NovelToon NovelToon
Surat Dari Balik Sekat

Surat Dari Balik Sekat

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyelamat / Action
Popularitas:345
Nilai: 5
Nama Author: MF015

Novel ini mengisahkan Ahmad Zaki, seorang pemuda berusia 20 tahun yang merupakan anak dari pedagang kain. Ia berniat untuk belajar dan memperdalam ilmu di pondok pesantren yang berada di pedesaan.

Baru beberapa hari di pondok pesantren, ia telah menanam benih-benih cinta. Cinta yang tulus kepada seorang santriwati berusia 18 tahun, Nafisah Zahra.

Namun, cinta keduanya terhalang oleh perjodohan dan agresi militer.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MF015, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20: Kabar dari Kota

Sepuluh hari menahan diri terasa seperti sepuluh tahun bagi Zaki. Ia dan Nafisah tidak lagi berkirim kabar lewat Timin, tidak lagi bertukar pandang yang disengaja, bahkan berusaha untuk tidak berada di tempat yang sama pada waktu yang sama. Tapi menahan diri, seperti kata Darto, ternyata bukan berarti melupakan. Justru sebaliknya, setiap hari yang berlalu tanpa kabar membuat Zaki semakin menyadari betapa dalamnya perasaan yang selama ini ia coba pahami perlahan-lahan.

Kesibukan pengungsian sedikit membantu mengalihkan pikirannya. Ia semakin terlibat membantu penduduk dusun, belajar bertani dari mereka, bahkan mulai mengajar mengaji untuk anak-anak kecil di dusun, termasuk Timin, yang meski usil, ternyata memiliki semangat belajar yang tinggi.

"Kang Zaki," kata Timin suatu sore, setelah selesai belajar mengaji bersama beberapa anak lain, "Mbak Nafisah kok sekarang jarang senyum lagi?"

Pertanyaan polos itu menusuk dada Zaki lebih dalam dari yang ia duga. "Mungkin dia sedang lelah, Timin."

"Kang Zaki juga jarang senyum."

Zaki tersenyum kecil, dipaksakan. "Kang juga lelah."

Timin menatapnya dengan mata polos yang seolah tahu lebih banyak dari usianya. "Kalau lelah karena kangen, katanya obatnya cuma satu, Kang."

"Obat apa?"

"Ketemu," jawab Timin sederhana, lalu berlari pergi mengejar teman-temannya, meninggalkan Zaki yang terpaku dengan kata-kata polos tapi mengena itu.

Kabar besar datang seminggu kemudian, dibawa oleh seorang kurir dari kota yang sengaja diutus untuk menghubungi rombongan pengungsian. Kiai Wahid mengumpulkan seluruh santri di lapangan terbuka, wajahnya campuran antara lega dan waspada.

"Anak-anakku," katanya, "ada kabar dari kota. Perundingan gencatan senjata sedang diupayakan lewat mediasi internasional. Beberapa daerah sudah mulai tenang, meski di beberapa titik lain pertempuran masih berlangsung."

Bisik-bisik lega terdengar di antara para santri, meski Kiai segera melanjutkan dengan nada yang lebih hati-hati.

"Tapi ini bukan berarti kita bisa langsung kembali ke Al-Hikmah. Situasi masih belum stabil, dan Belanda masih menguasai beberapa wilayah strategis di sekitar Sumberwungu. Kita akan tetap di sini untuk sementara waktu, sampai keadaan benar-benar aman."

Setelah pengumuman itu, Kiai memanggil beberapa santri senior, termasuk Zaki dan Darto, untuk membicarakan tugas-tugas baru terkait kabar tersebut.

"Nak Zaki," kata Kiai, menatapnya dengan serius, "saya dengar kamu dan beberapa santri lain cukup dipercaya penduduk dusun di sini. Saya ingin meminta bantuanmu untuk hal yang lebih penting."

"Apa itu, Kiai?"

"Ada kebutuhan untuk mengirim dan menerima kabar antara rombongan kita dengan pihak-pihak yang bisa dipercaya di luar, termasuk keluarga Gus Hanif yang sekarang bergabung dengan laskar Hizbullah di wilayah ini. Saya butuh beberapa santri yang bisa dipercaya menjadi penghubung, membawa surat atau kabar penting, tanpa menimbulkan kecurigaan."

Zaki merasakan campuran antara terhormat dan cemas. "Saya siap membantu, Kiai. Tapi apakah ini berbahaya?"

"Ada risikonya," jawab Kiai jujur. "Tapi saya percaya, dengan kehati-hatian dan doa, kalian akan dijaga Allah. Saya tidak akan memaksa siapa pun yang tidak sanggup."

Darto, yang berdiri di samping Zaki, langsung mengangkat tangan. "Saya ikut, Kiai. Kalau Kang Zaki ikut, saya juga ikut."

Kiai tersenyum kecil melihat kesetiaan persahabatan mereka. "Baik. Kalian berdua, dan beberapa santri lain yang akan saya tentukan, akan mulai bertugas mulai besok. Ustaz Malik akan memberi pengarahan lebih lanjut."

Malam itu, sebelum tidur, Zaki merenung panjang tentang tugas baru yang akan ia emban. Menjadi kurir di tengah situasi perang bukan perkara main-main. Ada risiko tertangkap, risiko dicurigai sebagai mata-mata, bahkan risiko yang lebih buruk lagi.

Tapi di tengah kekhawatiran itu, ada juga secercah harapan yang tidak bisa ia tampik. Jika ia menjadi kurir, mungkin ia akan mendapat kesempatan untuk sesekali berpapasan dengan rombongan lain, mendengar kabar tentang Nafisah dari sumber yang lebih aman, atau bahkan, jika beruntung, bertemu dengannya dalam situasi yang lebih wajar.

"Kang, kamu masih terjaga?" bisik Darto dalam gelap.

"Iya. Saya memikirkan tugas besok."

"Takut?"

"Sedikit. Tapi saya rasa, ini kesempatan untuk melakukan sesuatu yang lebih besar dari sekadar menunggu."

Darto terdiam sejenak, lalu berkata pelan, "Kang, saya juga mau jujur soal sesuatu."

"Apa?"

"Alasan saya buru-buru menawarkan diri ikut jadi kurir, bukan cuma karena solidaritas ke kamu." Darto menghela napas dalam gelap. "Ayah saya, yang dulu bekerja untuk keluarga Kiai, sekarang bergabung dengan laskar di daerah sini. Saya belum bertemu dengannya sejak perang dimulai. Kalau jadi kurir, mungkin saya punya kesempatan mendengar kabar tentang beliau."

Zaki menoleh dalam gelap, merasakan berat yang sama seperti yang selama ini ia pikul sendirian, ternyata juga dipikul sahabatnya dengan cara yang berbeda.

"Semoga ayahmu baik-baik saja, Darto."

"Aamiin. Semoga kita berdua mendapat apa yang kita cari, meski dengan cara yang berbeda."

Mereka berdua terdiam dalam gelap, masing-masing dengan doa dan harapan yang mengambang di udara malam pegunungan yang dingin. Di luar, bintang-bintang bertebaran cerah, tak terganggu oleh kekacauan yang melanda bumi di bawahnya, seolah mengingatkan bahwa di atas segala kekacauan manusia, masih ada sesuatu yang tetap dan abadi, menunggu untuk disaksikan oleh mereka yang sabar dan yakin.

Bagian kedua dari perjalanan hidup mereka, masa-masa penuh gejolak dan ujian kesabaran, resmi berakhir malam itu. Esok, sebuah babak baru akan dimulai, satu yang akan membawa mereka lebih dekat pada bahaya, tapi juga, mungkin, lebih dekat pada satu sama lain.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!