Aluna Putri adalah mahasiswi yatim piatu yang menghabiskan waktunya bekerja keras, hingga suatu hari ia nyaris tumbang karena kelelahan di depan Kayvan Dipta Madhava, CEO kaku sekaligus om dari sahabatnya, Raline.
Pertemuan canggung itu menjadi awal dari skenario besar yang disusun oleh Baskara Madhava yaitu papa dari Kayvan dengan alasan kesehatan yang menurun, tuan Baskara mendesak Kayvan untuk segera menikahi gadis pilihannya yang tak lain adalah Aluna.
Terdesak masalah finansial yang mengancam pendidikannya, Aluna terpaksa menerima tawaran pernikahan kontrak dari Kayvan.
Meski terpaut usia dua belas tahun, benih cinta mulai tumbuh di sela-sela kesibukan kuliah Aluna dan jadwal padat Kayvan.
Pada akhirnya, Aluna dan Kayvan membuktikan bahwa cinta bukan tentang siapa yang lebih dulu memiliki, melainkan tentang siapa yang sanggup bertahan dan melindungi dalam diam.
Bagaimana Kelanjutannya??
Yukkk Gass Bacaaaa!!!!!
IG: LALA_SYALALA13
YT: NOVELALAAA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ancam Tuan Baskara
Udara sore yang dingin mulai menusuk kulitnya yang tipis, Aluna memeluk tasnya erat dan mencoba melindungi buku-buku perpustakaan di dalamnya agar tidak basah.
Saat itulah sebuah mobil berhenti tepat di depannya, kaca mobil itu turun perlahan dan menampakkan wajah Kayvan yang tampak sedikit lelah.
"Masuk." perintah Kayvan singkat.
Aluna menggeleng, dia tidak ingin merepotkan terus keluarga Madhava.
"Tidak om, saya sudah pesan ojek." tolak Aluna.
"Hujan deras begini ojek tidak akan datang dalam waktu cepat, masuk Aluna jangan membuatku turun dan menyeretmu ke dalam." nada suara Kayvan terdengar tidak ingin dibantah.
Dengan perasaan dongkol Aluna akhirnya masuk ke dalam mobil, ia duduk di kursi penumpang dengan pakaian yang sedikit basah.
Kayvan segera mengecilkan suhu AC dan mengambil sebuah handuk kecil dari kursi belakang dan melemparnya ke arah Aluna.
"Keringkan rambutmu, kau baru saja sembuh dari tipes dan jangan mengundang penyakit lagi." ucapnya sambil mulai menjalankan mobil.
Aluna mengusap rambutnya dengan handuk itu, wangi handuknya sama dengan wangi mobil ini yaitu wangi Kayvan.
"Om Kayvan... kenapa Om selalu ada di mana pun saya berada?" tanya Aluna akhirnya menyuarakan kecurigaannya.
Kayvan tetap fokus pada jalanan yang mulai tergenang air.
"Aku ada urusan di daerah sini." jawabnya singkat.
"Bohong." sahut Aluna berani.
"Daerah ini jauh dari kantor ataupun rumah om, om membuntuti saya?" tebak Aluna.
Kayvan diam sejenak, ia membelokkan setir dengan tenang.
"Aku hanya memastikan asistenku benar-benar membayar kontrakannya kemarin, dan kebetulan aku melihatmu berjalan sendirian." sahut Kayvan dengan tenang dan datar.
Aluna membuang muka ke arah jendela.
"Soal tawaran Om kemarin... saya harap Om tidak membahasnya lagi karena saya tidak akan pernah menerimanya." ucap Aluna.
"Kenapa?" tanya Kayvan datar.
"Karena harga dirimu? Atau karena kau berharap ada pangeran lain yang akan datang menolongmu tanpa syarat?" tebak Kayvan.
"Bukan begitu!" seru Aluna dan menoleh pada Kayvan dengan mata berkaca-kaca.
"Karena saya ingin menikah dengan orang yang mencintai saya om, bukan karena saya dijadikan alat untuk menenangkan orang tua. Saya mungkin miskin tapi perasaan saya tidak untuk dijual." seru Aluna.
Kayvan menghentikan mobilnya secara mendadak di pinggir jalan yang agak sepi.
Ia menoleh sepenuhnya pada Aluna, tatapannya kini tidak lagi dingin melainkan tampak... frustrasi.
"Aluna dengar." suara Kayvan kini lebih rendah dan terdengar lebih manusiawi.
"Duniaku tidak sesederhana duniamu, banyak wanita yang mendekatiku hanya karena nama Madhava dan aku tidak tahu bagaimana cara mencintai dengan cara yang puitis seperti di buku-buku karena yang aku tahu hanyalah tanggung jawab. Jika kau menikah denganku aku akan bertanggung jawab penuh atas hidupmu, apa itu tidak cukup?" seru Kayvan.
"Tanggung jawab tanpa hati itu hampa Om." bisik Aluna.
"Lalu bagaimana kalau aku katakan... bahwa aku tidak keberatan jika kita memulainya dengan hati?" Kayvan mendekatkan wajahnya sedikit pada Aluna.
"Aku tidak memintamu mencintaiku hari ini, aku hanya memintamu memberiku kesempatan untuk menjagamu. papaku menyukaimu karena dia melihatmu sebagai gadis yang tulus dan jujur saja aku mulai merasa bahwa papaku benar."
Aluna terpaku, ini adalah kalimat terpanjang yang pernah ia dengar dari Kayvan dan entah kenapa ada nada kejujuran yang terselip di sana.
"Kenapa harus saya Om?" tanya Aluna lirih.
"Karena kau tidak takut padaku, kau satu-satunya orang yang berani menentangku meskipun kau sedang berada di titik terendahmu." jawab Kayvan.
Tangannya bergerak ragu lalu perlahan mengusap sisa air hujan di pipi Aluna.
"Pikirkanlah sekali lagi, bukan sebagai kontrak bisnis tapi sebagai bentuk perlindungan."
Mobil itu kembali melaju dalam diam, sesampainya di depan kosan Aluna hujan sudah mulai mereda.
Aluna turun tanpa mengucapkan sepatah kata pun dan hanya memberikan sebuah anggukan kecil.
Kayvan menatap punggung Aluna yang masuk ke dalam gerbang kayu itu, ia menghela napas panjang, menyandarkan kepalanya ke setir mobil.
Ia merasa seperti seorang remaja yang baru pertama kali jatuh cinta yaitu bingung, kaku, dan takut salah langkah.
Malam itu di mansion Madhava, Kayvan mendapati ayahnya sedang duduk di ruang kerja sambil melihat-lihat album foto lama.
"Bagaimana progresnya Kay?" tanya Tuan Baskara tanpa menoleh.
"Dia keras kepala pa, persis seperti yang papa katakan." jawab Kayvan sambil duduk di hadapan ayahnya.
Opa Madhava tersenyum lalu menyodorkan sebuah foto lama, itu adalah foto almarhumah ibu Kayvan saat masih muda.
"Ibumu dulu juga begitu, papa butuh waktu dua tahun untuk meyakinkannya bahwa papa tulus bukan hanya ingin memamerkan kekayaan, Aluna butuh pembuktian Kay bukan sekadar kartu kredit atau kuitansi lunas." ucap Tuan Baskara.
Kayvan menatap foto ibunya, ia menyadari satu hal yaitu ia mulai benar-benar peduli pada Aluna.
Bukan hanya karena perintah ayahnya, tapi karena ada sesuatu dalam diri gadis itu yang membuatnya ingin menjadi tempat pulang.
"Besok adalah ulang tahun papa yang ke-70." ujar Tuan Baskara tiba-tiba.
"Papa tidak mau pesta mewah, papa cuma mau makan malam sederhana di rumah ini dan papa mau Aluna ada di sini, kau yang harus membujuknya Kay, jika dia datang itu artinya kau punya kesempatan." ujar Tuan Baskara.
Kayvan mengangguk pelan, ia tahu ini akan menjadi misi yang sulit.
Membujuk Aluna setelah tawaran pernikahan yang gagal bukanlah hal mudah, namun Kayvan Dipta Madhava bukan tipe orang yang mudah menyerah.
Di kamarnya yang sempit, Aluna menatap kotak bekal dari Tuan Baskara. Ia merasa sangat bersalah jika harus menolak kebaikan pria tua itu.
Namun ia juga takut bertemu dengan Kayvan, ia takut jika pertahanannya runtuh saat melihat mata tajam pria itu yang diam-diam menyimpan perhatian.
"Hanya makan malam." gumam Aluna pada dirinya sendiri.
"Hanya untuk menghargai Opa." gumamnya pelan.
Tanpa ia sadari, satu langkah kecil menuju mansion Madhava esok hari akan menjadi awal dari perubahan besar dalam hidupnya.
Takdir sedang tertawa di balik awan mendung, menyiapkan skenario yang jauh lebih romantis dari apa yang Aluna bayangkan.
...****************...
Pagi hari, di kediaman Madhava selalu dimulai dengan aroma kopi yang kuat dan suara burung yang berkicau di taman belakang.
Namun pagi ini ada suasana yang berbeda, Tuan Baskara Madhava duduk di kursi kebesarannya di ruang makan dan mengenakan kemeja batik sutra yang rapi.
Hari ini adalah ulang tahunnya yang ke-70, sebuah pencapaian besar bagi pria yang telah membangun dinasti bisnis Madhava dari nol.
"Kayvan." panggil Opa saat melihat putranya menuruni tangga dengan setelan jas hitamnya yang kaku.
"Selamat ulang tahun pa." ucap Kayvan sambil mendekat dan mencium tangan ayahnya, ia meletakkan sebuah kotak kecil berisi jam tangan langka di atas meja.
"Semoga papa selalu sehat." ucap Kayvan tulus.
Tuan Baskara hanya melirik kotak itu sekilas, lalu kembali menatap putranya dengan mata yang masih tajam.
"Terima kasih untuk jamnya, tapi kau tahu kan, jam ini tidak bisa memberiku cucu atau setidaknya menantu yang bisa menemaniku minum teh saat kau sibuk di kantor." seru Tuan Baskara.
Kayvan menghela napas, ia sudah menduga arah pembicaraan ini.
"Papa, kita sudah membahas ini jadi berhenti menggunakan kesehatan papa untuk menekanku." tutur Kayvan merasa jengah.
"Siapa yang menekan? Ini permintaan ulang tahun." kilah Tuan Baskara dengan wajah yang dibuat sesedih mungkin.
"Papa tidak mau pesta mewah, papa cuma mau makan malam sederhana nanti malam dan papa mau Aluna datang. Titik." seru Tuan Baskara mutlak.
Kayvan memijat pangkal hidungnya, dia pusing lama-lama dengan sikap papanya itu.
"Aluna sedang sibuk kuliah pa, lagipula kejadian kemarin di kantor..." ucapnya terpotong.
"Nah! Itu dia masalahnya!" potong Tuan Baskara sambil menunjuk Kayvan dengan sendoknya.
"Kau melamarnya seolah-olah kau sedang mengakuisisi perusahaan saingan, mana ada gadis yang mau? Aluna itu butuh kelembutan Kay, karena dia itu yatim piatu jadi dia sudah kenyang dengan kerasnya hidup, dia tidak butuh bos tambahan." seru Tuan Baskara kesal.
Kayvan terdiam, kata-kata ayahnya selalu tepat sasaran.
"Aku akan mencoba membujuknya." ucap Kayvan.
"Jangan mencoba, pastikan dia datang. Kalau tidak papa akan benar-benar mogok makan obat minggu ini." ancam Tuan Baskara dan kali ini dengan senyum jenaka yang menyebalkan di mata Kayvan.
.
.
Cerita Belum Selesai.....
ud gt cwek ny sok ni x... harga dr hrga dr....🙏🏻