Tujuh tahun Cynthia Dewi mencintai YB dengan seluruh hatinya. Namun di hari yang seharusnya menjadi bahagia bagi mereka berdua, YB justru melamar Karen — wanita yang selama ini selalu ia anggap adik. Cynthia melihat semuanya dengan mata kepalanya sendiri, dan hatinya hancur seketika. Di saat ia merasa sudah tak memiliki siapa pun, Aloy datang menolongnya. Ia bukan hanya teman lama, tetapi juga sosok yang menyimpan rahasia besar dari masa lalu Cynthia. Mampukah Cynthia membuktikan jati dirinya, membalaskan dendam, dan menemukan cinta sejatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefin Eka Ramana Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29: Kebenaran yang Disimpan dalam Hati
Dengan kepergian Karen ke kamar, suasana di ruang tengah menjadi hening sepenuhnya. Yb masih berdiri terpaku di tempatnya, seakan tertahan oleh beban pikiran yang begitu berat hingga tak mampu ia ucapkan sepatah kata pun. Pundaknya terlihat merosot, dan tatapannya kosong menatap lantai, seakan segala kekuatan yang ia miliki tadi malam telah luruh bersama kepergian istrinya. Sementara Cynthia, yang berdiri diam di sudut ruangan, perlahan menurunkan kepalanya — pura-pura berduka yang mendalam atas pertengkaran yang baru saja terjadi, padahal di dalam hatinya ia tahu, inilah momen yang telah ia tunggu begitu lama. Rencana yang disusun perlahan demi perlahan kini mulai menunjukkan jalannya, dan tidak ada langkah yang lebih tepat daripada saat ini.
Ia melangkah pelan, menatap sekeliling ruangan itu satu per satu — dinding yang dicat warna krem lembut, jendela besar yang membiarkan sisa cahaya sore masuk menyinari lantai kayu, lemari yang berdiri kokoh di sudut ruangan... setiap sudut tempat ini terasa begitu akrab, begitu dikenang, namun sekaligus terasa begitu jauh dan asing. Seolah-olah ia sedang berdiri di dalam mimpi yang pernah ia impikan selama bertahun-tahun, namun kini dihuni oleh orang-orang yang berbeda, dengan kebahagiaan yang bukan miliknya.
Dan di keheningan yang begitu menyentuh hati itulah, bayangan masa lalu tujuh tahun silam mulai muncul perlahan di benaknya, seakan hidup kembali di hadapan matanya sendiri.
Dulu, tujuh tahun mereka berjalan berdampingan — merencanakan segala hal, menabung sedikit demi sedikit dari penghasilan masing-masing, menahan diri agar bisa mengumpulkan cukup uang untuk masa depan yang mereka impikan bersama. Setiap rupiah yang dikumpulkan bukan hanya milik satu orang, melainkan hasil keringat dan pengorbanan berdua — ia yang bekerja tekun, Yb yang tak kenal lelah, semata-mata demi satu tujuan: memiliki tempat sendiri, tempat di mana mereka akan membangun rumah tangga yang hangat. Rumah inilah yang akhirnya dipilih Yb — dipilih dengan penuh kebanggaan, dibelikan dengan tabungan yang telah dikumpulkan bersama, lalu diserahkan kepadanya dengan senyum yang begitu tulus dan penuh janji: "Ini rumahmu, Cynthia. Rumah kita. Setelah kita menikah, kita akan tinggal di sini, membangun kehidupan kita berdua, menua bersama di tempat ini."
Saat itu, Cynthia merasa adalah wanita paling bahagia di seluruh dunia. Rumah ini dibeli atas namanya, direncanakan khusus untuknya, diimpikan bersama selama tujuh tahun penuh tanpa pernah terbayangkan akan berakhir di tangan orang lain. Namun takdir berkata lain. Yb yang dulu begitu setia, yang dulu berjanji akan menjaganya seumur hidup, tiba-tiba tergoda — tergoda oleh kehadiran Karen, oleh kata-kata manis yang datang di saat kerentanan, oleh perhatian yang seakan mengisi ruang kosong yang tak pernah benar-benar hilang. Yb meninggalkan semua rencana itu, meninggalkan tujuh tahun kenangan yang terjalin begitu erat, dan memilih Karen sebagai pendamping hidupnya. Rumah yang seharusnya menjadi tempat kebahagiaannya kini ditempati oleh pria yang dicintainya bersama wanita yang merenggutnya. Dan Cynthia... Cynthia baru mengetahui kebenaran ini saat ia sendiri diundang untuk tinggal di sini — sebagai tamu, sebagai kerabat yang menolong, padahal ini adalah rumah yang sejak awal ditujukan khusus untuknya.
Malam semakin larut, dan suara pintu kamar yang tertutup rapat menunjukkan Karen telah beristirahat, atau setidaknya berpura-pura tidur. Cynthia melangkah mendekati Yb, langkahnya begitu pelan seakan takut memecahkan keheningan yang menyelimuti rumah itu. Ia menarik kursi, duduk berhadapan dengan pria yang selama ini dicintainya, dan menatapnya lekat-lekat di bawah cahaya lampu yang lembut namun menampakkan segala kesedihan yang tak terucap di wajah mereka berdua.
"Sayangku..." panggilnya pelan, suaranya begitu lembut namun penuh ketegasan, dipastikan hanya terdengar oleh mereka berdua. "Jujurlah padaku. Rumah ini... sertifikatnya atas nama siapa sekarang?"
Yb terdiam sejenak, menundukkan kepalanya semakin dalam, hingga dagunya hampir menyentuh dadanya. Napasnya terasa berat, dan ia menggigit bibir bawahnya seakan menahan rasa sesak yang mendadak menyerang dada. "Atas nama Karen," jawabnya akhirnya, suaranya begitu pelan dan penuh penyesalan yang tak mampu ia sembunyikan lagi.
Jawaban itu seolah menegaskan segala dugaan yang selama ini mengganjal tajam di hatinya. Cynthia mengangguk pelan, menelan ludah yang terasa pahit, namun ia tetap menatap lurus ke mata pria itu. "Bagaimana bisa? Rumah ini dibeli untukku, atas namaku, dari tabungan yang kita kumpulkan berdua selama bertahun-tahun. Bagaimana bisa namanya berubah menjadi nama Karen? Katakan padaku, Sayangku..."
Yb menghela napas panjang, bahunya terlihat bergetar sebelum akhirnya ia menceritakan semuanya — kejujuran yang selama ini ia simpan sendirian di dalam hati, dirahasiakan dari siapa pun, diucapkan dengan suara yang begitu pelan seakan takut didengar oleh dinding rumah itu sendiri.
"Saat aku mulai tergoda dan memutuskan menikah dengannya, Karen meminta satu hal," ucap Yb perlahan, matanya menerawang kembali ke masa lalu yang kelam dan penuh penyesalan. "Ia berkata, jika aku ingin menikah dengannya, rumah ini harus atas nama kami berdua — atau atas namanya saja, agar keluarganya yakin bahwa aku serius. Ia bilang... agar tidak ada keraguan di antara kami, agar aku tak bisa pergi begitu saja. Aku yang saat itu sedang bingung, terbawa perasaan, merasa bersalah padanya, akhirnya menyetujui permintaannya tanpa berpikir panjang. Aku memindahkan nama sertifikat itu ke namanya. Tanpa memberitahumu. Tanpa meminta izin padamu. Aku salah, Cynthia. Aku tahu itu, dan penyesalan itu menghantuiku setiap hari. Tapi aku tak berani mengakuinya, takut kehancuran yang akan terjadi jika semuanya terungkap."
Cynthia mendengarkan semuanya dengan tenang, meski hatinya terasa perih tertusuk ribuan jarum. Ia tidak menangis, tidak mengamuk, tidak menuduh. Ia hanya menyadari satu hal yang paling penting: selama ini ia tidak mengaku-ngaku atas apa yang bukan miliknya. Ia hanya menuntut kembali apa yang memang sejak awal diperuntukkan baginya, apa yang telah direncanakan dan dijanjikan kepadanya.
"Jadi selama ini..." Cynthia berbicara pelan namun mantap, menatap pria itu dengan tatapan yang tak bisa dibantah. "Aku tidak bermimpi, bukan? Rumah ini memang milikku dari awal. Kau membelikannya untukku. Dan kemudian kau menyerahkannya begitu saja kepada Karen, hanya karena ia memintanya?"
Yb mengangguk pelan, tak berani lagi membohongi wanita yang telah ia sakiti begitu dalam. "Ya. Itulah kenyataannya. Aku salah. Aku telah melupakan hakmu demi ketakutan dan kebingunganku sendiri."
"Kalau begitu..." Cynthia menatapnya lekat-lekat, tegas namun lembut. "Kembalikan padaku. Secara perlahan, diam-diam, tanpa Karen mengetahuinya dulu. Jangan tiba-tiba, jangan sampai ia curiga ada hal lain di antara kita. Katakan saja ada urusan administrasi, perbaikan berkas yang tertinggal, atau alasan apa pun yang masuk akal. Lakukan pelan-pelan, sehingga saat sertifikat itu kembali ke tanganku, ia tidak langsung menyimpulkan hal-hal yang tidak perlu. Aku tidak ingin menambah keretakan rumah tanggamu lebih dari yang sudah terjadi. Aku hanya ingin apa yang hak milikku kembali — dengan cara yang tenang, tanpa keributan baru."
Yb menatapnya, terkesan dengan kebijaksanaan yang ditunjukkan wanita ini di tengah segala rasa sakit yang ia simpan. Ia mengerti benar — jika tiba-tiba sertifikat dipindahkan kembali ke nama Cynthia, Karen pasti akan meledak, menuduh mereka berselingkuh, dan semua akan hancur sebelum sempat dijelaskan. Cara yang tenang, perlahan, dan tersembunyi adalah satu-satunya jalan yang aman.
"Baik," jawab Yb pelan namun tegas, keputusannya telah bulat. "Aku akan mengurusnya. Pelan-pelan. Aku akan mencari alasan yang masuk akal, mengurus berkasnya sedikit demi sedikit, sehingga tidak ada yang curiga. Rumah ini akan kembali atas namamu, tanpa Karen mengetahuinya sampai urusan itu selesai sepenuhnya."
Cynthia mengangguk, rasa lega mulai menyelimuti hatinya yang selama ini terasa sesak. "Terima kasih. Lakukan dengan hati-hati. Jangan sampai ia menduga ada sesuatu yang lain di antara kita. Biarkan seolah-olah ini hanya urusan administrasi yang harus diperbaiki. Itu saja."
Mereka berdua pun berpisah untuk beristirahat, masing-masing menyimpan rencana itu rapat-rapat di dalam hati. Yb mulai memikirkan cara terbaik untuk memulai pengurusan itu tanpa menimbulkan kecurigaan, sementara Cynthia... ia berjalan perlahan menuju kamarnya, menunggu dengan sabar, tahu bahwa setiap langkah ke depan harus dilakukan dengan sangat hati-hati.
Namun di ruang yang lain, di balik pintu kamar yang tertutup rapat, Karen terjaga. Ia tidak benar-benar tidur. Suara percakapan pelan mereka, meski tidak terdengar jelas, cukup untuk menumbuhkan keraguan baru yang merayap perlahan di hatinya. Keraguan yang perlahan tumbuh, menumbuhkan pertanyaan yang tak bisa ia hilangkan: mengapa mereka berdua berbicara begitu lama sendirian? Dan mengapa nada suara mereka terdengar begitu serius, begitu dekat, begitu penuh rahasia?