NovelToon NovelToon
BENANG SUTRA DI JEMARI LOGAM

BENANG SUTRA DI JEMARI LOGAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Cinta Seiring Waktu / Identitas Tersembunyi / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:655
Nilai: 5
Nama Author: Imron Tohari

Maya Kirana, perancang busana berjiwa halus, berselisih dengan Rendra, konsultan teknis yang dingin dan kaku di ajang Indonesian Fashion Week. Sentuhan tak sengaja pada relief candi kuno melempar kesadaran mereka ke masa lalu, mengungkap takdir reinkarnasi sebagai sepasang kekasih kerajaan, Raden Jayendra dan Putri Kirana.

Saat persaingan memanas, studio Maya disabotase dan lisensinya dibekukan akibat fitnah plagiarisme dari rival mereka, Victor dan Clarissa. Di tengah krisis, Maya dan Rendra bersatu memadukan kelembutan sutra dengan kriya logam presisi. Didukung Rian, kakak Maya, mereka menggelar uji materi terbuka untuk membersihkan nama baik.

Jelang panggung Grand Final, Rendra mengorbankan material karya rahasianya dan mengundurkan diri sebagai desainer misterius berinisial REN demi menyelamatkan gaun Maya sekaligus menjebak Victor ke jalur hukum. Mahakarya kolaborasi sutra dan logam tersebut akhirnya meraih Juara Utama IFW, menyatukan kembali cinta serta takdir masa lalu Maya dan Rendra.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imron Tohari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BENANG SUTRA DI JEMARI LOGAM BAB 7

BAB 7

Kebuntuan kreatif bukan sekadar ketidakmampuan menggambar; bagi Maya, itu adalah bentuk kelumpuhan jiwa. Dua hari setelah intrik tajam di ruang verifikasi bersama Clarissa, Victor, dan Rendra, ruang kerjanya berubah menjadi kuburan kertas. Puluhan lembar sketsa gaun untuk babak penentuan lima besar berakhir sebagai gumpalan sampah yang berserakan di lantai.

Setiap kali jarum pensilnya menyentuh kertas, bayangan wajah Clarissa yang penuh dendam dan senyum licik Victor mendadak membayangi pikirannya. Namun, yang paling merusak konsentrasinya justru adalah bayangan mata Rendra—mata kelam yang selalu menatapnya seolah-olah Maya adalah sebuah teka-teki yang salah dihitung. Pria itu seakan tahu persis seluruh celah kelemahannya, dan itu membuat dada Maya sesak oleh amarah yang tak terlampiaskan.

Gengsi. Itu adalah benteng utama Maya. Ia menolak menyerah, apalagi jika harus terlihat runtuh di hadapan Rendra. Karena tidak sanggup lagi menahan himpitan dinding ruang kerjanya, Maya memutuskan pergi berkendara sendirian tanpa memberitahu siapa pun. Ia memacu mobilnya menembus jarak puluhan kilometer, meninggalkan hiruk-pikuk kota menuju situs reruntuhan Candi Kuno di kaki pegunungan—sebuah komplek batu abad pertengahan yang terkenal dengan relief tekstil dan kerajinan logam kunonya.

Udara dingin pegunungan menyambut Maya saat kakinya menapak pelataran batu Andesit hitam candi tersebut. Bau tanah basah, lumut tua, dan dedaunan yang membusuk alami menyeruak masuk ke paru-parunya, perlahan mengurai simpul syaraf kepalanya yang tegang.

Di tempat ini, bisingnya industri mode, sentakan lampu kilat media, dan gertakan bernada ancaman dari Victor mendadak menguap, digantikan oleh keheningan alam yang sakral dan abadi. Suara gesekan dedaunan yang tertiup angin seakan bisikan pelan yang memanggil bagian paling dalam dari jiwanya.

Maya melangkah perlahan menelusuri selasar candi utama, berjalan di antara lorong batu sempit yang dipayungi dinding berpahat. Tangannya yang halus terangkat, membawakan jemarinya menelusuri relief busana kuno. Batunya dingin dan kasar, tetapi pahatan lipatan kainnya terukir begitu luwes. Setiap lekukan pahat batu itu menyimpan jejak keahlian masa lalu yang tak lekang oleh zaman.

Tiba-tiba, getaran berturut-turut disertai nada dering ponsel yang nyaring memecah keheningan sakral kompleks candi. Maya merogoh saku mantelnya dan melihat nama layar yang tertera: Dito.

Selain menjadi manajer merek yang selalu tenang mendampinginya, Dito adalah sahabat karib sekaligus Manajer Keuangan di rumah mode yang didirikan Maya. Maya menarik napas panjang sebelum menggeser tombol hijau di layarnya.

"Ya, Dito?" sapa Maya, mencoba menetralkan nada suaranya.

"Maya, akhirnya kau angkat juga!" seru Dito di seberang telepon dengan nada sangat cemas, kehilangan ketenangan elegannya yang biasa. "Kau di mana? Aku sudah mencarimu di studio sejak tadi pagi."

"Aku sedang di luar kota mencari inspirasi, Dito," jawab Maya pelan. "Ada apa? Suaramu tegang sekali."

"Kita dalam masalah besar, Maya,"Dito menghela napas berat, terdengar hembusan napas yang tertahan di balik gagang telepon. "Investor utama kita baru saja membatalkan komitmen pendanaan untuk kuartal depan secara mendadak. Alasan formal mereka karena serangan isu plagiarisme yang diembuskan pihak Clarissa kemarin. Arus kas (cash flow) studio kita kritis, May. Tabungan operasional hanya sanggup bertahan dua sampai tiga minggu ke depan untuk membayar gaji pengrajin dan bahan baku."

Maya membelalakkan matanya, memegangi dinding batu candi yang dingin di sebelahnya.

"Apa? Pembatalan mendadak?" tanya Maya panik. "Bukankah kontraknya sudah ditandatangani?"

"Ada klausul 'pencemaran nama baik' yang dimanfaatkan tim hukum mereka. Aku yakin Victor ada di balik mundurnya investor ini," tegas Dito dengan nada prihatin. "Singkatnya, Maya... studio kita butuh suntikan dana segar dalam jumlah besar sekarang juga. Jika kita tidak menjuarai kompetisi ini atau menemukan investor baru yang mau masuk minggu ini, studio yang kita bangun dari nol ini terancam kolaps."

Dada Maya berdesir hebat. Kenyataan pahit itu menghantam tepat di dadanya, mempertebal rasa tertekan yang sudah membebaninya. Tekanan kompetisi kini bukan lagi sekadar soal piala atau gengsi pribadi, melainkan soal kelangsungan hidup rumah modenya dan nasib para pengrajin yang menggantungkan hidup padanya. Membayangkan usaha dan keringat yang dituangkan seluruh timnya terancam sia-sia membuat tenggorokannya terasa tersumbat.

"Beri aku waktu sampai besok, Dito. Aku akan cari jalurnya. Tolong tahan dulu pembayaran yang tidak terlalu mendesak," bisik Maya, mencoba menahan getaran di suaranya sebelum mematikan sambungan telepon.

Maya menyandarkan punggungnya pada dinding batu candi, memejamkan mata erat-erat. Beban finansial, tekanan sabotase Victor, dan kebuntuan sketsa seolah bersekongkol meremukkan pertahanan jiwanya.

"Ornamen helai kain pada relief era ini menggunakan teknik pahat berlapis..." Sebuah suara berat dan tenang menyela keheningan dari sudut lorong batu di belakangnya, membuat Maya terperanjat seketika. "Pahatannya ditipiskan di bagian tepi untuk menciptakan ilusi bahwa kain batu itu melayang ditiup angin, tetapi bagian dasarnya tetap ditopang oleh fondasi batu yang tebal agar tak mudah terkikis zaman."

Maya berbalik cepat dan mendapati seorang pria berdiri beberapa langkah darinya di balik naungan bayangan stupa candi.

Pria itu mengenakan pakaian kasual—kaos hitam polos berlapis kemeja flanel gelap yang lengannya digulung hingga siku. Di lehernya menggantung kamera analog tua, dan di tangan kirinya tergenggam sebuah buku sketsa bersampul kulit kecokelatan.

Rendra.

Kemunculan Rendra di tempat terasing ini melemparkan Maya ke dalam pusaran kebingungan yang intens. Heningnya pelataran candi yang semula menenangkan mendadak berubah menjadi panggung konfrontasi emosional baru yang serba menyudutkan. Pria itu berdiri di sana dengan gaya tenangnya yang khas, seolah kabar buruk dari Dito beberapa menit lalu hanyalah riak kecil yang tak mampu mengusik dominasi keberadaannya.

Maya memegangi dinding batu Andesit di sampingnya, ia berusaha menyembunyikan guncangan mental yang membakar dadanya. Tatapan tajam Rendra yang lurus memancarkan tingkat kecermatan yang selalu berhasil menelanjangi pertahanan psikologis Maya—sebuah tatapan yang seakan tahu persis bahwa Maya sedang berada di ambang kehancuran.

Beban krisis finansial, ancaman sabotase Victor, dan bayang-bayang kebangkrutan studio seolah menyatu dengan rasa gengsi yang terus menuntutnya untuk tetap berdiri tegak. Maya menolak terlihat lemah, apalagi di hadapan pria yang paling sering mempertanyakan ketahanan karyanya ini.

Di tengah keheningan candi yang dingin, ia bersiap melontarkan kekesalan dan kecurigaan ke Rendra, yang sejak tadi telah memantik emosinya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!