Hidup Kayna memang sudah hancur, ayahnya sangat membencinya karna sudah membuat ibunya meninggal saat melahirkannya.
Oleh sebab itu, di usianya yang genap 20 tahun.. ia memutuskan mengakhiri hidupnya agar bisa merasakan reinkarnasi ke keluarga yang ia harapkan akan mencintainya, namun..
"Astaga.. kenapa aku harus menjadi tokoh antagonis yang akan mati di tangan tunanganku sendiri?"
Kayna yang kesal karna terlempar ke novel memutuskan untuk bunuh diri sebelum tunangannya yang membunuhnya.
Lalu, apakah rencananya akan berjalan mulus?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Proses pemindahan Kayna ke sayap timur berlangsung seperti pengawetan jenazah bangsawan.
Empat pelayan pria mengangkatnya di atas sebuah tandu.. Ya, tandu, karena Kayna menolak berjalan dengan kakinya sendiri setelah "insiden bantal". Ia berbaring dengan wajah datar, menatap langit-langit istana yang dihiasi lukisan dewa perang, sementara para pelayan berjalan dengan langkah hati-hati seolah mengangkut bom yang bisa meledak jika diguncang terlalu keras.
Di belakang tandu, Duke Adrian berjalan dengan langkah tegap, wajahnya kembali dingin dan tidak terbaca. Tapi Kayna memperhatikan bahwa tangan pria itu terus-menerus mengepal dan melepaskan, seolah ia sendiri tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan tangannya.
"Kau tidak perlu mengawalku seperti ini, Tuan Duke," ucap Kayna tanpa menoleh. "Aku tidak akan melompat dari tandu. Lagipula, tingginya hanya dua puluh senti. Paling-paling aku cuma keseleo."
"Diam," jawab Adrian singkat.
"Kau tahu, kalau kau benar-benar ingin aku mati, cara termudah adalah membiarkanku saja. Aku pasti sudah mati tiga kali hari ini kalau tidak ada kau dan Rosa."
Adrian berhenti berjalan sejenak, lalu menatap Kayna dengan tatapan yang sulit diartikan. "Kau menikmati ini, ya? Membuatku terlihat seperti orang gila yang mengurung tunangannya sendiri?"
Kayna akhirnya menoleh, mengerutkan kening. "Menikmati? Tuan Duke, aku hanya lelah. Dua puluh tahun di kehidupan pertamaku, dan sekarang aku harus berjuang hanya untuk bisa mati dengan tenang. Itu melelahkan."
Adrian tidak menjawab. Ia hanya melanjutkan berjalan, tapi langkahnya kini terasa sedikit lebih berat.
***
Kamar Duke Adrian di sayap timur ternyata persis seperti yang Kayna bayangkan: dingin, minimalis, dan sangat tidak ramah.
Dindingnya terbuat dari batu pualam putih yang dipoles hingga mengkilap, tanpa hiasan apapun kecuali sebuah pedang tua yang tergantung di atas perapian yang sudah tidak digunakan. Tidak ada lukisan, tidak ada permadani, tidak ada bunga. Bahkan tirai jendela pun terbuat dari kain tebal yang tidak bisa dibuka dari dalam.
Tempat tidurnya besar, tapi kasurnya keras—hanya dilapisi selapis tipis wol. Tidak ada bantal bulu angsa. Tidak ada bantal sama sekali, hanya sebuah gulungan kain kasar yang berfungsi sebagai alas kepala.
"Selamat datang di nerakaku," ucap Adrian datar, membuka pintu lebar-lebar. "Semua benda tajam sudah disita. Jendela dikunci dari luar. Tidak ada perabotan yang bisa kau pecahkan. Dan yang paling penting..."
Ia menunjuk ke sudut ruangan, di mana sebuah dipan kecil telah dipasang.
"...kau tidur di sana. Aku tidur di sini."
Kayna menatap dipan kecil itu, lalu menatap tempat tidur besar Adrian, lalu kembali ke dipan kecil. "Kau serius?"
"Ada masalah?"
"Tidak, hanya saja... aku pikir kau akan menaruhku di kandang anjing atau sesuatu yang lebih cocok."
Adrian mengabaikan sarkasme itu. Ia melangkah masuk ke kamar, lalu menoleh ke arah para pelayan yang masih menunggu di ambang pintu. "Letakkan tandu di sana. Dan kalian semua, keluar. Mulai detik ini, tidak ada yang boleh masuk ke kamar ini tanpa izin dariku. Termasuk Rosa."
"Tapi Tuan Duke.." protes salah satu pelayan.
"Keluar."
Pintu ditutup. Kunci diputar. Terdengar suara langkah kaki yang menjauh.
Kini mereka berdua sendirian di dalam kamar batu pualam itu.
Kayna bangkit dari tandu, lalu mulai berjalan mengelilingi ruangan dengan tatapan seorang arsitek yang sedang menilai sebuah bangunan. Ia mengetuk-ngetuk dinding, mencoba mencari celah. Ia memeriksa jendela, memastikan tidak ada yang bisa dibuka. Ia bahkan mencoba mengangkat tempat tidur, tapi terlalu berat.
Adrian duduk di tepi kasurnya, menatap Kayna dengan tatapan campuran antara frustrasi dan... rasa ingin tahu?
"Kau sedang mencari apa?" tanyanya akhirnya.
"Celah," jawab Kayna tanpa menoleh. "Setiap ruangan punya celah. Dinding yang rapuh, lantai yang longgar, sesuatu yang bisa kugunakan."
"Kamar ini tidak punya celah."
"Semua ruangan punya celah, Tuan Duke. Kau hanya belum menemukannya karena kau tidak cukup putus asa."
Adrian terdiam. Kata-kata itu terdengar seperti tamparan, meski diucapkan dengan nada datar.
Kayna berhenti di depan perapian, menatap pedang tua yang tergantung di atasnya. Pedang itu terlalu tinggi untuk dijangkau, dan sarungnya terkunci di dinding. Tapi setidaknya, itu adalah satu-satunya benda yang menyerupai senjata di ruangan ini.
"Pedang itu," tunjuk Kayna. "Boleh aku pinjam?"
"Tidak."
"Bahkan jika aku janji tidak akan menggunakannya?"
"Tidak."
"Bahkan jika aku janji akan memberimu ciuman?"
Adrian terkesiap, wajahnya memerah tipis sebelum kembali dingin. "Kau... kau benar-benar tidak punya malu, ya?"
Kayna tertawa kecil. Tawa yang tulus, bukan tawa sinis Kayla von Ardent yang biasa. "Aku hanya bercanda, Tuan Duke. Tapi kalau kau mau menciumku, aku tidak keberatan. Mungkin itu bisa mempercepat kematianku karena malu."
..gagal terus🤣