NovelToon NovelToon
Transmigrasi Sofia : Phantom Of The Opera

Transmigrasi Sofia : Phantom Of The Opera

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Cinta Istana/Kuno / Romansa Fantasi
Popularitas:935
Nilai: 5
Nama Author: Ricca Rosmalinda26

Sofia tidak pernah menyangka akan terbangun di dalam dunia novel yang ia kenal dan lebih buruknya lagi, ia kini menjadi Christine Daaé.

Mengetahui kisah tragis yang menantinya, Sofia bertekad mengubah takdir.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ricca Rosmalinda26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rahasia Bilik 5

Madame Giry berdiri di hadapan kami dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Tatapannya masih menyimpan sedikit kewaspadaan, seolah-olah ia sedang mempertimbangkan seberapa banyak rahasia yang pantas dibagikan kepada kami.

"Aku akan menceritakannya dari awal," katanya akhirnya.

"Sebagai pendamping para tamu VIP, tugasku bukan hanya memastikan para pelanggan mendapatkan pelayanan yang layak. Aku juga bertanggung jawab menjaga ketertiban serta reputasi gedung opera."

Ia berhenti sejenak, kemudian melanjutkan dengan nada yang lebih rendah.

"Beberapa tahun yang lalu, manajer sebelumnya tiba-tiba mengumumkan bahwa bilik lima tidak boleh lagi dijual kepada siapa pun."

Aku dan Raoul saling berpandangan.

"Dia tidak memberikan penjelasan yang masuk akal," lanjut Madame Giry. "Namun, dia menegaskan bahwa meskipun bilik itu tidak digunakan, aku tetap harus memastikan tempat tersebut selalu dalam keadaan baik."

"Jadi bilik itu tetap harus dibersihkan dan dirawat meskipun tidak pernah digunakan?" tanyaku.

"Benar."

Madame Giry mengangguk.

"Pada awalnya, aku tidak terlalu memikirkannya. Perintah tetaplah perintah."

Ia menarik napas perlahan.

"Namun, suatu malam setelah pertunjukan berakhir, aku masuk ke bilik lima untuk memastikan semuanya dalam keadaan rapi."

Madame Giry menatap kami.

"Dan di atas meja, aku menemukan sepasang kacamata opera."

"Kacamata opera?"

Aku spontan mengulanginya.

Kacamata opera merupakan perangkat optik kecil yang digunakan para penonton untuk melihat panggung dari kejauhan. Bentuknya lebih ringkas daripada teropong biasa dan memiliki pembesaran rendah. Pada abad kesembilan belas, benda semacam itu menjadi bagian dari gaya para penonton opera, terutama di kalangan bangsawan dan masyarakat kelas atas yang ingin menikmati pertunjukan dengan lebih jelas tanpa membawa teropong besar.

Aku mengerutkan kening.

"Tapi bukankah bilik itu tidak pernah dijual? Bahkan mungkin terkunci sepanjang pertunjukan?"

"Ya."

Madame Giry menatapku tajam.

"Itulah yang membuatnya aneh."

Aku menunggu penjelasan lebih lanjut.

"Tetapi aku bukan wanita muda yang terlalu suka mencampuri urusan orang lain sepertimu."

Aku langsung menundukkan kepala, "Maaf."

Raoul menahan senyum.

Madame Giry mengabaikannya.

"Aku tidak mencoba mencari tahu dari mana benda itu berasal. Aku hanya melakukan pekerjaanku."

Ia mengangkat dagunya.

"Aku mengambil kacamata tersebut dan menyimpannya dengan aman. Sebelum pertunjukan berikutnya dimulai, aku kembali meletakkannya di atas meja bilik lima."

Aku menahan napas, "Dan setelah pertunjukan?"

"Ketika pertunjukan berakhir, aku kembali ke sana."

Madame Giry terdiam sejenak.

"Kacamata itu sudah tidak ada, tapi disana ada surat."

Raoul langsung menyela.

"Biarkan aku menebak."

Madame Giry menatapnya.

"Surat itu pasti berkaitan dengan Phantom."

"Benar."

Madame Giry mengangguk.

"Di tempat kacamata tersebut sebelumnya berada, terdapat sepucuk surat."

"Surat dari Phantom?" tanyaku.

"Surat ucapan terima kasih."

Aku terdiam.

Madame Giry melanjutkan seolah-olah hal itu merupakan sesuatu yang sama sekali biasa.

"Dia berterima kasih kepadaku karena telah menjaga kacamata miliknya."

"Kacamata miliknya?" tanya Raoul.

"Ya."

Madame Giry kemudian tersenyum tipis.

"Dia bahkan meninggalkan sejumlah uang sebagai tip."

"Tip?"

Aku hampir tidak percaya.

"Jumlahnya cukup besar," jawab Madame Giry. "Jauh lebih besar daripada tip yang biasanya diberikan para bangsawan."

Raoul mengangkat alis, "Aku jadi merasa malu mendengarnya."

Nada suaranya terdengar ringan.

"Sepertinya kami para bangsawan harus belajar memberikan tip yang lebih baik."

Madame Giry menatapnya tajam.

Aku dapat merasakan bahwa pengalaman selama beberapa waktu terakhir telah membuat Raoul memiliki kesan yang kurang menyenangkan terhadap sebagian kaum bangsawan.

Madame Giry menghela napas.

"Phantom tidak sering memperlihatkan dirinya. Namun, setiap kali dia membutuhkan sesuatu, dia meninggalkan surat."

"Permintaan?"

"Ya."

"Seperti apa?"

"Biasanya sederhana."

Madame Giry mulai menghitung dengan jarinya.

"Dia mungkin meminta buklet program pertunjukan. Kadang-kadang sebotol anggur. Sesekali makanan ringan."

Aku mengerutkan kening, "Sesederhana itu?"

"Sebagian besar memang begitu."

Madame Giry tersenyum samar.

"Dan ketika suasana hatinya sedang baik, dia terkadang meninggalkan sekuntum mawar merah."

Mawar merah.

Jantungku berdegup sedikit lebih cepat.

Aku teringat tubuh Joseph yang ditemukan di bawah panggung.

Mawar merah yang tergeletak di sana.

Dan sosok misterius yang kulihat di gedung opera.

Apakah semuanya benar-benar berkaitan?

Raoul memecah keheningan.

"Phantom terdengar seperti seorang pria terhormat." Nada suaranya terdengar sedikit mengejek.

Madame Giry langsung menatapnya.

"Aku hanya mengatakan apa yang kuketahui."

"Aku tidak mengatakan Anda berbohong."

"Kau boleh mempercayainya atau tidak."

Madame Giry membenahi rok panjangnya.

"Aku sudah cukup lama bekerja di tempat ini untuk mengetahui apa yang kulihat."

Ia menatap kami sekali lagi. "Permisi. Aku masih memiliki pekerjaan yang harus diselesaikan."

Madame Giry berbalik dan pergi dengan langkah sedikit lebih cepat daripada sebelumnya.

Raoul membungkuk kecil sebagai salam.

Setelah sosoknya menghilang di ujung koridor, ia menoleh kepadaku.

"Bagaimana menurutmu, Christine?"

Aku mengerjapkan mata, "Aku?"

"Ya. Tentang Phantom."

Aku terdiam.

Raoul bersandar ringan pada dinding.

"Semua orang di gedung opera ini mengatakan bahwa Phantom berada di balik berbagai kejadian aneh. Tetapi setiap orang memiliki gambaran yang berbeda tentang dirinya."

"Berbeda?"

"Sebagian mengatakan dia seperti Malaikat Maut."

Raoul menghitung dengan jarinya.

"Sebagian lainnya mengatakan dia hanya sebuah tengkorak tanpa tubuh. Ada yang mengaku pernah melihat bayangan hitam. Ada pula yang bersumpah melihat sosok yang menyerupai manusia."

Ia tertawa kecil.

"Namun, cerita Madame Giry mungkin yang paling menarik."

Aku menatapnya.

"Menurutnya, Phantom adalah seorang pria terhormat yang menghormatinya."

Raoul menghela napas.

"Dan anehnya, aku tidak merasa dia berbohong."

Aku kembali terdiam.

"Bagaimana menurutmu, Christine? Apakah Phantom benar-benar berada di balik semua ini?"

Aku menundukkan kepala, "Mungkinkah Phantom memang benar-benar ada?"

Raoul menatapku.

"Kenapa kau bertanya begitu?"

"Karena terlalu banyak orang yang mengaku pernah berhadapan dengannya."

Aku menelan ludah, "Termasuk aku."

Wajah Raoul berubah serius.

"Tetapi tidak seorang pun benar-benar dapat membuktikan bahwa mereka pernah berinteraksi dengannya secara langsung."

"Bagaimana dengan Madame Giry?"

"Dia sendiri mengatakan bahwa dia tidak pernah melihat wajahnya."

Aku menghela napas.

"Lalu bagaimana kau menjelaskan semua kejadian aneh di tempat ini?"

Raoul tersenyum tipis, "Christine, aku pernah mengalami hal-hal yang jauh lebih aneh di laut."

"Seperti apa?"

"Suara-suara yang terdengar dari tengah lautan tanpa sumber yang jelas. Cahaya misterius di kejauhan. Kapal yang tiba-tiba menghilang dari pandangan. Bahkan kematian yang pada awalnya tidak dapat dijelaskan."

Aku menatapnya penuh perhatian.

"Dan?"

"Pada akhirnya, hampir semuanya memiliki penjelasan."

"Penjelasan?"

"Fenomena alam. Kesalahan manusia. Atau seseorang yang sengaja membuat kita percaya bahwa sesuatu yang mustahil sedang terjadi."

Raoul tersenyum.

"Semakin lama seseorang hidup di dunia, semakin dia menyadari bahwa manusia jauh lebih pandai menciptakan misteri daripada hantu."

Aku terkekeh kecil, "Aku tidak bisa membayangkan kehidupan seperti itu."

"Kenapa?"

"Karena terdengar begitu jauh dari kehidupanku."

Aku menatapnya, "Aku iri dengan keberanianmu."

Raoul tertawa pelan, "Jangan terlalu cepat iri."

"Aku serius."

"Aku tahu."

Senyumnya perlahan menghilang.

"Itulah sebabnya aku tidak percaya pada hantu."

Dia berdiri tegak.

"Beri aku sedikit waktu, Christine. Aku akan menemukan kebenarannya."

Entah mengapa, keyakinan dalam suaranya membuat sesuatu dalam diriku ikut berubah.

Untuk pertama kalinya sejak aku tiba di gedung opera ini, aku merasa bahwa mungkin aku tidak harus menghadapi semua misteri tersebut seorang diri.

Aku teringat pada Malaikat Musik.

Tentang perubahan sikapnya.

Tentang kegelapan yang katanya telah merusaknya.

Tentang semua hal yang tidak kumengerti.

Jika Phantom memang ada... mungkin aku juga perlu mengetahui siapa dia.

Aku menarik napas.

"Raoul."

"Ya?"

"Aku ingin ikut menyelidikinya."

Raoul tampak terkejut, "Kau?"

Aku mengangguk, "Aku memang bukan polisi. Aku juga bukan detektif."

Aku tersenyum kecil, "Dan jelas aku bukan penjelajah pemberani sepertimu."

Raoul tertawa.

"Tapi?"

"Tapi aku yakin aku bisa berguna."

Raoul menatapku beberapa saat. Kemudian senyum kecil muncul di wajahnya.

"Kau memang selalu seperti itu."

"Seperti apa?"

"Ulet."

Ia menggelengkan kepala, "Sejak kecil, kau selalu memiliki keberanian yang aneh."

Aku tertawa, "Mungkin itu pujian."

"Tentu saja."

Raoul kemudian berdeham dan berdiri lebih tegak.

Wajahnya tiba-tiba berubah serius.

"Kalau begitu, Nona Christine..."

Nada suaranya terdengar begitu resmi sehingga aku hampir tertawa.

"Kapten Raoul telah menerima permintaanmu untuk bergabung dalam ekspedisi."

Aku menahan senyum.

"Ekspedisi?"

"Benar."

Dia mengangkat dagunya dengan angkuh, seolah-olah sedang menjadi seorang kapten sungguhan.

"Kau sekarang adalah salah satu perwiraku."

Aku akhirnya tertawa, "Kita bahkan tidak berada di kapal."

"Itu tidak penting."

Raoul berusaha mempertahankan wajah seriusnya, "Kita akan menghadapi lautan misteri yang jauh lebih berbahaya."

Aku menatapnya geli, "Dan apa tugasku sebagai perwira?"

"Mematuhi perintah kapten."

"Benarkah?"

"Benar."

"Kalau begitu, Kapten Raoul..."

Aku berdiri tegak dan memberi hormat dengan gerakan yang sengaja dibuat berlebihan.

"Christine siap menjalankan seluruh perintahmu."

Wajah Raoul seketika memerah.

Aku tertawa melihat reaksinya.

Saat masih kecil, dia selalu memiliki kebiasaan yang sama. Setiap kali aku menggodanya, kedua pipinya akan memerah meskipun dia berusaha menyembunyikannya.

Untuk sesaat, gedung opera yang penuh rahasia itu seolah menghilang.

Aku kembali melihat pantai Perros-Guirec.

Matahari musim panas.

Suara ombak.

Ayah.

Dan seorang anak laki-laki berambut pirang yang selalu mengikutiku ke mana pun aku pergi.

Namun kenangan itu hanya bertahan sesaat.

Aku kembali menatap bilik lima.

Di balik pintunya tersimpan terlalu banyak pertanyaan.

Kacamata opera.

Surat Phantom.

Mawar merah.

Dan sosok yang mungkin selama ini mengawasi gedung opera dari balik bayang-bayang.

Raoul melirik ke arah bilik lima.

"Baiklah." Dia tersenyum penuh semangat.

"Kalau begitu, kita mulai dari sana."

Aku mengangguk, "Baik."

Kami berjalan berdampingan menuju bilik lima.

Tanpa kami sadari, dari suatu tempat yang jauh lebih gelap di dalam gedung opera, sepasang mata sedang mengawasi langkah kami.

Apakah Phantom juga sedang mengawasi kami?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!