NovelToon NovelToon
Rugi Terus, Malah Jadi Bos Dewa!

Rugi Terus, Malah Jadi Bos Dewa!

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Kaya Raya
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Hadid

Rian Prasetyo dapat sistem gila: rugi = uang pribadi.

Masalahnya, setiap kali dia mencoba bangkrut, bisnisnya malah meledak sukses. Gaji karyawan selangit? Mereka jadi super loyal. Jual murah-murah? Pelanggan membludak.

Bikin game asal? Jadi bestseller dunia. Semua orang yakin dia jenius. Padahal dia cuma mau rugi.
Dari sarjana pengangguran dengan Rp 15.000 di kantong, Rian terpaksa menjadi bos konglomerat terkaya se-Indonesia — dan dia BENCI setiap rupiahnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hadid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 30

Bab 030: Kopi Sejati

Bagas Wicaksono kembali ke Garuda Emas dengan sebuah kardus kecil, harga diri yang lecet, dan kebiasaan lama: tetap bercanda sebelum orang lain sempat mengasihaninya.

Rian Prasetyo tidak berniat membiarkan luka itu terlalu lama terbuka.

Di ruang rapat PT Garuda Emas Group, ia memanggil Darmawan dan Bagas. Di atas meja sudah ada satu proposal tipis. Tidak ada desain mewah. Tidak ada grafik pasar yang rumit. Hanya tiga kata di halaman pertama.

Kopi Sejati.

Bagas membaca judul itu, lalu menatap Rian.

"Bos, ini... pengganti Es Madu Kopi?"

"Bukan pengganti," kata Rian. "Ini lawannya."

Darmawan membuka halaman berikutnya.

Konsepnya sangat sederhana: setiap gerai hanya memiliki lima karyawan. Bahan baku menggunakan pilihan paling murah yang masih legal, aman, dan layak konsumsi. Semua proses dibuat terbuka di depan pelanggan. Tidak ada dapur tersembunyi. Tidak ada sirup rahasia. Tidak ada kalimat premium yang membuat harga naik.

Harga jual dibuat serendah mungkin.

Bagas mengerutkan kening.

"Bos, lu yakin mau pakai bahan paling murah dan malah dipajang di depan pelanggan?"

"Ya."

"Biasanya orang menyembunyikan yang murah."

"Kita tidak menyembunyikan apa pun."

Dalam hati, Rian tersenyum.

Tepat. Lihatlah, pelanggan. Ini teh murah. Ini gula biasa. Ini susu ekonomis. Silakan pergi dengan kecewa.

Darmawan membaca lebih lanjut.

"Setiap gerai lima orang. Satu kasir, dua peracik, satu logistik, satu kebersihan. Semua bahan ditimbang terbuka. Daftar harga bahan ditempel di dinding?"

"Benar."

"Pak Bos, transparansi seperti ini bisa menumbuhkan kepercayaan."

Rian berhenti setengah detik.

Jangan mulai, Mas Darmawan.

"Atau bisa membuat pelanggan sadar kita tidak pakai bahan mahal," kata Rian.

Bagas mengangkat tangan. "Tapi kalau harganya murah, orang mungkin malah bilang jujur."

Rian menatapnya.

Bagas pelan-pelan menurunkan tangan.

"Oke. Gue diam."

Rian mendorong map ke arah Bagas.

"Kopi Sejati saya serahkan ke kamu."

Bagas tidak bergerak.

"Maksudnya gue bantu operasional?"

"Kamu pimpin."

"Gue?"

"Ya."

"Bos, gue baru aja diusir karena dibilang nggak kompeten."

"Maka ini tempat yang tepat untuk membuktikan mereka salah."

Bagas membuka mulut, lalu menutupnya lagi.

Rian menambahkan, lebih pelan, "Kamu mungkin bukan manajer paling rapi. Tapi kamu tahu rasa. Kamu tahu orang. Dan kamu tidak pernah memperlakukan karyawan seperti angka."

Untuk beberapa detik, Bagas tidak bisa bercanda.

"Bos..."

"Kopi Sejati milikmu untuk dijalankan."

Bagas berdiri terlalu cepat sampai kursinya hampir jatuh.

"Gue nggak akan bikin lu nyesel!"

Dalam hati, Rian berkata dengan tulus dan gelap:

Justru aku sangat berharap kamu membuatku nyesel secara finansial.

Tetapi melihat mata Bagas yang menyala, kalimat itu terasa sedikit jahat untuk diucapkan.

Jadi Rian hanya mengangguk.

"Ada satu hal lagi. Seorang pimpinan butuh kendaraan."

Mata Bagas berbinar.

"Mobil?"

"Mobil."

Dua jam kemudian, mata Bagas tidak lagi berbinar.

Mereka berdiri di sebuah pasar mobil bekas di pinggiran kota. Di depan mereka ada Toyota Kijang tua berusia delapan belas tahun. Catnya kusam. Pintu kiri harus diangkat sedikit agar bisa tertutup. Kaca spion kanan dililit lakban hitam. AC menyala hanya jika mobil sedang berbaik hati. Dari knalpotnya keluar asap tipis yang membuat seekor teknisi bengkel menoleh dengan prihatin.

Penjualnya tersenyum gugup.

"Mesin masih hidup, Pak."

Bagas memandang Rian.

"Bos, itu standar terendah untuk disebut mobil."

"Harganya Rp 8.000.000."

"Murah banget."

"Efisien."

"Efisien? Ini fosil yang belum sempat dimuseumkan."

Rian menepuk bahunya.

"Kamu bilang ingin memimpin Kopi Sejati dari bawah. Ini benar-benar dari bawah."

Bagas memegang pintu mobil. Pintu itu mengeluarkan suara seperti orang tua bangun dari kursi.

"Bos... ini bisa jalan?"

Rian melihat penjual.

Penjual langsung mengangguk cepat. "Bisa, Pak. Tadi pagi jalan."

Bagas memejamkan mata.

"Tadi pagi bukan jaminan untuk sore ini."

Rian tetap membeli mobil itu.

Lebih buruk lagi bagi Bagas, Rian tidak membelinya diam-diam.

Ia mengadakan upacara.

Hari pembukaan Kopi Sejati pertama, halaman depan gerai dipasang karpet merah. Karyawan baru berdiri berbaris, masing-masing memegang bendera kecil bertuliskan Kopi Sejati. Ada balon, spanduk, petasan kecil yang legal, dan panggung mini tempat Rian berdiri dengan ekspresi serius.

Media lokal datang karena masih mengikuti semua gerakan Garuda Emas setelah kasus Suharto.

Darmawan berdiri di samping Rian, berusaha keras tidak tertawa.

Rian mengangkat mikrofon.

"Hari ini, kita membuka Kopi Sejati. Brand yang sederhana, jujur, transparan, dan dekat dengan rakyat."

Tepuk tangan terdengar.

"Dan hari ini, kita juga menyerahkan kendaraan operasional pertama kepada pemimpin Kopi Sejati, Bagas Wicaksono."

Dari ujung jalan, suara mesin tua terdengar.

Kruk.

Kruk.

Ngung.

Toyota Kijang itu muncul perlahan di antara asap knalpot dan sisa asap petasan. Bagas duduk di belakang setir dengan wajah antara bangga, malu, dan takut mobilnya mati sebelum mencapai karpet merah.

Karyawan bersorak.

"Pak Bagas!"

"Kopi Sejati!"

"Hidup Kijang!"

Bagas membuka kaca jendela yang hanya turun setengah.

"Jangan teriak hidup Kijang! Nanti dia besar kepala terus mogok!"

Orang-orang tertawa.

Mobil itu akhirnya berhenti tepat di depan panggung. Pintu kanan tidak mau terbuka. Bagas mendorong sekali. Tidak bisa. Ia mendorong lagi. Akhirnya pintu terbuka dengan suara keras, dan hampir semua wartawan memotret pada saat yang sama.

Rian menyerahkan kunci cadangan kepadanya seperti menyerahkan kunci Lamborghini.

"Untuk pemimpin Kopi Sejati."

Bagas menerima kunci itu dengan dua tangan.

Matanya merah, meski mulutnya masih tersenyum.

"Bos, meskipun mobil ini kelihatannya pernah kalah perang, gue janji Kopi Sejati nggak akan kalah."

Rian menatap sahabatnya.

Ia membeli mobil termurah untuk membuang uang sesedikit mungkin.

Ia membuat upacara besar karena orang yang pernah dipermalukan pantas pulang dengan kepala tegak.

Dua hal itu bertentangan.

Seperti biasa, hidupnya memang berantakan.

Gerai Kopi Sejati dibuka.

Di dalam, pelanggan bisa melihat semuanya melalui kaca bening: teh murah yang ditimbang, gula biasa, susu ekonomis, es batu, dan proses peracikan tanpa trik.

Seorang pria kantor masuk lebih dulu. Ia membaca papan transparansi bahan, lalu melihat harga.

"Murah banget."

Kasir tersenyum. "Iya, Pak. Semua bahan kami tampilkan di sini."

Pria itu mengamati teh yang sedang diseduh.

"Wah. Di sini semua kelihatan, ya. Setidaknya saya tahu saya minum apa. Di luar sana, siapa tahu isinya apa."

Rian yang berdiri di sudut langsung merasa ada sesuatu yang salah.

Pria itu membeli satu gelas.

Ia menyeruput.

Berhenti.

Lalu menoleh ke kasir.

"Tambah tiga. Untuk teman kantor saya."

Bagas menatap Rian dengan mata berbinar.

"Bos! Pelanggan pertama beli empat!"

Rian menatap proses transparan di balik kaca.

Ia mulai curiga.

Jangan-jangan, kejujuran juga bisa menjadi strategi bisnis.

Kalau begitu, tamat sudah.

1
Ardan
masih ada lanjutannya author?
Ardan
sangat memahami ya Gas 😄👍
Ardan
ya betul Gas, ini kalimat berbahaya dari sang dewa 😂
Ardan
saluutte 👍
Ardan
wkwkwkwk hihi 😂
Ardan
tak masuk akal yang sungguh menggelitik rasa kemanusiaan tinggi, novel diisi dengan kebingungan, tawa, haru dan kebahagiaan.
Ardan
saya selesaikan baca bab ini dengan derai air mata, thor kamu musti tanggung jawab 😭
Ardan
sama bangetzzz
Ardan
asli ini membuat saya meneteskan air mata 😭
Ardan
bagas sejatinya kawan dalam segala situasi ☺️👍
Ardan
rian sang dewa filosofi😄
Ardan
amppuuunnn ini suatu keindahan yang ditunggu rian, namun semu tak tergapai 😄
Ardan
proyek besar, sebesar harapannya untuk rugi atw malah untung nih ?😄
Ardan
terharu bangettttt dengernya Gas 😭🤣
Ardan
jadi penasara, ekspektasi ini akan terwujud seperti apa yak 🤣?
Ardan
dan ngomen kocak lagi si bagus, "bemcana lucu" sueerrr deh ini keren 😄👍
Ardan
huasseeemmmm, bagas lemes banget ngomong bener nya 🤣👍
Ardan
ampuuuuunnn niat banget ngomentar nya si bagas 🤣
Ardan
astaga seindah ini bisnis dalam novel, brutalllll 😭
Ardan
cikal bakal menderita diatas kesuksesan nih, hehe 😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!