NovelToon NovelToon
Menimbun Perbekalan, Aku Santai Menonton Kiamat Es Turun

Menimbun Perbekalan, Aku Santai Menonton Kiamat Es Turun

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Sistem / Hari Kiamat
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: Surya Mandala

Hendra Wijaya bertahan empat tahun di neraka beku pasca-kiamat, hingga orang terdekat meracuninya. Ia terlahir kembali tiga bulan sebelum bencana—kini hafal jadwal gelombang panas, banjir, dan badai −50°C.

Kali ini ia bersiap di bunker mewah, sambil menyaksikan dunia saling bunuh. Cincin tembaganya mampu menyimpan kapal tanker, mengawetkan makanan, dan naik level via Lima Unsur. Ia borong logistik, bangun benteng, dan balas dendam pada perampas perusahaan serta pembunuh orang tuanya.
Namun kiamat ini bukan alamiah—ada konspirasi, Bestia, dan ras kuno dari Antartika. Hendra menjelma jadi senjata pamungkas umat manusia.

Pertanyaan: apa sebenarnya cincin itu, dan sejauh mana ia bisa naik—hingga jadi penguasa dunia baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Surya Mandala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 23

Bab 023: Hujan Pertama dan Anjing di Tengah Badai

Tetes air pertama jatuh ke kamera gerbang seperti batu kecil.

Tik.

Lalu tetes kedua.

Tik.

Di ruang kontrol bunker, Hendra menatap layar tanpa berkedip.

Hujan seharusnya belum datang.

Menurut ingatan kehidupan lalu, gelombang panas masih akan menyiksa dunia hampir dua bulan lagi sebelum langit pecah. Orang-orang akan berebut air, kota-kota akan membakar listrik cadangan sampai habis, rumah sakit akan penuh, lalu baru datang hujan besar yang menenggelamkan jalan.

Tetapi di layar sekarang, langit malam Bandung sudah berubah hitam.

Bukan gelap biasa.

Gelap yang berat.

Gelap yang menggantung terlalu rendah.

Tetes air ketiga jatuh.

Lalu langit robek.

BRAK!

Suara hujan menghantam atap gudang pendingin seperti ribuan kerikil dilempar bersamaan. Kamera gerbang langsung dipenuhi garis air. Debu panas di halaman beton berubah menjadi uap tipis. Jalan tanah di luar pagar yang tiga hari lalu retak oleh panas kini berubah licin dalam hitungan menit.

Termometer luar turun dari 41°C ke 35°C.

Lima menit kemudian, 32°C.

Penurunan itu terlalu cepat.

Terlalu tidak wajar.

Hendra berdiri di depan panel, rahangnya mengeras.

Ia benar tentang kiamat.

Tetapi waktunya mulai bergeser.

Satu hal kecil berubah, hal lain ikut berubah. Ia menimbun lebih cepat. Ia mengambil tanker. Ia menutup front Bahtiar dalam satu malam. Ia mengubah banyak jalur orang yang seharusnya masih bergerak di dunia lama.

Mungkin bukan semua karena dirinya.

Mungkin sumber di jauh sana memang sudah tidak stabil.

Namun hasilnya sama.

Ingatan masa lalu bukan kitab suci.

Hanya peta lama yang kini mulai terbakar di tepi-tepinya.

Hendra membuka daftar di tablet.

Drainase halaman: periksa.

Pompa cadangan: siaga.

Tangki penampung air hujan: buka jalur awal.

Kamera belakang: buram.

Sensor lereng: gangguan.

Ia menatap dua baris terakhir.

Hutan belakang lahan berada di sisi lereng. Kalau air turun sebesar ini selama berhari-hari, tanah bisa bergerak. Bunker kuat, tetapi akses luar, saluran, dan pagar tidak boleh dibiarkan buta.

Ia mengambil jas hujan hitam, sepatu bot, senter, pistol, dan pisau. Pintu anti-ledak tetap terkunci. Ia keluar lewat pintu layanan atas yang sama, lalu menutup panel dari luar.

Begitu keluar, hujan memukul tubuhnya seperti cambuk dingin.

Tiga hari panas membuat kulit dunia retak. Kini air turun seolah ingin menagih semuanya sekaligus.

Dalam satu menit, jas hujan Hendra sudah mengilap. Air mengalir dari tepi tudung jas hujan ke dagu. Tanah di sisi bangunan menjadi lumpur. Selokan beton yang baru selesai dibersihkan tadi pagi langsung penuh air cokelat.

Hendra berjalan menyusuri dinding luar.

Senter menembus tirai hujan.

Pagar depan aman.

Gerbang luar terkunci.

Bekas halaman tempat rombongan Bahtiar mati sudah bersih. Hujan menyapu bau sisa panas dan debu, tetapi Hendra masih melihat garis peristiwa di kepalanya. Lampu sorot. Surat palsu. Tembakan. Tanah belakang.

Ia tidak berhenti lama.

Masa lalu tidak perlu ditatap setiap menit.

Yang penting adalah celah berikutnya.

Di sisi belakang, suara air lebih berat. Hutan kecil di luar batas lahan bergoyang di bawah angin. Daun-daun besar tropis ditampar hujan sampai menunduk. Beberapa ranting patah dan terseret aliran kecil menuju parit.

Sensor lereng berkedip merah di tablet.

Gangguan itu datang dari luar sistem.

Ada sesuatu menutup salah satu kamera bawah.

Hendra memanjat jalan servis kecil menuju pagar belakang. Tubuh Unsur Logam membuat langkahnya stabil di lumpur. Sepatu bot orang biasa akan tersedot, tetapi ia bergerak seperti menapak lantai basah.

Di balik pagar belakang, ia mendengar suara.

Tipis.

Nyaris tenggelam oleh hujan.

"Ngik..."

Hendra berhenti.

Suara itu bukan manusia.

Ia mengarahkan senter ke bawah lereng.

Di antara akar pohon dan semak yang rebah, ada lubang kecil bekas tanah longsor dangkal. Air mengalir melewatinya. Di tepi lubang, tubuh seekor anjing dewasa terbaring miring, tidak bergerak. Bulu basahnya menempel ke tubuh. Di sampingnya, seekor anak anjing kecil berdiri gemetar.

Kaki pendek.

Bulu tiga warna.

Punggungnya hitam pekat, dada dan moncongnya putih kecokelatan, tubuhnya kotor oleh lumpur.

Corgi.

Mustahil hampir lucu di tengah pemandangan seperti ini.

Anak anjing itu tidak lari ketika cahaya senter mengenai matanya. Ia justru berdiri lebih depan, menutupi tubuh induknya yang sudah dingin. Tubuh kecilnya gemetar, tetapi mulutnya terbuka menunjukkan gigi kecil.

"Grr..."

Geraman itu lemah.

Namun niatnya jelas.

Jangan mendekat.

Hendra menurunkan senter sedikit agar tidak langsung mengenai matanya.

Di kehidupan lalu, ia pernah melihat orang dewasa meninggalkan anak, teman meninggalkan teman, bahkan saudara menjual saudara demi sepotong roti beku.

Anak anjing sekecil ini justru tetap menjaga yang sudah tidak bisa bangun.

Hendra diam beberapa detik.

Hujan menghantam punggungnya.

"Dia sudah mati," katanya pelan.

Anak anjing itu tidak mengerti kata-katanya. Atau mungkin mengerti nada. Geramannya melemah, tetapi ia tetap tidak bergeser.

Hendra melihat aliran air di lubang itu makin tinggi. Dalam beberapa menit, tubuh kecil itu bisa terseret atau tenggelam lumpur.

Ia tidak punya Ruang Hijau.

Belum.

Makhluk hidup tidak bisa masuk Ruang Penyimpanan.

Berarti kalau ia ingin menyelamatkannya, ia harus membawanya sendiri.

Hendra membuka pagar servis belakang dengan kunci manual. Air langsung menerobos masuk ke jalur kecil. Ia turun ke lereng, menancapkan sepatu bot dalam lumpur, lalu berjongkok dua meter dari anak anjing itu.

"Aku tidak akan mengambil makananmu," gumamnya.

Anak anjing itu menggonggong sekali.

Pendek.

Serak.

Lalu tubuhnya limbung.

Hendra maju.

Anak anjing itu mencoba menggigit, tetapi tenaganya sudah habis. Giginya hanya menyentuh sarung tangan kulit. Hendra mengangkatnya dengan satu tangan, menempelkan tubuh basah itu ke dada di balik jas hujan.

Kecil.

Panas tubuhnya hampir hilang.

Namun jantungnya masih berdetak cepat.

Hendra menatap induk yang terbaring di lubang.

Ia tidak punya waktu membuat pemakaman bagus. Hujan makin deras, tanah bisa longsor lagi. Tetapi ia tetap menggeser tubuh induk itu ke sisi yang lebih tinggi, menutupinya dengan beberapa papan bekas dan tanah sebisanya agar tidak terseret air.

Anak anjing di dadanya meronta lemah.

Mungkin marah.

Mungkin memanggil.

Mungkin pamit.

Hendra tidak tahu.

Ia hanya berkata, "Kalau kau mau hidup, ikut aku."

Ia kembali ke gerbang servis, mengunci pagar, lalu masuk ke bangunan luar. Sebelum membuka akses bunker, ia berhenti di ruang dekontaminasi kecil yang dulu diminta sebagai bagian dari standar gudang dingin. Jas hujan digantung. Sepatu dibersihkan. Anak anjing dibungkus handuk kering.

Tubuh kecil itu menggigil keras.

Hendra mengeluarkan air hangat dan sedikit makanan lunak dari stok luar, bukan dari Ruang di depan makhluk hidup yang belum ia pahami. Ia menaruhnya di lantai.

Anak anjing itu mencium.

Menolak.

Menatap pintu keluar.

Setia pada yang sudah mati.

Hendra jongkok di depannya.

"Dunia di luar tidak akan mengembalikan ibumu."

Anak anjing itu menatapnya dengan mata basah.

Hendra mendorong mangkuk lebih dekat.

"Tapi kalau kau hidup, setidaknya kematian dia tidak sia-sia."

Entah karena lapar, dingin, atau nada suara Hendra yang rendah, anak anjing itu akhirnya menunduk. Ia menjilat sedikit. Lalu sedikit lagi. Setelah itu ia makan seperti baru sadar tubuhnya masih ingin bertahan.

Hendra duduk bersandar ke dinding.

Di layar kecil ruang luar, hujan semakin tebal. Kamera belakang masih buram. Termometer luar turun ke 29°C.

Hujan pertama datang dua bulan lebih cepat.

Itu berarti banjir juga bisa datang lebih cepat.

Tsunami bisa datang lebih cepat.

Beku bisa datang lebih cepat.

Semua daftar yang ia susun harus diperketat lagi.

Di lantai, anak anjing itu selesai makan. Tubuhnya masih gemetar, tetapi matanya mulai tajam. Ia berjalan pelan ke arah Hendra, mencium sepatu botnya, lalu mengangkat moncong ke tangan kanan Hendra.

Ke cincin tembaga.

Hendra menunduk.

Anak anjing itu menyentuh cincin dengan hidung basahnya.

Seketika ukiran halus pada cincin terasa hangat.

Bukan panas besar seperti saat menyerap emas.

Hanya denyut kecil.

Samar.

Seolah sesuatu di dalam cincin membuka mata sebentar.

Hendra membeku.

Anak anjing itu menekan hidungnya lagi ke cincin, lalu menatap Hendra seolah meminta jawaban.

"Kau bisa merasakannya?"

Tidak ada jawaban.

Hanya ekor kecil yang bergerak sekali, lemah tetapi keras kepala.

Hendra tertawa rendah untuk pertama kalinya sejak langit memanas.

Pendek.

Nyaris tidak terdengar di bawah suara hujan.

Ia mengulurkan tangan, membiarkan anak anjing itu mencium punggung jarinya.

"Punggungmu hitam semua," katanya. "Mulai sekarang, namamu Blacky."

Blacky menatapnya.

Lalu, seolah nama itu tidak penting, ia kembali menyodok cincin dengan hidungnya.

Di luar, hujan memukul bunker seperti dunia sedang dibuka paksa.

Di dalam, ukiran tembaga di jari Hendra menjawab sentuhan seekor anak anjing dengan panas yang seharusnya belum ada.

1
Alia Chans
Hadir ni... semangat nulis nya😉/Smile/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!