperti ingatan percakapan singkat kami satu tahun lalu saat ia berkunjung ke Malang.
"Selamat sore, Mbak Yuni. Ini Sari, tetangganya Maya dari gang Malang."
Aku menggeser posisi berdiriku mendekati sudut lorong agar percakapan pribadi ini tidak terdengar oleh pegawai lain. Buku catatan hitam kecil di tangan kiriku kuremas pelan.
"Oalah, Bu Sari. Wonten punapa nggih sore-sore telepon?"
Mbak Yuni bertanya dengan nada bicara yang mulai melunak dan ramah. Rasa cemas di dalam dadaku kian mendesak untuk segera meluncurkan pertanyaan.
"Nyuwun sewu, Mbak Yuni. Saya mau menanyakan kabar Maya."
"Napa Maya wonten teng griya sampeyan sakniki?"
Pertanyaan itu kuajukan secara langsung tanpa berbelit-belit.
Hening sejenak menggantung cukup lama di seberang saluran telepon. Desis halus dari sambungan telepon terasa makin jelas dan tajam terdengar di telingaku.
"Mboten wonten, Bu Sari. Maya mboten teng mriki."
Jawaban Mbak Yuni terdengar lugas dengan nada heran yang amat jelas. Kalimat singkat itu seketika membuat seluruh tubuhku memaku kaku di sudut lorong.
"Sampun berbulan-bulan Maya mboten nate wangsul teng desa. Memangnya wonten punapa, Bu?"
Jawaban Mbak Yuni menegaskan bahwa dugaan awalku bahwa Maya mengungsi sementara ke rumah kakaknya sama sekali tidak terbukti. Aku menahan napas sejenak, memikirkan tatanan kalimat terbaik yang tidak menimbulkan kepanikan berlebihan bagi keluarga Maya.
Sebagai tetangga yang memegang rahasia memar di tangan Maya kemarin sore, aku harus tetap menjaga batasan ucapan. Aturan keretanggaan dan rasa iba membuatku berhati-hati merangkai kata.
"Kemarin sore Maya sempat ketemu saya sebentar di pintu samping rumah, Mbak Yuni."
"Dia pinjam sedikit uang belanja dapur. Tapi dari semalam sampai pagi ini, pintu pagar rumahnya dipasangi gembok rapat dari luar."
Penjelasan singkatku itu disambut oleh suara helaan napas berat dan gelisah dari Mbak Yuni di seberang telepon.
"Aduh, Bu Sari... Gusti Allah..."
Gumam Mbak Yuni dengan nada suara yang bergetar cemas.
Ia terdiam sejenak, seolah sedang menata kembali tumpukan ketakutan yang tersimpan di dalam benaknya.
"Minggu lalu Maya memang sempat telepon saya sambil menangis."
Informasi ini membuat jemariku yang memegang ponsel seketika makin mencengkeram kencang. Aku mendengarkan setiap patah kata Mbak Yuni dengan cermat, mencatat seluruh detail itu di dalam benakku.
"Maya cerita kalau Rian makin sering emosi dan memaksa minta uang proyek yang belum turun."
"Maya bilang dia bingung dan takut banget di rumah. Tapi saya mboten nyangka kalau rumahnya sampai digembok dari luar."
Penjelasan Mbak Yuni membuatku semakin yakin bahwa tekanan di rumah tangga Maya memang bukan sekadar dugaanku. Namun, fakta bahwa Maya tidak berada di rumah kakaknya justru melahirkan teka-teki baru yang jauh lebih gelap.
Jika Maya tidak pergi ke rumah kerabatnya, lalu ke mana ia melangkah semalam setelah menerima lembaran uang dariku? Mengapa ia begitu panik saat meminjam uang kemarin sore jika ia berada dalam kepungan rasa takut yang amat sangat?
"Bu Sari... nyuwun tulung sanget nggih."
Pangkas Mbak Yuni dengan suara mengiba dan berat.
"Pangapunten, kalau Bu Sari melihat Maya atau ada kabar dari rumah sebelah, tolong segera beri tahu saya."
"Nggih, Mbak Yuni, pasti langsung saya kabari kalau ada perkembangan di rumah sebelah."
Janjiku tulus sembari menganggukkan kepala meski Mbak Yuni tidak bisa melihatku dari seberang sana.
"Matur nuwun sanget nggih, Bu Sari. Nyuwun tulung dipantau rumahnya."
Klek!
Sambungan telepon itu terputus, menyisakan suara hening di lorong belakang kantor bank yang dingin.
Aku menurunkan ponsel genggam dari telinga keduaku, berdiri mematung di dekat pintu darurat gedung. Di dalam saku dada kemeja seragam kerjaku, lipatan nota kelontong berangka 8 tebal yang kutemukan di bawah pagar Maya tadi pagi terasa makin menekan.
Sore hari melingkupi Kota Malang ketika jam operasional kantor resmi berakhir.
Pukul empat lewat empat puluh lima menit sore, aku melangkah keluar melintasi pintu kaca utama gedung bank tempatku bekerja. Hawa dingin khas Kota Malang di sore hari menyapa permukaan kulit wajah dan leherku dengan lembut.
Jalanan di sekitar alun-alun mulai dipadati oleh lalu lalang kendaraan warga yang baru selesai bekerja.
Aku menyusuri trotoar batu sempit menuju halte bus kota sembari merapatkan tas kerja kulit cokelat di dada. Langkah kakiku yang beralas sepatu pantofel hitam berbunyi teratur di atas aspal dingin.
Pikiranku terus berputar mengurai benang kusut yang menghubungkan catatan angsuran bank, telepon Mbak Yuni, dan keberadaan Maya. Sebagai teller bank yang terbiasa bekerja dengan kepastian data, ketidakjelasan keberadaan Maya membuat jiwaku merasa amat tidak tenang.
Bus kota bercat hijau tua yang kutunggu akhirnya merapat di tepi halte dengan decit rem yang nyaring.
Ckiiit!
Aku menaiki tangga bus perlahan, membayar ongkos pada kondektur, lalu mencari tempat duduk kosong di baris tengah.
Di dalam bus yang berderut pelan menyusuri jalanan kota, aku duduk di dekat jendela kaca yang sedikit berembun oleh hawa dingin sore. Pandangan mataku memandangi deretan bangunan toko dan pepohonan rindang yang bergerak mundur di luar sana.
Tanganku di dalam saku baju seragam menyentuh permukaan kertas nota basah yang belum kuubah posisinya sejak pagi tadi.
Goresan angka 8 di balik nota itu terus mengganggu pikiranku di sepanjang jalan pulang. Rasa penasaran dan cemas berbaur menjadi satu, menuntut kejelasan yang hingga kini belum terungkap.
Sekitar pukul lima lewat dua puluh menit sore, bus kota berhenti di halte dekat mulut gang rumah kami.
Aku turun dari tangga bus, melangkah menyusuri lorong gang semen sempit yang diapit dinding-dinding rumah warga. Suara deru sepeda motor tetangga yang melintas pelan beradu dengan celoteh anak-anak yang baru selesai mengaji di mushola.
Sebelum melangkah masuk ke pintu depan rumahku sendiri, langkah kakiku terhenti di ujung koridor gang samping. Rasa ingin tahu dan tanggung jawab sebagai tetangga mendorongku untuk memeriksa kembali keadaan rumah sebelah.
Aku berjalan perlahan menyusuri koridor semen sempit yang memisahkan dinding rumahku dengan tembok rumah Maya.
Sinar matahari sore yang makin meredup menciptakan bayangan panjang dan tebal di sepanjang ubin semen. Suasana di koridor samping rumah Maya terasa sangat sepi, lengang, dan dingin.
Aku menghentikan langkah tepat dua meter di hadapan pintu pagar besi bercat hijau kusam milik tetanggaku itu.
Di sana, gembok perak tebal berbentuk segi empat masih terpasang kaku membelenggu dua belah rantai besi dari arah luar gang. Kondisinya persis sama seperti saat aku menyapu pekarangan tadi pagi dan ketika Dini pulang semalam.
Aku membungkukkan badan sedikit, memandangi celah-celah jeruji pagar besi untuk melihat pekarangan dalam.
Pekarangan rumah Maya tampak hening tanpa ada satu pun pergerakan benda atau tanda aktivitas manusia. Pintu kayu depan rumahnya terkunci rapat, dan gorden kain tebal berwarna cokelat di balik jendela masih tertutup penuh.
Namun, ketika mataku mencermati lantai teras semen di depan pintu rumah Maya, mataku menangkap sebuah detail kecil yang ganjil.
Di atas ubin teras yang bersih itu, tergeletak sepasang sandal jepit karet berwarna biru milik Maya. Sandal jepit itu menunjuk lurus ke arah pintu depan, seolah-olah pemiliknya baru saja melangkah masuk beberapa saat lalu.
Padahal, aku ingat betul bahwa saat aku menyapu lorong tadi pagi, pasangan sandal jepit itu sama sekali tidak ada di teras.
Aku memegang erat jeruji besi pagar dingin yang terasa memagut jemariku. Bagaimana mungkin sepasang sandal jepit tergeletak rapi di teras dalam sementara gembok besi di pagar utama masih terkunci rapat dari luar?
Sensasi dingin yang janggal perlahan-lahan merambat naik menyusuri pergelangan tanganku menuju tengkuk.
Aku menahan napas dalam-dalam di dalam keheningan lorong gang samping. Mataku menatap tidak berkedip ke arah daun pintu kayu rumah Maya yang membisu.
Tepat pada saat itu, dari arah bagian dalam rumah Maya yang tertutup gorden tebal, terdengar sebuah suara sangat halus.
Krrrit... krrrit...
Suara gesekan kaku itu terdengar amat pelan, mirip ketukan atau goresan halus benda tumpul pada daun pintu kayu sebelah dalam. Suara itu terulang dua kali, sangat teratur dan kering di tengah kesunyian sore yang makin gelap.
Bulu-bulu halus di sepanjang kedua lenganku seketika berdiri tegak mematung. Jantungku berdegup jauh lebih cepat dari biasanya, menghantam dinding dada di balik seragam bank yang kukenakan.
"Maya?"
Suaraku meluncur amat halus, hampir tenggelam oleh hembusan angin sore yang lewat.
Seketika itu juga, suara gesekan dari dalam rumah mendadak terhenti total. Keheningan tebal dan berat kembali mengendap membisu di seluruh pekarangan rumah sebelah.
Bersamaan dengan terhentinya suara itu, hidungku secara refleks menangkap semerbak aroma asing yang berhembus melintasi celah pagar.
Aroma tanah merah basah yang pekat bercampur bau kain lembap tua kembali mengingatkanku pada bau asing saat menutup pintu kemarin sore dan saat memegang telepon kantor tadi pagi.
Aku mundur dua langkah secara tergesa-gesa dari depan pagar besi Maya. Tanpa membuang waktu lebih lama, aku berbalik cepat menuju pintu samping rumahku sendiri.
Sreeek!
Aku membuka pintu samping rumahku dengan gerakan tangan yang sedikit terburu-buru. Aku melangkah masuk ke dalam koridor rumah, lalu segera memutar selot besi pintu dari dalam.
Klek!
Selot besi dingin itu berhasil terkunci rapat, memberi rasa aman yang sangat kukutuhkan sore itu.
Aku menyandarkan punggung pada daun pintu kayu, menghela napas panjang beberapa kali untuk menata kembali degup jantungku yang kencang.
Di ruang tengah yang hangat, suara denting porselen dan aroma tumisan bumbu masakan dapur menyambut kedatanganku.
Ranti keluar dari dapur membawa mangkuk porselen berisi sayur lodeh hangat untuk makan malam kami.
"Ibu sudah pulang? Kelihatan capek banget, Bu,"
Sapa Ranti penuh perhatian sembari meletakkan mangkuk di meja makan.
"Iya, Ran. Pekerjaan di kantor lumayan padat tadi sore,"
Sahutku berusaha mengatur nada suara agar tetap tenang dan tidak menimbulkan kecurigaan.
Dini keluar dari kamarnya sembari membawa tumpukan buku kuliah, lalu duduk di seberang meja makan.
"Bu, tadi waktu Dini beli bumbu di warung depan, Pak RT sempat tanya soal rumah sebelah,"
Kata Dini sembari menuangkan air minum hangat ke dalam gelas porselen.
"Pak RT tanya apa, Din?"
Tanyaku sembari menarik kursi kayu jati untuk duduk.
"Pak RT cuma tanya apa Mas Rian ada titip pesan atau pamit mau pergi jauh, karena rumahnya kelihatannya gelap terus dari semalam,"
Jawab Dini sembari menggeser gelas minum ke dekat tanganku.
"Terus kamu jawab apa?"
Tanyaku lagi sembari menatap wajah anak keduaku itu.
"Dini bilang mboten ngertos, Bu. Dini cuma bilang kalau kemarin sore Tante Maya sempat ketemu Ibu sebentar,"
Sahut Dini polos.
Aku mengangguk-angguk pelan, meminum beberapa teguk air putih hangat dari gelas porselen di mejaku. Kehangatan cairan itu perlahan mengurai rasa kaku di tenggorokanku yang terasa kering sejak berdiri di lorong samping tadi.
Sebagai ibu dari tiga anak perempuan, aku memilih untuk tetap menyimpan rapat kecemasanku dan tidak menceritakan suara gesekan maupun sandal jepit di teras sebelah.
Aku tidak ingin rasa takut yang belum jelas pemicunya ini mengganggu ketenangan anak-anak di rumah.
"Nanti kalau kalian berdua mau tidur, pastikan semua selot jendela dan gembok pintu depan dikunci rapat ya, Ran, Din,"
Pesanku tegas sembari memandangi Dini dan Ranti bergantian.
"Iya, Bu, pasti kami kunci semua kok,"
Sahut Ranti dan Dini serentak.
Setelah makan malam bersama kedua putriku secara tenang, aku masuk ke dalam kamar tidur utamaku sekitar pukul delapan malam.
Aku mematikan lampu utama kamar dan menyalakan lampu tidur temaram di sudut meja. Suasana kamar yang tenang memberiku ruang untuk merapikan kembali tumpukan pikiran yang terurai.
Aku berjalan mendekati meja rias kayu milikku di dekat lemari pakaian.
Tanganku merogoh saku kemeja seragam bank yang kugantung di balik pintu, mengambil lipatan nota kelontong kusam berangka 8 tebal.
Aku menarik laci meja rias bagian atas, meletakkan nota itu di samping buku catatan hitam kecilku, lalu mendorong laci tersebut hingga rapat.
Klek!
Tanganku memutar kunci kecil laci itu hingga berbunyi klak, mengunci rapat seluruh lembaran bukti fisik di dalam kayu meja rias.
Aku melangkah mendekati jendela kamar depan yang menghadap langsung ke arah lorong gang samping.
Tanganku menyibak sedikit tirai kain krem, memandangi kegelapan pekarangan rumah sebelah di bawah temaram sinar bulan.
Pintu kayu rumah Maya tampak membisu di balik jeruji pagar yang tergembok kaku.
Tepat saat aku hendak menarik kembali tirai kain krem itu, sebuah ketukan kaku dan keras mendadak menghantam dinding semen kamar tidurku dari arah luar.
Duk! Duk!
Bunyi benturan itu terasa begitu dekat, bergetar tepat di balik dinding papan tempat tidurku yang berbatasan langsung dengan tembok lorong samping rumah Maya.
Bersamaan dengan ketukan kaku itu, aroma tanah merah basah yang pekat mendadak berhembus tajam menerobos masuk melintasi celah ventilasi atas jendelaku.
Aku tersentak mundur satu langkah, memegang dada dengan napas yang tertahan di dalam kegelapan kamar.
---