Bima hanyalah satpam bergaji kecil di apartemen mewah Surabaya. Ia diremehkan preman, diinjak atasan, dan dipandang rendah penghuni kaya. Tak ada yang tahu, pria ini dulunya Sang Raja Serigala, pemimpin tentara bayaran legendaris, pewaris Aji Surya Candra, serta pemilik rahasia yang bisa mengguncang kota.
Kembali ke tanah air untuk menepati janji melindungi kerabat rekan seperjuangan yang gugur, Bima bersembunyi sebagai satpam dan menanggung segala hinaan. Musuhnya datang beruntun: korlap satpam, konglomerat pengirim pembunuh, hingga Padepokan Giri Wesi. Ia menumbangkan lawan di ring maut Sayembara Pedang Emas, membongkar konspirasi Kelab Arwah, dan mencapai puncak ilmu silat Manunggal.
Di sisinya berkumpul berbagai wanita: janda anggun, polisi cantik keturunan jenderal, direktur muda, dan pesilat wanita misterius. Cinta, dendam, kuasa dan rahasia saling bertaut.
Mereka memerintahnya berlutut. Bima membuat semua orang mendongak kepadanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vyrkon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31
Bab 31: Golok Pembawa Pesan
Darman berdiri sempoyongan di ambang, mata merah oleh alkohol dan dendam.
Bau minuman keras menyambar keluar dari ruang tamu. Di belakangnya, satu kursi terguling dan pot tanaman pecah di lantai. Kunci pintu rusak, tetapi Bima tidak melihat orang lain di dalam.
"Kalian akhirnya pulang," kata Darman. Lidahnya berat. "Saya menunggu lama sekali."
Bima memindahkan Anindya ke belakang tubuhnya. "Kak Anin, rekam. Hubungi keamanan kompleks dan polisi. Bilang ada orang mabuk yang merusak pintu dan masuk tanpa izin."
Anindya langsung mengambil ponsel. Tangannya gemetar, tetapi suaranya tetap jelas ketika menyebut alamat.
Darman tertawa kasar. "Polisi? Setelah laki-laki simpananmu membunuh Kang Guntur? Kamu pikir seragam polisi bisa melindungi kalian?"
"Bima bukan laki-laki simpanan saya," kata Anindya. "Dan rumah ini bukan tempatmu. Keluar."
"Perempuan bekas seperti kamu masih berani memilih?" Darman meludah ke lantai. "Kau hanya beruntung ada anjing yang suka memungut sisa milik orang lain."
Tatapan Bima berubah.
Anindya melihat perubahan itu dari samping. Tidak ada ledakan marah, tidak ada rahang yang mengeras secara dramatis. Justru bahu Bima turun dan napasnya menjadi sangat tenang.
"Bang Bima," panggilnya pelan.
Itu cukup untuk menahan satu keputusan buruk.
Bima melangkah masuk. Darman mengayunkan botol kaca dari balik paha. Gerakannya lambat karena mabuk. Bima menangkap pergelangan tangannya, memutar botol menjauh dari wajah, lalu menampar pipi Darman dengan telapak terbuka.
Plak!
Tubuh besar itu berputar setengah lingkaran dan menabrak sandaran sofa.
"Yang pertama untuk pintu," kata Bima.
Darman meraung dan menyeruduk. Bima bergeser satu tapak. Lututnya naik ke perut bagian samping dengan tenaga tertahan. Udara keluar dari mulut Darman. Sebelum ia jatuh, Bima menahan kerahnya agar kepala tidak menghantam meja.
"Yang kedua untuk penghinaan."
Ia mendorong Darman ke lantai berkarpet, lalu menendang paha luar dua kali. Tendangan itu membuat kaki Darman kehilangan tenaga tanpa menghantam lutut, kepala, atau organ dalam.
"Yang berikutnya baru untuk kebodohanmu sendiri. Mau menunggu?"
Darman terbatuk. Keberanian yang dibawa alkohol mulai menguap. Ia memandang pintu, lalu Bima, menghitung jarak seperti binatang yang mencari celah kandang.
"Kalian akan menyesal," desisnya. "Ada orang yang jauh lebih besar dari kalian. Dia tidak akan berhenti hanya karena selembar surat."
"Siapa?"
Darman menutup mulut. Ketakutan lain melintas di wajahnya, lebih kuat daripada takut kepada Bima.
Dari luar terdengar peluit petugas keamanan kompleks. Darman tiba-tiba meraih pecahan pot dan melemparkannya ke arah Anindya.
Bima menepis pecahan itu dengan bantalan sofa. Dalam satu detik pendek tersebut, Darman menerobos pintu, menabrak pagar kecil, dan berlari menuju sedan hitam yang diparkir beberapa rumah dari sana.
"Jangan kejar!" seru Anindya ketika mesin sedan meraung.
"Dia mabuk dan membawa mobil. Kunci pintu dari dalam. Tetap bersama petugas. Kirim rekaman ke awan."
Bima berlari ke Xenia. Ia tidak mencoba menyerempet sedan atau memotongnya secara berbahaya. Ia menyalakan lampu darurat, menjaga jarak, dan menyampaikan arah kendaraan kepada nomor layanan darurat melalui sambungan bebas genggam.
Darman melaju keluar kompleks sebelum palang ditutup. Sedannya berbelok ke jalan samping yang sepi, melewati deretan rumah baru yang belum seluruhnya ditempati.
Di tikungan kedua, seorang lelaki berpakaian gelap berdiri di tengah jalan.
Ia tidak mengangkat tangan. Tidak bergerak. Golok pendek terselip di pinggangnya.
Darman mengenal wajah itu.
"Bilal! Minggir!"
Bilal tetap diam.
Darman membanting kemudi. Ban depan menghantam bibir saluran air pada kecepatan yang sudah turun karena tikungan. Sedan miring, terguling ke sisi kanan, lalu terseret beberapa meter dengan suara logam menggaruk aspal.
Bima mengerem Xenia pada jarak aman dan menyalakan lampu utama ke sisi jalan. Ia turun sambil tetap memberi lokasi terakhir kepada petugas darurat.
Kaca samping sedan retak. Darman menendang pintu pengemudi yang kini menghadap ke atas. Setelah dua kali mencoba, ia merangkak keluar. Ada lecet di pelipis dan lengannya, tetapi ia masih mampu berdiri.
"Kau mau membunuhku?" teriaknya kepada Bilal. "Tuan Muda menyuruhmu menjagaku!"
Bilal menatapnya tanpa jawaban.
Kalimat itu membuat Bima menyimpan dua informasi. Bilal diutus seseorang yang dipanggil Tuan Muda. Orang yang sama mungkin menahan Darman di Surabaya. Namun belum ada nama, dan Bima tidak akan mengisi kekosongan itu dengan tebakan.
Darman mundur menjauhi Bilal. Ketika melihat Bima mendekat, wajahnya makin pucat. Ia memilih berlari pincang ke gang di antara rumah-rumah kosong.
Bima tidak mengejar. Lokasi, mobil, rekaman rumah, dan ciri pelaku telah disampaikan. Memukulnya lagi tidak akan membuat bukti lebih baik.
"Kamu Bilal?" tanya Bima.
Bilal mengangguk satu kali.
"Dikirim untuk Darman?"
"Untuk mengamati kamu. Darman hanya umpan."
Jawaban itu pendek dan tanpa kebanggaan. Bilal menarik golok dari pinggang. Bilahnya tidak terlalu panjang, permukaannya gelap agar tidak mudah memantulkan cahaya.
"Sudah selesai mengamati?"
"Belum."
Bilal maju.
Tidak ada teriakan. Golok menyapu dari kanan bawah, lalu mengubah arah menuju rusuk saat Bima menggeser pinggul. Gerakan bahu Bilal hampir tidak memberi tanda. Tebasan kedua tiba dari sudut berlawanan dan memaksa Bima mundur dari jangkauan cahaya mobil.
Bima memakai Langkah Kijang. Telapak kakinya menyentuh aspal dengan ringan, tubuhnya berpindah sebelum ujung golok mengunci sasaran. Bilal tidak mengejar secara buta. Ia menahan napas, memperpendek pegangan, lalu menusuk lurus ke sela antara lengan dan dada.
Serangan disiplin. Tidak indah, tetapi efisien.
Bima memiringkan tubuh. Ujung golok lewat selebar dua jari dari kemejanya. Tangan kirinya masih menyimpan sisa nyeri, sehingga ia tidak memaksa tangkapan. Ia membiarkan Bilal mengubah arah sekali lagi, membaca poros siku dan tekanan pada pergelangan.
Pada serangan keempat, Bima sengaja terlambat setengah langkah.
Bilal melihat celah dan masuk lebih dalam.
Itulah yang ditunggu Bima.
Kakinya berputar. Telapak kanan menghantam sisi pergelangan Bilal dengan ledakan pendek Pukulan Gludug.
Buk!
Jari Bilal mati rasa. Golok terlepas, berputar rendah, lalu pangkal bilahnya menghantam tepi penutup saluran beton.
Krak!
Bilah itu patah menjadi dua.
Bilal mundur tiga langkah. Pergelangan kanannya memerah dan gemetar, tetapi tulangnya tidak patah. Ia menilai posisi Bima, jarak ke golok, lalu menurunkan kedua tangan.
"Kamu bisa mematahkan tanganku," katanya.
"Bisa."
"Kenapa tidak?"
"Karena kamu masih bisa membawa pesan."
Bima mengambil bagian gagang golok dengan ujung sepatu dan menggesernya ke arah Bilal. Potongan bilah yang lain juga ia dorong menyusul.
"Bawa pulang keduanya," katanya. "Sampaikan kepada Tuan Mudamu: cukup sampai di sini. Kalau yang berikutnya datang membawa golok ke orang-orang saya, saya tidak akan mengampuni."
Bilal berjongkok. Ia membungkus dua bagian golok dengan kain gelap, lalu berdiri. Tatapannya tidak lagi datar sepenuhnya. Tidak ada dendam menyala di sana, hanya pengakuan seorang petarung yang mengerti jarak antara dirinya dan lawan.
"Pesanmu akan sampai."
Sirene terdengar samar dari arah jalan utama. Bilal berbalik dan berjalan ke kegelapan sebelum kendaraan pertama muncul.
Ponsel Bima bergetar. Pesan Anindya hanya terdiri dari dua kalimat.
Aku aman bersama petugas. Jangan menghilang, pulanglah.
Bima membaca pesan itu sekali lagi. Anindya sudah melihat pintu dunianya yang berbahaya terbuka sedikit lebih lebar, tetapi tidak memilih mundur.
Di tangannya, dua potong golok patah menjadi harga dari laporan yang harus ia bawa pulang malam itu.