NovelToon NovelToon
Bertransmigrasi Menjadi Grand Duches Yang Mengandung Pewaris Api Abadi

Bertransmigrasi Menjadi Grand Duches Yang Mengandung Pewaris Api Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi / Penyesalan Suami
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

~~

Demi aliansi politik, Iris von Draewyn—putri berambut perak dari Utara—terpaksa menikah dengan Grand Duke Darian von Ravengard, Panglima Tertinggi yang dikenal kejam dan berdarah dingin. Pernikahan mereka hampa dan dipenuhi jarak, hingga sebuah tragedi mengakhiri hidup Iris dalam kesendirian.

​Namun, alih-alih mati, Iris justru terbangun di masa lalu dalam kondisi hamil muda—mengandung anak dari suami yang mengabaikannya.

~~

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 1 DUA KALI DITABRAK TRONTON

***

Jalanan ibu kota sore itu diselimuti hujan gerimis yang menyebalkan. Intan melangkah gontai menyusuri trotoar yang basah, menggenggam erat sebuah kardus cokelat berisi barang-barang pribadinya. Wajahnya pucat, matanya sembab, dan hatinya hancur berkeping-keping.

"Baru tiga minggu..." gumam Intan lirih pada dirinya sendiri. "Belum juga sebulan gue kerja di BUMC, belum sempat ngerasain gaji pertama secara utuh, malah kena efisiensi. PHK massal. Ya Tuhan, dosa apa gue di kehidupan sebelumnya?"

Ia menghela napas panjang, merapatkan mantelnya yang mulai basah kuyup. Bayangan tentang tagihan kosan, cicilan, dan bagaimana cara menjelaskan situasi ini kepada orang tuanya terus berputar di kepalanya bagai kaset rusak.

Ketika Intan hendak menyeberang di lampu merah, sebuah suara klakson berdaung nyaring dan membingitkan telinga memecah suara gemericik hujan.

HOOONKKK!

Intan menoleh. Lampu sorot raksasa dari sebuah truk tronton yang mengalami rem blong meluncur deras ke arahnya. Cahaya menyilaukan itu adalah hal terakhir yang dilihatnya sebelum tubuhnya terhempas keras, disusul rasa sakit luar biasa yang menghantam seluruh kesadarannya, lalu... kegelapan total.

Rasa sakit yang menghancurkan tulang-tulangnya perlahan menghilang, berganti dengan sensasi aneh yang begitu lembut. Intan merasa seolah-olah dirinya tenggelam di atas tumpukan awan. Ada aroma harum yang lembut—perpaduan antara bunga lavender dan kayu murni—menusuk hidungnya.

Intan mengerjap-kerjapkan matanya yang terasa sangat berat.

"Aduh... kepala gue," desisnya sambil mencoba duduk.

Namun, begitu penglihatannya kembali jernih, napas Intan tertahan di tenggorokan. Ia tidak berada di ruang UGD rumah sakit yang berbau karbol dan penuh raungan sirine.

Ia berada di sebuah kamar yang sangat luas—bahkan jauh lebih luas dari rumah keluarganya di kampung. Langit-langit kamar itu dihiasi lukisan mural bergaya renaisans dengan ukiran emas yang megah. Tempat tidur yang ia tiduri berukuran sangat besar, dilapisi sprei sutra tebal berwarna krem dengan kelambu transparan yang terikat di tiang-tiang ukir. Di sudut ruangan, berdiri sebuah perapian batu alam yang memancarkan kehangatan, serta jendela-jendela kaca patri raksasa khas kastil Eropa abad pertengahan.

"Gue... di mana? Ini rumah sakit mana yang desainnya begini?" Intan bergumam panik, meraba-raba kasur empuk di bawahnya. "Jangan-jangan gue udah mati dan masuk surga? Tapi kok furniturnya klasik banget?"

Belum sempat Intan mencerna situasinya, pintu kayu jati ganda yang tinggi di ujung kamar terbuka secara tiba-tiba. Seorang gadis muda berpakaian unik—gaun hitam berkerah tinggi dengan celemek putih bersih ala pelayan kerajaan zaman dahulu—melangkah masuk membawa nampan berisi wadah air dan kain.

Gadis itu mendongak, dan seketika nampan tembaga di tangannya terlepas, jatuh ke lantai marmer dengan suara nyaring yang menggema.

PRANG!

"Yang Mulia!" jerit gadis itu dengan mata terbelalak lebar. Air matanya seketika menetes. Dengan tergesa-gesa, ia berlari mendekati ranjang dan berlutut di samping Intan. "Terima kasih, Dewa! Anda sudah siuman! Anda akhirnya bangun, Yang Mulia!"

Intan mundur beberapa sentimeter secara refleks, merasa asing dan terintimidasi oleh reaksi berlebihan gadis di depannya.

"A-apa? Apa yang kamu bilang tadi?" tanya Intan dengan nada bingung dan terbata-bata. "Kamu siapa? Terus... Yang Mulia siapa?"

Gadis muda itu menatap Intan dengan raut wajah penuh kekhawatiran, menyapu air mata di pipinya. "Yang Mulia, apakah Anda merasa pusing? Apakah ingatan Anda terganggu? Ini saya, Lisa! Pelayan Anda! Dan Anda adalah Yang Mulia Grand Duchess Iris... istri dari Grand Duke Darian von Ravengard!"

DEG.

Kata-kata itu menghantam benak Intan seperti hantaman truk tronton untuk kedua kalinya di siang bolong.

"G-Grand Duchess... Iris? Darian von... Ravengard?" Intan mengulang nama-nama itu dengan mulut ternganga.

Nama-nama itu tidak asing. Sama sekali tidak asing! Itu adalah nama-nama karakter utama dari novel fantasi dark romance favorit yang selalu ia baca saat senggang di kantor!

'Tunggu, tunggu, tunggu!' pikir Intan, panik setengah mati. 'Iris von Draewyn?! Putri berambut perak dari Utara yang menikah karena aliansi politik dengan Panglima Tertinggi berdarah dingin, Darian von Ravengard?! Jadi... gue mati ditabrak tronton terus malah masuk ke dalam tubuh tokoh fiksi ini?!'

Intan memegang kepalanya yang tiba-tiba merasa berputar. Ia mengingat dengan jelas jalan cerita novel tersebut. Iris adalah karakter yang sangat tragis—seorang istri yang diabaikan oleh suaminya yang kejam, hidup dalam kesepian di Kastil Ravengard, dan berakhir tewas secara misterius di umur yang muda.

"Nggak, nggak mungkin... Ini mimpi, kan?" bisik Intan pada dirinya sendiri. Ia lalu menatap gadis pelayan yang menatapnya cemas. "Tolong... bisakah ambilkan saya cermin? Sekarang!"

"B-baik, Yang Mulia! Mohon tunggu sebentar!"

Lisa dengan cekatan berlari ke arah meja rias berukir emas di sudut kamar, mengambil sebuah cermin genggam berlapis perak yang indah, lalu menyerahkannya kepada Intan dengan tangan gemetar.

Dengan jantung yang berdegup kencang bak drum perang, Intan mengangkat cermin tersebut ke depan wajahnya.

Mata Intan membelalak.

Pantulan di dalam cermin itu sama sekali bukan wajah 'Intan'—gadis kantoran yang lelah dengan kantung mata hitam dan kulit kusam akibat sering begadang. Di dalam cermin itu, terpantul sosok wanita yang sangat cantik luar biasa. Kulitnya halus bagai porselen, putih bersih dengan rona merah muda alami di pipinya. Matanya berwarna violet jernih bagai batu permata. Dan yang paling menakjubkan adalah rambutnya—rambut panjang berwarna perak berkilau yang terurai indah di atas bahunya bagai benang-benang sutra perak.

"Gila..." gumam Intan tanpa sadar, menyentuh pipinya yang halus. "Ini benar-benar Iris... Cantik banget, gila. Wajah gue dulu kalah jauh!"

Di tengah kekagumannya pada paras baru yang tidak masuk akal itu, Lisa kembali mendekat dengan raut wajah yang sedikit lebih tenang namun masih tersirat kecemasan mendalam.

"Saya sangat lega Anda sudah siuman, Yang Mulia. Tiga hari Anda tidak sadarkan diri setelah pingsan di taman," kata Lisa lembut. tangannya terlipat di depan dada. "Tabib istana mengatakan kondisi Anda sangat lemah saat itu. Kami semua sangat mengkhawatirkan Anda... terutama tentang kondisi bayi yang ada di dalam kandungan Anda."

Langkah jantung Intan seketika terhenti.

"B-bayi?" Intan menunduk kaku, menatap perut ratanya yang terbalut gaun tidur sutra berwarna merah muda pucat. "Bayi... apa?"

"Apakah Anda tidak ingat, Yang Mulia?" Lisa menatapnya heran. "Anda sedang hamil muda. Di dalam rahim Anda, sedang tumbuh calon pewaris dari Duchy of Ravengard."

Intan menelan ludah dengan susah payah. Sensasi dingin merayapi punggungnya. Memory tentang alur cerita novel itu mendadak menghantam otaknya secara beruntun.

'Kandungan... hamil muda...'

Intan ingat sekarang! Dalam novel, Iris memang sempat hamil. Namun karena hubungan yang sangat dingin dengan suaminya, Darian—sang Panglima Tertinggi yang tidak pernah menunjukkan kasih sayang dan selalu sibuk di medan perang—Iris menjalani masa kehamilannya dalam kesendirian, tekanan mental, dan keputusasaan hingga akhirnya kehilangan nyawanya secara tragis.

Iris von Draewyn adalah wanita yang diabaikan. Dan kini, Intan berada di dalam tubuh wanita itu, mengandung anak dari seorang pria kejam yang dijuluki The Iron Blood Reaper.

Intan perlahan meletakkan tangannya di atas perutnya. Di bawah telapak tangannya yang hangat, ada sebuah nyawa kecil yang kini menggantungkan hidup padanya.

'Gue baru aja di-PHK, mati ditabrak tronton, dan sekarang terbangun jadi istri dari panglima perang paling kejam di dunia ini... dalam keadaan hamil muda?' Intan menghela napas panjang, menatap langit-langit kamar megahnya. 'Tuhan, skenario macam apa lagi ini?!'

Bersambung

1
Yue Li MZy
Cerita sebagus dan sekeren ini jarang didapatkan,tapi sekali didapatkan langsung haitus kadang gak dilanjutkan ditengah ².semoga KA uthor melanjutkan cerita nya sampai ending
Heresnanaa_: hai Kaka, stay tune terus yaaaa😚😚🫶
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!