Dua tahun lalu, Tsania memilih mengakhiri hubungannya dengan Arsen, pria yang sangat ia cintai. Bukan karena cinta itu hilang, melainkan karena sebuah rahasia pahit yang memaksanya pergi tanpa penjelasan. Sejak saat itu, mereka menjalani hidup masing-masing, menyimpan luka yang tak pernah benar-benar sembuh.
Takdir mempertemukan mereka kembali dengan cara yang paling menyiksa.
Hari pertama bekerja di perusahaan impiannya berubah menjadi mimpi buruk ketika Tsania mengetahui bahwa CEO muda yang dingin, arogan, dan disegani semua orang adalah Arsen, mantan kekasih yang pernah ia tinggalkan. Kini, Arsen adalah bosnya.
Bagi Arsen, pertemuan itu bukan kebetulan, melainkan kesempatan untuk membalas rasa sakit yang selama ini ia pendam. Ia bersikap dingin, memberi tugas-tugas sulit, dan terus menguji kesabaran Tsania. Namun, di balik tatapan tajam dan sikap tak berperasaannya, masih tersimpan cinta yang tak pernah benar-benar padam.
apakah yang akan terjadi kepada mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tsania 14
Pukul sembilan pagi, lantai tertinggi Gedung Pratama Group yang biasanya hening oleh wibawa kepemimpinan Arsen mendadak diselimuti ketegangan pekat. Langkah kaki berirama berat dan bertenaga mengema di sepanjang koridor marmer hitam. Pak Bisma datang ke ruangan kerja Arsen tanpa mengetuk pintu, namun dari sorot wajahnya terlihat sekali kalau dia sedang menahan amarah. Di sebelahnya ada Aurelia yang juga ikut dengannya.
Pintu ganda ruang kerja ruangan Arsen di buka oleh asistennya.
Arsen, yang duduk di balik meja kerjanya dengan kemeja hitam yang sedikit kusut dan wajah pucat berteman lingkaran hitam tebal di matanya, bahkan tidak mengangkat kepala dengan terkejut. Pria itu baru saja tiba dari parkiran rumah sakit satu jam lalu, tanpa tidur sedikit pun sepanjang malam.
"Apa yang sudah kamu lakukan, Arsen?!" suara berat Pak Bisma menggelegar, memecah kesunyian ruangan.
Danu, yang berdiri di sudut ruangan membawa berkas laporan harian, langsung memosisikan diri dengan siaga namun tetap membungkuk hormat.
"Selamat pagi, Pak Bisma..."
"Kamu diam, Danu! Jangan membela dia!" bentak Pak Bisma seraya mengacungkan tongkatnya ke arah Danu, lalu beralih menatap putra tunggalnya.
"Arsen! Aurelia datang ke rumah Papa semalam sambil menangis! Dia bilang kamu mempermalukannya di depan karyawan! Kamu membentaknya hanya demi membela seorang staf biasa yang sengaja berakting sakit di ruanganmu?!"
Aurelia melangkah maju satu tapak, menyilangkan tangan di dada dengan raut wajah yang dibuat seiba mungkin.
"Om Bisma, aku cuma mau meluruskan hierarki di kantor ini. Tapi Arsen malah mengusirku dan lebih memilih mengurus wanita murahan yang jelas-jelas sengaja mencari perhatian itu!"
Arsen perlahan mengalihkan pandangannya dari layar monitor. Matanya yang merah menatap Aurelia dingin, sebuah tatapan yang begitu tajam hingga membuat Aurelia refleks mundur setengah langkah.
"Wanita murahan?" desis Arsen, suaranya rendah namun dipenuhi aura intimidasi yang pekat.
"Jaga mulutmu, Aurelia."
"Arsen!" potong Pak Bisma keras, menepuk meja kerja Arsen dengan telapak tangannya.
"Jaga sikapmu pada calon istrimu! Kamu sadar tidak, jika kamu bekerja pada keluarga Aurelia! Siapa wanita yang sudah membuat kamu sampai berani membentak dan juga mempermalukan Aurelia?"
Atmosfer mencekam di ruang kerja seluas dua ratus meter persegi itu mendadak mengunci pergerakan udara. Bentakan Pak Bisma dan jeritan histeris Aurelia masih bergema di sudut-sudut plafon yang tinggi.
Arsen berdiri membatu. Tangannya yang mengepal di atas meja kerja perlahan bergetar hebat. Di kepala dan dadanya, dua kecamuk gila saling bertabrakan dengan sangat dahsyat.
'Jika aku lepas jabatan ini sekarang... jika aku melangkah keluar tanpa kekuasaan... apa yang bisa aku lakukan untuk melindungi Tsania?'
Bayangan tentang ayahnya yang mampu memblokir akses medis Tsania di seluruh rumah sakit, serta ancaman jaringan bisnis keluarga Aurelia yang bisa dengan mudah menghancurkan hidup Tsania yang sudah amat sangat rapuh, mendadak menghantam kesadaran Arsen bagai guyuran air es. Melawan dengan kemarahan buta hanya akan menjadikan Tsania korban untuk kedua kalinya. Jika ia menjadi pria tanpa kekuasaan detik ini, ia tidak akan punya tameng apa pun untuk membentengi wanita itu dari kekejaman Pak Bisma dan Aurelia.
Ia harus menelan racun ini. Ia harus menekan egonya dalam-dalam, sedalam jurang penyesalan yang kini mengerogoti jiwanya.
Arsen memejamkan mata rapat-rapat. Helaan napasnya terdengar sangat berat, bergetar, dan patah-patah. Jemarinya yang tadi mengepal keras perlahan-lahan mengendur, terkulai lemas di sisi tubuhnya. Ketika Arsen kembali membuka mata, kilat amarah yang berapi-api di manik matanya telah meredup, berganti dengan tatapan redup, dingin, dan patuh yang sangat asing.
Ia melangkah mundur satu tapak, menundukkan kepalanya di hadapan sang ayah dan Aurelia.
"Maafkan aku, Pa..." bisik Arsen, suaranya terdengar amat parau, rendah, dan penuh kepasrahan yang dipaksakan.
"Maafkan aku..."
Pak Bisma yang tadinya sudah bersiap menghentakkan tongkatnya kembali, mendadak tertegun. Alis tebalnya berkerut heran menatap perubahan sikap putranya yang secara tiba-tiba merendah.
Aurelia pun menghentikan nafasnya yang memburu, menatap Arsen dengan raut wajah setengah tak percaya.
"Arsen...? Kamu... kamu minta maaf?"
Arsen mengangguk pelan, tetap menundukkan pandangannya ke arah lantai marmer, menyembunyikan kilat rasa sakit dan kepahitan yang luar biasa di matanya.
"Aku minta maaf, Pa. Aku... aku semalam sangat emosional karena kurang tidur dan tekanan pekerjaan yang menumpuk," tutur Arsen, merangkai setiap kata dengan sangat hati-hati, menekan seluruh kebanggaan dan harga dirinya hingga tak tersisa.
"Aku tidak bermaksud meragukan niat baik Papa, dan aku tidak bermaksud merendahkan keluarga Aurelia."
Pak Bisma merapikan kemeja batiknya, menyandarkan tubuhnya pada tongkat perak dengan dada membusung, menikmati momen kemenangan atas dominasi putranya.
"Bagus kalau kamu akhirnya sadar, Arsen," sahut Pak Bisma dingin, suaranya kembali dipenuhi keangkuhan.
"Papa melakukan semua ini demi masa depanmu dan kebesaran Pratama Group. Jangan pernah biarkan emosi murahan dan masa lalu yang tidak berguna merusak apa yang sudah kita bangun."
Arsen perlahan mengalihkan pandangannya pada Aurelia. Pria itu memaksa dadanya yang sesak untuk melontarkan kata-kata yang paling membakar harga dirinya.
"Aurelia... aku minta maaf atas sikapku yang kasar kemarin di depan karyawan," kata Arsen datar, tanpa ekspresi, namun cukup untuk memuaskan ego wanita di hadapannya.
"Aku tidak seharusnya mengusirmu atau membentakmu seperti itu."
Raut wajah Aurelia yang tadinya tegang dan panik perlahan luntur, berganti dengan senyum kemenangan yang mengembang di bibirnya. Ia melangkah mendekati Arsen, menyentuh lengan kemeja hitam pria itu dengan gestur posesif.
"Aku memaafkanmu, Arsen," ujar Aurelia dengan nada manja yang dibuat-buat.
"Aku tahu kamu cuma stres karena pekerjaan. Tapi kamu harus janji sama aku dan Om Bisma... perempuan itu harus segera diselesaikan secara profesional. Dia tidak boleh ada di lingkungan kantor ini lagi. Dan jangan sampai ada di ruangan kamu...!"
Arsen menegang merasakan sentuhan Aurelia, namun ia memaksakan tubuhnya untuk tidak menepis tangan itu. Di dalam hatinya, Arsen menjerit, menahan gejolak jijik dan rasa bersalah yang amat mendalam pada Tsania.
"Urusan staf itu akan saya selesaikan hari ini juga, Pah... Aurelia," jawab Arsen pelan, suaranya terdengar bagai bisikan dari jiwa yang telah mati.
"Dia tidak akan pernah mengganggu lingkungan kantor atau hubungan kita lagi."
"Itu baru putra Papa," puji Pak Bisma dengan nada puas, menepuk bahu Arsen dua kali dengan cukup keras.
"Ingat posisi dan tanggung jawabmu, Arsen. Minggu depan, kita akan adakan makan malam resmi keluarga untuk membahas tanggal pertunanganmu dengan Aurelia. Jangan kecewakan Papa lagi."
"Baik, Pa," sahut Arsen singkat.
Pak Bisma berbalik, melangkah menuju pintu keluar dengan wibawanya yang telah pulih. Aurelia mengusap lengan Arsen sekali lagi, memberikan tatapan penuh rasa kepemilikan sebelum akhirnya mengekor di belakang Pak Bisma dengan langkah berirama anggun.
Pintu ganda ruang kerja itu kembali tertutup rapat.
Keheningan yang mencekam mendadak melingkupi ruangan luas itu. Danu, yang sejak tadi berdiri mematung di sudut ruangan, menarik napas panjang yang sangat berat. Ia melangkah mendekati sahabatnya yang masih berdiri mematung menatap lantai.
"Arsen..." panggil Danu pelan, suaranya sarat akan rasa iba yang mendalam.