"Bagaimana rasanya ketika terbangun dari koma panjang, hanya untuk menemukan bahwa dirimu sudah bertunangan dengan seorang yang bahkan kamu sendiri tidak mengenalnya?"
Itulah yang di alami Kayna Ramida. Begitu membuka mata setelah koma hampir satu bulan lamanya, ia langsung di sambut dengan senyuman seorang pria asing yang mengaku sebagai tunangannya. Damara Lexander Veldens.
"Kenapa menatapku seolah aku ini orang asing, Sayang? Aku adalah pria yang paling kau cintai, ingat?" Mara berbisik lembut.
"Kalau aku memang sangat mencintaimu...kenapa setiap sentuhanmu justru membuatku merasa seperti seekor mangsa yang sedang diincar di tengah kegelapan?"
"Karena kau adalah milikku, Kayna. Dan aku akan melakukan segalanya agar kau tidak akan pernah lari dari sisiku lagi."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BintangFRY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terlalu Rumit
Suara monitor tanda vital berbunyi teratur. Damara akhirnya terlelap sepenuhnya.
Sambil menahan napas, Kayna membelakangi tempat tidur itu.
"Tidurlah yang nyenyak, Mara..." bisik Kayna dengan suara dingin yang tak tersentuh emosi. "Saat kau terbangun nanti... wanita polos yang bisa kau bodohi ini tidak akan pernah ada lagi. Aku akan mengikuti sandiwaramu."
Tanpa menimbulkan suara sekecil apa pun, Kayna melangkah melintasi pintu baja berperedam suara dan keluar ke koridor lantai dua yang sepi. Udara di luar terasa begitu menusuk tulang. Mansion mewah ini kini terasa bagaikan istana hantu yang dipenuhi rahasia-rahasia berdarah.
Tujuan Kayna hanya satu, Ruang perawatan bawah tempat Dokter Isabela mengobati Carlos dan James.
Dengan langkah tergesa-gesa namun berhati-hati, Kayna menyusuri tangga melingkar menuju lantai bawah. Suara dengungan mesin pendingin ruangan dan aroma antiseptik yang khas membimbing langkahnya menuju sebuah pintu kayu tebal di ujung lorong bawah tanah.
Ketika Kayna mendorong pintu tersebut hingga terbuka sedikit, pemandangan di dalam ruangan langsung tertangkap oleh matanya.
Carlos tampak duduk bertelanjang dada di atas meja pemeriksaan dengan luka sabetan pisau di pinggangnya yang baru saja selesai dijahit. Di sisinya, James berdiri menyandar pada dinding marmer sambil menahan nyeri di lengan kanannya yang terbebat perban tebal. Sementara itu, Dokter Isabela sedang melepas sarung tangan medisnya dan membuangnya ke dalam tempat sampah.
"Siapa di sana?!" seru Carlos sigap, refleks meraih pistol yang terselip di pinggang belakangnya meskipun tubuhnya dipenuhi luka.
"Carlos, ini aku..." ujar Kayna cepat, melangkah masuk ke dalam ruangan.
Melihat Kayna yang berdiri di ambang pintu, Carlos dan James seketika menurunkan kewaspadaan mereka. Raut wajah tegang kedua tangan kanan Mara itu berubah menjadi cemas.
"Nona Kayna?" tanya Carlos dengan alis bertaut rapat. "Ada apa? Apakah kondisi Tuan Mara memburuk di atas?"
Kayna mengatur raut wajahnya dalam sekejap. Ia memasang ekspresi panik, lelah, dan penuh kecemasan, sebuah topeng sempurna yang telah ia latih sejak berada di atas tadi.
"Tidak, Mara baru saja tertidur lelap," jawab Kayna dengan suara bergetar yang dibuat-buat. "Tapi... kepala saya terasa sangat pusing dan mual karena syok melihat darah. Saya datang untuk meminta obat pereda nyeri dari Dokter Isabela..."
Isabela, yang sedang mencuci tangannya di wastafel stainless steel, perlahan mematikan kran air. Dokter cantik bergaun medis putih itu berbalik, menatap Kayna dengan sepasang mata tajam yang seolah mampu menembus kedalaman jiwa Kayna.
Isabela memahami sesuatu yang tidak disadari oleh Carlos dan James.
"Carlos, James... kalian berdua keluar sekarang," perintah Isabela dengan nada suara yang tenang namun tak terbantahkan. "Periksa seluruh sistem keamanan luar mansion. Pastikan anak buah Martin yang tersisa di luar sana benar-benar telah dibersihkan. Aku akan memeriksa kondisi Nona Kayna di sini."
Carlos sempat ragu-ragu sejenak, menatap kekasihnya lalu menatap Kayna. "Tapi Isabela, lukamu—"
"Aku seorang dokter, Carlos. Luka sabetanmu sudah kujahit dan diberi antibiotik. Sekarang lakukan tugasmu!" potong Isabela tegas.
Carlos mengembuskan napas pasrah. Pria berotot kekar itu mendekati Isabela, mencium kening kekasihnya singkat, lalu menatap Kayna. "Jika Tuan Mara terbangun, langsung panggil kami, Nona."
"Baik, Carlos. Terima kasih," sahut Kayna pelan.
James dan Carlos menyampirkan jaket mereka lalu melangkah keluar dari ruang perawatan bawah, menutup pintu kayu tebal itu rapat-rapat.
Begitu derap langkah kedua pria itu menghilang di sepanjang lorong, atmosfer di dalam ruangan medis itu seketika berubah seratus delapan puluh derajat. Keheningan yang pekat dan sarat akan ketegangan mendadak menyergap.
Kayna tidak membuang waktu. Ia melangkah maju, memutar kunci pintu dari dalam, lalu berbalik menatap Isabela dengan tatapan lurus dan berani.
Kayna merogoh saku gaunnya, mengeluarkan gumpalan tisu steril, dan membukanya tepat di hadapan Dokter Isabela. Di atas tisu putih itu, tergeletak obat yang tadi hampir ia minum.
"Aku tidak menelannya," kata Kayna dengan suara rendah, dingin, dan tanpa ada lagi sisa ketakutan atau kepanikan yang tadi ia perlihatkan.
Isabela membelalakkan matanya sedikit. Terkejut. Sebuah senyuman tipis yang sarat akan kekaguman sekaligus ketegangan terukir di bibir merah Dokter tersebut.
"Kau berhasil membodohi seorang Damara Lexander Veldens?" bisik Isabela tak percaya. "Pria itu memiliki insting predator seperti serigala, Kayna. Satu kesalahan kecil saja dari gerak-gerikmu, dan dia bisa meremukkan lehermu tanpa ragu."
"Aku mempertaruhkan nyawaku untuk tidak menelan racun ini!" bentak Kayna pelan dengan napas memburu. Ia melangkah makin dekat hingga berjarak satu jengkal dari Isabela. "Sekarang katakan padaku, Dokter... Obat apa ini sebenarnya?! Kenapa kau membocorkan rahasia ini padaku saat di lantai dua tadi?!"
Isabela menghela napas panjang. Ia bersandar pada meja stainless steel, melipat kedua tangannya di dada. Tatapannya berubah menjadi amat serius dan penuh kepahitan.
"Obat itu adalah Neuro-Blocker Class C," ungkap Isabela dengan suara berbisik yang dingin. "Sebuah senyawa penekan transmisi saraf memori jangka panjang yang dikembangkan secara ilegal di laboratorium pasar gelap Eropa. Mara memesannya secara khusus dari jaringan penyelundupan senjata miliknya."
Jantung Kayna rasanya dihantam godam raksasa. "Penekan memori...?"
"Ya," angguk Isabela tanpa ragu. "Setiap kali kau meminum kapsul itu sebelum tidur, zat kimianya merusak regenerasi sel saraf otakmu yang sedang berusaha memulihkan ingatan pascakoma. Obat itu membuat otakmu tetap berada dalam kondisi 'kosong', sehingga Mara bisa dengan mudah menyuntikkan kebohongan, memanipulasi pikiranmu, dan membuatmu percaya bahwa dia adalah tunangan yang sangat kau cintai."
Tubuh Kayna bergetar hebat. Air mata kemarahan tergenang di pelupuk matanya. "Iblis... Pria itu benar-benar iblis!"
Kayna kemudian menatap Isabela penuh selidik. "Tapi kenapa kau memberitahuku?! Kau bekerja untuk Mara! Kau kekasih Carlos, orang kepercayaan terdekatnya! Apa keuntunganmu membocorkan ini padaku?!"
Isabela menatap Kayna dengan tatapan yang sangat kompleks. Ada simpati yang dalam, namun juga ketakutan yang tersirat di mata dokter cantik itu.
"Karena aku seorang dokter, Kayna. Aku disumpah untuk menyelamatkan nyawa, bukan membantu seorang psikopat merusak jiwa seorang wanita!" tegas Isabela dengan napas memburu. "Aku mencintai Carlos, tapi aku benci melihat bagaimana Mara mengendalikan seluruh hidup orang-orang di sekitarnya dengan tangan besi dan obsesi gilanya. Sebelum kecelakaan maut itu terjadi... aku melihat sendiri bagaimana Mara melakukan segala cara agar kau menandatangani surat perjanjian pernikahan itu!"
Mendengar kata 'kecelakaan maut', Kayna tersentak kaget. Kepala bagian belakangnya mendadak berdenyut nyeri.
"Kecelakaan maut...?" gumam Kayna menahan sakit di kepalanya. "Maksudmu... kecelakaan yang membuatku koma dan hilang ingatan itu?"
Isabela mendekatkan wajahnya ke telinga Kayna, berbisik dengan nada teramat dingin yang sanggup membekukan darah di dalam tubuh Kayna seketika.
"Kecelakaan itu bukanlah musibah murni, Kayna," bisik Isabela mendesis. "Mobilmu bukan sekedar oleng karena kau mengendarai dalam keadaan kacau. Namun lebih dari itu!"
Kayna menutupi mulutnya, dadanya naik turun dengan dramatis saat sensasi ngeri luar biasa merayapi seluruh badannya. "A--apa? Apa maksudnya?"
"Mara mengatakan itu adalah ulah Martin yang ingin melenyapkanmu," jawab Isabela cepat. "Tapi, aku yakin bahwa sebenarnya lebih dari itu! Karena kasus itu hanya diketahui Mara dan James."
Napas Kayna terhenti sepenuhnya! Bayangan samar berupa kilatan lampu mobil dan suara ledakan yang memekakkan telinga.
"Apa sebenarnya yang terjadi..." suara Kayna bergetar hebat saat menatap Isabela dengan mata membelalak penuh harapan. "...Kenapa Mara melakukan semua itu kepadaku?!"
Isabela tersenyum miris, menepuk bahu Kayna pelan sebelum berbisik pelan,
"Mara menggeledah seluruh TKP dan menghancurkan bangkai mobilmu malam itu, tapi dia tidak pernah menemukan kejanggalan nya."
"Karena dialah pelakunya! iya kan?" desak Kayna.
Isabela terdiam. "Bisa iya bisa tidak. Musuh-musuh Mara itu licik, tapi Mara jauh lebih licik dari yang kau ketahui. Dan kau sudah masuk ke dalam skenarionya. Kuharap kau tidak melakukan kesalahan."
Isabela tidak mengatakan apapun lagi. Ia segera mengemas barang-barangnya dan pergi meninggalkan Kayna seorang diri.
"Sebenarnya apa yang terjadi?" lirih Kayna.
...●Bersambung●...