NovelToon NovelToon
IBU TIRI PENYELAMATKU

IBU TIRI PENYELAMATKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / Balas Dendam / Action
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Icita

Setelah enam bulan wafatnya sang Ibu, Dea memutuskan meninggalkan rumah karena tidak tahan terhadap tekanan dan siksaan dari Paman, Bibi dan sepupunya yang sengaja ingin merebut warisan dari sang ayah yang merupakan seorang CEO sebuah perusahaan Ekspor-Impor bernilai ratusan triluin.

Takdir Pelarian Dea mempertemukannya dengan Tania, seorang gadis desa yang merantau ke kota untuk mencari keluarga dan asal usul jati dirinya.
Dea akhirnya mau kembali ke rumah setelah sang ayah menikahi Tania dan menjadi ibu tiri untuk Dea. Kembalinya Dea ke rumah menimbulkan ketidak sukaan dari paman dan bibi Dea, apalagi sekarang adanya Tania yang menjadi perisai hidup bagi Dea.

Banyak drama dan kejadian yang menguras emosi, banyak plot twist dalam setiap bab kejadiannya, baik dalam kehidupan Dea maupun kehidupan Tania dalam mencari keluarganya di ibukota.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aroma Nasi Goreng dan Sarapan Penguasa Bayangan

Sinar matahari pagi menerobos hangat di antara celah tirai putih Vila Pinus Bogor. Udara sejuk pegunungan yang membawa aroma tanah basah dan dedaunan menggantikan kabut tebal yang semalam menyelimuti pertempuran mereka. Untuk pertama kalinya dalam enam belas tahun, tidak ada sirine darurat yang meraung, tidak ada langkah sepatu bot taktis yang tergesa-gesa, dan tidak ada rasa takut yang mengintai di balik pintu.

Di ruang makan berlantai kayu yang luas, aroma gurih bawang merah tumis, terasi bakar, dan rempah-rempah tradisional memenuhi udara.

Tania berdiri di depan kompor berpelindung kaca, mengenakan celemek kain bermotif bunga-bunga kecil di atas kaus santainya. Rambut panjangnya diikat asal menjadi sanggul berantakan di tengkuk lehernya. Tangannya dengan lincah menggerakkan spatula kayu, membolak-balik nasi goreng kampung berhias irisan cabai merah dan suwiran ayam di atas wajan baja raksasa.

Di sampingnya, Dea duduk di atas bangku tinggi. Wajah gadis remaja itu tampak jauh lebih segar, lingkaran hitam di bawah matanya perlahan memudar, digantikan oleh rona merah alami di pipinya. Dengan penuh konsentrasi, Dea sedang mengiris mentimun dan tomat segar di atas papan pemotong kayu.

"Ibu, telur ceploknya mau setengah matang atau matang sempurna?" tanya Dea sambil menoleh pada Tania, matanya berbinar riang.

Tania tersenyum manis, mematikan kompor lalu mengusap sisa tepung di pipi Dea dengan ibu jarinya. "Buat Kakek harus matang sempurna, Sayang. Kalau buat Ayahmu... tanyakan sendiri pada pria yang sejak tadi berdiri kaku di depan pintu dapur itu."

Dea dan Tania serempak menoleh ke arah ambang pintu dapur.

Di sana, Xander von Hapsburg berdiri mematung. Pria yang biasanya dibalut setelan jas mahal bernilai ratusan juta rupiah itu kini hanya mengenakan kaus polos berwarna abu-abu tua dan celana kain santai. Namun, ekspresi wajahnya tampak luar biasa tegang—jauh lebih tegang daripada saat ia menghadapi pengepungan helikopter tempur malam sebelumnya.

Xander menatap wajan nasi goreng dan papan pemotong kayu dengan pandangan serius, seolah-olah kedua benda dapur itu adalah bom waktu yang siap meledak kapan saja.

"T-Tuan Xander... maksudku, Ayah?" panggil Dea, agak canggung namun diiringi senyuman tipis. "Kenapa berdiri di situ saja? Ayo masuk."

Xander berdehem pelan, membetulkan posisi lengannya yang serba salah. Pria penguasa bayangan benua Eropa itu melangkah masuk ke dapur dengan sangat pelan, seolah takut menginjak ranjau darat.

"Aku... aku hanya ingin melihat apakah ada yang bisa kubantu," kata Xander dengan suara beratnya yang mendadak gagap. Matanya beralih menatap papan pemotong di depan Dea. "Apakah aku perlu memotong sesuatu? Aku sangat mahir menggunakan belati taktis."

Tania tak sanggup menahan tawa renyahnya. Ia menyodorkan seikat bawang bombai dan sebuah pisau dapur biasa kepada Xander. "Kalau begitu, silakan kupas dan potong bawang ini, Tuan Penguasa. Jangan pakai belati taktis, cukup pisau ini saja."

Xander menerima pisau dapur itu dengan kedua tangannya, memegangnya dengan teknik kuncian militer yang sangat presisi. Ia mengamati bawang bombai di mejanya bagaikan seorang teknisi yang sedang membedah mesin jet.

Baru tiga detik Xander mengiris lapisan pertama bawang tersebut, matanya yang berwarna biru tajam tiba-tiba berkaca-kaca. Air mata mulai menetes membasahi pipinya yang tegas.

"Ada apa, Tuan Xander?!" Freya, pengawal pribadinya yang berdiri siaga di luar dapur, langsung menerobos masuk dengan pistol terkokang di tangan. "Apakah ada racun gas tak terlihat di ruangan ini?!"

"Tidak, Freya!" seru Tania cepat sambil menepuk jidatnya. "Itu cuma reaksi alami mata kalau kena uap bawang bombai! Ya ampun, turunkan senjatamu!"

Dirga, yang baru saja masuk dari teras belakang sambil memegang cangkir kopi hitam panas, langsung tertawa terbahak-bahak melihat pemandangan absurd di depannya. Pria veteran itu bersandar di ambang pintu, menunjuk Xander yang sedang menyeka air matanya dengan tisu dapur.

"Luar biasa," goda Dirga sambil terkekeh. "Seorang Dominus Umbrae yang ditakuti oleh seluruh mafia internasional, akhirnya dibuat menangis tersedu-sedu oleh sebongkah bawang bombai di Bogor."

Xander melotot tajam ke arah Dirga, meski matanya yang merah dan berair membuat ancamannya sama sekali tidak terlihat menakutkan. "Tutup mulutmu, Dirga. Ini adalah teknik penyamaran zat kimia alami dari tumbuhan lokal."

Dea tertawa hingga bahunya terguncang-guncang. Suara tawa renyah gadis itu memenuhi seluruh sudut dapur, mencairkan sisa-sisa trauma dan ketegangan masa lalu yang pernah membelenggu mereka. Xander, yang melihat putrinya tertawa lepas karena ulahnya, perlahan menghentikan usahanya memotong bawang dan tersenyum tulus—sebuah senyuman hangat yang tidak pernah dilihat oleh siapa pun dalam belasan tahun terakhir.

Tak berapa lama kemudian, Kakek Suratman melangkah masuk ke ruang makan. Pria tua itu kini sudah mengenakan kemeja batik longgar yang nyaman. Meski langkah kakinya masih agak pelan, wajah tuanya memancarkan kedamaian yang begitu dalam.

"Wah, wangi sekali dapur kita pagi ini," panggil Kakek Suratman dengan suara parau yang lembut.

"Kakek!" Dea langsung melompat turun dari kursinya, berlari kecil menuntun sang kakek angkat untuk duduk di kursi utama meja makan kayu jati. "Kakek jangan capai-capai dulu, biar Dea yang ambilkan nasi gorengnya."

"Terima kasih, Cucuku yang cantik," ujar Kakek Suratman sambil mengelus lembut jemari Dea.

Tania membawa wajan besar nasi goreng ke tengah meja, disusul oleh piring-piring pelengkap seperti kerupuk udang, acar mentimun, dan telur ceplok. Mereka semua akhirnya duduk mengelilingi meja makan tersebut.

Xander duduk di sisi kanan Dea, sementara Tania duduk di sisi kirinya. Kakek Suratman berada di ujung meja, dan Dirga bersama Freya bergabung di sisi yang tersisa setelah Tania memaksa mereka untuk ikut makan bersama tanpa protokol pengawalan.

Sebelum makan dimulai, Kakek Suratman menangkupkan kedua tangannya, memimpin doa singkat penuh rasa syukur. Setelah doa selesai, suasana meja makan mendadak penuh dengan kehangatan khas keluarga Indonesia.

"Ayo dimakan, Tuan Xander," kata Kakek Suratman sambil tersenyum ramah pada pria berambut perak di sebelahnya. "Mungkin nasi goreng kampung ini sangat sederhana dibanding makanan istana di Eropa, tapi Tania memasaknya dengan rasa kasih sayang."

Xander mengambil sendoknya dengan canggung. Ia menyendok sedikit nasi goreng kampung buatan Tania, lalu memasukkannya ke dalam mulut. Seketika, matanya membelalak. Rasa gurih manis yang pas, dipadu dengan kerenyahan bumbu dan aroma asap wajan yang khas, meledak di lidahnya.

"Ini..." bisik Xander, menatap Tania dengan takjub. "Ini sangat lezat, Tania."

"Ibu memang jago masak, Ayah!" puji Dea bangga, menyiram nasi gorengnya dengan kecap manis dan kerupuk. "Waktu di vila dulu, Ibu selalu buatkan sup ayam hangat kalau Dea sedang sedih atau kelelahan."

Tania tersenyum malu-malu, menyendokkan sebutir telur ceplok ke piring Dea, lalu beralih menyendokkan potong ayam terbaik ke piring Xander. "Makan yang banyak, biar badanmu tidak kaku seperti patung terus."

Xander menatap piringnya yang kini terisi penuh oleh makanan yang disiapkan oleh Tania. Dada pria itu berdesir hangat. Di dalam dunia bawah tanah yang keras dan berdarah, makanan selalu disajikan oleh pelayan bersarung tangan putih di atas piring perak, diiringi ketakutan akan racun musuh. Namun di sini, di meja makan kayu sederhana ini, makanan disajikan dengan perhatian dan ketulusan murni.

Kakek Suratman menatap Xander dengan pandangan mata tuanya yang bijaksana. "Tuan Xander..."

"Panggil saya Xander saja, Pak Suratman," potong Xander penuh rasa hormat.

Kakek Suratman mengangguk pelan. "Xander... aku ini hanyalah seorang petani tua yang tidak mengerti urusan harta atau kerajaan bisnismu di luar negeri. Tapi sebagai pria yang pernah membesarkan Tania dan melihat Dea tumbuh, aku hanya ingin menyampaikan satu hal."

Seluruh orang di meja makan mendadak hening, mendengarkan wejangan dari pria tertua di ruangan tersebut.

"Keluarga itu bukan cuma tentang darah yang mengalir di dalam tubuh," lanjut Kakek Suratman lembut, matanya bergantian menatap Xander, Tania, dan Dea. "Keluarga adalah tentang siapa yang bertahan berdiri di sampingmu saat seluruh dunia meninggalkanmu. Tania sudah menganggap Dea seperti anak kandungnya sendiri, dan Dea sudah menemukan rumah di dalam diri Tania. Jika kau ingin menjadi bagian dari hidup Dea kembali... jagalah kehangatan ini. Jangan biarkan dendam dan kekuasaan menghancurkan kebahagiaan anak ini lagi."

Xander menundukkan kepalanya dalam-dalam, meresapi setiap patah kata dari pria tua di depannya. Pria yang tak memiliki takhta atau senjata ini telah memberikan pelajaran hidup paling berharga yang tak pernah ia dapatkan di dalam kastil mewahnya.

Xander menoleh ke samping, menatap Dea yang sedang tersenyum padanya, lalu menatap Tania yang mengangguk pelan memberi dukungan.

"Saya berjanji, Pak Suratman," ucap Xander, suaranya mantap dan penuh ketulusan. "Saya akan mempertaruhkan seluruh hidup saya untuk menjaga kehangatan keluarga ini."

Dea menyandarkan kepalanya sebentar di bahu Tania, lalu mengulurkan tangannya di atas meja, menggenggam tangan Xander. "Terima kasih, Ayah. Terima kasih, Ibu."

Di bawah naungan sinar matahari pagi Bogor yang hangat, tawa dan obrolan santai kembali mengalir di antara mereka. Nasi goreng di atas wajan perlahan ludes, diselingi cerita-cerita lucu Dea tentang masa sekolahnya dan kebingungan Xander memahami tradisi-tradisi lokal Indonesia.

Untuk sejenak, ancaman dari badai bernama Zurich dan sindikat Teratai Merah menguap dari pikiran mereka. Di dalam vila sederhana itu, mereka tidak lagi dikenal sebagai Dominus Umbrae, pewaris Mawar Hitam, atau korban kejahatan. Mereka hanyalah sebuah keluarga utuh yang baru saja menemukan kembali jalan pulang.

1
sunaryati jarum
Mantaaap technologynya
sunaryati jarum
Bermimpilah setinggi langit Baskoro,bilang jatuh nanti langsung remek
sunaryati jarum
Makin penasaran
sunaryati jarum
Perang antara klan
sunaryati jarum
Wonder woman kamu Tania
sunaryati jarum
baru mampir
Icita: Tks KK, semoga betah y.. sehat selalu
total 1 replies
ceuceu
ga kebaca alur ceritanya,ternyata beda dari prediksi pembaca,keren sih
ceuceu
Baru mulai baca.
sejauh ini sy suka ceritanya,sy kasi like thor
Icita: mkasih kk, sehat selalu..💪💪
total 1 replies
Nica
sangat suka dan luar biasa...lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!