NovelToon NovelToon
Gulungan Tabib Langit Dan Bumi

Gulungan Tabib Langit Dan Bumi

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Syahriandi Purba

Di Benua Awan Timur, kekuatan adalah segalanya. Para kultivator jenius membelah gunung dengan lambaian tangan dan menghancurkan kota hanya dengan hembusan napas. Namun, epik ini tidak dimulai dari puncak kejayaan, melainkan dari sudut dunia fana yang terlupakan. Li Yun hanyalah seorang tabib muda biasa di kota perbatasan. Ia tidak memiliki akar spiritual surgawi, garis keturunan dewa, ataupun takdir pahlawan yang terpilih.
Ketika seorang kultivator sakti tewas di depan kliniknya yang sederhana, kehidupan tenang Li Yun hancur. Ia mewarisi sebuah teknik rahasia kuno yang tidak memberinya kekuatan penghancur instan, melainkan menuntut pemahaman mendalam tentang hukum alam, alkimia, dan aliran energi yang sangat lambat. Di dunia yang dipenuhi kejeniusan arogan dan sekte-sekte kuno yang kejam, Li Yun menyadari bahwa bertahan hidup membutuhkan lebih dari sekadar kekuatan murni. Ia harus menggunakan kecerdasannya, menyembunyikan bakat aslinya di balik identitas seorang tabib sekuler.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1: Hujan Darah di Kota Daun Gugur

​Rintik hujan turun laksana jarum perak yang menusuk atap-atap kayu di Kota Daun Gugur. Angin malam berhembus membawa udara dingin yang menusuk tulang, membuat jalanan tanah di kota fana itu kosong melompong. Tidak ada warga yang berani berkeliaran di cuaca seburuk ini, kecuali bayangan-bayangan yang tak ingin terlihat oleh mata dewa.

​Di sudut paling gelap dari Jalan Lentera Merah, sebuah klinik kecil memancarkan cahaya temaram. Aroma herbal yang pekat, campuran dari akar ginseng usia lima tahun dan daun teratai kering, menguar menembus celah jendela.

​Li Yun duduk dengan tenang di balik meja kayunya. Jari-jarinya yang ramping namun dipenuhi kapalan tipis bergerak cekatan menumbuk ramuan di dalam lumpang batu. Usianya baru menginjak delapan belas tahun, tetapi sorot matanya setenang sumur tua yang tak pernah tersentuh riak air. Pakaian linen kasarnya bersih, mencerminkan ketelitian seorang praktisi pengobatan yang telah berurusan dengan nyawa dan kematian sejak kecil.

​Brak!

​Suara pintu kayu yang didobrak paksa memecah keheningan malam. Angin badai menerobos masuk, memadamkan dua dari tiga lilin di ruangan itu.

​Li Yun tidak melompat kaget. Tangannya hanya berhenti menumbuk sejenak. Matanya yang tajam menatap sosok yang kini tersungkur di lantai kliniknya.

​Itu adalah seorang pria paruh baya mengenakan jubah sutra biru yang kini telah robek dan berlumuran darah kental yang menghitam. Pria itu bernapas dengan sangat tersengal-sengal, setiap tarikan napasnya terdengar seperti puing-puing kaca yang saling bergesekan. Namun, yang membuat pupil Li Yun sedikit menyusut bukanlah luka mengerikan di dada pria itu, melainkan pedang patah yang masih digenggam erat di tangan kanannya. Pedang itu memancarkan cahaya keperakan yang redup, menolak untuk padam meski bilahnya telah hancur.

​Kultivator.

​Sebuah kata yang selalu dihindari oleh setiap manusia fana bergema di kepala Li Yun. Berurusan dengan mereka berarti mengundang bencana yang bisa meratakan seluruh kota ini dalam semalam. Akal sehatnya berteriak untuk segera menyeret pria ini keluar dan membersihkan sisa darahnya.

​Namun, sebelum Li Yun sempat bergerak, pria itu mengangkat kepalanya. Matanya yang merah menatap Li Yun dengan keputusasaan yang begitu dalam.

​"Tolong... selamatkan..." suaranya serak, darah segar kembali menyembur dari sela bibirnya. "Aku... punya pil roh..."

​Li Yun melangkah maju dengan hati-hati, tidak menunjukkan rasa takut yang berlebihan, namun tetap menjaga jarak aman. Pandangannya menyapu luka di dada pria itu. Tulang rusuknya hancur, organ dalamnya hangus oleh energi yang tidak wajar. Sebagai seorang tabib, Li Yun tahu pria ini sudah mati; hanya energi spiritual di dalam tubuhnya yang masih menunda perpisahan nyawa dari raga.

​"Luka Tuan telah menembus jantung," ucap Li Yun tenang, suaranya sedatar permukaan danau es. "Tidak ada akar surgawi atau ramuan fana di klinik ini yang mampu menyambung kembali meridian yang telah hancur lebur."

​Mendengar vonis yang diucapkan dengan begitu dingin namun jujur oleh seorang pemuda fana, pria paruh baya itu tertawa getir. Tawa yang segera berubah menjadi batuk darah yang parah.

​"Bahkan seorang tabib fana... bisa melihatnya," bisik kultivator itu, cengkeramannya pada pedang patahnya mulai mengendur. "Sekte Pedang Awan... runtuh... pengkhianatan..."

​Pria itu menggunakan sisa-sisa tenaga terakhirnya untuk merogoh kerah jubahnya yang basah oleh darah. Ia mengeluarkan sebuah batu giok berwarna hijau lumut yang permukaannya dipenuhi retakan halus. Batu giok itu tidak memancarkan aura yang kuat atau cahaya suci, melainkan terlihat seperti perhiasan murahan yang cacat.

​"Ambil ini," desis pria itu, menjejalkan giok retak itu ke lantai kayu di depan kaki Li Yun. Matanya mulai kehilangan fokus. "Jangan... jangan pernah tunjukkan pada siapa pun di Alam Inti Emas... Terlalu cepat mencari kekuatan... hanya akan mengundang kematian sepertiku..."

​Dengan hembusan napas terakhir yang bergetar, tubuh kultivator itu jatuh sepenuhnya ke lantai kayu. Cahaya redup pada pedang patahnya padam secara bersamaan. Pria itu telah tiada.

​Hening kembali menyelimuti klinik, hanya menyisakan suara badai di luar jendela.

​Li Yun berdiri diam menatap mayat di depannya selama beberapa menit penuh. Ia tidak segera meraup batu giok tersebut dengan rakus seperti protagonis dalam cerita-cerita pahlawan. Sebaliknya, ia berjalan ke arah pintu, menguncinya dengan rapat, dan menurunkan palang kayu tebal.

​Ia mengambil sepasang sarung tangan kulit dari lacinya, memakainya, dan baru kemudian memungut batu giok retak tersebut. Benda itu terasa dingin, sedingin es abadi. Tidak ada kilatan pencerahan seketika, tidak ada lonjakan energi yang membuat tubuhnya meledak dengan kekuatan dewa. Giok itu hanya diam di telapak tangannya, menyimpan rahasia yang mungkin bisa memberinya umur panjang, atau justru memenggal kepalanya esok hari.

​"Kekuatan yang didapat tanpa pijakan yang kokoh hanyalah istana pasir di tepi pantai," gumam Li Yun pelan, mengingat pesan terakhir kultivator tersebut.

​Ia berjalan menuju apotek rahasia di bawah lantai kayunya, menyembunyikan batu giok itu di dalam sebuah kotak timah yang dilapisi bubuk penekan aroma. Malam ini, ia tidak akan mencoba membuka rahasia batu giok itu. Prioritas pertamanya adalah membuang mayat kultivator ini jauh ke dalam hutan berduri sebelum fajar menyingsing, dan memastikan kliniknya tidak menyisakan satu tetes darah pun atau sehelai aura energi spiritual.

​Jalan menuju puncak abadi sangatlah panjang dan dipenuhi tulang belulang para jenius yang ceroboh. Li Yun tidak terburu-buru.

1
Armoire
1 vote meluncur lah /Drool//Drool/
ARay
mantap Thor 😎
ARay
bagus ini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!