Kehidupan Bryan Lionel Woodrow (30) yang penuh misteri. Pemuda tampan menawan memiliki sejuta pesona dan misteri. Bahkan di setiap langkah pemuda ini selalu menebar senyum tipis menawan, tetapi palsu.
Bryan sendiri adalah seorang Komisaris di Woodrow Corporations sekaligus Dosen baik hati serta jadi idola kaum hawa. Dia adalah sosok sempurna bagi semua orang, tetapi siapa tahu kalau dirinya adalah psychopath sejati yang menakutkan.
Angelica Sonja Cornelius (20) mahasiswa populer, primadona kampus. Gadis baik hati, polos dan ramah. Dia juga memiliki segudang prestasi membuatnya menjadi idol para Mahasiswa.
Siapa sangka Angel sangat mengidolakan sang Dosen (Bryan), hingga suatu hari mengetahui rahasia sang Dosen. Angelica tidak pernah tahu kalau sebenarnya Dosen favoritnya adalah seorang psychopath.
Mampukah Bryan melabuhkan hati serta menjadikan Mahasiswinya sebagai tambatan hati?
Rahasia kelam membuat Bryan menjadi iblis berkedok malaikat. Akankah Angel bisa menerima Bryan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rose_Crystal 030199, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PIL - Wounds!
Tiga hari tiga malam, Bryan menutup mata. Tubuhnya sangat lemah, gara-gara terlalu banyak mengonsumsi alkohol dengan kadar tinggi dan rokok sampai berbungkus-bungkus, serta depresi berat dan luka dalam di lengannya membuat tumbang.
Angelica sangat khawatir melihat kondisi, Bryan. Tetapi, dia menutupinya dengan apik. Selama tiga hari dia selalu menjaga Bryan yang terkulai lemah.
"Eng," lenguh Bryan. Perlahan mata brown terbuka layu. Ia mengerjap beberapa kali guna menetralkan pandangannya, saat semua jelas dia melihat Angelica.
Angelica sangat senang akhirnya Bryan sadar, tetapi dia langsung merubah ekspresinya menjadi datar tanpa ekspresi. Bagaimanapun, Bryan adalah sosok yang dia benci.
"An – Angel," panggil Bryan terdengar parau.
"Hn, aku pergi. Jangan khawatir soal polisi Karena aku tidak akan melaporkan psycho lemah!” cetus Angelica. Dia berbalik hendak meninggalkan Bryan sendiri. Tetapi, merasakan tangan dingin menggenggam pergelangan tangannya.
"Jangan pergi," pinta Bryan lemah. Dia tidak menanggapi ucapan, Angelica. Yang dia inginkan Angelica tetap tinggal.
Sret
Angelica melepas genggaman tangan Bryan, "Kamu tahu ... aku sangat membencimu, dan jangan harap benciku berkurang, dan jangan mimpi aku tetap tinggal!" seru Angelica sembari berlari meninggalkan Bryan sendiri.
Melihat wanitanya pergi, Bryan merasa dunianya hancur seketika, "Apa tidak ada sisa cintamu? Kamu menyakitiku, Angel. Terus benci, tapi jangan tinggalkan aku," gumam Bryan dengan nada frustrasi.
Angelica lari ke kamar tamu di rumah mewah, Bryan. Dia menangis dalam diam menyadari betapa kejam ucapannya. Dia benci Bryan karena merasa dikhianati dengan sifat baik hati, ramah, penyayang dan pemberi senyum tipis ternyata palsu.
Angelica sangat membenci Bryan karena lelaki itu adalah Psychopath mengerikan. Membunuh tanpa belas kasih, mengancamnya sampai tak berkutik. Berpura-pura menjadi Malaikat untuk semuanya, tetapi itu semua palsu dan kenyataannya Bryan adalah Psychopath, Moster dan Iblis.
"Aku sangat membencimu," tangis Angelica memilukan, "aku harus pulang, jangan pikirkan lelaki itu!" tegas Angelica berusaha semangat.
***
3 Hari Kemudian ....
Bryan tidak menghubungi Angelica selama itu. Yang dia lakukan hanya Konsentrasi menyembuhkan sakit akibat ulahnya sendiri. Dia mengambil smartphone saat ada dering chatting masuk.
*Kudengar kamu sakit? Kenapa tidak mati saja? Hahahaha, aku sudah dekat dengan Angelica tinggal selangkah lagi dia akan menjadi milikku. Dan kehancuranmu ada di depan mataku.*
Bryan hilang kendali tangannya mengepal kuat rahangnya mengeras.
"Bajingan tengik, kenapa bisa aku memiliki adik sepertimu!" raung Bryan murka. Dia bertekad Ke Apartemen milik Adiknya.
Para bodyguard dan bawahan Mafioso tampak takut melihat aura membunuh Boss mereka.
"Mr Bryan, ada apa?" tanya Max. Dia mengesampingkan rasa takut demi bertanya sesuatu yang mustahil.
"...." tidak ada jawaban dari Bryan. Dia terus berjalan tanpa menghiraukan ucapan Max.
Max terdiam untuk beberapa saat. Ia lari ke kamar Bryan dan menemukan apa yang menjadi permasalahannya.
"Kamu cari mati, Bryce! Semoga kamu tetap hidup."
***
Buakh
Bryan meninju rahang Bryce lumayan keras. Napasnya memburu menandakan betapa emosinya dia saat ini.
"Cih, kamu merasa kalah dari ku, eh?" ejek Bryce. Dia balas menendang perut Bryan kuat. Berputar untuk menendang wajah, tetapi tertangkis Bryan.
Jduakh
Bryan mencekal kaki Bryce dan dengan satu tarikan kuat, ia melempar Bryce ke dinding.
"Ugh," ringis Bryce. Dia merasakan tubuhnya sakit semua. Ia takut menghadapi kemarahan Bryan, untuk pertama kalinya setelah 19 tahun hidupnya dia melihat kakaknya begitu emosi padanya. Semarah dan sesakit apa pun ucapannya, Bryan bisa mengontrol diri. Namun, sekarang begitu berbeda.
Bryce berdiri untuk melawan, Bryan. Mengerahkan kekuatan bela diri yang dia punya untuk menyerang, Bryan.
Pertarungan sengit terjadi, Bryan tersenyum iblis melihat adiknya sangat lemah. Sementara Bryce terdesak akan kemampuan Bryan.
Adu jotos tidak terlewatkan begitu saja. Wajah rupawan mereka mendapat luka lebam dan darah. Bryan sedikit mengeluarkan kemampuan bela diri dan ingin Bryce adil memukulnya. Karena merasa jengah akhirnya membanting Bryce ke lantai dan mengunci pergerakan.
"Kamu akan mati, aku muak melihat mukamu. Sebagai Kakak aku sangat membencimu. Mati saja kau ....!!!" Bryan hendak memukul wajah rupawan Bryce tapi terhenti saat membayangkan masa kecil mereka. Ia sudah berjanji pada mendiang Ibunya untuk menjaga, Adiknya. Ia balik menonjok lantai di samping wajah, Bryce.
Bryce membuka matanya perlahan saat dia tidak merasakan rasa sakit. Dia meringis ngilu melihat keramik marmer hancur. Ia kira, hidupnya sampai di sini ternyata dia salah. Ia menatap manik Kakaknya yang berpancar sendu.
"Kenapa tidak membunuhku, Mr Psychopath?" tanya Bryce penasaran.
"Aku tidak sudi mengotori tanganku!" balas Bryan sengit.
"Bunuh saja aku seperti kamu membunuh Ayah dan Kakakku! Aku tidak takut padamu, Psychopath ....!!!" ruang Bryce.
"Tidak usah mengungkit masa lalu, bedebah. Mereka patut mati!" seru Bryan menakutkan.
"Apa yang patut mati? Dari kecil kamu sudah berubah menjadi psycho saat membunuh mereka. Kamu juga membunuh Paman dan Bibi yang merawatku ...! Aku sangat membencimu karenamu Ayah, Kakak dan semunya mati. Kamu merenggut segalanya ....!!!" raung Bryce. Dia mendorong kuat tubuh kekar Kakaknya, lalu berjalan tertatih menuju kamar.
Bryan menangis dalam diam mendengar kemurkaan Adiknya. Dan disisi lain, Bryce juga menangis pilu. Mereka menangis dalam diam tanpa mau memberikan pelukan.
"Sorry, Bryce! Aku membunuh mereka karena sebuah alasan. Aku melakukan itu demi kebaikan kita. Karena semua itu aku depresi dan menjadi psycho ... Maaf!" lirih Bryan seraya menangis memilukan. Dia mencengkeram kepalanya erat saat memori pembunuhan sadis, kekerasan dan penganiayaan terus berputar di kepalanya. Dia merogoh sakunya guna mencari obat penenang.