NovelToon NovelToon
SUAMI ASING UNTUK HAFIZHAH BUTA.

SUAMI ASING UNTUK HAFIZHAH BUTA.

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ramanda

Lantunan ayat suci dan isak haru mengiringi momen Nabila Azra Humaira menyematkan mahkota kehormatan di kepala ibunya. Hari itu, ia resmi diwisuda sebagai Hafizhah 30 Juz di Pesantren Nurul Hasanah. Namun, kebahagiaan itu hancur dalam sekejap.

Sore harinya, kabar kecelakaan tragis orang tuanya membuat Nabila panik dan tergesa-gesa mengendarai motor. Naas, nasib buruk beruntun menimpanya. Nabila mengalami kecelakaan hebat yang merenggut penglihatannya secara permanen, bersamaan dengan kabar duka bahwa kedua orang tuanya telah berpulang.

Satu bulan Nabila mengurung diri dalam duka. Di tengah sunyinya masa keputusasaan itu. Seorang pria datang membawa pengakuan yang menghentakkan jiwanya. Pria itu menyebut dirinya Hafiz Habib Zafar, dan yang paling mengejutkan pengakuannya bahwa ia adalah suami sah Nabila.

Dibalik kegelapan yang menyelimuti hidupnya, Nabila terus bertanya-tanya. Siapakah sosok Hafiz Habib Zafar sebenarnya? Mengapa seorang pria asing tiba-tiba mengaku sebagai suaminya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MAHKOTA CINTA UNTUK IBU.

Lantunan surah Ar-Rahman bergema lembut di aula utama Pondok Pesantren Nurul Hasanah. Suasana begitu khidmat, diselimuti Isak tangis haru dari ratusan pasang mata yang hadir. Di atas panggung utama, Nabila Azra Humaira berdiri anggun dengan balutan busana muslimah serba putih dengan mahkota kecil bertengger di atas kepalanya, dengan tangannya yang gemetar perlahan merengkuh sebuah mahkota berhias payet berkilau, lalu menempatkannya dengan sangat hati-hati di atas jilbab sang ibu.

"Bunda... ini untuk Bunda," bisik Nabila lirih. Suaranya bergetar menahan gejolak rasa di dada. "Satu huruf, satu ayat, tiga puluh juz... semuanya Nabila hadiahkan untuk Bunda dan Ayah. Terima kasih sudah sabar mendoakan Nabila selama ini."

Ibunya tak sanggup lagi menahan tangis. Beliau memeluk erat tubuh putri tunggalnya itu, mengecup kedua pipi Nabila berulang kali dengan pendar kebanggaan yang terpancar jelas dari matanya. Di samping mereka, sang ayah tersenyum lebar dengan air mata yang menggenang di sudut mata keriputnya. Hari itu, Nabila resmi diwisuda sebagai seorang Hafizhah 30 Juz. Sebuah gelar mulia yang ia perjuangkan lewat ribuan malam tanpa tidur dan peluh kesabaran.

Usai prosesi yang menguras emosi tersebut, riuh tepuk tangan dan ucapan selamat mengalir tanpa henti. Namun, waktu tak membiarkan kebahagiaan itu berlama-lama. Karena jarak rumah yang cukup jauh dan cuaca menjelang sore itu mulai mendung tebal, kedua orang tua Nabila harus segera bersiap untuk pulang.

"Nabila sayang, Ayah dan Bunda pulang duluan, ya?" ucap sang ayah seraya mengelus lembut puncak kepala Nabila yang tertutup jilbab. "Selesaikan tugas pengabdianmu di pondok ini dengan ikhlas. Jadi anak yang salehah dan terus amalkan Al-Qur'anmu."

"Nabila masih ingin dipeluk Bunda, Yah..." goda Nabila sambil tersenyum manja, memeluk lengan ibunya erat-erat.

"Apalagi Bunda, Nak. Rasanya enggan sekali melepasmu," sahut sang ibu lembut, mengusap pipi Nabila. "Tapi kamu masih ada tanggung jawab mengajar adik-adik santri di sini. Jaga diri baik-baik, ya, Nabila. Bunda dan Ayah sangat mencintaimu."

Pelukan hangat sore itu terasa sangat berbeda. Ada rasa hangat yang menjalar, namun sekaligus menyelipkan kepedihan samar yang tak sanggup Nabila jelaskan. Ia melambaikan tangan hingga mobil sedan hitam milik orang tuanya bergerak perlahan melintasi gerbang utama pesantren dan menghilang di balik tikungan jalan raya.

Satu jam kemudian, Nabila yang masih berkumpul bersama teman-teman sesama wisudanya. Kini berpamitan, karena ia berniat kembali ke kompleks asrama untuk merapikan berkas administrasi pengabdiannya. Namun, baru beberapa langkah ia mengayunkan kaki, getaran keras dari ponsel di dalam saku gamisnya mengejutkannya. Nama kakaknya, Ardhana, tertera di layar.

Nabila mengangkat panggilan itu dengan senyum yang masih mengembang di bibir. "Assalamu'alaikum, Mas Ardhana! Mas tahu tidak, tadi acara wisudanya lancar sekali..."

"Nabila..."

Suara di ujung telepon memotong kalimatnya. Suara Ardhana terdengar pecah, tidak beraturan, dan diiringi deru sirine yang meraung-raung menyayat udara.

"Mas Ardhana? Ada apa? Mas kenapa menangis?" Jantung Nabila mendadak berdegup kencang secara tidak wajar. Senyum di wajahnya surut seketika.

"Ayah... Bunda, Nabila... Mobil Ayah kecelakaan parah di jalan lintas utama! Cepat ke Rumah Sakit Medika, Nabila! Cepat!"

DEGG.

Dunia seolah berhenti berputar detik itu juga. Ponsel di tangan Nabila hampir saja terlepas jika ia tidak menggenggamnya kuat-kuat. Gemuruh di dadanya jauh lebih dahsyat ketimbang suara petir yang mendadak menyambar di langit sore yang kian menghitam. Tanpa memikirkan apa pun lagi, tanpa mengabari pihak pengasuh pondok, Nabila berlari kesetanan menuju tempat parkir motor pengabdian.

Pikiran Nabila benar-benar kosong. Yang ada di kepalanya hanyalah bayangan wajah ayah dan ibunya. Ya Allah, tolong... tolong selamatkan mereka. Jangan ambil mereka sekarang, jerit batinnya berulang kali seperti mantra.

Ia menyalakan mesin sepeda motor matik dengan tangan yang gemetar hebat. Gerimis mulai turun menyapu bumi, membasahi jalanan aspal yang kian licin. Nabila menancap gas tanpa mengindahkan keselamatan dirinya sendiri. Air mata mengalir deras membasahi pipinya, bercampur dengan titik-titik air hujan yang menusuk kulit wajahnya. Pandangannya kabur, tertutup oleh linangan air mata dan kaca helm yang mengembun.

Di sebuah persimpangan jalan yang sudah lumayan jauh dari kompleks pesantren, laluan kendaraan begitu padat. Nabila memacu motornya mendahului beberapa kendaraan di depannya dengan tergesa-gesa. Ia harus sampai di rumah sakit secepat mungkin. Ia harus melihat ibunya. Ia harus memeluk ayahnya.

Namun, di tengah kepanikan yang membakar jiwanya, sebuah klakson nyaring berbunyi panjang dari arah berlawanan.

HOONNKKK!

Dari balik tikungan tajam, sebuah truk bermuatan berat tampak oleng dan hilang kendali akibat rem blong di jalanan licin. Lampu sorot truk itu menyilaukan mata Nabila secara mendadak.

Nabila membelalakkan mata. Ia berusaha membanting stang motornya ke arah kiri secara spontan, namun jaraknya sudah terlalu dekat. Ban motornya terselip di aspal yang basah.

GBRRAASSHH!

Suara benturan logam bertabrakan melengking keras memecah heningnya sore yang diguyur hujan. Tubuh Nabila terlempar keras dari atas sepeda motor, melayang beberapa meter di udara sebelum akhirnya dihantamkan secara kasar ke trotoar jalan. Helmnya terlepas dan hancur berkeping-keping.

Rasa sakit yang teramat sangat menjalar di sekujur tubuhnya, terutama di bagian belakang kepalanya yang terbentur keras. Pandangan Nabila yang samar-samar menatap langit kelabu perlahan-lahan mulai meredup. Suara jeritan orang-orang di sekitarnya yang berlarian mendekat terdengar makin menjauh, melambat, hingga akhirnya sunyi sama sekali.

Cahaya di mata Nabila perlahan padam, menyisakan kegelapan pekat yang menelan dirinya dalam ketidak sadaran.

1
Pujiastuti
semoga operasinya lancar dan Nabila dapat melihat kembali, lanjut kak semangaaaaaatttt💪💪💪
Shankara Senja
udah tau buta,udah tau mau pergi..titipin kek istrinya ke umi nya..
Rohmi Yatun
😭😭😭semoga selamat semuanya
Pujiastuti
semoga Nabila baik² aja dan semoga juga dengan kejadian ini penglihatan nabila pulih kembali
Pujiastuti
ad3m bangeeeettt sama pasangan ini apa lagi kalau lagi berdua, lanjut kak semangat💪💪
Pujiastuti
jadi ikut seneng juga sama kebahagiaan pasangan ini semoga kedepannya ngak ada masalah yang berat² ya kak author 🤭
Pujiastuti
ya Allah adem rasanya kalau semua suami seperti Hafiz tapi ngak mungkin juga 🤭
Pujiastuti
alhamdulillah Husna sudah ikhlas melepas Hafiz untuk Nabila
Rohmi Yatun
apakah didunia nyata ada yg begitu yaa🤔
Teh Fufah
sbegitu gampangnya husna memaafkan hafiz...
Pujiastuti
baru juga mulai menerima Hafiz sebagai suaminya sudah ada masalah baru lagi yang ternyata mantan tunangan Hafiz datang
Teh Fufah
wadidaw.... eng ing eng... deg2 an qolby ustadz.... pinisirin
Pujiastuti
alhamdulillah Nabila sudah mulai mendekatkan diri sama Hafiz
Nanik Arifin
pentingnya menyampaikan kabar dengan hati" & tenang apalagi hanya memalui telp. kita tdk tahu respon yg kita kabari spt apa, apalagi keadaan sdh sore & cuaca sd tak baik
Pujiastuti
maaf ya kak author kalau saya lambat baca kadang dalam sehari suka ngak ada waktu buat baca karena kesibukan didunia nyata 🙏🙏
Pujiastuti: sama² 🙏😊
total 4 replies
Rohmi Yatun
cerita yang luar biasa 👍
Rohmi Yatun
😭😭😭gak berhenti ni mataku mengalir terus airnya. .. sediihhh
Rohmi Yatun
nyesek banget sih.. 😭😭😭.. awal cerita dah bikin nangis bombay
mimma
Luar biasa
Pujiastuti
semoga hati Nabila dilembutkan supaya bisa menerima takdir yang sudah ditentukan sama kak Author 🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!