Bagaimana bisa seorang agen rahasia berdarah dingin yang ditakuti dunia mafia mati mengenaskan di rumahnya sendiri... hanya karena tersedak air putih?
Takdir bercanda saat jiwanya terlempar ke tubuh seorang gadis kaya yang terkenal pendiam, lambat, dan selalu ditindas. Lebih parah lagi, gadis itu terikat pernikahan dingin dengan seorang CEO kejam yang diam-diam memimpin sindikat mafia paling berpengaruh.seorang CEO kejam yang diam-diam memimpin sindikat mafia paling berpeSang CEO berdarah dingin dibuat pusing setengah mati melihat istrinya yang dulu pemalu kini berubah menjadi wanita impulsif yang dengan santainya melumpuhkan puluhan penjahat, walau uniknya masih sering tersandung kaki sendiri saat berjalan.
Di tengah kecamuk perang antar-mafia, intrik bisnis triliunan rupiah, dan tingkah konyol yang tak terduga, mampukah sang Raja Mafia menundukkan jiwa liar di tubuh istrinya, atau justru dialah yang akan berlutut di hadapan sang istri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RAYAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8
Pagi hari di mansion Vane diwarnai oleh suasana yang cukup canggung. Di ruang makan yang megah, Aura duduk berseberangan dengan Adrian. Di samping tempat duduk Aura, berdiri dua orang pelayan wanita berseragam rapi yang memegang baki berisi gelas berisi air hangat lengkap dengan sedotan ramah lingkungan.
Aura menatap dua pelayan itu dengan sudut mata yang berkedut geli sekaligus kesal.
"Harus banget ya pakai sedotan begini?" omel Aura secepat senapan mesin sambil melirik Adrian yang sedang memotong *croissant* di piringnya dengan sangat tenang. "Aku ini dewasa, tahu! Kemarin itu cuma kecelakaan kecil! Rasanya seperti diisolasi di ruang perawatan anak-anak!"
Adrian bahkan tidak mendongak dari piringnya, tetapi sudut bibirnya terangkat amat tipis. "Gunakan sedotannya, Aura. Itu demi keselamatan nyawamu dan kedamaian batinku."
"Kedamaian batin matamu!" desis Aura pelan, namun ia tetap menyedot air hangat itu dengan gusar.
Meskipun kesal dengan perlakuan "pengawasan ketat" dari Adrian, pikiran Aura sebenarnya sedang berkelana ke tempat lain. Pagi ini, pasar saham Asia baru saja dibuka, dan strategi investasi anonim yang ia tancapkan kemarin sore mulai menunjukkan hasilnya.
Menggunakan nama alias perusahaan cangkang *V-Core Investments*, Aura telah menyuntikkan modal lima puluh jutanya ke tiga perusahaan startup teknologi yang reputasinya sedang jatuh akibat rumor palsu. Dengan analisis agen elitnya, Aura tahu bahwa rumor tersebut adalah buatan kompetitor, dan fundamental perusahaan itu sebenarnya sangat kokoh.
*Ting!*
Ponsel rahasia kecil yang disembunyikan Aura di dalam lipatan gaunnya bergetar pelan. Aura melirik layarnya secara sembunyi-sembunyi saat Adrian sedang menerima telepon dari sekretarisnya.
Matanya membelalak puas. Tiga saham yang ia beli kemarin melonjak drastis sebesar 400% hanya dalam kurun waktu beberapa jam setelah kebenaran terungkap! Nilai investasinya yang tadinya lima puluh juta kini telah membengkak menjadi lebih dari empat ratus juta rupiah!
*Bagus,* batin Aura bersorak riang. *Dalam dua minggu, aku bisa membeli aset properti sendiri tanpa perlu bergantung pada sepeser pun uang keluarga Valeria atau Vane Group.*
"Ada yang lucu di piringmu?" suara berat Adrian memecah konsentrasi Aura.
Aura buru-buru memasukkan ponselnya kembali ke saku gaunnya dan mengangkat wajah dengan raut polos yang dibuat-buat. "Tidak ada. Cuma merasa makanan hari ini lumayan enak."
Adrian menyipitkan matanya, pandangannya yang tajam bak elang seperti bisa menembus dinding pertahanan Aura. "Sekadar informasi, tim perbankanku baru saja melaporkan adanya pergerakan dana aneh di pasar saham pagi ini. Ada sebuah akun anonim bernama *V-Core* yang secara jenius memborong saham runtuh dan mencetak untung ratusan persen dalam semalam."
Aura hampir tersedak ludahnya sendiri, tetapi ia dengan cepat menguasai ekspresi wajahnya. "Oh ya? Bagus dong, berarti pialangnya pintar."
"Sangat pintar," balas Adrian, menopang dagunya dengan tangan dan menatap Aura lurus. "Bahkan analisisnya sangat mirip dengan gaya bicaramu di jamuan bisnis kemarin. Serba cepat, agresif, dan tanpa ampun."
"Banyak orang pintar di dunia ini, Tuan CEO," kilah Aura secepat kilat tanpa berkedip. "Jangan samakan aku dengan peretas saham! Aku di sini kan cuma istri penurut yang sibuk disuapi air minum pakai sedotan!"
Adrian mendengus kekeh pelan. Ia tidak menekan Aura lebih jauh, tetapi diam-diam menyimpulkan satu hal: wanita di depannya ini memiliki kemampuan finansial yang bisa mengguncang bursa saham jika dibiarkan bebas.
Siang harinya, Aura memutuskan untuk keluar dari mansion dengan alasan berbelanja kebutuhan pribadi—tentu saja di bawah pengawalan ketat dua mobil pengawal Vane Group yang mengekor di belakangnya.
Aura melangkah memasuki sebuah kafe eksklusif di pusat kota untuk bertemu dengan seorang pialang saham independen yang ia sewa secara anonim. Menggunakan topi lebar dan kacamata hitam, Aura memamerkan aura seorang wanita karir yang dingin dan tak tersentuh.
"Nona V," panggil sang pialang dengan penuh rasa hormat saat Aura duduk di sudut ruangan yang sepi. "Transaksi pagi ini luar biasa! Keuntungan Anda sudah ditransfer ke rekening tertutup di Swiss sesuai permintaan Anda."
"Bagus," jawab Aura secepat senapan mesin. "Selanjutnya, gunakan separuh dari keuntungan itu untuk membeli saham minoritas di perusahaan manufaktur milik keluarga Valeria."
Pialang itu terkejut. "Keluarga Valeria? Tapi Nona, perusahaan manufaktur mereka sedang berada di ambang kebangkrutan karena diputus kontraknya oleh Vane Group!"
Aura tersenyum dingin di balik kacamata hitamnya. "Justru karena itu harganya murah. Beli secara bertahap lewat pasar sekunder. Begitu aku memegang 20% saham mereka, aku akan memegang leher Hermawan Valeria di tanganku sendiri."
Aura bermaksud menghancurkan keluarga beracun itu dari dalam menggunakan uang yang ia hasilkan sendiri—bukan dengan belas kasihan Adrian.
Setelah menyelesaikan transaksi bisnis rahasianya selama lima belas menit, Aura berdiri dan hendak meninggalkan kafe.
Namun, tepat saat ia melangkah keluar dari pintu kaca kafe, sifat ceroboh jiwanya yang mendadak muncul ketika ia sedang merasa puas kembali berulah!
Tali sepatunya yang agak longgar terinjak oleh kakinya sendiri!
"Aah, sialan—!"
Aura hilang keseimbangan total dan tubuhnya meluncur ke depan menuju trotoar yang keras!
*Greb!*
Bukan trotoar dingin yang menyambut tubuhnya, melainkan sebuah dada bidang berlapis kain jas mahal beraroma kayu cendana yang sangat familiar. Lengan kokoh yang penuh tenaga menangkap pinggang Aura dengan presisi sempurna, menariknya ke dalam dekapan hangat.
Aura mendongak kaget. Kacamata hitamnya meluncur turun ke ujung hidung, memperlihatkan mata bulatnya yang berkedip-kedip konyol.
Adrian Vane berdiri di sana, menatapnya dengan pandangan antara geli dan heran. Di belakang Adrian, belasan pengawal bersetelan hitam berbaris rapi, memblokir area trotoar tersebut dari pandangan publik.
"Katanya mau belanja baju?" suara Adrian terdengar rendah dan bergetar di dekat telinga Aura. "Tapi kenapa aku malah menemukan istriku sedang melakukan pertemuan rahasia dengan pialang saham di kafe sepi... lalu diakhiri dengan aksi atraksi jatuh di depan umum?"
Aura merona hebat hingga ke lehernya. Ia buru-buru menegakkan tubuhnya dan mendorong dada Adrian dengan cepat, mencoba menyelamatkan harga dirinya yang retak untuk kesekian kalinya.
"I-itu tali sepatunya yang tidak kooperatif!" elak Aura secepat kilat, bicaranya yang serba cepat kembali keluar seperti peluru. "Lagipula kamu ngapain mengikutiku sampai ke sini?! Kamu ini CEO atau pengawal bayaran sih?! Tidak ada pekerjaan lain apa di kantor?!"
"Pekerjaan terpentingku saat ini adalah memastikan istriku tidak menjual kota ini secara diam-diam," balas Adrian santai sambil merapikan kerah jasnya. Pria itu lalu melangkah mendekat, mengulurkan tangannya dan secara alami menggenggam jemari Aura dengan erat—mengunci jari-jemari mereka bersama.
Genggaman tangan Adrian terasa begitu hangat dan protektif, membuat dada Aura berdesir aneh yang tak mampu dianalisis oleh logika agen rahasianya.
"Lepaskan, nanti dilihat orang!" bisik Aura ragu, mencoba menarik tangannya.
"Biarkan mereka melihat," tegas Adrian tanpa melepaskan genggamannya sedikit pun, menatap Aura dengan pandangan posesif yang begitu pekat. "Kamu boleh bermain-main dengan pasar saham atau menghancurkan keluarga Valeria sesukamu, Aura. Tapi ingat satu hal... kamu melakukan semuanya di bawah naungan namaku."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
TBC ❤️🥰😘