Satu pesan yang salah kirim mempertemukan Andrian Pratama, seorang mahasiswa tingkat akhir, dengan Elena, wanita dewasa yang ternyata merupakan CEO sebuah perusahaan besar.
Awalnya, mereka hanya berbicara lewat pesan. Tanpa sengaja, percakapan sederhana itu berubah menjadi kebiasaan yang membuat keduanya semakin dekat.
Masalahnya, Andrian kemudian menjalani magang di perusahaan tempat Elena bekerja.
Sejak saat itu, hubungan mereka menjadi semakin rumit. Di satu sisi, Elena adalah CEO yang harus menjaga profesionalitas. Di sisi lain, bagi Andrian, Elena adalah wanita yang sudah menjadi bagian penting dari kesehariannya.
Dari pesan singkat, pertemuan tak sengaja, hingga akhirnya menjadi pasangan, keduanya mulai membangun hubungan yang mereka kira sederhana.
Namun, semakin dekat mereka satu sama lain, semakin banyak hal yang belum mereka ketahui.
Karena terkadang, orang yang paling dekat dengan kita justru menyimpan rahasia yang paling besar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sphinxeditz77, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hotel Tempat Semuanya Dimulai
Hujan turun sejak sore. Tidak terlalu deras, tetapi cukup untuk membuat aspal jalanan Jakarta memantulkan cahaya lampu kendaraan yang berlalu-lalang. Gedung-gedung tinggi berdiri menyerupai bayangan raksasa di balik tirai air, sementara suara klakson terdengar bersahutan dari kejauhan, tenggelam oleh derau hujan.
Pukul 16.07.
Sebuah mobil berhenti tepat di area drop-off sebuah hotel tua—tempat yang enam tahun lalu pernah menjadi salah satu pusat pertemuan bisnis kelas atas di Jakarta. Hotel itu masih berdiri kokoh, namun auranya telah jauh berubah. Berbeda dengan hotel-hotel mewah masa kini yang dipenuhi lampu benderang dan lalu-lalang tamu elit, tempat ini terasa jauh lebih sepi dan tertutup. Namanya sudah diganti. Interior lobinya telah direnovasi sebagian, tetapi kerangka utama bangunannya masih memendam napas masa lalu.
Elena melangkah turun dari mobil. Ia mengenakan setelan blazer hitam sederhana dengan celana panjang senada. Tidak ada perhiasan mencolok, tidak ada tas bermerek mahal. Ia datang bukan sebagai seorang CEO, melainkan sebagai seorang anak yang mencari jejak rahasia ayahnya.
Andrian menyusul turun beberapa detik kemudian. Ia berdiri di samping Elena, menatap fasad bangunan di hadapannya dengan saksama.
"Jadi ini tempatnya," gumam Andrian.
Elena mengangguk pelan. "Menurut data lama, Ayah ada di sini pada 17 Juni 2026."
Andrian memasukkan kedua tangannya ke saku celana, matanya masih memindai sekeliling. "Dan sekarang, seseorang yang tidak kita kenal meminta kita datang ke tempat yang sama, pada jam yang sama."
"16.30."
"Ya."
Elena mengangkat pergelangan tangannya. Masih ada dua puluh menit. Ia menghela napas panjang, mencoba mengusir rasa dingin yang mulai merayap di tengkuknya. "Jujur saja, aku mulai tidak suka permainan seperti ini."
Andrian menoleh, menatap wajah Elena dari samping. "Takut?"
Elena terdiam sebentar, membiarkan gerimis kecil mengenai wajahnya, sebelum akhirnya mengangguk jujur. "Sedikit."
Pengakuan itu membuat Andrian urung membalas. Biasanya, Elena selalu memancarkan aura wanita baja yang mustahil digoyahkan. Di ruang rapat, satu tatapannya bisa membuat jajaran direktur senior terdiam. Namun sore ini, mereka tidak berada di lantai teratas gedung NSM. Mereka sedang berdiri di ambang pintu masa lalu yang mungkin menyimpan rahasia tergelap keluarga Pratama.
"Kamu nggak harus menghadapi ini sendirian," ucap Andrian pelan namun tegas.
Elena menatap pemuda di sampingnya. Ada keheningan singkat yang nyaman di antara mereka, sebelum seulas senyum tipis akhirnya terbentuk di bibir Elena. "Aku tahu. Makanya aku mengajakmu."
Andrian tertawa kecil, suara baritonnya memecah ketegangan. "Padahal pesan itu melarang keras membawa siapa pun."
"Sejak kapan aku terbiasa mengikuti perintah orang misterius?" balas Elena.
"Benar juga."
Keduanya melangkah masuk menembus pintu kaca ganda.
Lobi hotel itu tidak terlalu ramai. Hanya ada beberapa tamu yang duduk berbincang pelan di sofa dekat meja resepsionis. Alunan musik instrumental mengalun sayup dari pengeras suara di sudut ruangan, bercampur dengan aroma kopi espresso dan parfum ruangan yang agak tajam.
Elena berjalan lurus menuju meja marmer resepsionis. "Permisi."
Seorang petugas pria berseragam langsung berdiri tegap. "Selamat sore, Bu. Ada yang bisa saya bantu?"
"Saya ingin menanyakan satu hal." Elena membuka ritsleting tasnya dan meletakkan selembar foto lama di atas meja. "Apakah Anda mengenali tempat di dalam foto ini?"
Petugas tersebut menunduk mengamati foto itu. Wajahnya menegang—hanya sepersekian detik—namun Andrian yang sejak tadi mengawasi dengan jeli berhasil menangkap perubahan itu.
"Kenapa?" potong Andrian cepat.
Petugas itu buru-buru mengatur kembali ekspresinya menjadi topeng profesional. "Maaf, Pak, Bu. Saya tidak mengenali foto ini."
Andrian melirik Elena. Ada yang ditutupi.
"Foto ini diambil enam tahun lalu di area hotel ini," lanjut Elena mendesak. "Apakah kalian masih menyimpan arsip buku tamu lama?"
Petugas itu tampak salah tingkah. "Kami... kami mungkin menyimpan data lama di server, tetapi aksesnya sangat terbatas."
"Siapa yang bisa mengaksesnya?"
"Manajer hotel, atau—"
Ucapan petugas itu terpotong ketika seorang pria paruh baya, berusia sekitar lima puluhan, berjalan mendekat dari arah lorong samping. Langkahnya berat dan tegas.
"Ada masalah, Dimas?" tanya pria itu.
Petugas resepsionis tampak lega. "Tidak, Pak Darto. Tamu ini menanyakan soal arsip lama."
Pria bernama Darto itu menoleh ke arah Elena, lalu pandangannya turun pada foto di atas meja. Wajahnya berubah. Tidak banyak, tetapi cukup untuk membuat Andrian kembali masuk ke mode waspada.
"Bu Elena?" tegur Darto pelan.
Elena terdiam, keningnya berkerut. "Kita saling mengenal?"
Darto menundukkan kepalanya sedikit, tanda hormat yang kaku. "Nama saya Darto. Enam tahun lalu, saya menjabat sebagai Kepala Keamanan hotel ini."
"Dan sekarang?" selidik Elena.
"Masih di posisi yang sama." Darto menatap foto itu sekali lagi, kali ini dengan durasi yang lebih lama. "Anda datang ke mari untuk mencari seseorang?"
Elena tidak menjawab secara langsung. Instingnya mengatakan ia harus berhati-hati. "Kami hanya ingin mengetahui daftar tamu yang datang ke hotel ini pada tanggal 17 Juni 2026."
Darto langsung terdiam kaku. Andrian memperhatikan tangan pria itu; jari-jarinya bergerak gelisah, persis seperti seseorang yang baru saja dikonfrontasi dengan rahasia yang paling ingin ia lupakan.
"Kenapa harus tanggal itu?" tanya Darto akhirnya, suaranya lebih serak.
"Karena ayah saya datang ke sini pada hari itu," jawab Elena tanpa basa-basi.
"Pak Arman?"
"Ya."
Darto menarik napas panjang, matanya menyapu lobi yang terbuka. "Kalau begitu... sebaiknya kita tidak membicarakan ini di sini. Mari ikut saya."
Mereka dibawa melewati lorong staf menuju sebuah ruangan kecil di belakang area administrasi. Ruangan itu pengap, tidak memiliki jendela, dan hanya diisi oleh sebuah meja kayu, tiga kursi plastik, serta deretan lemari arsip tua dari besi.
Darto menutup pintu rapat-rapat dan memastikan penguncinya berbunyi klik.
"Enam tahun lalu, saya memang yang memegang penuh kendali keamanan di sini," mulai Darto sambil berdiri bersandar pada lemari arsip.
Andrian duduk, matanya tak lepas dari pria paruh baya itu. "Lalu, apa yang Anda ingat tentang hari itu?"
Darto mengusap wajahnya yang lelah. "Pak Arman datang sekitar pukul empat sore. Sesuai jadwal."
"Beliau sendirian?" cecar Elena.
"Tidak." Darto menggeleng lambat. "Beliau bersama seseorang."
Elena langsung mencondongkan tubuhnya ke depan, mengeluarkan foto dari sakunya dan menaruhnya di atas meja kayu. "Pria yang ini?"
Darto menatap foto tersebut. Kali ini, ia sama sekali tidak berusaha menyembunyikan keterkejutannya. Ia mengangguk. "Benar."
Ruangan mendadak sunyi, hanya menyisakan dengung pendingin ruangan yang usang.
"Siapa dia?" tanya Elena tajam.
Darto menggeleng. "Saya tidak tahu."
"Anda kepala keamanan, Anda pasti tahu sesuatu."
"Saya hanya menjalankan perintah, Bu."
"Pak Darto." Suara Elena merendah, nadanya berubah mengancam sekaligus memohon. "Saya datang ke sini bukan untuk menghakimi atau menyalahkan Anda. Saya hanya seorang anak yang perlu tahu kebenaran apa yang terjadi hari itu."
Mendengar itu, Darto menunduk, menatap sepatu pantofelnya yang kusam. "Pria itu datang tanpa reservasi. Seharusnya dia tidak bisa naik ke lantai atas."
"Lalu bagaimana dia bisa masuk?"
"Pak Arman... beliau sudah memberikan instruksi khusus jauh sebelum kedatangannya."
Andrian menyela, "Instruksi apa?"
Darto menelan ludah sebelum menjawab. "Jangan pernah mencatat nama pria itu di buku tamu maupun sistem. Buat seolah-olah dia tidak pernah menginjakkan kaki di gedung ini."
Elena membeku di kursinya. Jadi dugaannya benar. Ayahnya sengaja menyembunyikan eksistensi pria itu dari rekam jejak mana pun.
"Berapa lama pertemuan mereka berlangsung?" tanya Andrian.
"Sekitar satu jam."
"Dan setelah itu?"
Darto terdiam cukup lama, tampak ragu apakah ia harus mengatakan kebenarannya. "Setelah itu... mereka bertengkar hebat."
Elena mengerutkan kening. "Pak Arman bertengkar dengan pria itu?"
"Ya. Saya tidak mendengar keseluruhan percakapannya karena saya berjaga di luar pintu. Tapi suara mereka cukup keras hingga menembus dinding." Darto menatap mata Elena ragu-ragu. "Mereka... membicarakan nama Anda."
Darah di wajah Elena seolah terkuras habis. "Aku?"
Darto mengangguk. "Saya mendengar Pak Arman berteriak, menegaskan sesuatu seperti, 'Elena tidak boleh tahu soal ini.' Beliau terdengar sangat marah, sekaligus... putus asa."
Jantung Elena berdegup kencang hingga telinganya berdenging.
"Lalu apa respons pria itu?" tanya Andrian, mengambil alih ketika menyadari Elena terlalu terkejut untuk bicara.
"Pria itu membalas dengan nada dingin. Dia bilang bahwa semuanya sudah terlambat."
"Sudah terlambat untuk apa?" tanya Elena dengan napas tertahan.
"Saya benar-benar tidak tahu, Bu. Setelah itu mereka keluar, dan pria itu pergi begitu saja."
Elena menatap kosong ke arah meja, kedua tangannya mengepal erat di pangkuan. Selama bertahun-tahun, ia mengira ayahnya hanyalah sosok diktator yang terlalu protektif terhadap kehidupan dan kariernya. Namun kenyataannya, pada hari itu, ayahnya sedang menyembunyikan sebuah rahasia gelap yang secara langsung akan merenggut masa depannya.
"Apakah ada rekaman CCTV dari lorong atau kamar itu?" tanya Andrian, pikirannya bergerak cepat mencari bukti.
Darto mengangguk. "Ada."
"Masih tersimpan?"
"Seharusnya."
Andrian langsung berdiri. "Kalau begitu kita lihat sekarang."
Darto tidak bergerak dari tempatnya. "Ada masalah, Pak."
"Apa?"
"Semua log CCTV pada tanggal 17 Juni 2026 pernah dihapus secara permanen dari server utama."
Elena mendongak, matanya berkilat marah. "Dihapus? Siapa yang menghapusnya?"
"Saya tidak tahu. Saat saya sadar, filenya sudah hilang."
Andrian menyipitkan matanya penuh curiga. "Pak Darto, Anda adalah kepala keamanan. Server utama ada di bawah yurisdiksi Anda. Bukankah seharusnya ada log aktivitas siapa yang menghapusnya?"
Darto terdiam. Suasana di ruangan kecil itu menjadi sangat tegang. Kemudian, perlahan-lahan pria paruh baya itu merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah kunci kuningan kecil. Ia meletakkannya di atas meja dengan bunyi denting pelan.
"Sebenarnya..." Darto berdeham. "Masih ada satu salinan mentahnya."
Mata Elena melebar. "Di mana?"
Darto menunjuk ke bawah. "Di ruang penyimpanan server lama di rubanah."
"Kenapa Anda repot-repot menyimpannya jika bos Anda sendiri meminta rahasia ini dikubur?" selidik Andrian.
Darto menatap Andrian dengan tatapan getir. "Karena saya tahu, di dunia orang kaya, orang-orang kecil seperti saya selalu menjadi yang pertama dikorbankan sebagai kambing hitam. Suatu hari nanti, seseorang pasti akan menggali rahasia ini. Saya menyimpan hard drive itu sebagai asuransi nyawa saya."
Pukul 16.29.
Udara di lantai bawah tanah terasa lembap dan berbau debu. Mereka bertiga berdiri di depan sebuah pintu besi berat yang catnya sudah mengelupas.
Darto memasukkan kunci kuningan itu ke dalam lubang. Terdengar bunyi klik logam yang nyaring. Pintu terbuka dengan suara derit panjang.
Ruangan di baliknya gelap gulita dan dipenuhi jaring laba-laba. Rak-rak server kuno setinggi dua meter berdiri kaku memenuhi sisi dinding bagai nisan besi. Lampu neon di langit-langit berkedip-kedip, berjuang menyala sebelum akhirnya memberikan penerangan yang redup.
Andrian menyalakan lampu senter dari ponselnya untuk membantu pandangan. "Tempat ini masih digunakan?"
"Sudah ditinggalkan sejak renovasi sistem besar-besaran lima tahun lalu," jawab Darto sambil berjalan berhati-hati melewati kabel-kabel yang menjuntai. Ia menuju sebuah lemari besi kecil di sudut ruangan dan membuka laci paling bawah.
Ia menarik sebuah kotak hitam berdebu—sebuah hard drive lama.
"Ini salinannya." Darto menyerahkannya kepada Andrian.
Andrian baru saja menerima perangkat tersebut ketika sebuah suara memecah kesunyian.
BRAK!
Pintu besi di belakang mereka tertutup dengan bantingan keras.
Elena tersentak kaget. Darto memutar tubuhnya dengan panik. Andrian bergerak paling cepat; ia melompat ke arah pintu dan menarik gagangnya sekuat tenaga.
Tidak bergerak sama sekali.
"Terkunci dari luar," geram Andrian.
Maya tidak bersama mereka. Tak ada seorang pun di lobi yang tahu mereka turun ke sini. Mereka benar-benar terperangkap.
TRANG.
Lampu neon di langit-langit mendadak mati total. Ruangan seketika ditelan kegelapan pekat.
"Andrian!" Elena secara refleks meraih lengan kemeja pemuda itu.
"Aku di sini. Jangan bergerak," bisik Andrian seraya menarik Elena ke belakang punggungnya.
Darto berdiri mematung di dekat lemari. "Siapa di sana?!" serunya panik.
Lalu, terdengar suara langkah sepatu membentur lantai beton. Bukan dari arah pintu utama, melainkan dari sudut gelap di antara lorong rak server tempat mereka berdiri. Seseorang sedang berjalan mendekat. Pelan. Teratur.
Satu langkah. Dua langkah. Tiga langkah.
Andrian langsung mengangkat ponselnya dan menyorotkan cahaya senter ke arah lorong tersebut. Cahaya putih itu menyapu rak besi yang berdebu, menembus kegelapan, hingga berhenti pada sesosok bayangan.
Seorang pria berdiri di ujung lorong.
Wajahnya tersembunyi di balik topi dan bayangan rak, namun posturnya sangat familier. Di sela jari telunjuk dan tengahnya, pria itu memegang sesuatu. Sebuah foto usang yang sama persis dengan milik Elena.
"Seharusnya kalian tidak pernah datang kemari," suara pria itu menggema, berat dan dingin.
Elena menahan napas, cengkeramannya pada lengan Andrian menguat. "Siapa kamu?!"
Pria itu tidak menjawab. Ia hanya mengangkat foto di tangannya sebatas dada, menatap Elena dari balik bayangan topi. "Kalau kamu benar-benar ingin tahu apa yang terjadi pada tanggal 17 Juni... tanyakan kepada ayahmu, kenapa dia tega mengorbankan masa depan putri tunggalnya sendiri."
Seusai mengucapkan kalimat itu, pria misterius itu melepaskan jepitan jarinya. Foto itu melayang di udara sebelum jatuh mendarat di lantai beton yang berdebu.
KLIK.
Terdengar suara kunci elektronik terbuka dari arah pintu besi utama di belakang Andrian dan Elena.
Bersamaan dengan bunyi pintu utama itu, terdengar derit engsel berkarat yang dibanting dari arah pintu pemeliharaan darurat di belakang pria tersebut. Saat Andrian memutar kembali sorot senternya ke ujung lorong, sosok itu sudah lenyap tertelan kegelapan pintu keluar.
"Dia kabur!" Darto berteriak.
Andrian maju beberapa langkah, bersiap mengejar, namun langkahnya terhenti saat ujung sepatunya menyentuh sesuatu di lantai. Ia menunduk dan memungut foto yang baru saja dijatuhkan pria itu.
Senter ponsel diarahkan ke atas permukaan foto. Saat membaliknya, wajah Elena yang ikut melihat langsung memucat seputih kertas.
Di bagian belakang foto itu, terdapat sebaris tulisan tangan menggunakan tinta merah, sangat kontras dan berbeda dengan tulisan sebelumnya:
Kesepakatan pertama gagal. 18 Juni 2026.
Itu adalah tanggal yang tidak akan pernah Elena lupakan. Tanggal di mana ia pertama kali bertemu Andrian Pratama.
Elena menatap tulisan itu dengan napas gemetar. Ia perlahan mengangkat wajahnya, menatap lurus ke dalam mata Andrian melalui cahaya temaram ponsel.
"Jadi..." Suara Elena pecah, keraguan dan ketakutan menyatu di dalamnya. "Pertemuan pertama kita hari itu... bukan kebetulan?"
Andrian balas menatapnya tanpa mampu mengucapkan sepatah kata pun. Karena untuk pertama kalinya sejak semua pusaran misteri ini dimulai, Andrian menyadari satu hal yang paling mengerikan...
Ia sendiri tidak yakin dengan jawabannya.
Bersambung...
Kalau kalian suka dengan ceritanya, bantu Author dengan LIKE & FOLLOW yaa! ❤️🔥
Gratis kok, tapi dukungan kecil dari kalian berarti banget buat author dan bikin semangat lanjut update. 😆
Satu Like 👍 = satu tambahan semangat buat lanjut nulis! 💪🔥
Jangan lupa Subscribe juga biar nggak ketinggalan bab terbaru! 📖✨