NovelToon NovelToon
Pernikahan Kontrak Sang CEO Posesif

Pernikahan Kontrak Sang CEO Posesif

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: S RIANA

Tanda tangani ini. Ingat, kita menikah hanya di atas kertas. Jangan pernah bermimpi aku akan menyentuhmu, apalagi mencintaimu!"

Demi melunasi biaya pengobatan ibunya yang kritis, Naura Ayu terpaksa menjual kebebasannya. Dia setuju menandatangani kontrak pernikahan satu tahun dengan Adrian Mahendra, seorang CEO tampan yang terkenal dingin, kejam, dan tidak tersentuh wanita.

Bagi Adrian, Naura hanyalah 'istri pajangan' demi memuaskan tuntutan sang kakek agar posisinya sebagai pewaris tahta perusahaan aman.Awalnya, semua berjalan sesuai kesepakatan. Mereka hidup dalam dinding pembatas yang dingin. Namun, pesona Naura yang mandiri, tegar, dan tidak silau akan hartanya perlahan mulai mengusik pertahanan hati Adrian.

Saat kontrak hampir berakhir dan Naura bersiap untuk pergi, Adrian justru mengunci pintu rapat-rapat. Tatapan dingin pria itu berubah menjadi kilat obsesi yang membara."Siapa yang mengizinkanmu pergi? Kontrak bisa berakhir, tapi kamu... selamanya milikku!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S RIANA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rahasia dibalik Nama Mahendra

Adrian masih menatap layar ponselnya ketika Dimas kembali memasuki ruang kerja. Dua pesan dari nomor tak dikenal itu terus mengusik pikirannya, terutama bagian yang menyebutkan bahwa seseorang dari keluarga Mahendra mungkin menyimpan sesuatu yang tidak pernah dia ketahui.

Selama memimpin perusahaan, Adrian terbiasa menghadapi ancaman dari pesaing bisnis, manipulasi laporan keuangan, hingga pengkhianatan orang-orang yang menginginkan kedudukannya. Namun, kemungkinan adanya seseorang dari keluarganya sendiri yang terlibat dalam persoalan ini membuatnya jauh lebih berhati-hati.

Bukan karena dia takut kehilangan kekuasaan, melainkan karena setiap keputusan yang salah dapat menyeret banyak orang ke dalam masalah, termasuk Naura.

"Pak, apakah ada sesuatu yang perlu saya tindak lanjuti?" tanya Dimas ketika melihat atasannya belum kembali membuka berkas pekerjaan.

Adrian meletakkan ponselnya di atas meja, lalu memutar layar ke arah Dimas."Baca ini."

Dimas mengambil ponsel tersebut dan membaca kedua pesan yang masuk. Dahinya perlahan berkerut ketika sampai pada kalimat terakhir.

"Orang yang pertama kali memperkenalkan Alexander International kepada Mahendra Group," gumamnya. "Kalau pesan ini benar, berarti pengirimnya mengetahui proses awal kerja sama perusahaan."

"Atau dia sengaja ingin membuat kita mencurigai seseorang."

"Benar, Pak. Kita belum bisa memastikan motifnya."

Adrian mengangguk. Dia tidak berniat membiarkan pesan anonim menentukan siapa yang harus dicurigainya. Namun, ada satu hal yang memang perlu diperiksa.

"Siapkan dokumen kerja sama pertama dengan Alexander International. Saya ingin mengetahui siapa yang mengusulkan pertemuan awal, siapa yang menyetujui proses negosiasi, dan siapa saja yang memiliki akses terhadap dokumen tersebut."

"Baik, Pak."

"Jangan menghubungi anggota keluarga saya terlebih dahulu. Saya tidak ingin ada orang yang mengetahui pemeriksaan ini sebelum kita memahami apa yang sebenarnya terjadi."

Dimas mengangguk sekali lagi sebelum meninggalkan ruangan.

Setelah pintu tertutup, Adrian menyandarkan tubuhnya ke kursi. Pandangannya beralih ke jendela besar yang memperlihatkan gedung-gedung Jakarta di kejauhan.

Pikirannya sempat kembali kepada Naura.

Pagi tadi, istrinya menerima bingkisan dari Clarissa dan memilih menghadapinya tanpa membuat keributan. Bahkan ketika berhadapan dengan foto-foto masa lalu yang sengaja dikirimkan untuk melukai perasaannya, Naura tetap memberinya kesempatan untuk menjelaskan sikapnya sendiri.

Adrian tidak ingin kepercayaan itu menjadi sesuatu yang justru membuat Naura rentan terhadap permainan orang lain.

Dia mengambil ponsel dan mengetik sebuah pesan. Bagaimana keadaanmu sekarang? Ibu baik-baik saja?

Balasan Naura datang beberapa menit kemudian.

Ibu sedang beristirahat. Aku juga baik-baik saja. Kamu jangan terlalu memikirkan kejadian pagi tadi. Aku lebih tertarik mengetahui apakah kamu sudah makan siang.

Adrian mengembuskan napas yang nyaris menyerupai tawa.

Wanita itu memang memiliki cara tersendiri untuk menghadapinya. Di tengah persoalan yang semakin rumit, Naura masih sempat mengingatkan hal sederhana yang kerap dia abaikan.

Sudah. Aku akan pulang tepat waktu kalau pekerjaanku selesai.

Kali ini, balasan Naura datang hampir seketika.

Aku tunggu.

Dua kata sederhana itu membuat Adrian mematikan layar ponselnya dengan perasaan yang sedikit lebih tenang.

Untuk saat ini, dia masih memiliki tempat untuk pulang. Dan dia tidak akan membiarkan siapa pun merusak ketenangan itu tanpa perlawanan.

---

Naura berada di ruang tengah mansion ketika Dimas tiba membawa sebuah map hitam.

Setelah menyerahkan map tersebut kepada staf keamanan untuk diperiksa, Dimas menemui Naura yang baru saja selesai membantu ibunya berpindah dari kursi roda ke sofa dengan bantuan seorang perawat.

"Maaf mengganggu waktu Nyonya," ujar Dimas sopan. "Pak Adrian meminta saya membawa dokumen yang tadi Nyonya terima ke kantor pusat. Saya juga diminta menyampaikan bahwa tim audit sedang memeriksa keasliannya."

Naura mengangguk dan menyerahkan amplop beserta seluruh isinya.

"Apakah ada masalah besar?"

"Saat ini kami belum bisa memastikan, Nyonya. Pak Adrian tidak ingin mengambil kesimpulan sebelum pemeriksaan selesai."

Jawaban itu membuat Naura sedikit lega. Dia tidak menyukai ketidakpastian, tetapi dia juga tidak ingin menuduh seseorang hanya berdasarkan dokumen yang belum terverifikasi.

"Kalau begitu, biarkan tim audit bekerja. Aku tidak ingin informasi yang belum terbukti justru menimbulkan masalah baru."

"Baik, Nyonya."

Dimas memasukkan dokumen itu ke dalam tas kerjanya. Sebelum pergi, dia sempat memperhatikan Naura yang tampak jauh lebih tenang dibandingkan ketika mereka berbicara melalui telepon pagi tadi.

"Nyonya, ada satu hal yang ingin saya sampaikan."

Naura menoleh. "Apa?"

"Pak Adrian sangat menghargai keputusan Nyonya untuk tidak langsung mempercayai provokasi Nona Clarissa. Beliau mengatakan bahwa Nyonya telah mengambil keputusan yang tepat."

Naura tersenyum kecil.

"Adrian tidak perlu memujiku hanya karena aku tidak bertengkar dengan mantan kekasihnya."

Dimas menahan senyum. "Saya rasa beliau tidak sedang memuji hal itu saja, Nyonya."

Naura mengangkat alis.

"Kalau begitu, apa lagi?"

"Beliau senang karena Nyonya memilih berbicara langsung dengannya ketika ada sesuatu yang mengganggu pikiran Nyonya."

Senyum Naura perlahan memudar menjadi ekspresi yang lebih lembut.

Dia teringat bagaimana Adrian pernah bersikap tertutup ketika mereka baru menikah. Saat itu, setiap pertanyaan terasa seperti upaya untuk memasuki wilayah pribadi yang tidak ingin disentuhnya. Namun, belakangan ini, Adrian mulai membuka ruang bagi percakapan yang sebelumnya selalu mereka hindari.

Perubahan itu mungkin tidak besar bagi orang lain, tetapi cukup berarti baginya.

"Aku juga sedang belajar mempercayainya," jawab Naura. "Aku hanya berharap dia tidak merasa harus menyelesaikan semuanya sendirian."

Dimas mengangguk hormat sebelum berpamitan.

Setelah pria itu pergi, Naura kembali duduk di samping ibunya. Akan tetapi, pikirannya tidak sepenuhnya tenang.

Ada sesuatu yang mengganjal sejak dia membaca dokumen tadi.

Seseorang telah mengirimkan informasi rahasia ke mansion, tepat setelah Clarissa mempermalukannya melalui sebuah bingkisan. Kedua kejadian itu mungkin tidak berkaitan, tetapi waktu pengirimannya terlalu berdekatan untuk diabaikan begitu saja.

Naura mengambil ponselnya dan membuka kembali foto-foto dokumen yang sempat dia simpan sebelum menyerahkan amplop kepada Dimas.

Dia memperbesar salah satu halaman, memperhatikan nama-nama yang tercantum di bagian bawah percakapan.

Satu nama membuatnya berhenti.

Rendra Mahendra.

Naura pernah mendengar nama itu dalam percakapan keluarga Adrian. Rendra merupakan sepupu Adrian yang beberapa kali menghadiri acara keluarga besar, tetapi tidak banyak terlibat dalam urusan sehari-hari di mansion.

Naura tidak mengetahui kedekatan Rendra dengan Alexander International. Dia bahkan tidak yakin apakah pria itu memiliki jabatan yang berkaitan langsung dengan proyek Bali.

Karena itu, dia tidak ingin menarik kesimpulan hanya berdasarkan sebuah nama.

Namun, sebelum dia sempat memeriksa halaman berikutnya, sebuah panggilan masuk muncul di layar ponselnya.

Nomor itu tidak tersimpan dalam kontak. Naura sempat ragu, tetapi akhirnya menjawab panggilan tersebut.

"Halo?"

"Selamat sore, Nyonya Naura Mahendra."

Suara seorang wanita terdengar dari seberang. Nadanya tenang, terukur, dan terasa familier meskipun Naura tidak segera mengenalinya.

"Maaf, ini siapa?"

"Saya Helena Mahendra. Ibu Adrian."

Naura langsung meluruskan duduknya.

Selama ini, hubungan Naura dengan keluarga besar Adrian tidak selalu berjalan mudah. Ada anggota keluarga yang menerima pernikahan mereka, tetapi ada pula yang masih menganggap Naura sebagai wanita yang masuk ke dalam keluarga Mahendra karena persoalan utang.

Helena sendiri jarang menghubunginya secara langsung.

"Iya, Tante. Ada yang bisa saya bantu?"

"Saya mendengar ada kejadian kurang menyenangkan di mansion pagi ini."

Naura terdiam sesaat. Rupanya, kabar mengenai kedatangan Clarissa sudah sampai ke telinga ibu mertuanya.

"Memang ada kiriman dari Nona Clarissa, Tante. Tetapi semuanya sudah ditangani Adrian."

"Saya tidak sedang bertanya bagaimana Adrian menanganinya."

Nada suara Helena tetap lembut, tetapi ada ketegasan yang membuat Naura memilih untuk mendengarkan dengan saksama.

"Saya ingin tahu apakah kamu memahami siapa Clarissa sebenarnya bagi keluarga kami."

Naura menatap halaman dokumen yang masih terbuka di atas meja.

"Saya tahu dia pernah memiliki hubungan dengan Adrian."

"Itu bukan satu-satunya hal yang perlu kamu ketahui."

Helena berhenti sejenak, seolah sedang mempertimbangkan kalimat berikutnya.

"Clarissa berasal dari keluarga yang telah lama menjalin hubungan bisnis dengan keluarga Mahendra. Sebelum kamu menikah dengan Adrian, beberapa orang memang berharap hubungan kedua keluarga itu akan berkembang menjadi sesuatu yang lebih serius."

Naura merasakan dadanya mengencang, tetapi dia tetap menjaga nada suaranya.

"Apakah maksud Tante, keluarga Adrian pernah menginginkan mereka menikah?"

"Saya tidak mengatakan bahwa Adrian harus menikah dengannya. Keputusan itu tetap milik Adrian." Helena menghela napas pelan. "Namun, saya tidak ingin kamu salah memahami situasi ini. Ada kepentingan bisnis yang sudah berjalan jauh sebelum kamu masuk ke keluarga kami."

Naura menunduk sejenak.

Kini dia memahami mengapa Clarissa begitu percaya diri datang ke kantor pusat. Wanita itu bukan hanya membawa kenangan pribadi, tetapi juga memiliki hubungan lama dengan keluarga Adrian.

Meski demikian, Naura tidak ingin membiarkan penjelasan tersebut berubah menjadi alasan bagi siapa pun untuk merendahkan kedudukannya.

"Saya menghormati hubungan bisnis keluarga Mahendra, Tante," jawabnya. "Tetapi saya juga berharap hubungan itu tidak digunakan untuk mengganggu pernikahan saya dan Adrian."

Keheningan menyelimuti panggilan selama beberapa detik.

Helena tampaknya tidak menyangka Naura akan menjawab setegas itu.

"Kamu mulai berani berbicara sekarang."

"Saya hanya berusaha menjelaskan posisi saya."

"Baiklah." Suara Helena kembali terdengar datar. "Kalau begitu, saya berharap kamu bisa bersikap bijaksana ketika menghadiri makan malam keluarga dua hari lagi."

Naura mengernyitkan dahi.

"Makan malam keluarga?"

"Adrian belum memberitahumu?"

"Belum, Tante."

"Seluruh keluarga inti akan hadir. Kami juga akan membicarakan perkembangan kerja sama dengan Alexander International."

Naura melirik kembali nama Rendra yang tercetak di layar ponselnya.

"Tentu, Tante. Saya akan membicarakannya dengan Adrian."

"Bagus. Saya harap kamu tidak membuat keputusan berdasarkan emosi."

Panggilan itu berakhir tidak lama kemudian.

Naura meletakkan ponselnya perlahan. Ada banyak hal yang ingin dia tanyakan, tetapi dia memilih menunggu sampai Adrian pulang.

Dia tidak ingin menjadikan percakapan dengan ibu mertuanya sebagai sumber pertengkaran baru. Terlebih, jika makan malam keluarga itu memang berkaitan dengan proyek Bali, Adrian harus mengetahui bahwa pembahasan bisnis dan persoalan pribadi mulai bercampur di dalam lingkaran keluarganya sendiri.

---

Pukul tujuh malam, Adrian akhirnya tiba di mansion.

Begitu memasuki ruang tengah, dia menemukan Naura sedang duduk di sofa dengan dua cangkir teh di atas meja. Wanita itu mengangkat wajah ketika mendengar langkahnya, kemudian tersenyum kecil.

"Kamu pulang juga."

Adrian melepaskan jasnya dan menyerahkannya kepada staf sebelum menghampiri Naura.

"Aku sudah berjanji akan pulang lebih awal."

"Kamu terlambat satu jam dari perkiraan."

"Ada rapat tambahan."

Naura menggeser salah satu cangkir ke arahnya. "Aku sudah menduga kamu akan mengatakan itu."

Adrian duduk di sampingnya, kemudian memperhatikan wajah istrinya dengan saksama.

"Ada sesuatu yang ingin kamu bicarakan?"

Naura mengangguk.

"Tadi ibumu meneleponku."

Ekspresi Adrian langsung berubah.

"Ibu meneleponmu?"

"Ya. Dia memberitahuku tentang makan malam keluarga dua hari lagi dan hubungan lama keluarga Mahendra dengan Alexander International."

Adrian mengembuskan napas perlahan. Dia memang mengetahui rencana makan malam itu, tetapi belum sempat membicarakannya dengan Naura karena sibuk memeriksa dokumen yang diterimanya.

"Aku seharusnya memberitahumu lebih awal."

"Kenapa kamu belum mengatakannya?"

"Aku ingin memastikan agenda pertemuan itu terlebih dahulu. Aku tidak ingin kamu merasa harus menghadapi keluargaku ketika urusan bisnisnya sendiri belum jelas."

Naura menatapnya beberapa saat.

"Aku menghargai niatmu, Adrian. Tetapi aku tidak ingin selalu menjadi orang terakhir yang mengetahui sesuatu, terutama jika hal itu berkaitan dengan keluarga kita."

Adrian terdiam.

Naura melanjutkan dengan nada yang tetap tenang, "Aku tidak meminta kamu menceritakan setiap persoalan perusahaan kepadaku. Aku tahu ada hal-hal yang bersifat rahasia. Namun, kalau ada acara keluarga yang juga melibatkan masa lalu kamu dengan Clarissa, aku ingin mendengarnya darimu, bukan dari orang lain."

Adrian memandang wanita di sampingnya. Dia tidak menemukan kemarahan yang meledak-ledak di wajah Naura. Justru ketenangan itulah yang membuat perkataan istrinya terasa lebih dalam.

Naura tidak sedang meminta perlindungan berlebihan. Dia hanya ingin diakui sebagai bagian dari kehidupan yang sedang mereka bangun bersama.

Adrian meraih tangannya.

"Kamu benar."

Naura sedikit terkejut mendengar jawaban itu.

"Aku tidak ingin kamu merasa harus menghadapi keluargaku sendirian," lanjut Adrian. "Dua hari lagi, kita akan datang bersama. Kalau ada yang ingin dibicarakan mengenai Clarissa atau kerja sama bisnis keluarga, aku akan menghadapinya bersamamu."

"Jangan berjanji hanya untuk membuatku tenang."

"Aku tidak sedang menenangkanmu, Naura. Aku sedang mengatakan apa yang akan kulakukan."

Tatapan mereka bertemu.

Untuk beberapa saat, Naura membiarkan keheningan mengisi ruang di antara mereka. Kemudian, dia menggenggam tangan Adrian sedikit lebih erat.

"Ada satu hal lagi."

Adrian mengangkat alis. "Apa?"

Naura mengambil ponselnya, membuka foto dokumen yang sempat diperiksanya, lalu menunjukkan nama Rendra Mahendra.

"Aku menemukan nama ini di dalam salah satu percakapan yang dikirimkan ke mansion. Aku tidak tahu apakah dia benar-benar terlibat, tetapi aku ingin kamu memeriksanya."

Adrian mengambil ponsel itu dan memperbesar gambar pada layar.

Begitu melihat nama tersebut, ekspresinya berubah serius.

"Di halaman mana kamu menemukan ini?"

Naura menunjukkan bagian yang dimaksud.

Adrian membacanya dengan saksama, kemudian meletakkan ponsel di atas meja. Dia berusaha mengingat kembali proses awal kerja sama dengan Alexander International.

Rendra memang pernah memperkenalkan salah satu perwakilan perusahaan itu kepada keluarga Mahendra. Namun, pada saat itu, pertemuan tersebut hanya dianggap sebagai perkenalan awal. Belum ada pembicaraan mengenai proyek Bali, apalagi persetujuan untuk berbagi informasi internal.

Jika nama Rendra muncul dalam percakapan mengenai perubahan proyeksi keuntungan, berarti ada sesuatu yang harus diperiksa lebih jauh.

"Aku akan meminta tim audit memeriksa bagian ini," ujar Adrian. "Tapi kamu benar. Kita tidak boleh menuduh siapa pun sebelum mengetahui faktanya."

Naura mengangguk.

"Aku hanya tidak ingin kita terlambat menyadari sesuatu yang penting."

Adrian mengusap punggung tangan istrinya dengan ibu jari.

"Kita akan memeriksanya bersama."

Naura tersenyum kecil. "Kalau begitu, sekarang makan malam dulu. Kamu belum makan dengan benar sejak pagi, bukan?"

Adrian menatapnya beberapa detik sebelum tertawa pelan.

"Kamu benar-benar tidak akan membiarkan aku bekerja tanpa mengingatkan soal makan."

"Kalau kamu ingin terus bekerja sampai tengah malam, setidaknya lakukan setelah makan."

"Baik, Nyonya Mahendra."

Mereka bangkit dari sofa dan berjalan menuju ruang makan. Untuk beberapa saat, persoalan Clarissa, dokumen misterius, dan rahasia keluarga Mahendra dibiarkan menunggu.

Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama.

---

Pada waktu yang hampir bersamaan, di sebuah restoran pribadi di kawasan Jakarta Selatan, Clarissa duduk berhadapan dengan Rendra Mahendra.

Pria itu mengenakan kemeja gelap dengan lengan yang digulung hingga siku. Di hadapannya terdapat sebuah map berisi dokumen proyek Bali yang belum ditandatangani.

Clarissa baru saja selesai menceritakan kejadian di ruang rapat pagi tadi. Rendra mendengarkan tanpa banyak bereaksi, tetapi rahangnya mengeras ketika mengetahui bahwa Adrian telah meminta tim legal meninjau ulang seluruh ketentuan kerja sama.

"Kau bilang Adrian akan tetap profesional," ujar Rendra akhirnya.

"Dia memang profesional. Itulah masalahnya." Clarissa meletakkan gelasnya. "Dia tidak akan membiarkan satu pun tindakan yang dianggapnya mengancam Naura berlalu begitu saja."

Rendra menatapnya tajam.

"Seharusnya kau tidak mengirimkan bingkisan itu."

"Aku tidak meminta nasihat tentang kehidupan pribadiku."

"Dan aku tidak ingin keputusan pribadimu merusak rencana yang sudah kita susun."

Clarissa menahan kesal. Dia tidak menyukai cara Rendra berbicara seolah-olah dirinya hanyalah bagian kecil dari rencana yang lebih besar.

"Aku masih bisa memperbaiki keadaan. Adrian belum membatalkan kerja sama."

"Belum," ulang Rendra. "Tetapi jika audit internal menemukan sesuatu yang tidak seharusnya mereka temukan, kita akan kehilangan kesempatan untuk masuk lebih jauh ke dalam proyek Bali."

Clarissa terdiam.

"Apa yang sebenarnya kamu khawatirkan?" tanyanya setelah beberapa saat. "Kau selalu mengatakan bahwa dokumen itu aman."

Rendra menutup map di hadapannya.

"Karena aku memang mengira dokumen itu aman."

Jawaban tersebut membuat Clarissa menatapnya lebih tajam.

"Maksudmu?"

Rendra tidak langsung menjawab. Dia memeriksa keadaan sekitar sebelum mengeluarkan ponselnya dan membuka sebuah pesan yang baru diterimanya.

Pengirimnya tidak tercantum dalam daftar kontak.

Pesan itu hanya berisi satu kalimat.

Adrian sudah menerima salinannya.

Rendra membaca pesan tersebut tanpa mengubah ekspresi, tetapi tangannya perlahan mengepal.

Clarissa memperhatikan perubahan itu.

"Siapa yang mengirim pesan?"

"Tidak penting."

"Tentu saja penting jika orang itu mengetahui urusan kita."

Rendra memasukkan ponselnya kembali ke saku.

"Mulai sekarang, jangan menghubungi Adrian di luar jalur resmi. Jangan mengirimkan apa pun kepada Naura, dan jangan membicarakan dokumen proyek dengan siapa pun yang tidak berkepentingan."

Clarissa mengerutkan kening.

"Kau menyuruhku mundur setelah aku dipermalukan di depan direksi?"

"Aku menyuruhmu berhenti membuat masalah yang tidak perlu."

"Aku tidak takut kepada Naura."

"Ini bukan tentang Naura!"

Suara Rendra yang mendadak meninggi membuat Clarissa terdiam. Beberapa pengunjung di meja sebelah sempat menoleh, sehingga Rendra segera merendahkan suaranya kembali.

"Kalau Adrian menemukan sumber kebocoran itu, semua orang yang terlibat akan diperiksa. Kau mungkin bisa berlindung di balik nama keluargamu, tetapi aku tidak akan membiarkan seluruh urusan ini jatuh ke tanganku seorang diri."

Clarissa menatap pria di hadapannya dengan perasaan tidak nyaman.

Untuk pertama kalinya, dia menyadari bahwa Rendra tidak sekadar mengkhawatirkan kelanjutan kerja sama bisnis mereka. Ada sesuatu yang jauh lebih pribadi di balik sikapnya.

Sesuatu yang selama ini sengaja disembunyikannya.

"Rendra," ucap Clarissa perlahan. "Apa yang sebenarnya kamu lakukan sebelum kerja sama ini dimulai?"

Rendra tidak menjawab. Dia berdiri, mengambil map di atas meja, lalu memasukkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!