JUDUL: BERANDAL
GENRE: Romantis / Aksi / Posesif
TAG: #Badboy #GengMotor #Protective #DarkRomance #EksanPrasetya
***
"Kenapa kau menolongku? Kau tahu aku ini berandal jalanan, kan?"
"Nasya cuma tidak mau melihatmu mati di depan rumah..."
"Kau sudah menyelamatkan nyawaku, Nasya. Di duniaku, sekali kau terlibat dengan seorang berandal, kau tidak akan pernah bisa keluar lagi. Mulai hari ini, kau adalah milikku."
***
Eksan tidak pernah memilih untuk menjadi berandal. Namun, kerasnya kehidupan jalanan menempanya menjadi pemimpin faksi pemuda yang paling ditakuti di dalam gang kota. Di balik seragam sekolahnya yang koyak dan jaket hitam berlambang mawar berdarah di lengannya, Eksan adalah definisi nyata dari kata berandal—dingin, ugal-ugalan, dan tak tersentuh hukum. Bagi Eksan, hidup di jalanan hanya tentang satu prinsip: "Dalam gang, hidup berani, mati berarti."
Hingga suatu malam, setelah pertempuran berdarah yang nyaris merenggut nyawanya, Eksan yang terluka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Denis Suhendar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29: AMUKAN SERIGALA HITAM
mesin motor sport berkapasitas besar bergaung memekakkan telinga ,Rangga dan Bara melompat turun dari kendaraan mereka bahkan sebelum roda motor berhenti berputar sempurna. Dengan napas yang memburu cepat dan kepanikan yang sudah berada di ubun-ubun, kedua tangan kanan faksi Black Cobra itu berlari kencang menerobos pintu akses lift barang belakang yang kondisinya sudah terbuka paksa dengan sistem sensor yang mati total.
"Sialan! Kita terlambat, Rangga!" teriak Bara dengan urat-urat leher yang menegang keras saat melihat sebuah mobil minibus putih melesat pergi meninggalkan area basement dengan kecepatan tinggi menembus kegelapan malam.
Mereka berdua langsung memasuki lift khusus dan menekan tombol lantai tiga puluh dengan jari yang gemetar. Setiap detik yang berjalan di dalam lift berkecepatan tinggi itu terasa bagaikan siksaan neraka bagi mereka. Begitu pintu lift berdenting halus dan terbuka di lantai teratas, pemandangan yang menyambut mereka seketika membuat darah di dalam tubuh kedua berandal senior itu terasa membeku.
Ruang tengah penthouse yang semula mewah dan rapi kini telah berubah menjadi arena kehancuran yang mengerikan. Pecahan gelas dan barang pajangan berhamburan di atas lantai marmer yang kini telah bersimbah genangan darah segar yang pekat. Di tengah ruangan, sosok tegap Eksan Prasetya tampak terkapar bersandar pada kaki meja kaca yang retak. Kemeja hitamnya basah kuyup oleh darah yang terus mengalir deras dari perut kirinya yang robek kembali total.
"Bos! Eksan!" saut Rangga seketika saat ia berlari dan berlutut di samping tubuh pemimpinnya yang sudah pucat tanpa warna. Tangan Rangga dengan cepat menekan luka robek di perut Eksan, berusaha menahan aliran darah yang keluar seolah tanpa henti.
Eksan merasakan kesakitan,dan mengeluarkan cairan merah pekat dari sela bibirnya yang terluka. Namun, di balik kondisi fisiknya yang sudah hancur lebur dan berada di ambang batas kesadaran, pandangan yang pekat mendadak terbuka lebar. Pndangan amarah, menekan seluruh suasana di dalam ruangan hingga Bara dan Rangga refleks menahan napas mereka karena ketakutan.
"Rian... si Belut kurang ajar itu... membawa Nasya pergi," suara Eksan terdengar sangat rendah, dan bergetar hebat menahan gelombang kemarahan yang meluap-luap di dalam dadanya. Tangan kanannya yang kasar dan penuh lumuran darah tiba-tiba bergerak naik, memegang erat kerah jaket kulit milik Rangga dengan tenaga yang tersisa. "Cari tahu... di mana bajingan itu menyembunyikan gadis milikku sekarang juga, Rangga! Jika sampai ada seujung rambut dari tubuh Nasya yang lecet... aku bersumpah demi nama Black Cobra akan meratakan seluruh wilayah utara menjadi tanah kuburan mereka!"
Bara yang berdiri di belakang Rangga segera memeriksa perangkat tablet pelacak cadangan miliknya dengan tangan yang gemetar hebat. "Bos, tim kita berhasil menangkap sisa sinyal radio frekuensi pendek dari minibus putih yang membawa Nasya beberapa menit yang lalu. Mereka bergerak lurus menuju kawasan industri lama di ujung dermaga utara. Tempat itu adalah bekas pabrik pengalengan ikan yang menjadi markas tersembunyi milik kelompok Rian!"
Mendengar nama dermaga utara, Eksan memaksakan tubuh kekarnya untuk kembali bangkit berdiri dan berdiri tegak. Otot-otot di rahangnya menegang keras hingga urat jalurnya terlihat jelas di pelipis wajahnya tidak bisa menahan amarah.
"Bos, jangan gila! Lukamu hancur total, kau bisa mati kehabisan darah di tengah jalan sebelum sampai ke sana!" seru Rangga panik, mencoba menahan pundak kekar Eksan agar tidak memaksakan diri bergerak ekstrem.
"tidak peduli dengan nyawaku, Rangga! Gadis di atas aspal kota itu adalah harga diriku yang paling ku jaga! Siapa pun orang jalanan yang berani mengusik ketenangan milik seorang Eksan Prasetya... mereka semua malam ini hanya memiliki satu jalur tunggal untuk pulang, yaitu di dalam keranda mayat!" balas Eksan dengan suara bariton yang berat namun menggelegar penuh dengan getaran intimidasi yang membuat seluruh ruangan bergetar.
Eksan meraih sebilah pipa besi tebal berkilau yang tergeletak di sudut meja, lalu menggunakannya sebagai tumpuan kaki untuk berjalan terhuyung-huyung melangkah memasuki lift pribadi, mengabaikan seluruh rasa sakit yang membakar habis dinding perut kirinya. Amukan dari seekor serigala hitam yang kehilangan jangkar jiwanya kini telah resmi bangkit seutuhnya.
"Bara! Hubungi seluruh anggota faksi Black Cobra di sektor barat dan selatan! untuk bergerak semua pasukan kita dalam waktu tiga puluh menit!" perintah Rangga dengan urat leher yang menegang tegang saat ia ikut melompat masuk ke dalam lift bersama Eksan. "Malam ini... kita akan melakukan pembantaian massal dan membersihkan seluruh sisa kotoran faksi utara dari jalanan kota ini tanpa sisa!"
"Siap, Rangga! Malam ini, seluruh aspal kota utara akan berubah warna menjadi merah!" balas Bara dengan seulas senyuman beringas, langsung menyalakan radio panggilnya untuk mengumpulkan ratusan motor dari faksi Black Cobra agar bergerak mengepung kawasan dermaga utara.
Sementara itu, di dalam sebuah ruangan di bekas pabrik pengalengan ikan dermaga utara, Nasya duduk terikat kuat di atas sebuah kursi kayu tua. Kedua pergelangan tangannya diikat erat menggunakan tali tambang kasar hingga menyisakan bekas kemerahan di kulitnya yang bersih. Rambut panjangnya berantakan dan air mata terus mengalir deras membasahi pipinya dengan muka pucat karena ketakutan yang teramat sangat.
Di hadapannya, Rian si Belut Jalanan berdiri sembari memegang sebilah pisau kecil yang berkilau tajam di bawah siraman lampu neon remang-remang gudang. Beberapa anak buah faksi utara berdiri siaga di sekeliling area ruangan dengan senjata tajam yang sudah terhunus tegak di tangan masing-masing.
"Jangan menangis, Gadis Manis. Kau harus bangga karena tubuh ini bernilai jauh lebih mahal daripada seluruh jalur distribusi logistik di pelabuhan bawah," kata Rian dengan senyuman kelicikan yang penuh dengan nada ejekan, mendekatkan mata pisau tajamnya ke arah pipi mulus Nasya. "Begitu si berandal Eksan itu datang merangkak ke tempat ini untuk menjemputmu, aku sendiri yang akan memastikan kepalanya terpisah dari tubuhnya tepat di depan matamu."
"Eksan pasti akan membunuhmu, Bajingan kotor!" teriak Nasya dengan sisa keberaniannya yang pecah oleh tangis histeris. Meskipun ia membenci cara kekerasan Eksan, jauh di dalam hatinya, ia tahu bahwa pemuda posesif itu tidak akan pernah membiarkannya membusuk di tempat kotor seperti ini.
Rian tertawa keras, sebuah tawa mengerikan yang menggema di dalam gudang kosong. "Membunuhku? Dengan kondisi perutnya yang sudah ku lukai di penthouse tadi? Dia bahkan mungkin sudah mati kehabisan darah di atas lantai marmer mewahnya sebelum sempat menaiki motornya, Nasya!"
Namun, tepat setelah kalimat kesombongan Rian itu selesai terucap, sebuah dentuman keras yang luar biasa dahsyat mendadak bergemuruh dari arah pintu gerbang besi depan pabrik pengalengan ikan tersebut.
*BRUUAAKKKKK!*
Pintu gerbang besi tebal itu hancur lebur, jebol diterjang paksa oleh sebuah mobil van hitam milik Black Cobra yang melesat tanpa rem. Bersamaan dengan hancurnya gerbang, raungan suara dari ratusan sepeda motor sport hitam mendadak memotong keheningan malam di dermaga utara, mengepung seluruh area pabrik bagaikan gelombang badai hitam yang kelaparan. Ratusan anak buah Eksan merangsek masuk dengan sorot mata beringas, langsung membabat habis setiap anggota White Tiger yang mencoba menghalangi jalur utama.
Dan di barisan paling depan pasukan badai tersebut, berdiri sesosok monster jalanan dengan kemeja hitam yang sudah robek total dan berselimutkan genangan darahnya sendiri dari atas hingga bawah. Eksan Prasetya melangkah masuk ke dalam gudang dengan mata elang pekat yang memancarkan aura haus darah murni yang luar biasa mengerikan, mencengkeram erat pipa besi tebal di tangan kanannya yang bergetar penuh amarah mutlak.
"Rian si Belut yang tak tau diri..." suara Eksan terdengar sangat rendah, berat, namun menggelegar mematikan ke setiap sudut malam yang dingin. "Malam ini, nyawamu... resmi menjadi milikku."