NovelToon NovelToon
Noda Hitam Perkawinan

Noda Hitam Perkawinan

Status: sedang berlangsung
Genre:Konflik etika / Obsesi
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: mommy Almira

Kalau seorang suami yang dikenal sebagai laki- laki romatis terhadap istrinya, sayang terhadap anaknya dan patuh kepada kedua orang tuanya saja bisa membuat noda hitam di dalam perkawinannya, lalu laki- laki yang seperti apa yang bisa dipercaya untuk menjaga kesetiaan rumah tangga...? Lalu apakah hati seorang istri yang sudah retak akibat pengkhinantan suami bisa pulih kembali, hanya dengan kata ''maaf...?"...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mommy Almira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

9. Mas Bagas berubah

Setelah mengantar Alvaro ke sekolahnya, Suzan langsung menuju perusahaan. Dan ketika Suzan hendak menuju lift, dia berpapasan dengan Fikri asisten Bagas.

"Selamat pagi bu Suzan..." ucap Fikri dengan hormat.

"Pagi..." jawab Suzan ramah.

"Oya Fikri, suamiku ada di ruang kerjanya...? Saya mau ke sana sebentar..." tanya Suzan.

"Maaf bu, pak Bagas belum datang..." jawab Fikri.

"Apa...? Belum datang...?'' Suzan kaget.

"Tapi dia tadi berangkat lebih dulu, katanya mau ketemu klien..." sambung Suzan sambil menatap Fikri.

"Ehm... Tapi hari ini pak Bagas tidak ada jadwal bertemu klien..." sahut Fikri.

"Trus suamiku ke mana...?'' tanya Suzan.

"Ehm... Sebentar ya bu saya telpon dulu..." ucap Fikri mengambil ponselnya dari saku celana.

"Ada apa...?'' tiba- tiba Bagas datang dari arah belakang Suzan dan Bagas.

Mereka berdua pun menoleh.

"Sayang... Kok kamu baru datang...? Kamu ke mana saja...?'' tanya Suzan penuh selidik.

"Ehm... Itu tadi..." jawab Bagas sambil menggaruk tengkuknya.

"Eh...ban mobilku kempes, jadi aku berhenti di tukang tambal ban..." jawab Bagas.

"Tadi di rumah kamu bilang pagi ini kamu mau ketemu klien, tapi kata Fikri kamu nggak ada jadwal bertemu klien. Trus tadi yang kamu temui klien yang mana...?'' tanya Suzan.

"Ehm...iya klien yang kemarin. Pak Sulistiyo. Aku belum sempat kasih tahu Fikri..." jawab Bagas sambil melirik ke arah Fikri.

Suzan menghela nafas.

"Sayang... Siang ini kita jadi makan bareng kan...?'' tanya Bagas mengalihkan pembicaraan.

"Jadi dong..." jawab Suzan.

"Sayang... Tadinya aku mau ke ruang kerja kamu, mau ngomongin soal ulang tahun pernikahan kita. Aku belum ada persiapan sama sekali, kamu bantuin aku dong, waktunya udah mepet, satu minggu lagi..." ucap Suzan.

Bagas tersenyum lalu melangkah ke mendekati Suzan kamudian memegang kedua pundak sang istri.

"Sayang, kamu nggak usah khawatir soal itu, kan tadi mama mau bantuin memesan baju dan sisanya kita tinggal menghubungi event organizer untuk dekor dan juga catering..." sahut Bagas sambil menatap wajah Suzan.

"Iya sih sayang... Tapi aku takut persiapannya nggak maksimal...." jawab Suzan yang masih saja khawatir.

"Nggak lah sayang... nanti kita urus bareng- bareng ya..." ucap Bagas.

Suzan mengangguk.

"Ya udah, nanti kita lanjut pas makan siang ya..." ucap Bagas.

"Iya. Sampai ketemu nanti ..." jawab Suzan.

"Iya sayang..." sahut Bagas lalu mengecup kening Suzan dengan lembut.

Suzan lalu masuk ke lift menuju lantai lima. Sedangkan Bagas dan Fikri masih berdiri di depan lift.

"Kamu ngadu apa sih ke istri saya...? Hah....?'' Bagas nampak kesal pada asistennya.

"Ehm sa...saya..." Fikri tergagap.

"Dengar ya, kalau istri saya mencari saya dan saya tidak ada di kantor, kamu kan bisa cari alasan yang masuk akal. Kamu jangan membuat istri saya berfikir macam- macam tentang saja dong. Kamu mau membuat rumah tangga saya ribut...?'' ucap Bagas dengan ketus.

"Ti... Tidak ..pak Bagas... Ma...maaf..." sahut Fikri.

"Maaf ..maaf...kamu ngerti nggak saya ngomong...?'' ucap Bagas sambil menatap Fikri dengan tatapan kesal.

"I..iya pak Bagas, saya mengerti. Sekali lagi saya minta maaf..." sahut Fikri.

Bagas menghela nafas. Lalu dia masuk ke lift meninggalkan Fikri begitu saja di depan lift.

🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇

Waktu makan siang pun tiba, Suzan dan Bagas pergi ke restauran favorit mereka yang jaraknya sekitar dua kilo meter dari perusahaan keluarga Hartanto.

"Kamu mau makan apa sayang...?'' tanya Bagas memberikan buku menu pada sang istri.

"Seperti biasa deh..." jawab Suzan.

"Minumnya...?'' tanya Bagas.

"Orange just aja..." jawab Suzan.

"Baiklah..."

"Mbak pesan ini dua, dan orange jusnya dua..." ucap Bagas menunjuk gambar menu kesukaan mereka berdua.

"Baik, mohon ditunggu ya..." sahut pelayan dengan sopan.

"Sebentar ya sayang, aku angkat telpon dulu..." ucap Suzan saat salah satu kliennya menelpon.

Bagas menghela nafas, lalu mengangguk. Iya, hal seperti itu memang bukan pertama kali terjadi. Saat sedang berdua selalu ada saja yang menelpon Suzan untuk membahas pekerjaan. Maklumlah, semua klien ataupun kolega tuan Hartanto tahu bahwa Suzan adalah orang kepercayaannya. Jadi tak heran jika mereka sering menghubungi Suzan untuk membahas kerja sama.

"Iya... nanti saya kirim filenya ya, terima kasih..." ucap Suzan mengakhiri sambungan telponnya.

"Sayang..." ucap Bagas.

"Sebentar sayang, aku balas pesan sebentar ya..." sahut Suzan sambil mengetik sesuatu di ponselnya.

Bagas kembali menghela nafas. Perasaannya mulai tidak nyaman karena Suzan masih harus melayani klien, padahal ini sudah jam makan siang yang seharusnya waktu untuk istirahat.

"Sayang, maaf ya, tadi ada klien yang... biasalah agar ribet orangnya..." Suzan merasa tidak enak pada sang suami.

"Trus gimana...?'' tanya Bagas sedikit merasa bete.

"Gi..gimana apanya...?'' Suzan balik bertanya.

Lagi- lagi Bagas menghela nafas.

"Tadi kan kamu bilang mau bahas soal ulang tahun pernikahan kita..." ucap Bagas.

"Oh iya sayang... " sahut Suzan.

Suzan lalu memberitahu Bagas kalau dia sudah menghubungi event organizer untuk mendekorasi rumahnya. Karena acaranya akan diadakan di rumah, seperti sebelum- sebelumnya.

"Aku sudah minta sama mereka dekorasinya seperti ini... Menurut kamu bagus nggak...?'' Suzan memperlihatkan foto dekorasi yang dia mau.

"Iya bagus..." jawab Bagas sambil mengangguk.

Tak lama kemudian makanan yang mereka pesan datang. Bagas dan Suzan langsung menikmati makanan kesukaan mereka. Sekitar tiga puluh menit mereka menikmati makanannya sambil membahas acara ulang tahun pernikahan. Namun hingga selesai makan siang hal yang paling ditunggu- tunggu oleh Suzan tidak datang juga.

Iya, tadi pagi Suzan melihat Bagas mengantongi kotak berisi cincin di saku celanannya. Tentu saja Suzan yakin bahwa Bagas akan memberikan cincin itu kepadanya saat makan siang. Namun ternyata Bagas tidak mengatakan apapun soal cincin itu.

"Ayo sayang kita kembali ke kantor..." ucap Bagas setelah selesai makan siang.

"Hah...?'' sahut Suzan.

"Iya, kita kembali ke kantor..." jawab Bagas.

"Oh, kembali ke kantor ya...'' ucap Suzan.

"Lho, memangnya kamu mau di sini terus...?'' sahut Bagas.

"Oh... Ya nggak dong..." Suzan jadi salah tingkah.

"Kamu kenapa sih sayang...?'' Bagas merasa aneh dengan sikap sang istri.

"Oh...nggak...nggak papa..." jawab Suzan sambil bangun dari duduknya.

"Ayo..." Bagas menggenggam tangan Suzan dan bersiap untuk meninggalkan restauran.

"Sayang..." ucap Suzan.

"Iya..." jawab Bagas menoleh ke arah sang istri.

"Ehm...kamu nggak mau ngomong sesuatu...?'' tanya Suzan.

"Ngomong sesuatu...? Ngomong apa...? '' Bagas balik bertanya.

"Ehm... maksudnya kamu nggak mau menyampaikan sesuatu gitu sama aku...?'' tanya Suzan.

"Maksud kamu apa sih sayang...? Aku nggak ngerti deh....?" Bagas justru bingung dengan pertanyaan sang istri.

"Ehm...maksudnya... Itu soal acara kita nanti..." Suzan justru merasa bingung sendiri.

Bagas tersenyum sambil menatap Suzan.

"Ya...kan tadi kita sudah membahasnya. Memang ada yang kurang...?'' tanya Bagas.

"Oh...nggak sih..." jawab Suzan.

"Ya udah... Kita balik ke kantor aja yuk..." Bagas kembali meraih tanggan Suzan dan menggenggamnya.

Mereka berdua pun berjalan keluar dari restauran. Selama di perjalanan menuju kantor , pikiran Suzan terus tertuju pada kotak cincin yang tadi pagi ada di saku celana sang suami.

Suzan melirik ke saku celana Bagas, dan dia tidak melihat benda itu di sana.

"Kemana kotak cincin itu...? Bukannya tadi pagi mas Bagas menaruhnya di kantong...? Kenapa dia tidak memberikannya padaku...?" tanya Suzan dalam hati.

🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇

"Mungkin suamimu sengaja menyimpan cincin itu di tempat lain untuk kejutan nanti saat acara ulang tahun pernikahan..." ucap Elma sahabat Suzan sekaligus sekertarisnya.

Suzan menghela nafas.

"Entahlah.. tapi kok aku merasa ada yang disembunyikan sama mas Bagas ya..." sahut Suzan.

"Maksudnya kamu curiga suamimu ada main di belakangmu...?'' tanya Elma.

"Aku nggak tahu, tapi aku merasa sikap mas Bagas berubah..." jawab Suzan.

Elma menghampiri Suzan yang duduk di meja kerjanya.

"Kamu jangan berfikiran macam- macam dong say...nggak mungkinlah suamimu berbuat yang enggak- enggak..." Elma menepuk pundak Suzan.

Iya, karena di mata semua orang yang mengenalnya, Bagas dikenal sebagai pria romantis. Termasuk Elma yang sudah belasan tahun bersahabat dengan Suzan, dia sangat tahu bagaimana perlakuan Bagas terhadap Suzan. Bagas selalu memanjakan Suzan dan tak segan memamerkan kemesraannya di manapun mereka berada.

"Iya sih Alma, aku hanya merasa sikap mas Bagas sedikit dingin akhir- akhir ini. Dia juga gampang marah..." ucap Suzan.

Iya, akhir- akhir ini Suzan memang memperhatikan sikap Bagas yang berbeda dari biasanya. Sikap Bagas nampak sedikit lebih dingin dan cuek. Dia juga gampang marah walaupun hanya masalah kecil.

Selain itu Bagas juga jarang menyentuhnya. Padahal sebelumnya dia selalu rutin meminta haknya sebagai suami. Tapi sudah beberapa minggu ini Bagas tidak pernah memintanya lebih dulu. Bahkan setelah pulang dari Surabaya, Bagas nampak biasa saja, seperti tidak ada kerinduan terhadap Suzan.

"Say... Kamu jangan berpikiran negatif gitu dong, nggak baik. Kamu harus percaya pada suamimu. Kalau akhir- akhir ini dia terlihat cuek, mungkin dia lelah karena pekerjaan..." ucap Alma tidak ingin sang sahabat curiga pada sang suami.

"Dan untuk masalah cincin. Aku yakin suamimu akan memberikam cincin itu nanti saat acara ulang tahun pernikahan. Mungkin sekarang suamimu sedang menyembunyikan cincin itu dari kamu, untuk kejutan. Biar surprise gitu..." sambung Alma meyakinkan sang sahabat.

"Iya, Alma..." jawab Suzan.

Dan bersamaan dengan itu ponsel Suzan berdering. Suzan lalu mengambil ponselnya di meja kerja.

"Mama mertua..." ucap pada Alma.

"Ya udah angkat gih..." sahut Alma.

Suzan pun mengangkat telpon dari nyonya Hartanto.

"Kalau Suzan sih, sore ini bisa mah, tapi nggak tahu deh mas Bagas bisa atau nggak. Tadi dia bilang mau ketemu klien. Tapi nanti aku tanya mas Bagas dulu ya mah... Oke mah, sampai ketemu nanti sore ya...." ucap Suzan.

"Ada apa say...?'' tanya Alma.

"Mama mau ngajak ke butik langganannya. Mau pesen baju buat acara ulang tahun pernikahan aku dan mas Bagas..." jawab Suzan sambil meletakkan kembali ponselnya di atas meja kerja.

"Hari ini aku bisa pulang cepat kan...?'' tanya Alma.

"Iya bisa, sore nanti free kok nggak ada jadwal ketemu klien. Dan untuk kerjaan, biar aku yang beresin. Kamu ke butik aja, pilih baju terbaik buat acara kamu dan suamimu..." jawab Alma.Suzan mengangguk sambil tersenyum.

🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇🍇

Sore hari sekitar pukul tiga, Suzan ijin untuk pulang lebih awal karena dia dan sang ibu mertua akan pergi ke butik guna untuk memesan baju pesta.

Suzan pun melajukan mobilnya ke alamat butik yang sudah dikirim oleh mama mertuanya.Sampai di depan butik ternyata nyonya Hartanto sedang menunggu di dekat mobil bersama dengan Darma, sang supir sekaligus asisten dan juga fotografer pribadinya.

"Mah..." panggil Suzan begitu dia turun dari mobilnya.

"Hai sayang... sini..." nyonya Hartanto melambaikan tangannya.

"Mama sudah lama...?'' tanya Suzan.

"Nggak kok.... Ayo kita masuk yuk... Pemilik butik langganan mama sudah menunggu di dalam..." nyonya Hartanto menggandeng tangan Suzan.

Sampai di dalam butik, seorang pegawai mengantar keduanya ke ruangan sang desainer sekaligus pemilik butik tersebut.

"Kenalkan ini menantu saya yang akan memesan baju pesta. Kalau suaminya, nggak bisa ikut karena masih ada pekerjaan..." ucap nyonya Hartanto.

Suzan menyalami pemilik butik tersebut.

"Suzan..."

"Casandra..."

Mereka berdua tersenyum ramah. Namun mata Suzan tiba- tiba fokus pada sebuah benda yang melingkar di jari manis Casandra. Suzan merasa tidak asing dengan benda tersebut.

Bersambung....

1
Sri Darmayanti
jelg selingkuh semua,,, ketahuan semua busuknya... sisan pergi ya
Mommy Almira: Keluarga selingkuh 🤭
total 1 replies
Asmara
lanjut thor
Wang
Ceritanya menarik 😍
Salsa
Suami kurang ajar 🤬🤬🤬🤬
Asmara
Semoga Suzan cepet tahu siapa selingkuhan Bagas, lalu gugat cerai, trus CLBK deh sama di Bintang 😍😍
Mommy Almira: Semoga ya kak 🥰🥰
total 1 replies
Asmara
Siapa kira" pacarnya Sonia...?
Dini Anggraini
Kak kapankah bagas dan Cassandra ketahuan selingkuh kak enak banget papanya bagas suruh2 Suzan harus dapat proyek besar terus kerjanya bagas apa dong kak enak2 kan saja. Dan Suzan bila suatu saat nanti kamu akhirnya keluar dari perusahaan itu bangunlah perusahaanmu sendiri tanpa bantuan siapapun aku mau lihat apa perusahaan keluarga bagas masih bisa berdiri tegak saat Suzan sudah pergi? 🥰
Mommy Almira: Nanti ya kak, masih proses... kan Bagas anak nggak guna, nggak bisa kerja 😄🤭
total 1 replies
Asmara
.Keren🥰🥰🥰🥰
Asmara
Suzan bloon bgt sumpah.... Bagas gila, semoga cepat ktahuan , biar dicerai sama Suzan, 😡😡
Asmara
Sonia selingkuhannya siapa ya..
Dini Anggraini
Bagus susan aku dukung kamu kalau perlu video saat bagas dan casandra melakukannya agar di pengadilan nanti bisa jadi bukti nyata buat mereka berdua malu karena telah menyelingkuhi kamu. Apalagi casandra punya butik terkenal di kalangan sosialita pasti pelanggan langsung kabur begitu skandalnya viral di media sosial. Zaman sekarang ini butuh bukti nyata dan di viralkan agar orang lain ikut menghujat perbuatannya.Bila bagas nanti minta maaf jangan pernah maafkan tetap gugat cerai dia. 🥰🥰
Dini Anggraini: sama2 Kak ceritanya bagus kok 👍👍🥰🥰🥰
total 2 replies
Asmara
Hah...? jadi mamannya Bagas juga selingkuh... astogeee... 😄
araaself
lanjutttt kakk
Mommy Almira: Besok ya kak, sehari 1 bab 😁
total 1 replies
Asmara
Gila..gila...gilaaa... Ya ampun Thor , ngueas emosi bgt ceritanya... Lanjut,.
Asmara
Suamimu dah kenyang Suzan... 😅
Asmara
Ya ampun Suzan, oon jg kmu ya, suamimu LG digoda pelakor kok nggak nyadar
Asmara
Ih nyebelin bgt sumpah si Bagas 😡
Asmara
Palingan cincin buat pelakor
Asmara
Hadeeh... parah ini , disuruh ngurus perusahaan malah berbagi peluh tiap hari di hotel . parah...parah..
Asmara
Baru bab 2 udah bikin emosi Thor, Bagas suami kurang ajar 😡
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!