NovelToon NovelToon
Cincin Palsu Sang Ratu Mafia

Cincin Palsu Sang Ratu Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Roman-Angst Mafia / Action / Nikah Kontrak
Popularitas:730
Nilai: 5
Nama Author: Andri Komara

Ia hanya penjual sate.
dan Dia adalah Ratu Mafia
Sebuah cincin palsu menyatukan dua dunia yang seharusnya tak pernah bertemu.
Tapi pernikahan kontrak itu menyimpan rahasia yang bisa membuat mereka saling menghancurkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andri Komara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

# BAB 23: Pasal Satu

Tidak ada yang menembak.

Itu yang paling menakutkan. Belasan laras terangkat ke arah Alessia, dan tidak ada satu pun jari yang menarik pelatuk. Mereka menunggu. Seperti anjing yang sudah dilatih menunggu satu kata.

"Kamu mengaku?" Suara Alessia keluar dari tenggorokan yang kering. "Di gang ini? Di depan mereka?"

"Aku mengaku di depan satu-satunya orang yang perlu mendengarnya." Carla tidak melihat Alessia. Ia melihat Bima. "Dan sekarang dia sudah mendengar."

Bima tidak mengerti kenapa tatapan perempuan tua itu jatuh padanya, tapi ia merasakan beratnya di dada.

"Kenapa Nenek mau bilang itu?" tanya Alessia.

"Karena dalam sepuluh menit, Giovanni akan masuk ke gang ini dengan polisi pelabuhan. Dia akan menangkapmu atas kematian Dario." Carla mengetukkan tongkat sekali. "Dario ditemukan mati di gudang pagi tadi, Alessia. Tembakan dari pistolmu."

"Pistolku ada di..."

"Di laci kamarmu. Dan sekarang tidak ada."

Rico bergerak. Tiga laras langsung berpindah ke dadanya, dan ia berhenti dengan tangan setengah terangkat.

Alessia memejamkan mata sedetik. Bima melihatnya menyusun semuanya: Dario, pistol, polisi, Om Gio yang tadi sarapan sambil tersenyum. Sebuah jebakan yang sudah dipasang jauh sebelum buburnya dingin.

"Apa yang Nenek mau?"

"Pasal satu," kata Carla. "Hukum keluarga Vieri berlaku untuk anggota keluarga. Polisi tidak bisa menyentuh istri seorang pemilik sah Gudang Empat, karena gudang itu masih di bawah perjanjian pelabuhan tua. Siapa pun yang berada di bawah namanya, dilindungi."

Hening yang lama.

"Pemilik sahnya Bima," kata Alessia pelan.

"Ya."

"Nenek ingin..."

"Aku ingin kalian menikah." Carla mengucapkannya seperti memesan teh. "Hari ini. Sebelum Giovanni sampai."

Bima tertawa. Pendek, tanpa humor, hampir seperti batuk. "Bu, saya baru kenal dia dua hari. Dia nodongkan pistol ke orang di depan saya tadi. Dan Ibu mau..."

"Aku tidak bertanya kamu setuju atau tidak, Nak." Carla menatapnya lurus. "Aku memberi tahu satu-satunya cara agar ibumu, adikmu, dan cucuku masih hidup sampai Maghrib."

Wartini yang masih terduduk di lantai menutup mulutnya. Dimas muncul di ambang kamar, wajahnya basah, dan menatap kakaknya dengan mata yang meminta Bima menolak.

Bima menoleh ke Alessia.

Perempuan itu tidak menatapnya. Rahangnya mengeras, pandangannya ke tanah. Ia tampak seperti orang yang sedang diminta menyerahkan sesuatu yang tidak pernah ia sadari ia miliki.

"Kontrak," katanya akhirnya, datar. "Satu tahun. Tidak ada yang nyata."

"Satu tahun," kata Bima.

"Kamu tidak boleh bertanya soal masa laluku."

"Dan Mbak nggak boleh nodong siapa pun di depan adik saya."

"Aku tidak bisa janji itu."

"Coba."

Alessia mengangkat mata. Sesuatu hampir muncul di wajahnya, kesal atau geli, Bima tidak bisa membedakan, lalu ia menahannya.

"Dan tidak ada cinta," tambahnya, lebih pada dirinya sendiri.

"Tentu saja nggak," kata Bima, terlalu cepat.

Keduanya sama-sama memalingkan wajah.

---

Pernikahannya berlangsung di ruang tamu Pak Darto, empat belas menit setelah itu.

Seorang penghulu yang dibawa pria berjas membacakan kalimat dengan suara gemetar. Pak Darto berdiri sebagai saksi dengan perban di wajah dan air mata yang tidak ia seka. Dimas diam, dan itu lebih menyakitkan dari seribu protes. Wartini duduk di sudut, dua tangan menggenggam selendang, bibirnya bergerak tanpa suara.

Bima mengucapkan ijab kabul sekali tanpa tersendat. Ia tidak tahu apa yang lebih membuatnya takut: bahwa ia lancar, atau bahwa suaranya terdengar yakin.

Alessia menandatangani dengan tangan stabil. Tapi ketika pena berpindah ke tangan Bima, ujung jarinya menyentuh jarinya, sepersekian detik, dan ia menarik tangannya begitu cepat sampai pena hampir jatuh.

Cincin disiapkan Carla. Dua lingkaran perak tipis, sederhana, sama seperti cincin yang tadi diletakkan di meja rumah putih.

"Ini bukan cincin yang sebenarnya," bisik Alessia, saat memasangkannya di jari Bima. "Dibuat tadi pagi. Imitasi."

"Cincin palsu," kata Bima.

"Ya."

"Buat apa?"

"Supaya tidak ada yang tahu yang asli ada di sakumu."

Ia memasang cincin itu dengan hati-hati, lebih hati-hati dari yang diperlukan. Jarinya dingin. Bima menatap puncak kepalanya, helai rambut yang lepas dari ikatan, dan ia baru sadar ia menahan napas.

Ia mengambil cincin yang satunya. Tangan Alessia terulur, dan Bima melihat jari itu bergetar, sangat halus.

"Mbak takut?"

"Aku tidak takut."

"Tangan Mbak gemetar."

"Itu dingin."

"Ruangan ini panas, Mbak."

Alessia menarik napas lewat hidung, lama. "Kalau kamu mengatakan hal itu sekali lagi, kontrak ini batal."

Bima memasang cincin itu di jarinya tanpa bicara. Tapi ia menahan jari itu setengah detik lebih lama dari perlu, dan tidak ada yang menegurnya.

"Sah," kata penghulu.

Di luar, mesin mobil berhenti satu per satu. Polisi pelabuhan sudah tiba.

---

Giovanni Morelli turun dari mobil patroli dengan wajah paling sedih yang pernah Bima lihat. Dua polisi berseragam mengapitnya. Di belakang mereka, sebuah kendaraan hitam tanpa tanda.

"Nona Alessia Vieri," katanya, penuh duka. "Aku mohon maafkan aku. Ini tugasku sebagai wali keluarga. Kamu dicurigai atas pembunuhan sepupumu sendiri."

Carla melangkah maju dengan tongkatnya. "Kamu terlambat, Giovanni."

"Maaf?"

"Dia sudah menikah. Atas nama Gudang Empat." Carla menyerahkan selembar kertas bertanda tangan basah. "Pasal satu. Kamu pasti hafal."

Om Gio membaca kertas itu. Senyum di wajahnya tidak hilang. Tapi jari-jarinya yang memegang tepinya memutih, hanya sedikit, hanya satu detik, dan Bima melihatnya.

Lalu ia tertawa pelan dan menyerahkan kertas itu kembali.

"Cerdas," katanya. "Kalian semua cerdas. Menikahkan dia dengan orang yang bahkan tidak tahu apa yang sedang ia nikahi."

Ia menoleh pada Bima. Matanya hangat. Terlalu hangat.

"Selamat, Nak. Kamu sudah resmi menjadi bagian dari keluarga ini. Sekarang kamu berhak membaca halaman terakhir buku ayahmu."

Bima membeku. "Buku itu ada pada Om."

"Ada." Om Gio mengeluarkan sesuatu dari balik jasnya, dan Bima mengenali kain batik yang pudar itu. "Dan aku akan memberikannya padamu. Dengan satu syarat."

"Apa?"

"Malam ini, kamu tidur di mansion Vieri. Bersama istrimu."

Alessia melangkah maju setengah langkah. "Tidak."

"Aku tidak bicara denganmu, Nona." Suara Om Gio tetap lembut. "Aku bicara dengan suaminya."

Bima menatap kain batik di tangan Om Gio. Halaman belakang. Tinta biru. Pesan terakhir ayahnya.

"Kenapa malam ini?" tanyanya.

Om Gio tersenyum, dan untuk pertama kalinya Bima melihat apa yang ada di baliknya. Bukan kebaikan. Bukan juga kejahatan. Sesuatu yang lebih dingin: kesabaran.

"Karena ada satu kamar di mansion itu," katanya, "yang sudah dua belas tahun menunggu seseorang bernama Ardhana untuk membukanya."

Ia menyerahkan kain batik itu ke tangan Bima. Beratnya tidak sesuai dengan buku resep. Terlalu ringan. Bima membukanya cepat.

Di dalamnya hanya ada satu halaman yang disobek. Tinta biru. Tulisan ayahnya.

*Kalau kamu baca ini di rumah Vieri, jangan percaya siapa pun yang menawarkan tidur nyenyak. Dan jangan pernah menjawab kalau ada yang memanggil namamu dari kamar di ujung lorong. Itu bukan aku.*

Bima mengangkat wajah.

Di belakang Om Gio, jauh di ujung gang, di dalam mobil hitam tanpa tanda yang sejak tadi tidak ada yang turun darinya, kaca belakang perlahan diturunkan sejengkal. Seseorang di dalam mengangkat tangan dan menyentuh kaca dengan satu jari yang memakai cincin perak.

Bukan cincin Carla. Cincin dengan huruf A.

Dan wajah di balik kaca itu, setengah tertutup bayangan, mengenakan kacamata berlensa bening dan jaket kulit tua, tersenyum tipis ke arah Bima.

Wartini menjerit di belakangnya, satu kali, panjang, memanggil sebuah nama yang sudah dua belas tahun ia kubur.

"HADI!"

1
tuti raniati
oalah nenek plenger rupanya Thor 🤭
EVandri Beloved❤❤: iya 🤣
total 1 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
Mungin maksudnya tikus negara kali ya...😂😂
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
terus nama yang cocok buatnya siapa kira² menurut kamu Bima... apakah Surti.. Siti... satu.. 😂😂
EVandri Beloved❤❤: atau siapa???
total 1 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
itu sepertinya yang disimpan di belakang pinggangnya pasti cuman pistol yang keluar gelembung kan.. 😂😂
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️: dan siapa dia 😂😂😂😂
total 2 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
mau kaget tapi malah jadi pengen ketawa... kamu jawabnya watados sekali mbak... 😂😂😂
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️: bukan.. yang sama mah mangtados.. baru adik kaka mereka 😂😂
total 2 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
duh pasti malu banget deh 😅😅😅
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️: 🤭🤭🤭🤭🤭
total 2 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
baru tahu. ternyata mobil bisa terpeleset.. aku kir hanya manusia saja.... kak authornya bisa ae.. 😂😂😂
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️: dan hanya kak author yang bisa seperti itu 😂😂
total 2 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
jawaban yang pintar😂😂 ditanya pucat karna hanya tersorot lampu jalan...
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️: siapa tuh...
total 2 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
waahh kamu sudah ada di DPO loh Bima.. bahaya tuh..
tuti raniati
yaaah..udah makin penasaran kok nanggung Thor 🤭 tapi kadang ada lucunya buat senyum² sendiri
EVandri Beloved❤❤: tunggu up nya yaaa
total 1 replies
tuti raniati
Ceritanya bagus Thor, dari awal baca udah buat penasaran. Semangat berkarya Thor 👍🏻
EVandri Beloved❤❤: siap kak
total 1 replies
tuti raniati
Lanjut Thor
EVandri Beloved❤❤: in syaa allah Kak.. ditunggu lanjut an nya
total 2 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
ah tegangan tinggi ternyata...
EVandri Beloved❤❤: kek listrik ya 🤣
total 1 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
deuh malah ikutan tegang ah 😱😱
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️: siap 🤭🤭
total 2 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
kok dia bisa tau sampai se detail itu ya? gimana cara nya.. apakah dia pasang cctv di warung itu.?? 🤔🤔
EVandri Beloved❤❤: mungkin seperti otu🤭
total 1 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
seru teka tekinya mulai keluar tuh...
EVandri Beloved❤❤: 💪💪💪💪💪💪💪💪
total 1 replies
❤️❤️ Vandri Beloved ❤️❤️
wah siapa tuh... menarik kak.. baru bab 1 aja udah bikin penasaran... 👍🏼👍🏼☺️☺️
Ummi Adzkia
mampir Thor.... 👍
EVandri Beloved❤❤: silakan
total 1 replies
tuti raniati
Baru mulai baca udah penasaran Thor
EVandri Beloved❤❤: simak kelanjutan nya ya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!