Selama lima tahun Diyah Melati percaya bahwa cintanya akan berakhir di pelaminan. Namun, ketika sang kekasih pulang dari perantauan, harapan yang selama ini dia rajut justru hancur dalam sekejap. Alih-alih membawa cincin lamaran, pria itu justru memilih mengakhiri hubungan.
Di usianya yang telah menginjak kepala tiga, Diyah tak hanya harus menanggung patah hati, tetapi juga menghadapi cibiran sebagai "Perawan Tua" yang terus menghantuinya. Meski terluka, Diyah bertekad bangkit dan menyembuhkan hatinya tanpa bergantung pada siapa pun.
Namun, saat Diyah mulai menata kembali hidupnya, sebuah lamaran tak terduga datang dari seorang juragan terpandang di desanya. Tawaran perjodohan itu sontak mengusik ketenangan yang baru saja ia bangun. Di balik niat baik tersebut, tersimpan sosok yang sama sekali tak pernah ia bayangkan.
Akankah Diyah membuka kembali pintu hatinya dan menerima perjodohan itu? Ataukah luka masa lalu membuatnya memilih berjalan sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ntaamelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31. Menolong Sarmila
"Kak Mila!" Diva memekik saat tiba di kamar dan melihat wajah Sarmila dipenuhi lebam. Gadis remaja itu langsung menghampiri, namun Sarmila malah nampak ketakutan.
"Ibu pukul Kakak?" tanya Diva yang merasa cemas sekaligus kasihan.
Sarmila langsung menggelengkan kepala. Bayang-bayang mengerikan itu langsung datang lagi, saat Arumi memilih kabur dan malah dia yang menjadi sasaran kemarahan ayah Diva.
"Terus siapa yang bikin Kakak kayak gini?"
Diva menuangkan air yang selalu ada di kamarnya, lalu menyerahkannya pada Sarmila yang masih kelihatan pucat. Sarmila langsung menenggak air tersebut hingga tandas, lalu menatap Diva dengan air mata yang meleleh.
"Tadi ayah kamu pulang buat minta uang sama ibu, tapi ibu malah ngunciin diri di kamar, pas dia tahu aku—" Suara Sarmila tercekat, dan Diva yang tahu akan tabiat orang tuanya pun langsung memeluk Sarmila.
"Maafin ayah dan ibu aku ya, Kak, mereka nggak cuma nyusahin Kak Diyah, tapi Kakak juga," ujar Diva, merasa malu dan kecewa karena keluarganya tak pernah benar-benar harmonis. Dan kini mereka malah menjadikan Sarmila sebagai sasaran empuk untuk segala keegoisan masing-masing.
"Aku bakal secepatnya telepon Kak Diyah, aku janji," lanjut Diva dengan sungguh-sungguh.
Akhirnya setelah berganti pakaian dan makan siang, Diva mengecek situasi terkini ibunya yang masih ada di dalam kamar. Gadis remaja itu mengetuk pintu, hingga membangunkan Arumi yang ketiduran.
Ceklek!
Semula Arumi hanya mengintip dari celah pintu, tetapi begitu melihat bahwa yang ada di depan matanya adalah Diva, dia segera membuka benda persegi panjang itu lebar-lebar.
"Kamu udah pulang?" tanyanya.
"Udah, Bu, aku juga udah makan siang," jawab Diva.
Arumi menelisik semua ruang yang ada di rumahnya, memastikan bahwa ayah Diva sudah benar-benar pergi lagi. Kalau tidak, uang yang ada di tangannya tidak akan mungkin selamat.
"Kenapa, Bu?" tanya Diva sambil menyipitkan mata, berpura-pura tidak tahu jika sang ayah sempat pulang.
"Eh nggak apa-apa," jawab Arumi sambil tersenyum.
"Oh iya tadi Bu RT ngasih tahu katanya ibu suruh ke rumahnya," ujar Diva mulai melancarkan aksinya, demi bisa menolong Sarmila untuk segera pergi dari rumah.
"Ngapain?"
"Kata Bu RT mau ada pembagian sembako, kayaknya sih ibu disuruh ambil kartunya gitu," jelas Diva berbohong. Supaya sang ibu bisa pergi barang sebentar.
Mendengar itu tentu saja wajah Arumi langsung sumringah. Karena dia memang salah satu keluarga yang rutin mendapat bantuan pemerintah.
"Ya udah kalo gitu ibu ke rumah Bu RT dulu ya, jangan lupa habis ini selesain PR kalo memang ada, terus tidur!" ujar Arumi memberi pesan kepada Diva.
Diva langsung mengangguk, sedangkan Arumi melenggang dengan riang. Setelah memastikan bahwa ibunya sudah pergi, Diva segera masuk ke dalam kamar ibunya dan menguncinya.
Dia mencari-cari benda pipih sang ibu yang sudah dia pastikan tidak dibawa. Diva sedikit mengobrak-abrik tempat tidur, hingga ponsel Arumi dia dapati di bawah bantal.
Senyum Diva langsung merekah sempurna.
"Akhirnya aku punya kesempatan. Ya Allah maaf aku sudah bohong," ucap Diva, lalu dengan cepat mencari nomor Diyah yang dinamai 'ATM-KU'. Diva sempat menggelengkan kepala, tetapi dia tidak punya waktu banyak.
"Semoga saja Kak Diyah belum kirim uang lagi buat ibu," gumamnya, setelah berhasil mencatat angka-angka tersebut di tangan. Diva langsung melompat keluar.
Diam-diam dia mendatangi tetangganya yang masih satu sekolah dengannya.
"Mimi, aku mau minta tolong," ujar Diva dengan tatapan memohon. Karena di usianya kini dia belum diperbolehkan untuk memegang ponsel secara pribadi.
"Kenapa, Div?" tanya Mimi.
"Aku mau pinjam hp buat telepon Kakakku yang di kampung, apa boleh?"
Karena mereka cukup akrab dengan senang hati Mimi mengiyakan. "Boleh dong. Ayo masuk aja, aku lagi makan siang. Kamu udah makan?"
"Udah kok, aku ke sini cuma mau itu aja."
Mimi mengangguk lalu menyerahkan ponsel yang dihadiahkan sang ibu saat ulang tahunnya di bulan lalu kepada Diva.
Namun, karena nomor yang menghubungi Diyah tak dikenali, wanita itu pun tak langsung mengangkatnya. Baru saat Diva mengirim pesan, Diyah langsung membelalakkan matanya.
"Diva? Kenapa Diva telepon aku?" gumamnya, lalu dengan cepat menggeser ikon hijau yang ada di layar.
"Halo, ini beneran Diva?" sapa Diyah yang membuat Diva langsung bernafas dengan lega.
"Iya, Kak, ini aku. Aku nggak bisa ngomong banyak sekarang, yang jelas aku minta sama Kakak buat jemput Kak Mila di rumah, tolong ya Kak," balas Diva yang langsung menjelaskan apa tujuannya.
"Jadi Mila ada di rumah kamu?" tanya Diyah, merasa sangat senang mendengar kabar baik ini. Namun, di sisi lain dia langsung sadar kenapa sang ibu terus menekannya untuk transfer, beruntung Diyah selalu menundanya.
"Iya, Kak, untuk jelasnya nanti Kak Mila pasti cerita sendiri. Sekarang aku kirim alamat rumahnya ke hp Kakak ya. Aku minta Kakak sama Suami Kakak aja yang jemput, supaya Kak Mila—"
"DIVA!!!"
Belum sempat menyelesaikan kalimatnya Arumi sudah berteriak di depan pintu, karena sang anak sudah berani berbohong padanya.
Deg!
Jantung Diva langsung mencelos. Begitu juga dengan Diyah yang ada di ujung sana, sebenarnya situasi seperti apa yang tengah dihadapi adiknya.
"Ibu," ucap Diva dengan terbata-bata, melihat Arumi yang sudah merongos.
"Div, Diva?" panggil Diyah yang masih dalam sambungan telepon. Dia tersentak saat mendengar suara ponsel dijatuhkan, sedangkan Diva langsung diseret pulang.
si pecudang arumi semogah cepat dapat karma,,,,
Sarimi semogah habis ini kamu sadar kalau dyah bukan lah saingan tapi seorang kakak yang benar2 tulus sama adik...drkogah otak mu waras habis ini sarimi