Setelah kejadian Raka menyelamatkan warga desa Ciherang dari para korporat di kota, Raka Ardian mencoba peruntungan ke kota mencari kerjaan sambil menyelidiki perusahaan yang mengambil tanah warga Ciherang.
Berbagai kejadian suka dan duka dia hadapi.
Mampukan Raka bertahan di kota yang sering kali mengabaikan rasa kemanusiaan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Djafar S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 PERTARUNGAN JIWA DI RUANG ISOLASI
Suasana di dalam ruang isolasi khusus rumah sakit tempat Maya dirawat mendadak berubah menjadi medan pertempuran gaib yang mencekam. Udara di dalam ruangan bersuhu dingin es, membuat napas siapa pun yang berada di sana mengepulkan uap putih.
Lampu neon di langit-langit berkedip liar sebelum akhirnya pecah berkeping-keping, meninggalkan ruangan dalam kegelapan total yang hanya diterangi oleh cahaya rembulan dari jendela.
Di atas ranjang, Maya perlahan bangkit dengan postur tubuh yang terpuntir mengerikan. Matanya sepenuhnya putih tanpa pupil, dan dari kerongkongannya keluar suara gemuruh berat yang bercampur antara jeritan manusia dan lolongan binatang buas.
"Bocah desa... kau pikir kau bisa merebut wadah ini dariku?!" suara gaib itu menggelegar, menciptakan gelombang tekanan udara yang membuat kaca-kaca lemari obat bergetar hebat.
Raka Ardian berdiri tegak dengan kuda-kuda kokoh, memusatkan seluruh tenaga dalam Welingan Sejati ke kedua telapak tangannya. Ia tahu, entitas yang merasuki Maya bukanlah roh sembarangan; makhluk itu adalah iblis penunggu sisa ritual kuno yang terikat oleh perjanjian darah hitam, memiliki daya tahan dan cengkeraman energi yang jauh melampaui preman dunia fana.
Pertarungan langsung pecah dalam dimensi fisik dan gaib secara bersamaan.
Maya melesat menerjang dengan kecepatan kilat, melemparkan pukulan bertenaga gelap yang mampu meremukkan dinding beton. Raka menangkis hantaman itu dengan kedua tangannya.
Bum!
Benturan tenaga dalam menciptakan dentuman keras yang meniup angin kencang ke seluruh sudut ruangan. Kirana memekik histeris sambil memeluk kepala di sudut kamar, sementara Nadia yang turut mendampingi membekap mulutnya sendiri, menahan napas menyaksikan Raka terdorong mundur dua langkah dengan telapak tangan yang mengepulkan asap hitam tipis akibat gesekan energi negatif.
"Raka!" teriak Nadia cemas setengah mati.
"Jangan mendekat!" seru Raka tegas.
Makhluk itu kembali menyerang secara membabi buta. Cakar tangan Maya memanjang dalam penglihatan gaib, merobek udara dan melukai bahu Raka hingga darah segar mengucur membasahi kemejanya.
Namun, Raka tidak bergeming. Ia merapalkan mantra perlindungan leluhur, mengeluarkan tiga jarum perak pusaka, dan meluncurkannya tepat ke titik syaraf utama tubuh Maya untuk melumpuhkan pergerakan fisik sang wadah tanpa melukai organ dalamnya.
Seketika, Maya jatuh berlutut, menjerit sejadi-jadinya saat jarum perak membakar hawa panas di tubuhnya. Dari mulut Maya, wujud asli entitas tersebut mulai terdorong keluar—sebuah siluet hitam pekat berkabut tebal dengan mata merah menyala dan tanduk melengkung, meronta-ronta menolak tunduk.
Pertarungan sengit memuncak. Makhluk itu menyerang balik kesadaran batin Raka, mencoba merusak pikiran sang tabib dari dalam. Keringat dingin bercampur darah mengalir deras di pelipis Raka. Ia harus mengerahkan seluruh sisa tenaga dalamnya untuk mengunci inti roh iblis tersebut ke dalam botol pusaka. Benturan energi batin ini berlangsung sangat lama dan melelahkan, menguras fisik Raka hingga batas maksimal selama lebih dari satu jam penuh.
Akhirnya, dengan teriakan penutup yang menggetarkan dinding rumah sakit, Raka berhasil menyedot seluruh sisa kabut hitam iblis itu ke dalam botol perunggu, menyegelnya rapat-rapat dengan kain mantra leluhur. Maya jatuh pingsan di atas lantai, terkulai lemas dengan napas yang kembali teratur.
Kirana segera berlari menghampiri sahabatnya, memeriksa denyut nadi Maya dengan rasa syukur yang luar biasa. "Maya selamat... kondisinya stabil..." lirih Kirana penuh kelegaan.
Namun, tugas Raka belum sepenuhnya selesai. Sisa-sisa kutukan dari makhluk tersebut tidak boleh dilepaskan di sekitar kota, karena akan mencari wadah baru dan mencelakai orang lain. Ia harus membawa botol segel itu kembali ke tempat asal pemanggilannya—sebuah gua keramat di kedalaman hutan purba Gunung Mandalagiri—untuk memusnahkannya secara permanen.
Raka memasukkan botol pusaka ke dalam tas khususnya, lalu menatap Nadia yang berdiri dengan mata berkaca-kaca menahan tangis.
"Nadia, aku harus pergi sekarang," kata Raka dengan suara rendah namun tegas. "Aku harus membawa makhluk ini ke tempat asalnya di Mandalagiri untuk memutus kutukannya secara tuntas.
Perjalanan ini... akan memakan waktu beberapa hari."
Nadia langsung menggeleng kuat-kuat, air matanya tumpah membasahi pipi. Ia mencengkeram lengan Raka. "Beberapa hari?! Raka, kau terluka! Kenapa harus kau sendiri yang membawanya pergi sejauh itu?!"
"Karena hanya ilmuku yang sanggup meredamnya, Nadia. Jaga dirimu baik-baik di Ciumbuleuit bersama pamanmu. Aku berjanji akan kembali secepatnya," ucap Raka lembut, menangkup pipi Nadia sesaat sebelum ia berbalik melangkah pergi melalui jendela rumah sakit.
Memulai petualangan panjang menembus hutan lebat dan malam-malam dingin pegunungan seorang diri, Raka membawa beban berat demi menyelamatkan kedamaian dunia, meninggalkan Nadia yang berdoa dengan hati remuk redam di pelukan Kirana.