Hendry Pratama, menantu keluarga Mahendra di Kota Biru, sudah tiga tahun menjadi bahan hinaan.
Mertua perempuannya, Mama Ayu, setiap hari memaki dan menuntut perceraian. Istrinya, Jessica, bersikap dingin. Satu-satunya yang menyayanginya hanyalah putri kecilnya, Daun.
Sampai suatu hari, telepon misterius mengubah segalanya.
"Pak Hendry, semua aset atas nama Anda sudah siap. Total: 576 miliar Rupiah."
Ternyata, Hendry adalah putra tunggal Hartanto Pratama — konglomerat terbesar yang pernah menguasai seluruh Asia Tenggara. Dia bukan menantu miskin. Dia adalah pewaris kerajaan bisnis triliunan.
Sekarang, semua orang yang pernah meremehkannya... akan berlutut.
"Kau pikir aku cuma sopir? Lihat baik-baik siapa yang sebenarnya menguasai kota ini."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardana Bayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30
Bab 30: Tetangga Baru
Pagi pertama di rumah lama itu terasa seperti hadiah yang belum selesai dibuka.
Daun berlari dari ruang tamu ke taman, lalu dari taman kembali ke dapur.
Setiap sudut rumah seperti benda baru baginya.
"Mama, di sini ada jendela besar!"
"Mama, tangganya bunyi!"
"Papa, pohon mangga ini punya kita?"
Jessica berdiri di tengah ruang tamu sambil memegang cangkir teh.
Ia masih sulit percaya.
Rumah yang dulu hanya muncul dalam ingatan masa kecil kini kembali memiliki suara.
Suara langkah Daun.
Suara Hendry membuka jendela.
Suara dirinya sendiri yang tidak lagi menahan napas setiap kali memikirkan masa lalu.
Hendry memeriksa kunci pintu samping.
Bagus berdiri di halaman depan, matanya bergerak pelan ke rumah-rumah sekitar.
Sejak pindah, Hendry memang meminta Bagus tinggal di unit kecil dekat gerbang cluster lama. Alasannya sederhana: Daun masih sering terbangun malam setelah penculikan, dan rumah baru perlu masa adaptasi.
Alasan sebenarnya lebih panjang.
Hendry tidak suka terlalu banyak kebetulan.
Termasuk tetangga baru yang datang sehari setelah mereka pindah.
Bel rumah berbunyi.
Daun langsung berlari.
"Aku buka!"
"Pelan," kata Jessica.
Hendry lebih dulu mencapai pintu.
Di luar, Maya Devi berdiri membawa kotak kue.
Hari ini ia mengenakan blus putih dan celana kain krem. Rambutnya diikat rendah. Senyumnya lembut, tidak terlalu manis, tidak terlalu dingin.
Pas.
"Maaf mengganggu," kata Maya. "Kemarin saya baru pindah, belum sempat menyapa dengan benar. Saya buat bolu pandan. Semoga cocok."
Daun langsung mengintip kotak itu.
"Ada kue?"
Maya menunduk sedikit.
"Ada. Tapi harus izin Mama dulu."
Jessica tertawa kecil.
Satu kalimat itu langsung membuatnya lebih nyaman.
"Masuk dulu, Bu Maya."
"Panggil Maya saja. Saya belum setua itu."
Daun memegang tangan Jessica.
"Mama, Tante Maya lucu."
Maya tersenyum.
Hendry membuka pintu lebih lebar.
"Silakan."
Mata Maya masuk ke rumah sebelum tubuhnya.
Ia melihat ruang tamu yang baru setengah tertata.
Kotak pindahan di sudut.
Vas bunga di meja tengah.
Telepon rumah lama di rak kecil dekat dinding.
Lampu gantung yang belum sepenuhnya dibersihkan.
Semua tercatat dalam kepalanya.
Namun di wajahnya hanya ada kekaguman ringan.
"Rumahnya indah. Gaya lama, tapi punya karakter."
Jessica mengangguk.
"Ini rumah lama keluargaku. Baru kembali."
"Pantas terasa punya cerita."
Maya meletakkan kotak kue di meja.
"Saya kebetulan desainer interior. Kalau butuh ide menata ulang tanpa menghilangkan memori lama, saya senang membantu."
Jessica menatapnya dengan minat yang tidak disembunyikan.
"Serius? Aku justru bingung. Aku tidak mau rumah ini terlihat seperti showroom baru."
"Jangan dibuat terlalu baru," kata Maya cepat. "Rumah yang punya luka lama lebih bagus disembuhkan, bukan diganti wajahnya."
Jessica terdiam.
Kalimat itu terlalu tepat.
Hendry memperhatikan Maya.
Bagus yang berdiri di luar jendela juga memperhatikan Maya.
Daun sudah duduk di sofa, menunggu kue dipotong.
Beberapa menit kemudian, suasana mencair.
Maya tidak banyak bertanya tentang Hendry.
Ia lebih banyak berbicara dengan Jessica tentang warna dinding, pencahayaan, posisi meja kerja, dan cara membuat ruang keluarga terasa hangat.
Itu membuat Jessica makin nyaman.
Setelah beberapa bulan hanya bertemu tekanan keluarga, kontrak, rumah sakit, dan ancaman, percakapan biasa dengan perempuan sebaya terasa seperti napas segar.
"Kalau vas ini dipindah sedikit ke dekat jendela, ruangnya lebih hidup," kata Maya.
Ia mengangkat vas bunga di meja tengah.
Gerakannya halus.
Terlalu halus untuk meninggalkan suara apa pun.
Di bawah alas vas, sebuah benda kecil menempel.
Tipis.
Hitam.
Tak terlihat dari samping.
Maya meletakkan vas di dekat jendela.
"Begini lebih baik."
Jessica tersenyum.
"Iya. Lebih terang."
Maya lalu menunjuk rak kecil.
"Telepon rumah itu masih dipakai?"
"Jarang. Tapi Papa dulu suka model itu, jadi aku simpan."
"Cantik. Kalau boleh, geser sedikit supaya kabelnya tidak terlihat."
Jessica mengangguk.
Maya bergerak lagi.
Satu sentuhan.
Satu detik.
Benda kedua menempel di sisi bawah rak, dekat bayangan telepon.
Daun memegang potongan kue.
"Tante Maya, rumah Tante ada boneka?"
Maya tertawa.
"Tidak ada. Tapi kalau Daun main ke rumah Tante nanti, Tante carikan."
"Boleh, Mama?"
Jessica tersenyum.
"Nanti lihat dulu."
Maya mengangkat kepala ke lampu gantung.
"Lampu ini bagus sekali, tapi debunya banyak. Kalau nanti tukang datang, minta bersihkan bagian dalam. Cahaya bisa jauh lebih lembut."
Ia berdiri di bawah lampu itu, seolah hanya mengukur tinggi ruangan.
Tangannya tidak menyentuh lampu.
Namun saat ia mengambil ponsel untuk memotret sudut ruang, satu benda kecil sudah berpindah dari telapak ke bagian atas kap lampu lewat gerakan yang tertutup tubuhnya.
Tiga titik.
Vas.
Telepon.
Lampu.
Maya kembali duduk.
Tidak ada yang berubah di wajahnya.
Di halaman, Bagus mengerutkan dahi.
Ia tidak melihat benda itu.
Tapi ada sesuatu pada cara Maya bergerak yang membuat bahunya terasa tidak nyaman.
Terlalu tenang.
Orang biasa saat bertamu ke rumah baru biasanya banyak melihat dengan rasa ingin tahu.
Maya melihat seperti orang menghitung jalan keluar.
Saat Maya pamit, Jessica mengantarnya sampai pintu.
"Terima kasih kuenya. Enak sekali."
"Senang kalau cocok. Kalau Bu Jessica butuh bantuan desain, panggil saja. Rumah seperti ini sayang kalau salah ditata."
"Aku panggil Jessica saja."
Maya tersenyum lebih hangat.
"Baik, Jessica."
Daun melambai dari sofa.
"Dadah, Tante Maya!"
"Dadah, Daun."
Maya berjalan kembali ke rumah seberang.
Langkahnya santai.
Hendry menutup pintu.
Bagus mendekat dari halaman.
"Pak."
Hendry menoleh.
"Ada apa?"
Bagus melihat rumah seberang.
"Tetangga baru itu... saya kurang nyaman."
Jessica yang masih di dekat pintu mendengar.
"Kenapa? Dia baik."
Bagus menggaruk kepala.
"Saya tidak tahu. Dia seperti... terlalu pas."
Jessica tersenyum lelah.
"Bagus, tidak semua orang baik itu mencurigakan."
Bagus menunduk.
"Iya, Bu."
Hendry tidak langsung menertawakan peringatan itu.
"Tetap awasi lingkungan. Tapi jangan menakuti Jessica dan Daun."
"Siap, Pak."
Hendry menatap rumah seberang sejenak.
Tirai lantai dua bergerak sedikit.
Mungkin angin.
Mungkin bukan.
Malam turun.
Di rumah Hendry, Jessica duduk di ruang keluarga sambil membuka beberapa contoh warna cat yang dikirim Maya.
Daun tertidur di sofa dengan boneka di pelukan.
Hendry membaca laporan dari Adrian tentang restrukturisasi PT Megah Sentosa.
Tidak ada yang tahu, tiga titik kecil di ruangan itu mulai hidup.
Di rumah seberang, Maya duduk di meja kerja.
Laptop tipis terbuka.
Tiga indikator menyala hijau.
Suara ruang keluarga Hendry terdengar rendah dari speaker kecil.
Tidak jelas setiap kata.
Tapi cukup.
Maya memasang earphone.
Ia menulis laporan singkat:
`Titik satu aktif. Titik dua aktif. Titik tiga aktif. Target keluarga stabil. Pengawal mencurigai, belum punya bukti.`
Lalu ia membuka ponsel terenkripsi.
Panggilan video tersambung.
Layar tetap gelap.
Hanya suara pria tua terdengar.
"Laporan."
Maya duduk lebih tegak.
"Saya sudah masuk lingkar rumah. Jessica Mahendra percaya. Anak mereka menyukai saya. Hendry Pratama belum menunjukkan identitas asli, tapi reaksinya lebih tenang daripada orang biasa."
"Pengawal?"
"Peka. Tapi tidak cukup pintar untuk menemukan alat."
Suara di seberang tertawa pelan.
Tawa itu berat.
Serak.
Seperti batu digeser di lantai.
"Jangan remehkan orang di sekitar Hendry."
Maya menunduk.
"Baik, Pak Rochmat."
Nama itu jatuh di ruangan seperti pisau.
Rochmat Santoso.
Nama yang seharusnya sudah mati.
Di ujung panggilan, pria itu berkata pelan, "Target locked. Satu bulan, cukup."
Maya menahan napas.
"Perintah akhir?"
Suara Rochmat menjadi lebih dingin.
"Dalam satu bulan, Hendry Pratama harus mati."