NovelToon NovelToon
Nikah Kilat dengan Kapten Angkuh

Nikah Kilat dengan Kapten Angkuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Kapten / Romantis
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Ratna Purnama

Kapten paling angkuh di Angkasa Nusantara.
Pengatur langit bersuara paling manis.
Semua mengira Laras yang beruntung menikahinya—
tak ada yang tahu, belasan tahun lalu, gadis itu sudah lebih dulu jatuh cinta diam‑diam.
Dan sang kapten dingin itu?
Di depan orang cuek, di depan istrinya… paling tak berdaya.
Sampai di udara, mesin mati,
dan cuma satu suara yang bisa membawanya pulang

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Purnama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 31

Bab 31: "Satu Ranjang"

Arkan menatap Laras tanpa berkedip.

"Tiara datang ke kantormu?"

"Cuma sampai lobi umum. Aku turun waktu istirahat supaya dia nggak mencari rekan lain."

"Dia bilang cincin itu dariku?"

"Nggak pernah jelas. Dia cuma bilang ada hal yang dia punya lebih dulu." Laras mengambil kotak cincin dan membukanya lagi. "Cincinnya dari toko yang sama. Batu oval, garis di samping. Dari depan kelihatan hampir persis."

Arkan mengeluarkan sertifikat dan kartu desain dari dalam tas. Nomor pesanan, sketsa sisi band, serta ukiran tanggal akad tertera jelas.

"Aku nggak pernah membicarakan cincin ini dengan Tiara," katanya. "Dio cuma lihat gambar di kokpit siang tadi. Dia nggak tahu toko sebelum aku bilang mau ke Pacific Place, dan dia tetap di area kru. Pilot pengamat juga nggak tahu desain detail."

"Mungkin Tiara melihatmu keluar dari toko."

Arkan mengingat letak toko, jalur menuju lift, dan keramaian mal. Kemungkinan itu jauh lebih masuk akal daripada kebocoran desain. Staf bahkan menolak menyebut pembelian pelanggan lain ketika ia berada di sana.

"Kalau dia masuk setelah melihatku, dia bisa memilih koleksi etalase yang paling mirip," katanya.

Laras mengangguk. "Dia sengaja menutupi bagian samping waktu menunjukkan."

Arkan memotret cincin dan kartu desain. "Besok aku tanya toko nomor model yang dibeli Tiara kalau mereka bisa mengonfirmasi tanpa membuka data pribadinya. Minimal aku mau tahu apakah itu koleksi umum atau ada pelanggaran pada desain pesanan."

"Kalau mereka nggak bisa kasih tahu?"

"Aku bawa fotonya. Desainer bisa membandingkan bentuk tanpa menyebut pembeli."

Ia tidak akan menuduh tanpa bukti. Namun, ia juga tidak akan membiarkan benda yang dipilih khusus untuk Laras berubah menjadi alat Tiara menyakiti istrinya.

"Aku akan tukar desainnya," kata Arkan.

Laras memandang cincin lagi. Sekarang setelah tahu garis lengkung itu dipilih sebagai dua jalur yang bertemu dan ketinggiannya disesuaikan untuk pekerjaannya, ia justru enggan melepaskan desain tersebut.

"Sebenarnya aku suka."

"Reaksimu di mobil nggak begitu."

"Aku kaget. Bukan karena cincinnya jelek. Aku baru melihat Tiara memakai sesuatu yang mirip, lalu kamu menyerahkan kotak dari toko yang sama."

"Kamu pikir aku juga memberinya cincin?"

"Cuma satu detik. Setelah itu aku tahu nggak mungkin."

Arkan mengembuskan napas. "Satu detik terlalu lama."

"Aku manusia."

"Aku juga. Makanya aku kesal."

Jawaban jujur itu membuat Laras diam. Arkan bukan kesal karena dituduh, melainkan karena Tiara berhasil merusak satu detik yang seharusnya hanya milik mereka.

"Dia nempel terus seperti lintah," gumam Laras.

Sudut bibir Arkan terangkat. "Akhirnya kamu bilang juga."

"Aku sudah berusaha sopan."

"Nggak perlu sopan kalau cuma ada aku."

Arkan berdiri di depannya, lalu menjepit lembut pipi Laras seperti di hari mereka pulang dari supermarket. Kali ini ibu jarinya bertahan sedikit lebih lama di kulitnya.

"Jangan biarkan dia membuatmu meragukan apa yang aku berikan," katanya.

Laras menelan ludah. "Baik, Kapten."

"Besok aku tetap datang ke toko. Kalau desain ini bisa dibuat eksklusif, aku urus. Kalau nggak, kita pilih baru bersama."

"Jangan kembalikan dulu."

"Kenapa?"

"Aku mau melihatnya lagi saat kepalaku nggak penuh wajah Tiara."

Arkan mengangguk dan menutup kotak. Kekecewaan di wajahnya mulai hilang.

Ia membuka email konfirmasi pesanan dan membalas kepada konsultan desain. Kalimatnya singkat: ada produk koleksi yang tampak serupa digunakan pihak lain untuk mengklaim keterkaitan dengan pesanan khusus; ia meminta pertemuan untuk membandingkan nomor model, hak desain, serta kemungkinan membuat detail lengkung itu eksklusif. Ia tidak menyebut nama Tiara sebagai pembeli dan tidak meminta toko membuka riwayat transaksi orang lain.

"Kamu menulis sekarang?" tanya Laras.

"Supaya besok mereka sudah punya konteks."

"Kalau ternyata cincinnya memang beda?"

"Bagus. Berarti masalahnya hanya niat Tiara membuatnya terlihat sama."

"Dan kalau terlalu mirip?"

"Kita putuskan bersama. Bukan Tiara yang memutuskan apa yang boleh kamu pakai."

Laras melihat kotak itu sekali lagi. Untuk pertama kalinya sejak di lobi, cincin tersebut kembali terasa seperti miliknya.

Mereka masuk ke kamar untuk merapikan barang yang dipindah terburu-buru. Dua bantal pembatas masih tersembunyi di lemari penyimpanan. Flight bag Arkan berada di sudut kiri, kemejanya sudah menggantung di antara pakaian Laras, dan alat cukurnya menempati tempat baru di kamar mandi utama.

Arkan mengambil flight bag. "Aku pindahkan kembali besok setelah Mama berhenti curiga."

"Nggak usah."

Tangannya berhenti.

Laras menatap lemari, bukan wajahnya. "Biar nggak perlu bolak-balik pindah barang setiap mereka datang. Lemari ini cukup kalau bajuku dirapikan."

"Kamu yakin?"

"Kita memang tinggal di kamar yang sama. Cuma barangmu yang masih setengah mengungsi."

Arkan meletakkan flight bag kembali. "Bantalnya?"

Pertanyaan itu lebih sulit.

Selama ini dua bantal memberi Laras rasa aman. Bukan karena ia takut Arkan melanggar batas. Justru karena ia terlalu mempercayainya, sementara dirinya sendiri belum yakin sanggup menjaga perasaan tetap tersembunyi jika mereka tidur tanpa garis pemisah.

Namun, malam-malam sebelumnya batas itu sudah beberapa kali bergeser. Arkan menyelimutinya, Laras tertidur di bahunya dalam mobil, dan mereka sudah berbagi begitu banyak kebiasaan yang lebih intim daripada jarak dua bantal.

"Simpan saja di lemari," katanya.

Arkan menatapnya penuh. "Laras, aku nggak mau kamu memutuskan karena Mama datang mengecek."

"Bukan karena Mama." Ia menarik napas. "Aku cuma capek berpura-pura satu garis bantal bisa membuat hubungan ini tetap sederhana."

Kalimat terakhir hampir membuka terlalu banyak. Laras cepat-cepat menambahkan, "Kita sudah pernah tidur satu ranjang. Bedanya cuma nggak ada benteng."

"Dan itu perbedaan besar buatmu."

"Sekarang nggak sebesar dulu."

Arkan tidak mendesak lagi. Ia mengambil pakaian ganti dan memilih mandi di kamar mandi tamu, memberi Laras waktu untuk bersiap tanpa merasa diawasi.

Sebelum itu, mereka menyelesaikan lemari bersama. Arkan memindahkan seragam cadangan ke bagian kiri dan memberi Laras ruang untuk melipat blus kerja. Flight bag diletakkan di rak bawah agar tidak menghalangi jalan ketika salah satu dari mereka pulang dalam gelap.

Saat Laras membuka laci nakas kanan untuk menyimpan obat, sudut sampul biru buku harian kembali terlihat di bawah syal. Ia cepat-cepat merapikan kain di atasnya.

Arkan melihat gerakan itu, tetapi hanya memindahkan charger miliknya ke nakas kiri. Ia tidak bertanya dan tidak menyentuh laci Laras.

Rasa aman yang muncul dari tindakan sederhana itu ikut mendorong keputusan Laras. Arkan bisa berada sedekat ini tanpa menuntut semua rahasianya dibuka sekarang.

Laras berbaring di sisi kanan. Bagian tengah ranjang tampak terlalu luas tanpa dua bantal. Ia mematikan lampu sisi kanan, tetapi membiarkan lampu kecil di sisi Arkan menyala.

Ketika Arkan kembali, rambutnya masih lembap. Ia meletakkan ponsel di nakas kiri dan masuk ke bawah selimut dengan gerakan hati-hati. Jarak di antara mereka masih cukup untuk satu orang, hanya tidak lagi ditandai apa pun.

"Kalau kamu berubah pikiran, ambil bantalnya," katanya.

"Nggak."

"Aku serius."

Laras berbalik menghadapnya. Dalam cahaya redup, wajah Arkan tidak lagi tampak seperti kapten yang selalu punya jawaban. Ia hanya suaminya, berusaha memastikan Laras tidak menyesali satu langkah kecil.

"Aku juga serius."

Arkan mematikan lampu.

Beberapa menit berlalu. Laras masih bisa merasakan kehangatan tubuhnya dari jarak yang belum pernah terasa sedekat ini. Ketika ia bergerak menarik selimut, punggung tangannya menyentuh jemari Arkan.

Keduanya berhenti.

Arkan tidak menggenggamnya. Ia hanya berkata pelan, "Apa yang aku janjikan, pasti aku tepati."

Janji untuk menunggu. Janji untuk tidak memaksa. Janji untuk berdiri di sisinya ketika orang lain mencoba menekan.

Napas Laras perlahan menjadi tenang.

Di sisi lain, Arkan tetap berbaring telentang. Ia sadar setiap gerak kecilnya mungkin terdengar Laras. Karena itu ia menjaga jarak yang dipilih perempuan itu dan membiarkan sentuhan singkat tadi berakhir tanpa dikejar.

Hubungan mereka dimulai terlalu cepat untuk diberi nama selain pernikahan praktis. Namun, Arkan tidak lagi menganggap tahap berikutnya sebagai sesuatu yang harus ditentukan jadwal atau desakan keluarga. Laras sudah memindahkan sebagian hidupnya ke rumah ini. Sekarang, sedikit demi sedikit, ia memberi Arkan ruang di dalam hidup tersebut.

Ia bisa menunggu.

Tidak pasif, tidak pula memaksa. Cukup hadir setiap kali Laras menggeser batas dengan kemauannya sendiri.

"Selamat malam, Arkan."

"Selamat malam, Ras."

Pagi berikutnya, Laras terbangun oleh suara ritsleting. Arkan sedang menyiapkan flight bag di ujung ranjang. Ia memeriksa lisensi, kartu identitas kru, dokumen medis, EFB, charger, serta epaulet cadangan sebelum memasukkannya sesuai urutan.

Kotak cincin tetap berada di dalam laci nakas kiri, aman bersama sertifikatnya.

"Terbang ke mana?" tanya Laras dengan suara serak.

"Balikpapan. Ada dua sektor setelah itu kalau cuaca memungkinkan."

"Pulang malam?"

"Belum tentu. Cuaca lagi nggak jelas. Bisa delay atau menginap kalau batas waktu tugas tercapai."

Laras duduk dan merapikan rambut. Tidak ada bantal di tengah ranjang. Melihat ruang kosong itu pada pagi hari membuat keputusan semalam terasa nyata.

"Semoga lancar, Kapten Wibisana."

Arkan memasang jam tangan. "Semoga sifmu juga lancar, Mbak pengatur lalu lintas."

"Aku libur hari ini."

"Berarti jangan mengatur lalu lintas di rumah."

Laras melempar bantal kecil ke arahnya. Arkan menangkapnya dengan satu tangan, lalu meletakkannya kembali di sisi Laras, bukan di tengah.

Sebelum keluar, ia menatapnya sekali lagi.

"Cuaca lagi nggak jelas," katanya. "Mungkin malam ini aku nggak balik."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!