NovelToon NovelToon
Kurebut Istri yang Ia Kurung

Kurebut Istri yang Ia Kurung

Status: tamat
Genre:Romantis / Mafia / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:95
Nilai: 5
Nama Author: Isabel Coração

Di malam ia ingin mengabarkan kehamilannya, Amelia justru menyaksikan suaminya memamerkan kekasih yang sedang hamil, dengan kembang api yang dulu dijanjikan untuknya.

Arga Wiratama sang miliarder teknologi tak sekadar mengkhianati. Rekening Amelia diblokir, kariernya dihapus diam-diam, dan rumah mewah mereka dipasangi kamera di setiap sudut. Maka Amelia kabur membawa satu tas kecil, satu rahasia di dalam perutnya, dan nama yang masih ia punya.

Di Surabaya, pintu yang selama tiga tahun terkunci tiba-tiba terbuka. Di baliknya berdiri Fariz Mahardika, mantan aktor, pewaris keluarga berpengaruh, lelaki tenang yang selalu memutar tasbih di jarinya dan seolah mengenal Amelia jauh sebelum mereka bertemu. Ia menolong tanpa menagih. Tapi dunia di sekelilingnya tidak sebersih senyumnya.

Arga tak mau melepaskan. Ibunya punya rencana lain. Dan ada kebenaran tentang siapa Amelia sebenarnya, yang mulai merembes dari rumah-rumah bersalin tua dan foto-foto yang wajahnya begitu mirip dengannya.

Bisakah seorang perempuan yang pernah dikurung merebut kembali hidupnya, melindungi anak yang ia sembunyikan, dan memilih siapa yang pantas dicintai, tanpa lagi menjadi sandera siapa pun?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isabel Coração, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

POV: Amelia

Aku terbangun dengan sesuatu tergenggam di tanganku. Bahkan sebelum membuka mata, jari-jariku mengenali butir-butirnya. Tasbih.

"Kamu sudah bangun." Suara Fariz, di samping ranjang. Dia masih memakai baju pesta yang kusut, matanya cekung karena tak tidur. "Tenang. Kamu di rumah sakit. Semuanya baik-baik saja. Kamu aman."

"Bayinya," itu hal pertama yang kuucapkan, tanganku sudah bergerak ke perut sebelum tubuhku yang lain menurut. "Fariz, bayinya..."

"Dokter sebentar lagi datang. Beliau mau bicara denganmu." Dia menggenggam tanganku yang bebas. "Tarik napas. Semua baik-baik saja."

Saat itu dr. Bella masuk membawa papan catatan dan senyum yang menenangkanku bahkan sebelum satu kata terucap.

"Bu Amelia, Ibu sempat membuat saya kaget," katanya, menarik bangku ke dekat ranjang. "Hipotermianya serius. Tapi Ibu keras kepala, dan keras kepala, di saat-saat begini, menyelamatkan nyawa."

"Dan kehamilannya? Saya merasakan kram, Dok, saya merasa ada darah, saya kira..."

"Kehamilannya bertahan." Dia menaruh tangan di atas tanganku, mantap. "Bertahan dengan cara yang harus saya tunjukkan." Dia memutar papan itu dan menunjuk gambar USG, dua titik gelap bersisian. "Ibu tidak sedang mengandung satu bayi, Bu Amelia. Ibu mengandung dua. Kembar. Dua kantung kehamilan, keduanya layak, keduanya berdetak. Sekitar delapan, sembilan minggu."

Kutatap gambar itu, lalu dia, lalu gambar itu lagi, dan aku tak bisa bicara. Dua. Setelah tiga tahun mengira aku tak akan pernah punya satu pun, setelah malam ketika nyaris kehilangan segalanya di lantai dingin, dua.

Aku menangis sampai tulang rusukku sakit, bercampur antara ngeri atas apa yang baru kulalui dan bahagia ganda atas yang akan datang. Fariz menggenggam tanganku yang bebas tanpa berkata apa-apa, dan dia memang sudah tahu soal kehamilan itu, tapi di sini, mengetahui bahwa ada dua, wajahnya berubah dengan cara yang kusimpan selamanya. Dia memejamkan mata sejenak, seperti orang yang bersyukur.

"Dua," kataku padanya, tertawa di antara tangis. "Fariz, ada dua."

"Aku dengar." Suaranya serak. "Selamat, Lia."

Tak sekali pun terlintas di benaknya untuk mundur. Dia sudah tahu sejak taman bahwa anak-anak itu milik Arga, pria yang baru saja menguncikanku di ruang dingin. Tak ada keraguan soal itu, bukan untuknya, bukan untukku. Dan dia tetap tinggal. Dia menggenggam tanganku seakan dua nyawa itu juga sebagian tanggung jawabnya untuk dilindungi.

Kutelepon Nenek Dina begitu aku sanggup memegang ponsel. Kuceritakan semuanya, dengan cara tergesa-gesa orang yang punya terlalu banyak kabar untuk satu hidup.

"Kembar!" teriak Nenek dari seberang, lalu mulai menangis. "Ya Allah, cucuku, kembar. Tuhan menulis lurus lewat garis yang bengkok. Kamu menderita dua kali lipat, sekarang kamu menerima dua kali lipat. Ibumu pasti..." Dia berhenti, menelan kalimatnya, berganti arah. "Nenekmu ini menangis kayak orang bodoh. Jaga mereka, Lia. Jaga baik-baik."

Bibi datang tak lama kemudian membawa boneka beruang raksasa, tanpa dosa sama sekali, dengan wajah paling menggemaskan di dunia.

"Aku cuma beli satu karena nggak tahu ada dua," protesnya, kesal pada dirinya sendiri. "Sekarang harus balik ke toko. Kakak ipar, Kakak nggak bayangin deh repotnya jadi tante. Aku sudah putuskan mau memanjakan mereka sampai suami Kakak, eh, sampai Mas Fariz minta ampun sambil berlutut."

"Dia bukan suamiku, Bi."

"Belum," katanya, mengedip, dan duduk di tepi ranjang seolah kami teman sejak kecil.

Sore harinya, Pak Bayu menghubungi lewat panggilan video. Wajahnya profesional semata, tapi matanya keras oleh amarah yang ditahan.

"Bu Amelia, saya akan langsung saja. Apa yang terjadi kemarin mengubah segalanya. Penyekapan, membahayakan nyawa perempuan hamil, semuanya terdokumentasi. Kita punya gaun dengan darah dari jatuhnya Ibu, rekaman kamera rumah, kesaksian Bi Ningsih." Dia berhenti. "Dengan itu, pagi ini saya sudah mengajukan permohonan perintah perlindungan darurat, berdasarkan UU Penghapusan KDRT. Dan perintahnya dikabulkan satu jam lalu."

"Apa artinya, praktisnya?"

"Artinya Arga dilarang secara hukum mendekati Ibu, menghubungi Ibu, mendekati tempat kerja atau tempat tinggal Ibu. Kalau dia melanggar, itu kasus tangkap tangan." Suaranya melunak sedikit. "Artinya, untuk pertama kalinya, hukum berada di pihak Ibu. Bukan di pihaknya."

Kupejamkan mata dan bernapas. Perlindungan. Kata yang rasanya sudah kulupakan.

"Dan perceraiannya?"

"Perceraian sekarang berpihak pada kita. Dengan bukti kekerasan ekonomi dan penyekapan, pembagian harta condong ke arah Ibu, dan daya tawarnya runtuh. Dia kira bisa mengulur Ibu bertahun-tahun. Dia baru saja memberi saya, gratis, bukti terbaik yang bisa saya minta."

Setelah panggilan itu kututup, aku lama terdiam, tasbih di satu tangan, gambar USG di tangan yang lain, Fariz duduk di sampingku tanpa mendesak, tanpa mengisi hening.

"Kamu mikir apa?" tanyanya.

"Bahwa tiga tahun aku mengira diriku lemah," kataku. "Dan aku tidak lemah." Kutatap dia. "Terima kasih. Untuk semalam. Karena tidak menunggu surat apa pun untuk menjemputku. Suatu hari nanti aku ingin paham kenapa kamu melakukannya."

"Suatu hari nanti kuceritakan." Dia tersenyum tipis. "Hari ini istirahat saja."

Kami saling pandang cukup lama, dan ada sekejap udara di antara kami terasa lain, lebih tipis, dan kurasakan betapa mudahnya aku menyerahkan diri pada itu. Tapi masih terlalu dini. Aku baru keluar dari sangkar, dengan badan yang masih sakit dari malam itu. Aku tak akan masuk ke sangkar lain, sekalipun terbuat dari kelembutan.

Ponselku yang memecah momen itu. Pesan dari Bibi, dengan tangkapan layar.

Priska memberi wawancara. Mengaku sebagai "istri sejati Arga Wiratama", menyiratkan bahwa aku penipu yang berpura-pura hamil demi tunjangan, melempar versi ke media di mana akulah penjahatnya, dia korban, dan Arga pria yang dibohongi.

Kututup tanganku di atas gambar USG anak-anakku. Marah menyala, bersih, tanpa takut kali ini, karena sekarang aku punya pengacara, perintah perlindungan, dan kebenaran yang terdokumentasi.

"Kenapa?" tanya Fariz, melihat wajahku berubah.

"Bukan apa-apa yang tak bisa kuselesaikan." Kusimpan ponsel. "Besok aku akan bicara dengan Priska. Berhadapan langsung. Dan kali ini akulah yang memilih panggungnya."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!