NovelToon NovelToon
Permata Tak Terduga Sang Mafia

Permata Tak Terduga Sang Mafia

Status: tamat
Genre:Romantis / Perjodohan / Mafia / Penikahan Kontrak / Dark Romance / Tamat
Popularitas:94
Nilai: 5
Nama Author: franericá

Angel Martinez dibesarkan untuk satu tujuan: menjadi istri yang sempurna dan penurut bagi pria pilihan ayahnya—seorang bos mafia Spanyol yang menganggap kekuasaan adalah segalanya. Yang ia impikan hanyalah kebebasan: sebuah perpustakaan, kuas dan kertas, dan satu perjalanan ke Italia sebelum hidupnya benar-benar bukan lagi miliknya.

Namun perjalanan itu ternyata sebuah jebakan manis. Di Roma, Angel mendapati dirinya telah dijanjikan kepada Dante Moretti—Don muda paling ditakuti di seluruh Italia. Dingin, arogan, dan terbiasa memiliki apa pun yang ia mau, Dante sama sekali tak berniat mengikat hidupnya pada seorang "putri manja". Sampai gadis bermata biru dan berambut merah api itu menatapnya tanpa gentar… dan meruntuhkan setiap tembok yang ia bangun.

Di dunia penuh darah, aliansi, dan senyum palsu, cinta adalah kelemahan paling berbahaya. Karena di balik pesta megah dan janji-janji setia, ada seseorang yang sudah lama menunggu—seseorang yang tahu persis bahwa cara termudah menghancurkan seorang Don adalah dengan merebut satu-satunya hal yang benar-benar ia cintai.

Ketika pria yang tak pernah takut pada apa pun akhirnya menemukan sesuatu yang tak sanggup ia kehilangan, ia siap membakar seluruh dunia demi mempertahankannya.

"Tak ada yang boleh menyentuh hartaku dan pergi tanpa terluka."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon franericá, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18

POV Dante

Percakapan dengan Lorenzo

Markas sunyi di jam pagi seperti itu, tapi kepalaku adalah medan perang.

Kulempar kunci ke atas meja dan menjatuhkan diri ke kursi. Lorenzo masuk tak lama kemudian, membawa sebuah map dan secangkir cappuccino.

Ia menatapku sekali.

Cuma sekali.

Lalu mengernyitkan alis.

"Kau aneh. Kenapa wajahmu begitu? Tidur tidak nyenyak?"

Aku tertawa. Tawa pendek, lelah.

"Aku tidur… dengan Angel."

Lorenzo membelalakkan mata, nyaris menjatuhkan cappuccino-nya.

"APA MAKSUDNYA kau tidur dengan Angel?"

Ia mendekat, panik.

"Jelaskan ini padaku sebelum aku kena serangan jantung."

Kuusap wajahku, frustrasi pada diriku sendiri.

"Tak terjadi apa-apa. Kami cuma… tidur. Di perpustakaan. Dia menangis, kami mengobrol, kami berciuman, lalu kupeluk dia sampai tertidur."

Lorenzo berkedip beberapa kali.

"Tunggu. Dia menangis… kau mengobrol… lalu kau MENCIUMNYA?"

Senyum jahil pun tumbuh di bibirnya.

"Sang Don jatuh cinta."

Aku menggebrak meja.

"Aku TIDAK jatuh cinta."

"Tidak?"

Ia melipat tangan.

"Lalu kenapa wajahmu seperti orang yang kehabisan napas dan membiarkan jantungnya jatuh ke lantai?"

Aku menatapnya, jengkel… dan kalah.

"Dia meruntuhkanku, Lorenzo. Aku tak bisa tetap memegang kendali di dekatnya."

Aku terdiam sejenak.

"Dan Pietro tadi pagi hampir mencabut kepalaku."

Lorenzo tertawa keras.

"Itu hal terbaik yang bisa terjadi."

Ia mendekat, serius.

"Dante… Mungkin untuk pertama kalinya, kau menemukan seseorang yang tak tunduk padamu. Dan kau ketakutan karena… kau menginginkannya."

Aku terdiam.

Aku benci mengakuinya.

Tapi ia benar.

"Apa yang harus kulakukan?"

"Aturan pertama: jangan menyakitinya. Aturan kedua: jangan mencoba mengendalikan perasaan itu. Aturan ketiga…"

Ia tersenyum.

"Cium dia lagi."

Aku memutar bola mata, tapi… gagasan itu terus terngiang.

"Mungkin terdengar aneh datang dariku… tapi cobalah jadi romantis."

"Romantis? Lorenzo, demi Tuhan. Aku ini Don mafia, bukan penyair."

Lorenzo mengangkat sebelah alis, dengan senyum menjengkelkan khas orang yang tahu lebih banyak daripada yang ia ucapkan.

"Ya, kau memang Don. Tapi dengannya… kau cuma perlu jadi Dante yang sedang jatuh cinta."

Aku terkekeh pendek, setengah tak percaya.

"Dan sejak kapan kau paham soal romansa?"

"Ah… trik-trikku tak kubongkar. Rahasia profesional."

Kami berdua akhirnya tertawa.

Lalu ia menjadi serius, sedikit mencondongkan tubuh ke meja.

"Dengar… lakukan sesuatu yang dia inginkan. Sesuatu yang menunjukkan bahwa kau memperhatikannya."

Aku berpikir sejenak, mengingat cara Angel bicara tentang Italia… dengan kilat penasaran di matanya.

"Dia datang untuk jalan-jalan, mengenal negeri ini…"

Lorenzo menyunggingkan senyum puas.

"Kalau begitu, ajak dia. Bawa dia ke tempat yang istimewa. Makan malam romantis. Tunjukkan bahwa kau bukan cuma pria yang ditakuti dunia."

Lalu ia menambahkan, dengan nada lebih serius:

"Tapi hati-hati. Kau punya banyak musuh. Itu tak berubah cuma karena kau sedang jatuh cinta."

Aku melipat tangan, tegas.

"Aku tahu. Dan aku akan melipatgandakan pengamanan."

Lagi pula… aku pria yang dikelilingi musuh.

Tapi untuk pertama kalinya, bukan itu yang mengkhawatirkanku.

Melainkan dia.

Kuambil ponsel dan menelepon ibuku. Ia menjawab pada dering pertama.

"Ibu, beri tahu Angel bahwa aku akan mengajaknya jalan-jalan nanti."

Aku berhenti sejenak.

"Ya… sesuatu yang istimewa. Tapi sebelum itu, aku ada urusan yang harus kubereskan."

Kuputus sambungannya.

Dan kurasakan sebuah antisipasi yang aneh—baru.

Sesuatu yang tak pernah dipicu oleh musuh mana pun, rapat mana pun, atau senjata mana pun.

PIETRO MELAWAN ANGEL

POV Angel

Begitu Dante keluar, Pietro mencengkeram lenganku dan menarikku masuk ke kamarku. Ia menutup pintu dengan keras.

Ia tampak… terluka.

Ketakutan.

Dan marah.

"Angel… demi Tuhan. Apa itu tadi?"

Aku menarik napas dalam-dalam, berusaha tetap tenang.

"Pietro, tak terjadi apa-apa."

Ia menyisir rambutnya dengan tangan, gugup.

"Kau keluar dari perpustakaan pagi-pagi… bersama Dante… dengan rambut berantakan! Dan dia juga! Kau pikir aku tak akan khawatir?!"

Aku merapatkan bibir.

"Pietro… aku sedang menangis. Dia cuma membantuku. Tak ada yang berlebihan."

"Menangis?"

Ekspresinya seketika melunak.

"Siapa yang membuatmu menangis? Dia?"

Aku menggeleng.

"Bukan."

Aku terdiam.

"Aku menangis karena… aku merasa terkurung. Takut. Dan sendirian."

Pietro menarikku ke dalam pelukan yang erat.

"Aku tak akan pernah membiarkan siapa pun menyakitimu, Angel. Termasuk dia," ucapnya pelan.

Aku balas memeluknya.

"Aku tahu, Pietro. Tapi… Dante tak melakukan apa-apa. Dia justru… lembut. Dan aku merasa… aman."

Pietro menjauh, menatap mataku.

"Aman? Dengan sang DON? Angel, kau mulai merasakan sesuatu untuknya. Dan itu… itu bisa menyakitimu."

Aku mengalihkan pandangan, karena Pietro terlalu benar.

"Aku tak tahu apa yang sedang kurasakan."

"Kalau begitu, berhati-hatilah. Ini bukan main-main. Dia bukan pria biasa. Dan kau… kau harta paling berhargaku."

Aku mencium pipinya.

"Aku tahu. Terima kasih sudah menjagaku."

Ia masih curiga, tapi meninggalkan kamar.

Ketika pintu tertutup… kurasakan jantungku berdegup kencang.

ANGEL SENDIRIAN

Memikirkan Ciuman Itu

Begitu aku sendirian, aku duduk di ranjang, menyentuh bibirku… dan memejamkan mata.

Ciuman itu kembali bagai kilat.

Cara Dante menatapku sebelumnya. Seolah aku sesuatu yang langka.

Seolah aku berarti.

Seluruh tubuhku bereaksi hanya karena mengingatnya.

Perutku bergejolak.

Kulitku meremang.

Dan jantungku…

jantungku mengkhianati segala logika.

Kenapa pria itu membuatku merasa seperti ini? Kenapa aku tak bisa mengusirnya dari kepalaku? Kenapa aku ingin… sungguh-sungguh… merasakan lagi ciuman itu?

Kubenamkan wajah ke kedua tangan.

Aku tak seharusnya.

Ia berbahaya.

Ia tunanganku karena kewajiban.

Ia sang Don.

Pria yang ditakuti semua orang.

Tapi aku teringat kedua tangannya yang menangkup wajahku.

Cara ia berkata bahwa aku adalah harta.

Cara ia menemaniku sampai aku tertidur.

Dan kemudian kurasakan sesuatu yang baru—hangat, menakutkan… tapi indah.

Aku mulai menyukainya. Dan itu mungkin hal paling berbahaya yang pernah terjadi padaku.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!