Menjadi istri pengganti tidaklah mudah, apalagi ketika kamu hanyalah wanita yang menggantikan posisi kakakmu sendiri.
Alih-alih mendapatkan kasih sayang dan cinta dari suaminya, Kinanti justru harus menerima perlakuan kasar yang terus-menerus menyakitinya.
Kinanti tidak pernah membayangkan bahwa dirinya akan menggantikan posisi sang kakak yang kabur bersama kekasihnya sehari sebelum akad nikah dengan pria bernama Yudha.
Demi keselamatan ayahnya dan masa depan kedua adik kembarnya, Kinanti terpaksa mengikhlaskan dan merelakan impiannya untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Pernikahan yang telah berlangsung selama delapan tahun tidak pernah memberinya kebahagiaan. Namun, Kinanti memilih untuk tetap bertahan, bersabar, dan ikhlas menjalani kehidupan rumah tangganya.
Hingga sebuah kecelakaan tak terduga menimpa suaminya, Yudha Manggala.
Sejak saat itu, kehidupan pernikahan mereka berubah seratus delapan puluh derajat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fania Mikaila AzZahrah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 24 kekuatan Uang
Beberapa hari kemudian…
Hari ini giliran perwakilan perusahaan PT Global yang mendatangi perusahaan K-Tech Industry.
Tujuan utama mereka adalah mempertanyakan beberapa poin yang ada di dalam kerjasama mereka.
“Karena kalian masih meragukan alasan kenapa aku memilih pak Khalid Anugerah yang menjadi pimpinan proyek kita ini karena kemampuannya dalam menguasai proposal kerjasama kita dan tolong jangan ada yang berfikiran aneh-aneh dengan pemilihan Khalid,” ucapnya Kinanti.
Pak Ridwan sebenarnya sempat ingin mempertanyakan alasan Kinanti memilih Khalid secara langsung untuk mempresentasikan proposal kerja sama mereka. Namun, setelah menyaksikan sendiri kemampuan pemuda berusia dua puluh tiga tahun itu, keraguannya perlahan menghilang.
Khalid mampu menjelaskan setiap bagian proposal dengan begitu lancar. Bahkan, ketika mendapat pertanyaan yang cukup mendetail, dia dapat menjawabnya tanpa terlihat gugup sedikit pun.
Pak Ridwan akhirnya menyadari bahwa pemuda itu memang layak berada di posisi tersebut.
Kerja sama antara K-Tech dan PT. Global yang sama-sama bergerak di bidang tekstil dan penyediaan bahan baku pun berjalan lancar.
Namun, sebelum kontrak perjanjian ditandatangani, Kinanti tiba-tiba mengajukan satu syarat yang cukup mengejutkan.
“Maaf, Bu Kinanti. Maksud Ibu, Ibu bersedia menandatangani kontrak ini dengan syarat Khalid Anugerah yang menjadi pemimpin proyek kerja sama kita?” tanya Pak Ridwan, memastikan kembali.
Rudy, Reva, dan Amri yang berada di ruangan tersebut juga tampak saling pandang. Tidak ada yang menyangka Kinanti akan mengajukan persyaratan seperti itu.
Kinanti duduk santai di kursinya. Jarinya memainkan ujung pulpen sebelum akhirnya ia meletakkannya di atas meja.
“Saya sebenarnya tidak tahu kalau di perusahaan Anda ada karyawan bernama Khalid yang memenuhi kriteria saya untuk menangani proyek ini,” ujar Kinanti tenang. “Tapi setelah melihat presentasinya tadi, saya rasa penilaian saya tidak salah.”
Kinanti mengarahkan pandangannya kepada Khalid.
“Kita semua sudah melihat sendiri bagaimana dia menguasai isi proposal tersebut. Cara dia menjelaskan setiap poin bahkan seperti orang yang membuat proposal itu sendiri.”
Khalid yang sejak tadi diam hanya menelan ludah.
Dia sempat menoleh ke arah Kinanti dengan tatapan bingung.
Kenapa Mbak Kinanti tahu kalau aku yang mengerjakan hampir seluruh proposal itu?
Khalid kemudian menghela napas kecil.
Untung saja Mbak Kinanti tidak mengatakan kepada mereka kalau dia memilihku karena aku adiknya. Lagipula, aku sendiri baru tahu kalau kakak kandungku ternyata memiliki perusahaan sebesar K-Tech.
Di bawah meja, tangan Rudy mengepal erat.
Dia tahu betul hampir seluruh isi proposal tersebut merupakan hasil kerja keras Khalid. Namun, karena dirinya merupakan sepupu jauh Pak Ridwan, dialah yang selama ini ditempatkan sebagai pemimpin proyek.
Rudy mulai merasa tidak nyaman.
Kalau sampai Khalid mengatakan yang sebenarnya, aku akan berurusan dengannya nanti.
“Bu Kinanti, apakah keputusan Ibu ini benar-benar sudah dipertimbangkan dengan matang?” tanya Rudy, berusaha menyembunyikan kegelisahannya.
Kinanti langsung menatapnya.
Tatapannya datar, tetapi cukup membuat Rudy terdiam sesaat.
“Kalau Bapak keberatan, berarti tidak ada kata sepakat di antara kita.”
Jawaban Kinanti terdengar sederhana, tetapi tegas.
“Maaf, Pak Ridwan. Saya hanya tidak ingin menyia-nyiakan bakat seseorang. Saya tidak ingin menutup mata dan membiarkan kemampuan orang tersebut terkubur hanya karena dimanfaatkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.”
Ada penekanan dalam kalimat terakhirnya.
Kinanti kembali melirik Khalid.
Tatapan keduanya bertemu.
Khalid hanya terdiam, sementara Kinanti dalam hati berkata,
Kamu itu pintar, Khalid. Kamu tidak pantas hanya dimanfaatkan ketika mereka membutuhkan kemampuanmu, lalu dibuang begitu saja setelah semuanya selesai.
Pak Ridwan akhirnya mengembuskan napas panjang.
Setelah mempertimbangkan semuanya, dia pun menyetujui persyaratan Kinanti. Posisi pemimpin proyek yang sebelumnya dipegang Rudy resmi dialihkan kepada Khalid.
Beberapa saat kemudian, kesepakatan pun tercapai.
Kontrak kerja sama siap ditandatangani.
Setelah rapat selesai, Kinanti beranjak dari kursinya dan hendak meninggalkan ruang meeting.
Namun, langkahnya terhenti ketika Amri memanggilnya.
“Mbak Kinanti.”
Kinanti menoleh.
Amri dan Reva masih berdiri di dekat meja. Keduanya terlihat seperti menyimpan rasa penasaran yang sejak tadi mereka tahan.
“Apa?” tanya Kinanti.
Amri langsung mendekat beberapa langkah.
“Mbak, kenapa tadi memilih Khalid sebagai syarat kerja sama?”
Reva ikut menatap Kinanti. Dia bahkan sudah tidak lagi memperhatikan berkas-berkas di atas meja.
“Iya, Mbak. Kami juga penasaran,” sahut Reva.
Kinanti hanya tersenyum tipis.
Bukannya langsung menjawab, dia mengambil segelas air putih yang tersedia di atas meja. Dengan santai, dia meneguknya beberapa kali.
Amri dan Reva saling pandang.
Rasa penasaran mereka justru semakin menjadi-jadi.
“Jangan-jangan...” Reva menyipitkan mata.
Amri ikut memasang wajah serius.
“Apa Mbak punya hubungan spesial dengan Pak Khalid?”
Kinanti hampir tersedak mendengar pertanyaan itu.
Dia menatap Reva dengan ekspresi datar.
“Hubungan spesial?”
Reva terkekeh kecil.
“Ya... siapa tahu.”
Amri mengangguk-angguk seolah mendukung dugaan Reva.
“Wajar saja kami berpikir begitu. Soalnya Mbak Kinanti sampai menjadikannya syarat utama kerja sama.”
Kinanti menggeleng pelan.
Dia meletakkan kembali gelas di atas meja.
“Bukan seperti yang kalian pikirkan.”
“Lalu apa?” tanya Amri cepat.
Kinanti tidak langsung menjawab.
Dia justru berjalan melewati keduanya menuju pintu ruangan.
Namun, tepat sebelum keluar, dia berhenti.
Kemudian menoleh ke arah Amri dan Reva.
“Kalian penasaran kenapa saya memilih Khalid?”
Keduanya mengangguk hampir bersamaan.
Kinanti tersenyum kecil.
“Karena Khalid Anugerah adalah adik kandung saya.”
Hening.
Amri membeku.
Reva juga terdiam dengan mulut sedikit terbuka.
Seolah-olah mereka membutuhkan waktu beberapa detik untuk mencerna kalimat yang baru saja keluar dari mulut Kinanti.
“Adik... kandung?” ulang Amri pelan.
Kinanti mengangguk santai.
“Iya. Dia adik saya. Jadi, saya tahu persis bagaimana kemampuan dan cara kerjanya.”
Reva masih terpaku.
Tatapannya kemudian beralih ke arah pintu yang baru saja dilewati Kinanti, lalu kembali kepada Amri.
“Jadi... Pak Khalid itu adiknya Mbak Kinanti?”
Amri mengangguk perlahan, masih belum percaya.
“Pantas saja...”
“Pantas apa?” tanya Reva.
Amri menunjuk ke arah pintu dengan ekspresi tidak habis pikir.
“Pantas Mbak Kinanti kelihatan yakin sekali sama dia.”
Reva mengangguk cepat.
“Tapi aku sama sekali nggak menyangka.”
Keduanya kembali saling pandang.
Mereka baru saja mendapatkan jawaban dari pertanyaan yang sejak tadi mengganggu pikiran mereka. Namun, bukannya merasa puas, justru muncul begitu banyak pertanyaan baru.
Selama ini, mereka mengenal Kinanti sebagai sosok yang tegas, profesional, dan sulit memberikan perlakuan khusus kepada seseorang, bahkan kepada orang-orang yang berada di sekitarnya.
Namun, siapa sangka jika pemuda yang baru saja menjadi pusat perhatian dalam rapat tersebut ternyata adalah adik kandungnya sendiri.
Sementara itu, Kinanti sudah berjalan menuju kantor pribadinya dengan langkah tenang. Wajahnya tetap terlihat datar, seolah pengakuan yang baru saja dilontarkannya sama sekali bukan sesuatu yang mengejutkan.
Pintu ruang rapat pun tertutup setelah Kinanti keluar.
Di belakangnya, Amri dan Reva masih berdiri terpaku. Keduanya saling berpandangan, seolah membutuhkan waktu untuk mencerna kenyataan yang baru saja mereka dengar.
“Gila...” gumam Amri pelan.
Reva menghembuskan napas panjang, kemudian mengangguk pelan.
“Sekarang semuanya masuk akal.”
“Pantas saja selama ini Bu Kinanti begitu memperhatikan dia,” sahut Amri.
Reva kembali mengangguk. “Tapi aku benar-benar nggak menyangka kalau Khalid ternyata adik kandungnya.”
Keduanya pun kembali terdiam. Mereka masih mencoba menerima kenyataan bahwa Khalid Anugerah, pemuda yang baru saja menjadi pusat perhatian dalam rapat perusahaan, ternyata merupakan adik kandung dari CEO K-Tech.
Siang harinya, sekitar pukul dua belas lewat, suasana kantor mulai sedikit lebih lengang. Sebagian karyawan beranjak keluar untuk makan siang, sementara beberapa lainnya memilih memesan makanan dan tetap berada di dalam kantor.
Kinanti pun memutuskan untuk makan siang bersama Reva dan Amri di sebuah restoran yang tidak terlalu jauh dari perusahaan.
Ketiganya berjalan menuju area parkir.
Kinanti kemudian masuk ke dalam mobil mewahnya, sementara Reva dan Amri ikut masuk ke dalam mobil tersebut.
Setelah memastikan semuanya siap, Kinanti menyalakan mesin dan mulai meninggalkan area parkir perusahaan.
Perjalanan siang itu awalnya berjalan dengan lancar. Jalanan cukup ramai, tetapi masih bisa dilalui dengan nyaman.
Namun, ketika mereka hampir tiba di persimpangan menuju restoran, tiba-tiba sebuah mobil di depan mereka berhenti mendadak.
Kinanti yang tidak sempat menghindar langsung menginjak rem.
Sayangnya, jarak mereka sudah terlalu dekat.
Bruk!!
Suara dentuman akibat benturan terdengar cukup keras.
Tubuh Reva dan Amri spontan terdorong ke depan sebelum kembali bersandar di kursi masing-masing.
“Astaghfirullahaladzim!” ucap Kinanti kaget.
Reva langsung memegangi dadanya. “Ya ampun, Bu... saya kaget sekali.”
Amri juga mengusap dadanya sambil beberapa kali beristigfar.
“Untung kita nggak apa-apa,” katanya.
Kinanti menarik napas panjang. Jantungnya masih berdebar akibat kejadian mendadak tersebut.
“Maaf, kalian nggak apa-apa?”
“Kami nggak apa-apa, Bu,” jawab Reva.
Kinanti kemudian melepaskan sabuk pengamannya dan membuka pintu mobil.
“Saya turun dulu. Saya mau melihat kondisi mobil yang kita tabrak.”
Kinanti keluar dari mobil dengan wajah penuh penyesalan. Ia berjalan menghampiri mobil yang berada di depannya.
Tak lama kemudian, pintu mobil tersebut terbuka.
Kinanti segera menghampiri pemiliknya.
“Maafkan saya, Pak. Saya benar-benar tidak sengaja,” ucap Kinanti tulus. “Mobil Anda berhenti mendadak, dan saya tidak sempat menghindar.”
Namun, pria yang baru saja turun dari mobil itu sama sekali tidak menjawab permintaan maaf Kinanti.
Tatapannya justru tertuju lekat kepada wajah perempuan di hadapannya.
Seolah-olah dia baru saja melihat seseorang yang sudah sangat lama dicarinya.
Beberapa detik berlalu dalam keheningan.
“Kinanti Azzahra!” serunya tiba-tiba.
Kinanti langsung mengerutkan kening.
Tatapan perempuan itu berubah bingung. Ia mencoba mengingat siapa pria di hadapannya.
“Maaf... kita pernah bertemu?” tanyanya.
Pria itu justru tersenyum lebar.
“Hey! Gimana kabarnya? Kamu baik-baik saja, kan?” tanyanya bertubi-tubi. “Apa kamu benar-benar lupa padaku?”
Kinanti semakin bingung melihat sikap pria tersebut.
Ia bahkan baru menyadari bahwa pria di hadapannya memiliki wajah blasteran yang cukup mencolok.
“Maaf, Anda siapa?” tanya Kinanti sekali lagi.
Pria itu terkekeh kecil, seolah tidak percaya bahwa Kinanti benar-benar tidak mengingatnya.
“Aku Brian Chandrawinata,” ucapnya akhirnya.