Malam hujan di RS Elisabeth Semarang, dua bayi tertukar karena gelang pink. Clarissa hidup mewah di Graha Candi Golf, Aurel menderita di Gunungpati. 18 tahun kemudian, tes DNA membongkar rahasia. Siapa yang akan hancur saat kebenaran terungkap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Gemini 75, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
sepatu yang di jahit ulang
Gerimis turun tipis, membasahi halaman SMA Loyola yang berpasir kelabu pagi itu. Udara terasa dingin, menembus seragam yang sudah agak lama dipakai.
Aurel turun dari angkot hijau dengan kepala menunduk, langkahnya pendek-pendek. Dia tahu semua orang akan melihat bukan wajahnya, melainkan kakinya. Sepatu putihnya sudah tidak seperti sepatu lagi. Sol bagian depan mengelupas, terbuka seperti mulut yang tak bisa menutup. Jahitan benang hitam buatan Bapak terlihat jelas di sana, lapisan tip-ex yang dulu menutupinya sudah luntur hanyut terkena air hujan, meninggalkan noda pudar berantakan di kulit sepatu.
Di lapangan basket, anak-anak sudah berlarian, tertawa, memanaskan badan. Aurel mempercepat langkah, berusaha lewat secepat mungkin tanpa menimbulkan suara. Tapi justru karena terburu-buru, kakinya terlihat aneh satu langkah ringan, satu langkah menahan beban, seolah ada yang mengikat kakinya.
Pelajaran olahraga dimulai. Bu Tuti menyuruh semua lari dua putaran keliling lapangan yang luas itu.
Angin membawa suara tawa, langkah kaki serempak di belakangnya. Aurel berusaha mengimbangi, napanya mulai memburu. Baru setengah putaran kedua krak.
Suara halus itu nyaris tak terdengar, tapi bagi Aurel seperti petir di siang bolong.
Sol sepatu kirinya lepas total. Menganga lebar, menjuntai ke tanah, benar-benar terpisah dari atasannya. Dia hampir tersandung batu, tubuhnya bergoyang.
Tawa meledak pelan dari belakang.
"Wih, sepatunya putus!"
Aurel membeku. Wajahnya memerah seketika, panas menjalar dari leher sampai ke telinga. Dia berjongkok di tengah lapangan, tangan gemetar mencoba menekan sol itu kembali ke tempatnya. Tapi semakin ditekan, semakin lepas. Jahitan Bapak ternyata tidak cukup kuat menahan langkahnya. Suara tawa makin banyak, samar-samar, tapi terasa tajam menembus telinganya.
"Rel, sini aku bantu."
Sinta datang, napasnya masih sedikit terengah, lalu ikut berjongkok di sampingnya. Teman sebangkunya itu mencoba menahan sol itu dengan tangan, tapi keduanya tahu itu sia-sia.
Bu Tuti berjalan mendekat, sepatu olahraganya berdebu. "Kenapa, Aurel?"
"Solnya... lepas, Bu," suara Aurel nyaris tak terdengar, matanya menatap tanah, tak berani mengangkat wajah.
"Sudah, kamu istirahat di pinggir dulu. Jangan dipaksa jalan, nanti jatuh."
Aurel berjalan menjauh. Kakinya tertahan sepatu kiri itu tidak lagi dipakai, melainkan diseret. Setiap langkah, kerikil dan pasir masuk ke dalam, menggesek telapak kakinya. Sakit. Tapi rasa malu jauh lebih perih. Dia merasa semua mata tertuju pada kakinya, pada sepatu yang sudah tidak layak dipakai itu.
Dari lapangan sebelah, seseorang melihat semuanya. Clarissa.
Gadis itu satu angkatan, beda kelas. Rumahnya di perumahan elit, sepatunya baru berwarna putih bersih, tas punggungnya mengkilap. Dia tidak tertawa. Dia hanya diam, menatap sepatu yang dijahit benang hitam itu, dan tiba-tiba dadanya terasa sesak. Wajah gadis yang berdiri sendirian di pinggir lapangan itu terasa akrab persis seperti wajah di foto lama yang tersimpan di lemari ruang tengah rumahnya, foto wanita yang dia dengar orang bilang mirip dengannya.
Saat bel istirahat berbunyi, kelas kosong. Semua berlarian ke kantin. Aurel tetap di tempatnya, duduk sendirian di baris paling belakang. Dia mengeluarkan sepatu itu di bawah meja, mengamati jahitan hitam yang sudah putus. Benang sisanya masih ada di saku tas potongan kecil yang Bapak berikan semalam.
Dia mengambil jarum pentul pinjaman dari UKS, lalu mulai menjahit lagi. Tangan kanannya memegang sepatu, tangan kirinya menahan benang, berusaha menyambung kembali apa yang sudah lepas. Matanya menyipit, berusaha melihat jelas di ruangan yang cahayanya sedikit redup.
Bayangan jatuh di atas sepatunya.
Aurel menegak, buru-buru menyembunyikan sepatu itu di balik punggung.
Clarissa berdiri di depan mejanya, rambutnya rapi, bajunya tidak ada satu pun kerutan.
"Sepatumu rusak ya?" suaranya lembut, tidak mengejek.
Aurel mengangguk pelan, menunduk. "Iya... nggak apa-apa kok. Bisa diperbaiki."
"Aku punya sepatu cadangan di loker. Baru, belum pernah dipakai. Kamu pakai dulu hari ini, boleh?"
Aurel menggeleng cepat. "Terima kasih... tapi nggak usah. Nanti Bapak benerin."
Clarissa terdiam, lalu mengangguk pelan. Dia tidak memaksa. Saat berjalan pergi, dia menoleh sekali lagi, lalu berbalik entah kenapa, hatinya terasa berat sepanjang jalan ke kantin.
Sore itu pulang terasa jauh lebih lama. Aurel mengikat sepatunya dengan karet gelang yang dipinjamkan Sari, melilitkannya berkali-kali supaya sol itu tidak menjuntai lagi. Setiap langkah dari halte angkot menuju Gang Mangga, telapak kakinya terasa perih terkena pasir dan kerikil yang masuk.
Sesampainya di kontrakan, Sari sudah ada di sana. Bakul jamunya masih tersandar di dinding, beberapa botol tersisa di dalamnya. Begitu melihat sepatu anaknya, wajah ibunya berubah bukan kecewa, tapi sedih, seperti ada yang mencubit hatinya.
"Putus lagi, Nduk?"
Aurel mengangguk. Air matanya jatuh satu per satu, tidak bisa ditahan lagi. Sari memeluknya, tangan ibunya kasar dan kering karena setiap hari mengangkat bakul berat, tapi pelukannya hangat dan menenangkan.
"Sudah... besok Ibu beli lem yang kuat, biar nggak lepas lagi," bisiknya lembut.
Menjelang maghrib, Slamet pulang. Baju kerjanya penuh noda semen, keringat mengering di lengan. Dia tidak banyak bicara. Mencuci tangan, lalu mengambil sepatu putih itu dari tangan Aurel. Duduk di kursi kayu kecil di teras yang remang, cahayanya hanya dari lampu teplok yang menyala redup, dia mulai bekerja.
Tangannya yang penuh luka dan kapalan tangan yang seharusnya mengangkat batu dan bata kini dengan sangat hati-hati mengamplas bagian yang lepas, mengoleskan lem kuning yang baru dibelinya seharga dua belas ribu rupiah dari uang lembur, lalu menjahitnya kembali dengan benang hitam yang sama. Diketok pelan dengan batu kali agar merekat sempurna. Dia kerjakan perlahan, satu jam penuh, seolah sedang menyusun kembali harapan yang hampir hancur.
Saat selesai, dia menyerahkan sepatu itu putih kembali, rapi, kuat.
"Ini dulu ya, Nduk. Bapak belum bisa beli yang baru. Nanti kalau tabungan cukup, bulan depan Bapak belikan, janji."
Aurel memeluk Bapaknya erat. Bau semen dan keringat bercampur bau yang bagi orang lain mungkin tidak enak, tapi bagi Aurel, itu bau rumah, bau kasih sayang yang tak tergantikan.
Malam itu mereka makan bersama di meja kecil yang bergoyang nasi putih hangat, sayur bayam, sepotong tempe dibagi tiga. Sederhana, tapi kehangatannya meliputi ruangan sempit itu.
Di tempat lain, di rumah besar yang lampunya terang benderang, Clarissa juga duduk di meja makan. Di dinding ruang tamu, tergantung foto bayi yang dibungkus selimut biru bayi yang kulitnya agak lebih gelap dari bayi lain, yang matanya seperti sedang mencari seseorang.
Dua gadis yang tertukar delapan belas tahun lalu, saat lampu di ruang bersalin padam hanya dua menit, malam itu sama-sama memikirkan sepasang sepatu. Tanpa mereka sadari, benang yang menyambung sepatu itu juga sedang menyambungkan takdir mereka perlahan, tapi pasti.
kalau bisa double up