NovelToon NovelToon
Jalan Pedang Tanpa Bakat

Jalan Pedang Tanpa Bakat

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Mengubah Takdir / Action
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Di Benua Awan Merah, bakat surgawi, garis keturunan, dan dukungan klan besar adalah segalanya. Awan tidak memiliki satupun dari hal itu. Lahir dengan meridian sempit sebagai anak seorang pandai besi miskin, dunia telah menakdirkannya untuk hidup dan mati sebagai manusia fana.
​Namun, Awan menolak bertekuk lutut pada takdir. Tanpa bantuan artefak dewa purba, tanpa roh guru sakti, dan tanpa pil mujarab, ia menempuh jalan kultivasi melalui siksaan fisik yang ekstrem. Saat para jenius menyerap energi alam dengan mudah sambil duduk bermeditasi, Awan mengayunkan pedang besinya puluhan ribu kali di bawah terik matahari dan badai hujan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Denyut Jantung Bumi dan Penjaga yang Tertidur

​Mulut gua Tambang Besi Hitam menganga lebar layaknya rahang monster raksasa yang siap menelan apa saja. Udara dingin dan lembap berhembus keluar dari kegelapan abadi di dalamnya, membawa aroma karat yang sangat pekat.

​Awan melangkah masuk tanpa membawa obor. Bagi manusia biasa, kegelapan tambang ini akan membutakan mata, namun bagi Awan, panca inderanya telah diasah melampaui batas. Pupil matanya membesar, menangkap sekecil apa pun sisa cahaya yang memantul dari dinding batuan. Telinganya mampu mendengar tetesan air dari jarak ratusan meter.

​Ia berjalan menyusuri lorong utama yang terus menurun. Semakin dalam ia melangkah, sisa-sisa jejak para kultivator iblis semakin terlihat. Dinding tambang dipenuhi oleh formasi darah yang berantakan dan beberapa tulang belulang manusia yang sudah menghitam.

​Mereka menggunakan darah penduduk desa untuk menggerogoti segel kuno yang mengunci kedalaman tambang ini.

​DHUM...

​Langkah Awan terhenti. Sebuah getaran pelan menjalar melalui telapak kakinya. Getaran itu sangat berirama, berat, dan dalam.

​DHUM...

​"Ini bukan gempa bumi," gumam Awan, menyentuh dinding tambang. "Ini seperti... detak jantung."

​Esensi Darah Fana Purba di dalam nadinya mendadak berdesir liar. Darahnya seolah merespons panggilan dari resonansi tersebut. Ada rasa lapar dan kehausan yang mendalam dari setiap sel ototnya untuk menyerap sumber getaran itu.

​Awan mempercepat langkahnya. Langkah Besi Jatuh yang ia gunakan kali ini sangat senyap, ia meluncur menuruni lorong tambang layaknya bayangan yang menyatu dengan kegelapan.

​Setelah menuruni perut bumi selama hampir setengah jam, lorong sempit itu mendadak terbuka lebar.

​Awan melangkah memasuki sebuah kubah bawah tanah raksasa yang luasnya seukuran alun-alun sekte. Langit-langitnya dipenuhi stalaktit hitam yang tajam, sementara di bawahnya terdapat sebuah danau bawah tanah yang airnya berwarna hitam pekat. Udara di tempat ini luar biasa berat. Gravitasi terasa dua kali lipat lebih kuat akibat energi Yin bumi yang sangat kental.

​Namun, perhatian Awan langsung tertuju pada sebuah pulau kecil di tengah danau hitam tersebut.

​Di sana, di atas sebuah altar batu alam yang menyerupai bunga teratai, melayang sebongkah batu seukuran kepalan tangan orang dewasa. Batu itu berwarna cokelat keemasan, permukaannya kasar layaknya karang, namun ia terus-menerus berdenyut memancarkan cahaya redup.

​Setiap kali batu itu berdenyut, udara di dalam kubah itu menjadi semakin berat.

​"Batu Jantung Naga Tanah," mata Awan memancarkan ketertarikan mutlak.

​Jika ia bisa menghancurkan batu itu dan menyerap esensinya ke dalam sumsum tulang serta organ dalamnya, kepadatan ototnya akan menembus batas yang tidak bisa dipahami oleh logika manusia. Batu itu adalah kunci untuk menghadapi para ahli langit di sekte.

​Awan tidak langsung melompat ke pulau kecil tersebut. Ia menatap sekeliling danau hitam yang tenang.

​Insting fana-nya, yang sangat peka terhadap niat membunuh, tidak merasakan ancaman sihir atau aura spiritual apa pun. Tapi justru keheningan mutlak inilah yang membuat bulu kuduknya berdiri. Sesuatu yang menjaga batu itu bukanlah makhluk spiritual.

​Itu adalah murni makhluk fisik.

​Awan menarik pedang Bumi Pijar dari punggungnya. Ia merendahkan tubuhnya, dan dengan satu hentakan ringan dari betisnya, ia melompat melintasi jarak tiga puluh meter di atas danau hitam, langsung mendarat di pulau kecil itu.

​Begitu kaki Awan menyentuh pulau batu tersebut, keheningan pecah.

​BLUURRGG!

​Permukaan danau hitam di belakangnya meledak. Air berhamburan layaknya tsunami kecil. Dari dalam kegelapan air bawah tanah itu, sesosok raksasa bangkit menjulang menutupi langit-langit gua.

​Awan memutar tubuhnya dengan cepat. Matanya menyipit melihat monster yang kini menjulang dua puluh meter di udara.

​Makhluk itu berbentuk seperti ular raksasa atau cacing tanah purba, namun tubuhnya dilapisi oleh sisik-sisik tebal berwarna abu-abu gelap yang terlihat persis seperti pelat baja. Ia tidak memiliki mata. Kepalanya hanya berupa rahang melingkar yang dipenuhi ribuan gigi setajam gergaji yang berputar liar.

​Ini bukan ilusi. Ini adalah siluman fisik murni, seekor Wyrm Besi Penelan Bumi. Siluman buas tingkat tinggi yang tidak menyerap Qi, melainkan memakan bijih besi dan batu keras untuk memperkuat cangkangnya.

​Batu Jantung Naga Tanah itu adalah umpan evolusinya, dan Awan baru saja mencoba merebut makanannya.

​GROAAAAAR!

​Auman tanpa pita suara itu dihasilkan dari gesekan ribuan giginya, menciptakan gelombang sonik yang membuat dinding kubah bawah tanah bergetar hebat. Ratusan stalaktit berjatuhan dari langit-langit bak hujan tombak.

​Karena makhluk ini tidak memiliki mata, ia "melihat" melalui getaran. Pendaratan Awan di pulau itulah yang membangunkannya.

​Tanpa membuang waktu satu detik pun, Wyrm Besi itu meluncur turun layaknya pilar baja raksasa yang runtuh, mengarahkan rahang penggilingnya langsung ke tubuh Awan. Kecepatannya tidak masuk akal untuk makhluk sebesar itu.

​Awan tidak menghindar. Jarak di pulau kecil itu terlalu sempit.

​Ia merendahkan kuda-kudanya, otot perunggunya mengencang hingga batas maksimal. Ia memegang gagang Bumi Pijar dengan kedua tangan, lalu menyambut terjangan rahang raksasa itu dengan tebasan ke atas.

​Jurus Dasar: Menebas!

​TANGGGGGGG!

​Suara benturan logam yang sangat memekakkan telinga bergema di seluruh kubah bawah tanah. Bunga api menyembur keluar layaknya kembang api raksasa saat sisi tumpul Bumi Pijar menghantam deretan gigi gergaji baja milik Wyrm Besi tersebut.

​Lengan Awan bergetar hebat. Pulau batu di bawah kakinya retak dan amblas sedalam setengah meter ke dalam danau akibat tekanan yang ia terima. Massa raksasa dari monster sepanjang dua puluh meter itu sangat brutal.

​"Berat sekali!" Awan menggertakkan gigi, tersenyum liar.

​Untuk pertama kalinya sejak ia mendapatkan Esensi Darah Fana Purba, ia menemukan makhluk yang murni beradu kekuatan fisik dengannya dan tidak hancur dalam satu kali benturan. Sisik dan gigi siluman ini sama kerasnya dengan pedang Bumi Pijar!

​Merasakan mangsanya menahan serangannya, Wyrm Besi itu memuntir tubuh raksasanya di udara, lalu mengayunkan ekor bajanya dari arah samping layaknya cambuk raksasa.

​Ekor selebar pohon beringin itu melesat membelah udara, membawa tenaga ratusan ton yang cukup untuk meratakan sebuah gunung kecil.

​Mata Awan menyipit. Menahan serangan ekor dari samping saat posisinya terkunci menahan rahang di depan adalah bunuh diri.

​Ia memusatkan pikirannya. Zirah Niat!

​Seketika, cangkang hampa tipis menyelimuti tubuh Awan. Di saat yang sama, Awan melepaskan dorongannya pada pedang Bumi Pijar, membiarkan dirinya terpental ke belakang akibat dorongan rahang monster itu.

​BHOOM!

​Ekor baja itu menghantam tempat Awan berdiri sepersekian detik yang lalu, menghancurkan sebagian pulau batu itu menjadi serpihan debu.

​Awan melayang mundur di atas permukaan danau hitam, namun ia menggunakan ujung sepatunya untuk menendang permukaan air dengan kekuatan ledakan ekstrem (Langkah Besi Jatuh yang dimodifikasi untuk berjalan di air). Air meledak ke atas, memberikan daya tolak baginya untuk melesat memutar, menghindari terkaman lanjutan sang monster.

​"Kulitnya sekeras baja bintang," Awan mendarat di dinding gua yang vertikal, menancapkan pedangnya ke dalam batu untuk menahan tubuhnya agar tidak jatuh ke danau. Ia menatap Wyrm Besi yang kini sedang berputar mencari posisinya. "Tebasan kasarku tidak akan menembus sisiknya. Jika aku memaksakan adu tenaga penuh, staminaku akan habis lebih dulu mengimbangi bobot tubuhnya."

​Wyrm Besi itu memutar kepalanya ke arah dinding gua. Ia merasakan getaran pedang Awan yang menancap di batu. Dengan raungan parau, monster raksasa itu meluncur ke arah dinding, berniat menggiling Awan bersama batuan di sekitarnya.

​"Otot digunakan untuk menciptakan kecepatan, massa digunakan untuk menghancurkan..." Awan menarik pedangnya dari dinding, lututnya menekuk. "Tapi untuk memotong baja, Niat tidak boleh tersebar ke seluruh pedang."

​Awan memejamkan mata sesaat. Zirah Niat yang menyelimuti tubuhnya mulai menyusut. Ia menarik perlindungan absolut itu, dan memfokuskannya murni hanya pada satu sentimeter di sepanjang ujung bilah pedang Bumi Pijar yang berkarat.

​Ujung pedang tumpul itu mendadak memancarkan distorsi ruang yang sangat pekat. Ia mengubah pedang tumpul itu menjadi sebilah pedang yang ketajamannya melampaui senjata magis mana pun.

​Saat rahang Wyrm Besi itu berjarak lima meter darinya, Awan melepaskan tolakan kakinya.

​Dinding batu di belakangnya hancur berantakan. Awan melesat tidak menjauhi monster itu, melainkan terbang lurus menyongsong rahang yang terbuka lebar.

​"Buka mulutmu!" aum Awan.

​Tepat saat ia hendak tertelan oleh pusaran gigi baja tersebut, Awan memutar tubuhnya di udara seperti gasing. Pedang Bumi Pijar yang ujungnya kini dilapisi oleh kompresi Niat Pedang absolut, diayunkan dalam satu garis melingkar.

​Niat Pedang: Pemisah Serat Baja!

​ZRAAAASH!

​Kali ini, tidak ada suara benturan keras. Tidak ada kembang api.

​Hanya terdengar suara halus seperti sutra yang dirobek. Pedang Bumi Pijar yang sangat tebal itu meluncur mulus menembus deretan gigi baja sang Wyrm, memotong daging tebal di balik rahangnya, dan merobek tubuh raksasa itu dari dalam mulutnya hingga ke bagian samping lehernya.

​Darah hitam yang sangat panas menyembur keluar seperti geyser, mengguyur tubuh Awan.

​Wyrm Besi itu melolong kesakitan yang menggetarkan jiwa. Tubuh raksasanya meronta-ronta dengan liar di udara, menghantam dinding-dinding gua hingga gua itu nyaris runtuh.

​Awan mendarat kembali di atas pulau kecil yang tersisa di tengah danau, tubuhnya dilumuri oleh darah hitam sang monster. Ia berdiri dengan dada naik turun dengan cepat, mengawasi monster yang kini sekarat dan tenggelam perlahan ke dalam danau hitam, mengubah warna air menjadi semakin pekat.

​Napas Awan tersengal. Mengompresi Niat Pedang hingga setajam silet jauh lebih menguras pikiran daripada membuat Zirah Niat. Kepalanya terasa seperti ditusuk ribuan jarum.

​"Hah... Jika ia memaksakan pertarungan sepuluh detik lebih lama, energiku pasti habis," kekeh Awan parau, menyeka darah kotor dari matanya.

​Ia berbalik, menatap ke arah altar batu alam di belakangnya.

​Batu Jantung Naga Tanah itu masih berada di sana, berdenyut dengan tenang, memancarkan energi Yin bumi purba. Tidak ada lagi yang menjaganya.

​Awan melangkah mendekat. Ia menyingkirkan Bumi Pijar ke punggungnya dan mengulurkan tangan kanannya yang gemetar.

​Saat jari-jarinya menyentuh batu tersebut, sebuah gelombang kejut energi murni menghantam lengannya. Rasanya seolah ia baru saja memegang inti dari gunung berapi yang padat. Kepadatan batu ini lebih menakutkan daripada pedangnya sendiri.

​"Tetua Wu dan Zhao..." Awan menggenggam batu itu erat-erat. "Kalian mengirimku ke sini untuk mati ditelan iblis atau dibunuh pembunuh bayaran kalian."

​Senyum predator kembali menghiasi wajah pemuda fana itu di tengah kegelapan gua bawah tanah.

​"Terima kasih atas hadiahnya. Saat aku kembali ke sekte... aku akan memastikan leher kalian adalah hal pertama yang kuuji dengan otot baruku."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!