NOVEL GAGAL JANGAN DIBACA
Rahman Affandi adalah tuan tanah tua berusia enam puluh delapan tahun yang sangat kikir dan dibenci oleh semua penyewa kontrakannya.
Saat ajalnya tiba-tiba mendekat dan ia sekarat sendirian tanpa keluarga yang peduli, sebuah sistem misterius muncul di kepalanya.
Sistem itu memberinya sisa umur tujuh hari yang hanya bisa diperpanjang jika ia bersedia membahagiakan para penyewanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Sinar matahari pagi menyelinap masuk melalui celah jendela kamar Rahman.
Pria tua itu membuka matanya perlahan sambil merasakan tubuhnya.
Ia meraba dadanya yang semalam terasa seperti mau pecah.
"Ternyata semalam bukan mimpi ya," gumam Rahman pelan.
Ting!
[Sisa umur pengguna: 9 Hari 15 Jam 20 Menit.]
Layar biru transparan itu langsung muncul begitu Rahman membuka mata.
Angka yang terus berkurang itu membuat perutnya terasa mulas.
Tik tik tik.
Suara rintik hujan mulai terdengar jatuh di atas genteng.
Hujan di pagi hari biasanya membuat orang malas bangun dari kasur.
Namun bagi Rahman, hujan adalah alarm bencana untuk dompetnya.
Brak brak brak!
Suara gedoran pintu yang sangat keras membuat Rahman terlonjak kaget.
"Pak Rahman! Buka pintunya, Pak!"
Terdengar suara teriakan laki-laki dari luar kamarnya.
Rahman bergegas bangun dan membuka pintu dengan wajah kesal.
Di depannya berdiri Budi, pemuda yang menyewa kamar nomor tujuh.
Budi bekerja sebagai buruh pabrik dan selalu telat membayar uang air.
Wajah pemuda itu tampak sangat marah dengan rambut yang sedikit basah.
"Ada apa pagi-pagi sudah mau merobohkan pintuku?" tanya Rahman ketus.
"Atap kamar saya bocor parah, Pak!"
Budi menunjuk ke arah kamarnya dengan napas memburu.
"Airnya netes tepat di atas TV tabung saya sampai korslet."
"Bapak harus tanggung jawab ganti rugi dan perbaiki atapnya sekarang juga!"
Mendengar kata ganti rugi, darah Rahman langsung mendidih.
Baginya, uang keluar tanpa rencana adalah sebuah dosa besar.
"Enak saja minta ganti rugi padaku."
"Siapa suruh kamu taruh TV bututmu itu tepat di bawah genteng yang bocor?"
Budi mengepalkan tangannya menahan amarah mendengar jawaban bapak kosnya.
"Bapak kan pemilik kontrakan ini, wajar dong bapak yang perbaiki fasilitasnya!"
"Kalau kamu tidak suka tinggal di sini, silakan angkat kaki hari ini juga."
"Masih banyak orang yang mau menyewa kamarmu itu," balas Rahman tanpa perasaan.
Perdebatan mereka mengundang perhatian penyewa lain.
Beberapa pintu kamar terbuka, menampilkan wajah-wajah penasaran.
Maya, mahasiswi yang menyewa kamar nomor dua, ikut keluar.
Ia menatap Rahman dengan pandangan tidak suka.
"Pak Rahman memang selalu begitu, Mas Budi."
"Bulan lalu keran air saya rusak juga saya yang harus beli sendiri keran barunya," ucap Maya menyindir.
Rahman melotot ke arah Maya.
"Kamu anak kuliahan jangan ikut campur urusan orang tua."
Ting!
Suara mekanis yang sangat dibenci Rahman tiba-tiba berbunyi di kepalanya.
Layar biru muncul menutupi wajah marah Budi di depannya.
[Misi Utama Harian: Perbaiki atap kontrakan yang bocor.]
[Kondisi Tambahan: Jangan memungut biaya sepeser pun dari penyewa.]
[Hadiah: Tambahan umur 5 hari.]
[Kegagalan: Pengurangan umur 5 hari.]
Mata Rahman membelalak lebar membaca tulisan di layar itu.
Pengurangan umur lima hari?
Itu berarti sisa umurnya akan langsung tersisa empat hari saja kalau ia menolak.
Jantungnya tiba-tiba berdetak lebih cepat karena panik.
"Sistem sialan, kamu benar-benar mau memeras darahku ya," batin Rahman merutuk.
Budi yang melihat bapak kosnya terdiam malah semakin emosi.
"Kenapa diam saja, Pak?"
"Mau tanggung jawab atau saya laporkan ke Pak RT karena menyewakan rumah tidak layak huni?"
Rahman menelan ludah dengan susah payah.
Ia mencoba mengatur napasnya agar terlihat tenang di depan para penyewanya.
"Ekhem, siapa yang bilang aku tidak mau tanggung jawab?"
Suara Rahman tiba-tiba berubah menjadi sedikit lebih pelan dan tidak membentak lagi.
Budi mengerutkan keningnya, merasa ada yang aneh.
Begitu juga dengan Maya yang langsung saling pandang dengan tetangga lainnya.
"Aku akan panggil Mang Ujang sekarang juga untuk perbaiki atapmu."
"Kamu tenang saja, semua biaya perbaikan aku yang tanggung sepenuhnya," ucap Rahman sambil memaksakan senyum di bibirnya.
Senyum itu terlihat sangat aneh dan kaku di wajah keriputnya yang biasa bersungut-sungut.
Suasana di depan kamar itu mendadak hening seketika.
Hanya terdengar suara rintik hujan yang semakin deras.
Budi melongo menatap pria tua di depannya dengan mulut setengah terbuka.
"Bapak... serius?" tanya Budi ragu-ragu.
"Bapak tidak sedang sakit atau kesurupan penunggu sumur belakang kan?"
"Sembarangan kamu kalau bicara."
"Aku ini bapak kos yang baik hati dan peduli pada kenyamanan kalian," jawab Rahman dengan nada dibuat-buat.
Maya sampai mengusap telinganya, takut ia salah dengar.
Selama dua tahun tinggal di sini, baru kali ini ia mendengar kata baik hati keluar dari mulut Rahman.
"Tunggu apa lagi? Cepat kembali ke kamarmu dan amankan barang-barangmu."
"Aku mau ambil payung dan mencari Mang Ujang ke depan gang," usir Rahman sambil mengibaskan tangannya.
Budi mengangguk kaku dan segera kembali ke kamarnya tanpa banyak bicara lagi.
Para penyewa lain juga buru-buru masuk ke kamar masing-masing karena masih terkejut.
Rahman mengambil payung hitam bututnya yang sudah berlubang di bagian ujung.
Ia berjalan menembus hujan gerimis dengan hati yang hancur lebur.
"Uang tabunganku, uang kesayanganku."
"Hari ini aku harus merelakan kalian pergi demi menyambung nyawa," gumamnya sedih di sepanjang jalan.
2. tulang naga dan jiwa abadi
3. saham di pengembang kos kosan nusantara.
ah tapi terserah othor lah baiknya gimana apa lagi bapak rahmat efendi kayaknya masih punya rahasia lain yang belum terbongkar...