"Kurang ajar! Beraninya kalian mengotori rumah tangga kita!" bentak Sandra dengan suara bergetar hebat, air matanya akhirnya tumpah membasahi pipi.
Sebelum Sandra bisa memberikan pelajaran lebih jauh kepada wanita itu, sebuah benturan keras mendarat di pipi kirinya.
Plak!
Tamparan itu begitu kuat hingga kepala Sandra terpelanting ke samping. Rasa perih langsung menjalar di pipinya, meninggalkan sensasi panas yang membakar. Pelaku pemukulan itu tidak lain adalah Anton sendiri. Suami yang selama empat tahun ini ia layani dengan sepenuh hati, kini berdiri tegak dengan mata melotot dan tangan mengepal.
"Seharusnya kamu sadar, kamu wanita lusuh, jelek, tidak bisa menjaga tubuhmu, aku muak denganmu!" teriak Anton dengan suara menggelegar, melampiaskan seluruh kebencian yang selama ini ia pendam.
Kata-kata itu menghujam jantung Sandra jauh lebih tajam daripada pisau bermata dua. Wanita lusuh? Jelek? Selama ini ia mengorbankan waktu istirahatnya demi mengurus rumah, sementara Anton
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cahaya Baru di Pagi Hari
Sorak sorai dan tepuk tangan meriah dari para tamu undangan perlahan mereda seiring alunan musik klasik yang kembali berganti menjadi nada-nada romantis yang menenangkan. Pesta resepsi pernikahan Dante dan Sandra di aula megah itu berlangsung dengan sangat khidmat dan mewah.
Meskipun Dante adalah sosok penguasa yang disegani di dunia bawah tanah dan dunia bisnis, malam ini ia sepenuhnya mendedikasikan waktu dan perhatiannya hanya untuk Sandra dan Elzard. Tidak ada senyum kaku; yang ada hanyalah binar kebahagiaan sejati yang terpancar dari wajah tegas sang penguasa.
Menjelang tengah malam, rangkaian acara resepsi resmi selesai. Iring-iringan mobil mewah berpelat khusus membawa keluarga kecil itu kembali ke mansion utama.
Sepanjang perjalanan pulang, Elzard sudah tertidur pulas di pangkuan Pak Biworo di mobil pengawal di belakang, kelelahan setelah seharian ikut merayakan pernikahan ayah dan ibu barunya. Di dalam kabin mobil SUV utama yang senyap dan hangat, Sandra menyandarkan kepalanya di bahu bidang Dante. Aroma kayu cendana bercampur parfum mewah pria itu menguar menenangkan.
"Capek?" bisik Dante lembut, sebelah tangannya merangkul pinggang Sandra protektif.
Sandra menggeleng pelan, tersenyum simpul dalam gelapnya kabin mobil. "Sedikit... tapi aku bahagia sekali, Dante. Semuanya terasa begitu cepat, tapi juga sangat sempurna."
Dante mengecup puncak kepala Sandra dengan penuh kasih sayang. "Ini baru permulaan, Sandra. Mulai hari ini, tidak akan ada lagi air mata, tidak ada lagi rasa takut. Kamu adalah nyonya di rumahku, dan ratu di hatiku."
Tak lama kemudian, mobil pun memasuki pelataran mansion yang megah. Sesampainya di dalam, Pak Biworo dengan sigap menggendong Elzard yang tertidur lelap menuju kamar bocah itu, membiarkan Dante dan Sandra menikmati privasi mereka.
Dante membimbing Sandra menaiki anak tangga menuju kamar utama mereka—bukan lagi kamar tamu tempat Sandra tidur di malam pertamanya datang ke rumah itu, melainkan kamar pribadi Dante yang kini resmi menjadi kamar mereka berdua.
Begitu pintu kamar tertutup rapat, Sandra menoleh ke arah Dante. Namun, sebelum ia sempat melangkah lebih jauh, Dante tiba-tiba mengangkat tubuhnya ke dalam dekapan.
"Ehh, Dante!" pekik Sandra kaget, refleks melingkarkan tangannya di leher sang suami.
Dante tersenyum jahil—sebuah ekspresi langka yang membuat ketampanannya semakin berlipat ganda. Ia membawa Sandra mendekati tempat tidur berukuran king size yang di sekelilingnya telah ditaburi kelopak mawar merah dan diterangi cahaya temaram lampu tidur yang romantis.
Dante merebahkan Sandra secara perlahan di atas kasur empuk, lalu menindih tubuh wanita itu dengan tumpuan kedua tangannya di sisi kepala Sandra. Sorot mata elangnya menatap lurus ke dalam mata Sandra dengan intensitas yang membuat napas wanita itu tercekat.
"Kamu... merencanakan semua ini?" tanya Sandra dengan suara berbisik, pipinya merona merah padam.
Dante mendekatkan wajahnya, mengecup lembut sudut bibir Sandra sebelum berbisik serak di telinganya, "Aku sudah menantikan malam ini sejak pertama kali matamu menatapku di teras mansion saat badai malam itu, Sandra."
Tanpa menunggu jawaban lagi, Dante menyatukan bibir mereka dalam ciuman yang dalam, penuh gairah, dan menuntut—menandai awal dari kehidupan baru mereka sebagai sepasang suami istri yang utuh, terikat oleh cinta yang tulus dan tak tergoyahkan.
Sinar matahari pagi menyelusup lembut melalui celah tirai sutra yang setengah terbuka, membiaskan cahaya keemasan hangat di atas tempat tidur berukuran king size. Suasana di kamar utama terasa begitu tenang dan damai, dipenuhi aroma wangi mawar yang masih tersisa dari semalam.
Sandra perlahan terbangun dari tidur lelapnya. Rasa hangat melingkupi seluruh tubuhnya, dan saat ia menggerakkan jemarinya, ia menyadari sebuah lengan kokoh melingkar protektif di pinggangnya. Sandra menoleh pelan, menyambut wajah Dante yang berada tepat di sampingnya.
Sang penguasa yang biasanya selalu tampil tegap, dingin, dan sigap itu kini tertidur begitu pulas. Garis rahangnya yang tegas terlihat jauh lebih rileks. Sandra mengukir senyuman tipis yang amat manis di bibirnya. Dengan penuh kelembutan, tangannya terangkat mengusap pelan helai rambut hitam Dante yang sedikit berantakan.
Seakan merasakan sentuhan lembut itu, kelopak mata Dante bergerak perlahan lalu terbuka. Mata elangnya yang jernih langsung mengunci pandangan pada Sandra.
"Selamat pagi, Istriku," bisik Dante dengan suara berat nan serak khas bangun tidur. Senyuman tipis nan seksi terukir di sudut bibirnya.
Rona merah muda seketika terbit di kedua pipi Sandra mendengar sebutan 'Istriku' yang meluncur begitu alami dari mulut Dante.
"Selamat pagi, Suamiku..." sahut Sandra lembut.
Dante menarik tubuh Sandra semakin rapat ke dalam dekapannya, mendaratkan kecupan hangat di dahi Sandra dalam durasi yang cukup lama. "Bagaimana tidurmu? Masih lelah?"
Sandra menggeleng pelan, menyandarkan kepalanya di dada bidang Dante, mendengarkan detak jantung pria itu yang teratur dan menenangkan. "Aku merasa sangat bahagia, Dante. Rasanya semua penderitaan di masa laluku terbayar tuntas hari ini."
"Ini baru awal dari kebahagiaanmu, Sandra," janji Dante penuh kesungguhan, mengusap punggung mulus Sandra dengan jemarinya. "Selama aku masih bernapas, tidak akan ada satu pun air mata kepedihan yang menetes di pipimu."
Tok... tok... tok!
Ketukan nyaring nan riang di pintu kamar seketika memecah momen romantis mereka berdua.
"Ayah! Ibu Baru—eh, Ibu Sah! Boleh masuk tidak? Elzard sudah siap mau sarapan!" seru suara nyaring Elzard dari balik pintu, disambut kekehan pelan Pak Biworo yang tampaknya mendampingi bocah itu di luar.
Mendengar sebutan 'Ibu Sah' yang diucapkan Elzard, Sandra tak sanggup menahan tawa renyahnya. Dante ikut terkekeh pelan seraya menggelengkan kepala melihat tingkah polos putra tunggalnya.
"Sebentar, Pangeran Kecil! Ayah dan Ibu mandi dulu!" balas Dante setengah berteriak lembut.
Dante menatap Sandra kembali dengan binar mata jahil yang menggoda. "Nah, Nyonya Dante... sepertinya kita harus bersiap-siap sebelum pangeran kecil kita mendobrak pintu ini."
tapi cocok sih, laki-laki pengecut seperti kamu punya istri pelacur murahan yang ga tahu diri 🤣🤣😂😂 dan kalian berdua siap-siap mati