NovelToon NovelToon
Aku Buat Suamiku Menyesal

Aku Buat Suamiku Menyesal

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Identitas Tersembunyi / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:765.1k
Nilai: 5
Nama Author: Senja

“Kalau bukan karena gajiku, kamu nggak akan bisa makan enak, Ningsih!”

Tujuh tahun menikah, Ningsih rela meninggalkan dunia bisnis demi mendukung karier suaminya. Ia mengurus rumah, membantu pekerjaan Hendra dari belakang layar, bahkan diam-diam menjadi otak di balik kesuksesan pria itu tanpa sepengetahuannya.

Namun semakin Hendra berada di puncak, semakin besar pula egonya.
Tak ada yang tahu, pria yang dipuji semua orang itu sebenarnya tidak akan menjadi siapa-siapa tanpa Ningsih.

Sayangnya, pengorbanan tulus itu justru dibalas dengan hinaan, pengkhianatan, dan wanita lain.

Sampai akhirnya Ningsih lelah.
Ia berhenti membantu. Dan sejak saat itu, kehidupan Hendra mulai runtuh perlahan.

Barulah Hendra sadar, perempuan yang selama ini ia rendahkan ternyata adalah alasan dirinya bisa berdiri di puncak.

Penyesalan memang selalu datang terlambat.

Saat Hendra ingin kembali, Ningsih justru memilih pergi dan membalas sakit hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 28

Ningsih duduk di kursi kebesarannya, merapikan beberapa berkas kerja. Di sampingnya, pak Roni, sekretaris sekaligus orang kepercayaannya sejak lama, sedang menutup laptopnya.

"Kerja bagus untuk hari ini, Pak Roni. Semua poin meeting tersampaikan dengan baik," ucap Ningsih sembari tersenyum tipis.

"Terima kasih, Ibu Ningsih. Oh ya, mohon maaf sebelumnya, Bu," Pak Roni menjeda ucapannya, melirik ke arah pintu keluar. "Di luar ada seseorang yang sudah menunggu cukup lama. Beliau bersikeras ingin menemui Ibu secara pribadi untuk membahas sebuah penawaran."

Ningsih mengernyitkan dahi sejenak. "Siapa? Apakah sudah membuat janji sebelumnya?"

"Beliau adalah Bapak Satria, CEO dari PT Adhitama, Bu. Beliau datang sendiri," jawab Pak Roni takzim.

Ningsih terdiam sejenak. Nama Satria dan PT Adhitama tentu tidak asing di telinganya. Perusahaan raksasa itu bergerak di bidang teknologi dan investasi yang skalanya sudah sangat masif.

Ningsih mengangguk pelan. "Baiklah, bawa beliau ke ruangan saya, Pak Roni."

Beberapa menit kemudian, di dalam ruang kerja Ningsih yang luas, pintu terbuka. Pak Roni menuntun seorang pria muda, berwajah tampan dengan tatapan mata yang sangat tajam dan cerdas.

Namun, pria bernama Satria itu duduk di atas sebuah kursi roda elektrik yang canggih. Keadaan fisik yang lumpuh sama sekali tidak mengurangi wibawa besar yang terpancar dari dirinya.

"Selamat siang, Ibu Ningsih. Suatu kehormatan bagi saya bisa bertatap muka langsung dengan wanita hebat di balik kesuksesan PT Adiwangsa," sapa Satria, suaranya bariton dan terdengar sangat ramah saat menghentikan kursi rodanya di depan meja kerja Ningsih.

Ningsih berdiri, membungkuk pelan dengan penuh rasa hormat.

"Selamat siang, Pak Satria. Suatu kehormatan juga bagi saya dikunjungi oleh Ceo PT Adhitama yang luar biasa. Silakan duduk, em maksud saya, mari kita mengobrol santai. Ada hal penting apa yang membawa anda kemari?"

Satria tersenyum tipis, menghargai kesopanan Ningsih.

"Saya langsung pada intinya saja, Bu Ningsih. PT Adhitama ingin mengajak PT Adiwangsa untuk bekerja sama dalam proyek ekspansi digital di sektor properti dan retail. Saya rasa, gabungan kekuatan kita akan menjadi sesuatu yang sangat besar."

Ningsih mendengarkan penjelasan singkat Satria dengan saksama. Ia terdiam beberapa detik, menimbang-nimbang berkas proposal yang disodorkan Satria, lalu menutupnya kembali dengan sangat perlahan.

"Pak Satria, pertama-tama saya ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas kepercayaan dan penawaran luar biasa ini," ucap Ningsih dengan nada suara yang sangat lembut, ramah, namun terselip ketegasan yang mutlak. "Namun, mohon maaf, untuk saat ini PT Adiwangsa harus menolak tawaran kerja sama ini."

Satria tidak tampak terkejut, ia justru menaikkan sebelah alisnya dengan penuh minat. "Boleh saya tahu alasannya, Bu Ningsih? Jarang sekali ada perusahaan yang menolak suntikan dana dan ekspansi dari Adhitama."

Ningsih tersenyum tulus, tidak ada nada sombong sedikit pun dalam kalimatnya. "PT Adhitama adalah perusahaan raksasa yang sudah berada jauh di atas kami, Pak. Fokus dan visi bisnis kita saat ini berbeda. Adiwangsa sedang berfokus pada penguatan fondasi internal dan pasar lokal, sementara Adhitama sudah melangkah ke ranah global. Jika dipaksakan menjadi rekan, saya khawatir Adiwangsa hanya akan menjadi pengikut, bukan mitra yang seimbang. Saya ingin membesarkan perusahaan ini dengan kaki kami sendiri terlebih dahulu."

Satria tertegun sejenak, lalu senyum tipisnya melebar. Sudah lama sekali ia penasaran dengan sosok pemilik Adiwangsa yang kabarnya bermental baja.

Dan hari ini, ia membuktikannya sendiri.

Ningsih adalah wanita tangguh yang menolaknya secara elegan. Biasanya, semua wanita akan mengejar-ngejar Satria dan menyetujui apa pun demi uang dan kekuasaannya, meskipun mereka tahu Satria lumpuh.

Tapi, wanita di hadapannya ini sangat berbeda.

"Alasan yang sangat visioner dan masuk akal, Bu Ningsih," ucap Satria sembari memundurkan kursi rodanya sedikit. "Saya menghargai keputusan anda. Kalau begitu, saya permisi dulu."

"Terima kasih atas pengertiannya, Pak Satria. Mari saya antar sampai depan," kata Ningsih dengan sopan.

Satria memutar kursi rodanya menuju pintu keluar. Sepanjang jalan menuju lobi, ia hanya melihat punggung Ningsih yang berjalan di sampingnya sembari tersenyum penuh arti di dalam hati.

Pria itu sangat yakin, dengan pesona dan keteguhan Ningsih, suatu saat nanti wanita ini pasti akan menerima tawarannya, baik di dalam dunia bisnis, atau mungkin di ranah yang lain.

*

*

Hendra sudah berada di dalam ruangan kerja kantor milik Nawang. Sebagai sopir pribadi baru, Hendra sebenarnya hanya bertugas mengantar-jemput. Siang ini, Nawang justru menyuruh Hendra masuk ke ruang pribadinya dengan alasan ada berkas yang harus dibantu bawa.

Hendra baru saja duduk di sebuah sofa di sudut ruangan ketika Nawang tiba-tiba berjalan mendekat setelah mengunci pintu kerja. Nawang, dengan pakaian seksinya yang ketat, berjalan pelan lalu duduk di sofa yang sama, tepat di samping Hendra hingga aroma parfumnya yang menyengat langsung menusuk hidung pria itu.

"Mas Hendra," panggil Nawang manja, menopang dagunya sembari menatap wajah tampan Hendra. "Aku mau tanya sesuatu, boleh?"

Hendra menunduk sopan, merasa canggung dengan jarak yang terlalu dekat ini. "Boleh, Non Nawang. Mau tanya apa?"

"Mas Hendra... sudah punya pacar belum? Atau mungkin, sudah punya istri?" tanya Nawang dengan mata yang berkedip-kedip genit.

Hendra terdiam sejenak. Pertanyaan itu seketika memicu ingatan pahitnya tentang Ningsih dan kehancuran masa lalunya.

Hendra berpikir keras. Apakah ia harus berbohong demi menjaga pekerjaannya? Tidak, Hendra tidak mau membangun kebohongan baru lagi. Ia harus jujur agar tidak membuat wanita ini kecewa pada akhirnya.

"Saya, seorang duda, Non," jawab Hendra dengan suara baritonnya yang pelan namun jujur.

"Mas duda?!" Mata Nawang seketika membelalat sempurna, namun detik berikutnya senyumnya malah merekah semakin lebar. Ia menggeser duduknya hingga bahu mereka saling bersentuhan. "Kok bisa sih pria setampan, segagah, dan se-perkasa Mas Hendra ini jadi duda? Mantan istri Mas pasti tidak punya mata karena sudah menyia-nyiakan pria seperti Mas."

Hendra hanya bisa tersenyum getir di dalam hati. Ia sama sekali tidak tahu kalau Nawang diam-diam sudah mulai sangat tertarik dan terobsesi pada bentuk tubuhnya yang kekar sejak pandangan pertama kemarin.

Nawang tiba-tiba meraih jemari tangan Hendra, menggenggamnya dengan lembut. "Mas Hendra mau uang tidak?"

Pertanyaan frontal itu membuat Hendra mengernyit bingung. Ia pun mencoba menjawab dengan realistis.

"Siapapun pasti mau uang, Non. Apalagi saya. Saya hanyalah seorang pria miskin yang sedang merangkak dari bawah untuk menyambung hidup."

Nawang tersenyum licik, merasa umpannya berjalan dengan sangat lancar.

"Bagus. Kalau begitu, apa Mas Hendra mau menikah denganku?"

"Hah?!"

Hendra seketika melongo lebar, matanya membelalak sempurna menatap wajah Nawang yang tampak sangat serius dengan tawarannya. Otak Hendra mendadak blank dan mengalami disorientasi instan. Ia baru saja resmi bercerai dari Ningsih beberapa waktu lalu, hidupnya hancur luntang-lantung.

Dan sekarang, seorang gadis muda, cantik, anak seorang konglomerat kaya raya, tiba-tiba menembaknya dan melamarnya untuk menjadi suami secara instan?

Hendra yang tidak tahu harus menjawab apa atas keberuntungan yang baru saja datang menghampirinya.

1
Ris Mawati
bagus jln ceritanya
༶•┈┈⛧┈♛ 𝑅𝑖𝑠𝑘𝑎𝑎𝑎 ♛┈⛧┈┈•༶
aku suka kak karyamu terimakasih
l Rumiyati Heineman
dasar suami laknat
Marina Tarigan
kocak banget Satria papa cakep keluar air mstaku karens ketaws terus salam sejahtra tjour. drhat selalu
Marina Tarigan
balasan yg setimpal yeni giwang giman kalian berdua menyiksa Hendra dulu dgn sangat safis dan membuangnya
Marina Tarigan
akibat obat itj Nawang bisa nantonya tdk punya keyurunan lagi rajimnya bisa rusak karens obat keras ituYENzi
Marina Tarigan
neny dan nawang itu sdh seperti iblis ya tunghu saja perbuatan kalian yg sangat sadis memang lebih baik ke panti sosial dp kalian sikza sdgitu kejam
Marina Tarigan
nawang ini cari penyakit ya nanti dibentak kasar baru tahu rasa
Marina Tarigan
nawang ksmu juga akan jadi pelacur hati2 bawang Satria bukan Hendra Satria lebih unggul dari segLanya
Marina Tarigan
lanjut monyet tetep monyet walaupun dibungkus sutra mahal
Marina Tarigan
selamatkan perusahaan nawang ningdih
Marina Tarigan
jendra tdk tsju siapa Hendra sebenarnya
Marina Tarigan
aneh Rendra nampak kali cemburumu ya
Marina Tarigan
setisp perbuatan baik. buruk pasti ada akibatnya bekerjalah demi bisa menyambung hidup kubur grngsi yg kamu pernust Arumi
Marina Tarigan
untung datria tiba tepst waktu kalau tdk kamu sdh dipaksa zHendra masuk mobilnys tahu
Marina Tarigan
sdhlah Henfra perbuatanmu paling sadis sedunia yaitu kamu nawa Arumi kekamar utama sngai istri kalau aku orangnya detik itu juga sdh kutebas sampai rata ular pitonmi itu
Marina Tarigan
lanjut saja Hendra jalankan saja untuk mengubah nasipmu cuma jgn ganghu lavi Ningsih pengawalnya banyak sebelum kantongmu tebal kamu sdh dipermalukan telak
Marina Tarigan
ini nawang atau bswang kek pelacur ya baru ketemi terus gatal kembaran Arumi kali
Dewi Sekar Khirani
ngakak sendiri aku ngebayang
in bagaimana wajah ningsih saat menghadapi kelakuan satria yg
diluar nurul itu
yuuuuj semangat thor 💪👌
A_ntalus
definisi sabar sesungguhnya 😭💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!