Aleena Keisha(24), desainer interior KALA JIVA Singapura. Kemenangan lomba desain hotel Bandung membawanya promosi ke Jakarta, kota yang menyimpan luka masa lalunya.
Hari pertama kerja, ia menabrak pintu kaca lobi. CEO KALA JIVA, Keanu Zayn Malik(30) terpaku. Gadis itu adalah Aleena, murid olimpiade matematika yang 7 tahun lalu pernah ia bimbing dan hilang kontak.
Gosip guru-murid dulu telah menghancurkan beasiswa Aleena. Zayn memberontak orang tuanya dan membangun KALA JIVA dari nol. Kini takdir mempertemukan mereka sebagai Bos dan Bawahan. Aleena tak mengenalinya sama sekali, malah mengira Zayn sudah beristri dan punya anak. Mampukah Zayn meluruskan semuanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon winda siregar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RTPB - 17
Jam sebelas malam di Changi Airport ternyata tidak seramah yang ada di brosur NAFA.
Hujan masih turun rintik-rintik di kaca besar bandara. Orang-orang berjalan dengan cepat, ada yang disambut dengan pelukan keluarga yang menjemput, tertawa atau membawa bunga. Tidak ada yang peduli dengan seorang gadis berjilbab coklat susu dengan mata sembab, koper besar yang rodanya sudah miring.
Aleena berdiri mematung di depan pintu keluar, baterai hpnya sudah hampir habis. Di tangannya ada kertas kecil yang sudah lecek karena keringat. Tulisan tangan Shila, sahabat satu - satunya.
Jakarta,
Dear sahabatku Aleena.
Jaga jilbabnya kamu ya jangan lupa sholatnya.
Itu saja. Tidak ada alamat Ayah dan Ibu untuk dihubungi kalau ada apa-apa. Karena memang tidak ada lagi.
Aleena adalah anak yatim piatu.
Ibunya sudah berpulang enam bulan lalu. Ayahnya sudah tidak ada sejak dia kecil. Rumah kecil di pinggiran Jakarta yang menjadi satu-satunya warisan orang tuanya, kini sudah Aleena sewakan. Uang sewanya lumayan buat pegangan yang sudah dia tukar dengan dolar Singapura yang sekarang ada di dompetnya. Lima puluh dolar untuk hidup di salah satu negara termahal di dunia.
Dia benar-benar sebatang kara.
"Miss, you need help? MRT is closing soon"
Seorang petugas bandara menghampirinya. Aleena menunjukkan kertasnya dengan tangan gemetar.
"MRT... Bencoolen... how?"
Petugas itu menunjukkan jalan. Aleena menyeret kopernya, naik MRT pertama kali dalam hidupnya. Ia harus mengalami salah jurusan sebanyak dua kali. Tersesat di interchange City Hall. Akhirnya jam satu pagi baru sampai di depan asrama Bencoolen Street yang lampunya sudah dimatikan.
Kamarnya ada di lantai empa kamar dengan luas dua belas meter persegi, tidak begitu jauh besarnya dengan rumahnya di Jakarta. Dua ranjang susun, satu meja, satu lemari kecil yang catnya mengelupas.
Teman sekamarnya bernama Min dari Thailand, wanita itu sudah tidur mendengkur.
Aleena tidak menyalakan lampu. Dia meletakkan kopernya pelan. Duduk di lantai yang dingin. Dan akhirnya tangisnya pecah.
Tangis yang sejak di pesawat Jakarta-Singapura dia tahan, sejak melihat papan bunga pernikahan Keanu Z. Malik dan Indira Utami di jalan, sejak melihat pria yang sangat Aleena kenal sedang merangkul istrinya di gate Paris, semua tumpah di lantai asrama Bencoolen.
Tidak ada yang memeluk. Tidak ada Ibunya yang mengelus kepalanya sambil menenangkannya.
"Sudah nak, sudah.."
Yang ada hanya tasbih kayu usang milik Ibunya yang dia genggam erat sampai berbekas di telapak tangan.
"Ibu... Aleena sudah sampai Singapura, Bu... Aleena sendirian Bu..." bisiknya dalam isakan yang dia tahan agar Min tidak terbangun.
Hari pertama di Singapura ditutup dengan air mata di lantai, tanpa keluarga.
Hari-hari di NAFA tidak lebih mudah.
Nanyang Academy of Fine Arts. Kampus seni nomor satu di Singapura. Isinya anak-anak orang kaya dari Korea, China, Malaysia, Singapura. Mereka datang dengan fasilitas mewah dan modern, iPad Pro, MacBook Pro M3, sepatu Nike terbaru.
Aleena datang dengan laptop second pemberian Shila yang layarnya retak di pojok, jilbab segi empat yang baru belajar pakai, dan tasbih Ibunya yang selalu dia bawa di dalam tas.
Minggu pertama seperti neraka baginya.
"Eh you from where? Your English why like that one? So kampung" celetuk seorang teman sekelasnya saat presentasi pertama Aleena bahasa Inggrisnya belepotan.
Seluruh kelas tertawa. Aleena hanya bisa menunduk. Jilbabnya terasa semakin panas. Dia satu-satunya yang berjilbab di kelas desain interior angkatannya.
Dosennya, Mr. Tan, pria Singapura yang sangat perfeksionis, melihat sketsa tugas pertama Aleena. Sketsa tentang rumah petak.
Mr. Tan mengerutkan kening.
"What is this, Aleena? This is too kampung. Too poor. We are in Singapore, we learn modern luxury. Not poor house like this"
Dia meletakkan sketsa itu di meja paling belakang. Tidak ditempel di dinding seperti karya teman-teman lain.
Rumah petak, rumah Ibunya. Satu-satunya rumah yang pernah Aleena punya. Dihina di depan orang banyak.
Malam itu, Aleena tidak bisa tidur, Aleena kangen banget sama Ibunya. Kangen bau kayu rumah petaknya yang kalau hujan bocor. Kangen suara Ibunya mengaji dengan pelan.
Aleena membuka HP nya, buka galeri foto satu-satunya foto Ibunya yang masih ada. Foto buram Ibunya sedang tersenyum di depan rumah petak. Foto ini diambil saat dia baru beli handphone yang sudah second.
"Bu, Aleena dihina lagi Bu... Rumah kita dihina..." bisiknya sambil mengusap layar HP.
Itu adalah sketsa rumah impian Aleena. Jika kelak dia punya uang, Aleena akan menyulap rumahnya seperti impiannya.
Aleena adalah anak yatim yang dididik Ibunya untuk tidak cengeng. Ibunya sering memberinya nasehat.
"Kalau kita miskin harta, jangan miskin doa dan usaha, ya Al..."
Masuk bulan kedua, Aleena berubah total.
Dia bangun jam empat pagi setiap hari. Sholat tahajud di kamar asrama yang sempit agar tidak membangunkan Min, lalu lanjut menggambar sampai subuh.
Dia nongkrong di perpustakaan NAFA selama delapan jam. Belajar bahasa Inggris dari YouTube gratis. Belajar aplikasi yang menunjang kuliahnya seperti SketchUp, AutoCAD, 3D Max dari tutorial bajakan karena tidak punya uang untuk kursus.
Jilbabnya yang dulu membuatnya minder, sekarang dia pakai dengan bangga. Dia belajar melilit jilbab segi empat menjadi berbagai model dari tutorial TikTok.
Tugas kedua datang lagi. Design a home for a lonely person.
Semua teman-temannya membuat desain apartemen mewah minimalis serba putih, kaca, dengan smart home.
Aleena membuat desain rumah petak tiga kali enam meter. Persis seperti rumah Ibunya. Dengan satu jendela besar agar cahaya matahari bisa masuk untuk jemuran. Dengan satu tikar tipis untuk sholat. Dengan satu dapur kecil dengan kompor satu tungku. Dengan satu rak kayu kecil untuk meletakkan tasbih dan Al-Quran dan foto Ibu.
Hari presentasi, Aleena gemetar.
"This is not a house" katanya dengan bahasa Inggris yang masih patah-patah tapi matanya berkaca-kaca.
"This is my home. My Mom home, she is already died. I am orphan. No father, no mother. Only this house left for me before. And I sell it to go here. For lonely person... like me... when I first come Singapore... lonely person don't need big house. Don't need expensive house. They just need warm house. House that remember them that someone ever love them. Like my Ibu hug"
Satu kelas diam. Tidak ada yang tertawa.
Mr. Tan berdiri, berjalan mendekati sketsa Aleena. Matanya berkaca-kaca.
"Excellent" kata Mr. Tan pelan.
"Thank you Sir" jawab Aleena menunduk.
Hari itu untuk pertama kalinya, karya Aleena ditempel di dinding utama NAFA. Dan untuk pertama kalinya setelah dua tahun, Aleena merasa Ibunya pasti bangga melihatnya dari surga.
Tahun pertama berakhir dengan IPK 3.85. Aleena mendapat beasiswa prestasi tambahan. Uang beasiswa itu tidak dia pakai untuk beli baju baru. Dia pakai untuk membayar sisa hutang untuk biaya pengobatan Ibunya kepada tetangganya.
Tahun kedua, dia sudah tidak dipanggil kampung girl. Dia dipanggil "The Soul Girl".
Dosen-dosen mulai mengenalnya sebagai mahasiswi berjilbab yang selalu sholat di mushola kecil belakang kampus dan selalu membawa tasbih kayu.
Tahun ketiga, dia memenangkan kompetisi desain tingkat nasional Singapura dengan tema 'Rumah Untuk Ibu'. Hadiahnya lima ribu dolar Singapore dan satu slot magang emas.
Slot magang itu di perusahaan desain terbaik se-Asia Tenggara.
KALA JIVA INTERIORS, Cabang Orchard Road, Singapura.
Hari pertama magang, Aleena memakai jilbab terbaiknya, jilbab coklat susu yang sama dengan hari pertama dia berangkat, tapi sekarang sudah lebih rapi. Di tangannya ada tasbih Ibu Rina.
Gedung KALA JIVA di Orchard sangat megah. Dindingnya kaca semua.
Resepsionis menyapa ramah.
"Kamu pasti Aleena dari NAFA. Gadis yang cerdas. Mr. Sam menunggu kamu di lantai teratas"
Lift naik ke lantai 10. Jantung Aleena naik lebih cepat dari liftnya.
Pintu kantor CEO terbuka.
Seorang pria berdiri membelakangi, menatap Orchard Road dari jendela kaca besar. Kemeja putih, lengan digulung, postur tegap.
"Selamat datang Aleena dari NAFA. Saya sudah lihat semua portofolio kamu. Rumah petak yang hangat itu... saya suka." katanya tanpa menoleh.
"Terima kasih Pak" jawab Aleena pelan.
Pria itu menoleh.
"Saya pimpinan tertinggi di perusahaan ini. Ini adalah perusahaan cabang dan kantor pusatnya ada di Jakarta. Pemilik Perusahaan ini orang Jakarta sama seperti kamu. Dia pria yang sangat cerdas dan tangguh. Bisa membangun perusahaan ini dalam waktu kurang lebih empat tahun, sudah mempunyai beberapa cabang di luar negeri" Ucap pria itu memperkenalkan diri.
.
.
BERSAMBUNG
kalau kamu sendiri sdah menikah dan punya anak .
penasaran trus ma kisahnya zayn setelah menjauh dari Aleena 6 THN lalu
🥺🥺🥺🥺 sesulit itu untuk mereka meraih bahagia 💪💪💪💪
kenapa masih mencuri lihat ke Keisha aleena
sdah pangling Aleena ma Zayn Keanu.
ikutan sedih dengan kisah kalian,semoga cepat bersama Pak KEANU dan KEISHA 💪
akhirnya pak Keanu memanggil KEISHA Nama panggilan sayang terucap juga💃💃💃💃
kasihan ma Aleena hatinya tertahan 6 THN yg lalu ma Zayn keanu
tapi penasaran ma hidup Zayn 6 THN yg lalu kenapa Sampek bisa dan menikah .mana manggil sayang lagi pas di bandara.tapi sekarang hatinya katanya masih memikirkan Aleena.
tambah kepo ma penasaran baca lanjutannya
bukannya kamu sdah nikah yaaa
💃💃💃 liburan diBandung Allena 💪