Zavian Hartwell, 38 tahun. Menikah dengan Viona Lestari, janda anak satu. Zavian kaget karena setelah menikah, Viona malah menyodorkan putrinya untuk melakukan malam pertama mereka.
"Viona, kau gila? Dia putrimu. Dia masih anak-anak, " Zavian.
"Kita menikah karena bisnis, aku punya laki-laki lain. Tapi kau akan tetap akan merasakan malam pertama, dengan putriku. Dia akan menggantikan aku." Viona
"Tapi bunda ..." Mirella menatap ibunya memohon.
"Diam, lakukan perintah bunda. Kalau tidak, kamu akan di kirim ke luar negeri. Puaskan daddy Zavian!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mae_jer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17
Air dingin menyelimuti tubuh kecil itu sepenuhnya. Detik-detik yang berlalu terasa seperti berjam-jam. Permukaan air kembali tenang, namun Mirella tidak muncul ke atas. Tidak ada suara, tidak ada gerakan. Keheningan yang menakutkan menyelimuti tepian kolam.
Bara melompat ke dalam air tanpa ragu sedetik pun. Ia berenang secepat kilat ke arah tempat terakhir kali ia melihat gadis itu. Tangannya meraba dalam kegelapan air, dan saat jemarinya menyentuh kain baju renang biru muda itu, hatinya mencelos. Ia merangkul tubuh lemas itu, lalu dengan satu gerakan kuat, mengangkatnya ke permukaan air.
Mirella terkulai tak berdaya di pelukannya. Matanya terpejam rapat, bibirnya mulai tampak kebiruan, dan dadanya tidak bergerak sama sekali. Wajahnya pucat seperti kertas.
Bara berenang kembali ke tepi kolam sambil menopang tubuh gadis itu dengan satu lengan. Dengan bantuan Devon yang menarik dari atas, ia naik ke darat, lalu membaringkan Mirella perlahan di atas rumput yang hangat terkena matahari sore.
"Mirella! Bangun, Mirella! Buka matamu!" seru Bara, suaranya bergetar namun tetap tegas. Ia menepuk-nepuk pipi gadis itu berulang kali. Tidak ada tanggapan. Tidak ada kedipan mata, tidak ada gerakan napas.
Jantung Bara berdegup kencang luar biasa. Ia tahu apa yang harus dilakukan. Segera ia berlutut di samping tubuh Mirella, memiringkan kepala gadis itu sedikit ke belakang agar saluran napasnya terbuka. Dengan kedua telapak tangannya yang saling bertumpuk, ia menekan dada Mirella dengan irama yang kuat dan teratur.
Satu, dua, tiga, empat, lima, berulang kali.
Di belakangnya, Ria berdiri gemetar hebat. Wajahnya pucat pasi, kakinya terasa lemas. Kalau cewek tidak bangun-bangun, pasti dia yang akan disalahkan. Karena dia yang dorong.
Pingkan dan Rosa segera naik dari kolam, tubuh mereka masih basah kuyup. Mereka memakai handuk yang diserahkan pembantu rumah tangga, lalu berdiri tak jauh dari sana dengan napas tertahan. Mereka saling berpandangan, sama-sama melihat kepanikan Bara yang belum pernah mereka lihat sebelumnya. Kenapa cowok itu sepanik itu?
Masih tidak ada tanda-tanda kehidupan. Bara menghentikan tekanan dada sejenak, lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Mirella. Tidak ada hembusan napas. Waktu seakan berhenti berputar. Tanpa ragu lagi, Bara menutup hidung Mirella dengan jari telunjuk dan ibu jarinya, lalu menempelkan bibirnya ke bibir pucat dan dingin gadis itu. Ia meniupkan udara ke dalam mulut Mirella perlahan, berulang-ulang, memastikan dadanya naik sedikit. Lalu kembali menekan dada itu dengan kedua tangannya.
Ketiga gadis yang berdiri di sana ternganga, mata mereka membelalak tak percaya. Mereka tahu Bara bukan tipe cowok yang mudah berdekatan dengan perempuan. Tapi di sini, di saat yang paling menegangkan ini, ia melakukan hal yang tidak pernah mereka bayangkan.
"Mirella, tolong... Bangunlah ..." bisik Bara di sela-sela pertolongannya, suaranya terdengar bergetar. Ia tidak peduli siapa yang mendengar. Ia hanya ingin gadis itu kembali bernapas. Satu tiupan, lalu tekanan dada lagi. Satu tiupan di mulutnya, tekanan dada lagi. Ia terus melakukannya, tidak lelah, tidak menyerah. Keringat dingin mulai menetes di keningnya, bercampur dengan air kolam yang masih menetes dari rambutnya.
Lalu, tiba-tiba tubuh kecil itu tersentak hebat. Mirella terbatuk-batuk dengan suara yang terdengar menyakitkan, air keluar dari mulut dan hidungnya secara perlahan namun terus mengalir. Matanya masih terpejam rapat, namun dadanya kini naik turun dengan napas yang pendek, tersengal-sengal, dan terdengar berat, namun ia bernapas. Ia masih hidup.
Bara menghela napas panjang, bahunya terkulai lemas seakan beban berat baru saja diangkat dari pundaknya. Ia segera memiringkan tubuh Mirella ke samping agar sisa air keluar dengan lancar, lalu menyelimuti tubuh gadis itu dengan handuk tebal yang diserahkan oleh pembantu.
Devon yang sejak tadi diam akhirnya berbicara pelan,
"Dia ... dia akan baik-baik saja kan?"
Bara mengangguk pelan, namun matanya tajam menoleh ke arah Ria.
"Kenapa mendorongnya begitu?" pertanyaan itu terdengar datar, tapi tatapannya tajam. Dan Rosa merasa aneh. Dia selalu memperhatikan Bara, dan cowok tidak pernah sepeduli ini pada orang lain. Apalagi lawan jenis.
"Ma-maaf Bar, gue ... Gue cuma becanda tadi. Nggak dia nggak bisa renang."
"Becanda lo keterlaluan Ria. Kalian pulang aja, dia biar gue yang urus."
Rosa langsung maju.
"Gue bisa tinggal Bara. Gue bantuin lo."
"Nggak perlu. Pulang aja. Kita ke sini buat belajar kelompok, bukan berenang. Lain kali kalian jangan seenaknya di rumah gue." balas Bara agak ketus.
Rosa, Pingkan dan Ria menunduk malu. Bara tidak menatap mereka lagi. Dia fokus ke Mirella dan menggendong gadis itu yang makin menggigil. Dengan terpaksa, Pingkan, Rosa dan Ria pergi dari rumah tersebut. Devon ikut pulang begitu ketiga cewek itu pergi. Padahal dia masih pengen liat tontonan menyenangkan tadi.
"Sayang sekali." katanya tersenyum merasa lucu.
"Bi, buatin sup hangat ya. Bawa ke kamar aku kalo sudah." kata Bara ke salah satu pelayan tua yang dia lewati. Tangannya setia menggendong Mirella yang lemah sekali. Ia berjalan cepat menaiki tangan ke lantai dua.
"Baik den." si bibi langsung bergerak.
Bara membuka pintu kamarnya dengan hati-hati, berusaha tidak membuat gerakan tiba-tiba yang bisa Mirella yang masih terbaring lemas di pelukannya merasa tidak nyaman. Kamar itu luas, tertata rapi, dan terasa hangat karena pemanas ruangan yang menyala pelan.
Bara membukakan pintu kamar mandi itu pelan-pelan, membiarkan cahaya lembut dari lampu plafon menyapa mereka. Ruangan itu bersih dan harum, lengkap dengan segala yang dibutuhkan. Ia meletakkan handuk tebal di tepi wastafel, lalu menatap gadis itu yang masih terlihat gemetar pelan.
"Kamu bisa ganti baju sendiri?" tanyanya lembut, suaranya berhati-hati agar tidak membuat Mirella merasa tertekan.
Mirella mengangguk pelan, matanya menunduk.
"I-iya..."
Bara menyerahkan satu set pakaian bersih, kemeja putih katun miliknya yang longgar dan sepasang celana santai yang nyaman.
"Pakai ini dulu. Kalau ada apa-apa, ketuk saja pintunya. Aku tunggu di luar."
Ia keluar dan menutup pintu pelan sekali, memastikan terkunci dari dalam. Namun menit berlalu, lalu berganti menit lagi. Sepuluh menit, lima belas menit ... Bara mulai gelisah. Ia berjalan mondar-mandir di depan pintu, cemas apakah gadis itu pingsan di dalam sana. Akhirnya ia mengetuk pelan.
"Mirella, udah?"
Pintu terbuka sedikit, lalu perlahan terbuka lebih lebar. Wajah Mirella merah padam, matanya menatap lantai, kedua tangannya meremas ujung kemeja panjang yang menutupi hingga ke lututnya. Kemeja itu dipakainya saja, tanpa celana yang tadi ia berikan.
"Aku ..." suaranya hampir tak terdengar, bergetar malu.
"Aku ... aku lagi datang bulan, aku ..." Mirella malu melanjutkan apa yang dia butuhkan sekarang.
Bara tertegun sejenak, namun dengan cepat ia mengerti. Ia tidak terlihat aneh atau tertawa sedikit pun. Malah canggung.
"Tunggu sebentar ya. Lima menit saja. Aku segera kembali!"
Ia berbalik dan berlari keluar kamar, meninggalkan Mirella yang berdiri canggung di tengah kamar mandi, memeluk dirinya sendiri di dalam kemeja putih yang terasa hangat dan berbau lembut seperti pemiliknya.
Ya ampun, dia ada di kamar Bara sekarang. Rasanya seperti mimpi.
apa ada yang sabotase ...