NovelToon NovelToon
Enam Tahun Jadi Nyonya Bramantyo

Enam Tahun Jadi Nyonya Bramantyo

Status: tamat
Genre:Single Mom / Penyesalan Suami / Satu wanita banyak pria / Tamat
Popularitas:208
Nilai: 5
Nama Author: Autora Gabriela

Enam tahun menjadi Nyonya Bramantyo, Kirana belajar satu hal: dicintai diam-diam tak sama dengan dilihat.

Ia menikahi Rendra Bramantyo, presiden direktur yang dingin dan selalu memegang janji pada almarhum kakaknya. Di rumah besar itu Kirana hanya perabot yang rapi. Tidur di kamar terpisah, makan malam yang tak pernah ditemani, dan di mana-mana ada Laras, janda sang kakak, yang selalu lebih dulu dipilih.

Sampai pada satu malam ketika sebuah telepon dini hari mematahkan sisa kesabaran Kirana.

Ia tak lagi menunggu. Ia menyimpan, merapikan, lalu pergi, membawa putrinya Nindy, ilmunya sebagai ahli farmakologi, dan harga dirinya. Di luar rumah itu menunggu hidup yang tak pernah ia kira: perusahaan yang membutuhkan otaknya, tiga lelaki yang mulai memperhatikannya, dan dunia yang ternyata tak sedingin rumah yang ia tinggalkan.

Sementara itu, Rendra mulai menyadari apa yang ia punya, setelah semuanya terlambat. Tapi siapa yang masih mau menunggu seseorang yang baru belajar mencintai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Autora Gabriela, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10

POV: Kirana

Rendra dan Laras, di meja privat di balik sekat, dan tak satu pun dari mereka melihatku.

Aku berdiri diam di antara kisi-kisi kayu. Rendra memegang pergelangan tangan Laras di atas meja. Di depan Laras ada segelas anggur; Rendra menarik gelas itu, meminum sisanya untuknya, lalu mengatakan sesuatu pelan yang membuat Laras tertawa. Kemudian ia mendorong secangkir teh hangat ke arahnya, dengan gerakan orang yang sudah melakukannya seribu kali, yang tahu bahwa perempuan itu tidak boleh minum yang dingin.

"Kamu harus menjaga diri," kudengar ia berkata. "Aku sudah janji pada Raditya, tidak akan membiarkan kamu kekurangan apa pun."

"Kamu selalu ada di sini, Rendra," jawab Laras, suaranya lembut. "Dari dulu."

Ia tidak menyangkal. Ia hanya menyelipkan sehelai rambut Laras ke belakang telinganya, gerakan kecil, akrab, gerakan seorang pemilik.

Enam tahun, dan ia tidak pernah tahu bahwa aku tidak bisa minum yang dingin, bahwa batuk membuat kepalaku migrain, bahwa aku tidur di sisi kiri ranjang. Ia mempelajari segalanya tentang perempuan itu dan tidak satu pun tentang aku. Dan aku, bodohnya, selama bertahun-tahun mengira lelaki pendiam hanyalah wataknya, bukan bukti bahwa hatinya sedang terisi di tempat lain.

Ponselku bergetar di saku. Aku keluar dari balik sekat sebelum mereka melihatku dan menjawab di koridor. Gilang.

"Kirana, mengonfirmasi jadwal kontrol Nindy hari Kamis pukul sepuluh," katanya. "Spesialis dari luar sudah kuberi tahu."

"Kami datang pukul sepuluh," jawabku, dengan suara mantap yang aku sendiri tidak tahu dari mana asalnya saat itu. "Terima kasih."

Kusimpan ponselku. Aku menarik napas dalam satu kali di koridor, lalu kembali ke ruang makan dengan wajah terkendali. Tak seorang pun di sana boleh melihat apa yang kulihat di balik sekat.

Kuambil tasku, berpamitan pada para mitra, berterima kasih pada tuan rumah atas malam itu. Salah seorang berkomentar bahwa aku tampak lelah; kujawab bahwa anakku sedang susah tidur. Aku tersenyum secukupnya. Ketika tiba di lobi, mereka pun sedang keluar.

Laras berjalan bertumpu pada Rendra, langkahnya goyah, seluruh tubuhnya menggantung di lengan lelaki itu. Ia terbungkus jas Rendra, jas yang sama, seperti halnya termosku dulu. Rendra memeluk pinggangnya dengan kedua tangan, mendekatkan mulut ke telinganya. Aku tak mendengar apa yang ia katakan, tapi kubaca dari bibirnya, dan aku cukup mengenal lelaki itu untuk tidak keliru: "Jangan rokok, jangan minuman keras. Kamu sudah janji."

Seorang lelaki menunggu di dekat mobil. Luki, Lukman Wicaksono, sepupu dr. Gilang, pemuda dari keluarga baik yang pernah kulihat berputar-putar di sekitar Laras di dua tiga acara dengan mata orang yang menunggu remah. Ia memandang Laras yang bergelayut di lengan Rendra dengan raut yang kukenal baik, karena itulah raut wajahku selama enam tahun: raut orang yang mencintai seseorang yang hanya punya mata untuk orang lain.

Ia membukakan pintu mobil tanpa diminta.

Rendra mendudukkan Laras di kursi belakang, membungkuk ke dalam dan memasangkan sabuk pengamannya dengan kehati-hatian yang tak pernah kuterima, kehati-hatian orang pada sesuatu yang tak boleh sampai pecah.

"Luki, antar dia pulang. Pelan-pelan," katanya. "Kalau ada apa-apa, telepon aku."

Baru kemudian ia melihatku, berdiri beberapa meter jauhnya.

"Kirana." Ia menegakkan badan. "Kamu sudah mau pulang? Aku antar."

"Aku bawa mobil sendiri. Aku pulang sendiri."

"Jam segini, jangan." Ia memberi isyarat pada seseorang di kegelapan. "Bayu, ikuti Kirana sampai rumah."

Untuk mengantarku pun ia tidak sungguh-sungguh menawarkan diri. Ia mendelegasikannya. Menyuruh asistennya mengikutiku seolah aku satu lagi tugas malam itu, sementara ia sendiri memasangkan sabuk pengaman perempuan lain.

Aku masuk ke mobilku. Kunyalakan mesin, keluar dari tempat parkir, dan lewat kaca spion kulihat lampu mobil Bayu merapat di belakangku, dua titik kuning yang mengawalku atas perintah suamiku.

Aku menyetir melintasi kota yang sepi dengan dua titik kuning Bayu menempel di belakang. Kulewati jalan tempat kami makan malam pertama kali, rumah sakit tempat Nindy lahir, sekian banyak tempat yang dulu bermakna dan kini hanya alamat.

Aku berhenti di lampu merah pertama. Tanganku mantap di kemudi, lebih mantap daripada yang kuduga. Aku tidak menangis. Tangis itu sudah lewat di suatu titik antara sekat kayu dan sabuk pengaman. Sebagai gantinya tersisa ketenangan yang aneh, jenis ketenangan yang datang ketika demam turun.

Kuraih ponsel. Kubuka percakapan dengan Bu Cantika. Sore tadi ia mengirimiku daftar dokumen dan satu pertanyaan: Kapan Ibu ingin menjadwalkan pertemuan tatap muka untuk mendaftarkan gugatan?

Seharian itu pertanyaannya kubiarkan tak terjawab.

Aku mengetik. Besok, setelah pukul sebelas. Perjanjian pernikahannya sudah saya pegang. Saya ingin memulai prosesnya.

Lampu berubah hijau. Lampu mobil Bayu berkedip di belakang, menunggu aku jalan.

Kutekan kirim.

Pesan itu terkirim dengan bunyi singkat, dan sesuatu dalam diriku jatuh ke tempatnya, seperti kepingan yang akhirnya pas setelah berhari-hari dipaksa. Aku kembali menyetir.

Aku tidak akan berteriak. Aku tidak akan memecahkan gelas di mukanya, tidak akan memberi Laras tontonan yang berhari-hari ia rancang sambil menunggu aku kehilangan kendali. Aku akan melakukan kebalikan dari yang diharapkan semua orang dari Nyonya Bramantyo yang manis.

Aku akan memungut, satu per satu, setiap tetes kasih yang masih kupunya untuk lelaki itu. Menyimpannya di tempat tertutup. Dan dengan tangan yang bebas, membalik permainan.

Aku punya anak yang harus kulindungi, karier yang akan kubangun ulang dengan caraku, perjanjian yang sudah kufoto di ponsel, dan seorang pengacara yang menunggu jawabanku. Jika dijumlahkan, itu semua yang kubutuhkan untuk memulai lagi. Perempuan yang tahu apa yang menjadi miliknya tidak bergantung pada dipilih oleh siapa pun.

Aku teringat Mira, pada hari Minggu, yang bilang bahwa perempuan terlalu baik hanya mendapat kerugian. Teringat ayahku, di acara bersulang, yang bilang bahwa sehat itu artinya ada yang menemani duduk. Teringat Nindy yang sedang tertidur di rumah dengan jam di pergelangan tangannya dan gambar sebuah keluarga yang bukan lagi keluarga yang ia bayangkan. Masing-masing dari mereka, tanpa sadar, telah memberiku sebagian jawaban.

Apa yang akan kulakukan pada lelaki itu bukan balas dendam ala sinetron. Akan lebih dingin dan lebih bersih. Aku akan keluar utuh, membawa putriku, namaku, dan pekerjaanku. Dan suatu hari ia akan terbangun di ranjang yang kosong dan mendapati sendiri apa yang telah ia buang sementara ia memasangkan sabuk pengaman orang lain.

Bayu mengikutiku sampai gerbang rumah, menunggu aku masuk, dan baru kemudian memutar balik untuk melapor pada atasannya bahwa sang istri tiba dengan selamat. Aku melambai pada lampu mobilnya, sopan, seperti menantu yang dikenal semua orang.

Di dalam, rumah gelap dan sunyi. Pengasuh meninggalkan lampu koridor menyala. Nindy tidur melintang di ranjangnya, satu lengan keluar dari selimut, boneka kelinci jatuh di lantai di sebelahnya. Kupungut kelinci itu, kuletakkan di meja kecil, kulepas jam pemantau dari pergelangannya dan kuperiksa angka-angka hijaunya. Kucium keningnya yang hangat. Ia bergerak, menggumamkan "Mama" dalam tidur, lalu terlelap lagi.

Demi dialah semua ini akan kulakukan dengan benar. Tanpa keributan, tanpa tergesa, tanpa kesalahan.

Pertemuan dengan Bu Cantika pagi-pagi sekali. Jadwal kontrol Nindy hari Kamis.

Untuk pertama kalinya dalam waktu lama, aku tidur tanpa menunggu bunyi pintu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!