NovelToon NovelToon
Di Dunia Orang Bodoh, Akulah Sang Jenius

Di Dunia Orang Bodoh, Akulah Sang Jenius

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Pelukis Mimpi

Arya Pratama dikeluarkan dari sekolah. Nilai jelek, masa depan hancur, semua orang bilang dia tidak berguna. Tapi hari itu, dia menyadari sesuatu yang mengubah segalanya — bukan dia yang bodoh... seluruh dunia yang bodoh.

Apoteker tidak bisa hitung tambah-kurang. Profesor universitas menulis rumus yang salah selama ratusan tahun tanpa ada yang sadar. Juara catur dunia bisa dikalahkan dalam sepuluh langkah. Di dunia ini, pengetahuan SMA biasa adalah kekuatan tertinggi — dan Arya adalah satu-satunya orang yang memilikinya.

Dari siswa yang dibuang, dia naik menjadi legenda yang tidak pernah menunjukkan wajah aslinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pelukis Mimpi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 22

Bab 22: Soal di Luar Kurikulum

Panitia tidak suka papan skor yang terlalu cepat selesai.

Saat jeda siaran, tiga juri berkumpul di belakang panggung. Kamera dimatikan, tetapi suasana justru lebih panas. SMA Negeri Satu Buana mengajukan keberatan resmi kedua: materi penyisihan terlalu mudah sehingga tidak menguji kemampuan sebenarnya. Beberapa sekolah lain ikut mendukung. Mereka tertinggal jauh dan ingin mengubah medan.

Pak Surya mendengar kabar itu dari staf produksi. Wajahnya langsung mengeras. "Mengubah tingkat soal setelah babak dimulai tidak adil."

Staf itu tersenyum gugup. "Bukan mengubah hasil, Pak. Hanya menambahkan sesi klarifikasi kemampuan sebelum semifinal."

"Bahasa yang indah untuk mengulang lomba."

Arya yang berdiri di samping meja minum bertanya, "Sesi seperti apa?"

"Soal tantangan terbuka. Satu soal lintas bidang. Semua tim boleh menjawab. Nilai tambahan besar."

Putri langsung paham. "Mereka ingin membuat soal yang tidak ada di bank latihan."

Dimas menatap Arya. "Kalau salah, selisih kita bisa dipotong."

Arya mengambil air mineral. "Kalau soalnya benar, jawab. Kalau soalnya buruk, koreksi."

"Kamu bicara seolah mengoreksi juri adalah pilihan normal."

"Kalau juri salah, pilihan normal adalah mengoreksi. Yang tidak normal adalah membiarkan kesalahan karena pangkat."

Pak Surya mengusap wajah. Ia semakin sering merasa kalimat Arya membuat hidupnya lebih sulit dan lebih benar pada saat yang sama.

Sesi tambahan dimulai lima belas menit kemudian. Presenter Rendy menyebutnya tantangan kejutan untuk menambah semangat kompetisi. Penonton bertepuk tangan. Fadlan tersenyum lagi, kali ini lebih percaya diri. Ia tahu tim Buana punya pelatih olimpiade yang sering memberi materi di luar kurikulum.

Juri utama Bu Mariska membacakan soal: sebuah skenario mengenai penyebaran wabah, pertumbuhan bakteri, kebijakan ekonomi, dan dampak sosial. Soal itu panjang, rumit, dan sengaja dibuat menakutkan. Tim lain menunduk menulis. Dimas mulai menghitung. Putri membagi variabel. Raka dan Melati mencari kata kunci.

Arya tidak menulis.

Ia mendengarkan sampai selesai, lalu menekan tombol.

Rendy hampir tersedak. "Garuda Cendekia sudah menjawab?"

"Bukan menjawab," kata Arya. "Memprotes premis."

Studio langsung bergerak seperti air panas. Bu Mariska mengangkat alis. "Silakan jelaskan."

Arya berdiri. "Soal menyebut populasi bakteri tumbuh eksponensial stabil selama empat puluh delapan jam dalam wadah tertutup tanpa perubahan nutrisi, pH, dan limbah metabolik. Itu tidak realistis. Pada jam tertentu pertumbuhan akan masuk fase stasioner. Jika soal tetap memaksa model eksponensial, jawaban matematisnya bisa dihitung, tetapi kesimpulan biologis dan kebijakan ekonominya salah."

Fadlan tertawa kecil. "Ini kompetisi sekolah. Seminar riset punya panggung sendiri. Kita pakai model yang diberikan."

Arya menoleh. "Kalau model yang diberikan bertentangan dengan kondisi yang juga diberikan, memakai model itu berarti menjawab kebohongan dengan angka."

Penonton bersorak pendek. Bu Mariska mengetuk meja. "Tenang. Arya, lanjutkan."

Arya mengambil spidol dan menulis tiga baris di papan digital. Pertama, ia menunjukkan jawaban jika memakai model eksponensial murni. Kedua, ia menunjukkan titik ketidakmungkinan berdasarkan batas nutrisi yang disebut di paragraf ketiga. Ketiga, ia memberi model logistik sederhana dan dampaknya terhadap keputusan karantina.

"Dengan model salah, pemerintah akan mengira puncak risiko terjadi terlalu cepat dan menghabiskan anggaran di awal. Dengan model yang sesuai kondisi, intervensi terbaik justru mengurangi kontak pada jam enam belas sampai tiga puluh. Menutup semua aktivitas sejak jam pertama hanya membakar sumber daya."

Rendy menatap juri. Ia jelas tidak mengerti seluruh penjelasan, tetapi ia mengerti bahwa sesuatu yang besar sedang terjadi di panggungnya.

Bu Mariska berbisik dengan dua juri lain. Salah satunya membuka tablet dan mencari referensi. Wajahnya berubah. Mereka berdiskusi lebih lama daripada yang nyaman untuk siaran langsung.

Fadlan berkata, "Bu, peserta tidak boleh mengubah soal."

Bu Mariska menatapnya. "Peserta juga tidak wajib menerima premis yang cacat jika bisa membuktikannya."

Kalimat itu menghantam Buana lebih keras daripada minus poin. Tim lain mulai melihat Fadlan, lalu melihat Arya. Keberanian yang tadi dikumpulkan Buana untuk menyerang berubah menjadi panggung bagi Arya untuk mengajar juri.

Akhirnya Bu Mariska mengumumkan keputusan. "Soal tantangan ini memiliki kelemahan premis. Jawaban Garuda Cendekia diterima sebagai koreksi valid. Karena Arya juga memberikan dua model dan konsekuensi kebijakan, Garuda Cendekia mendapat poin penuh. Tim lain yang menghitung berdasarkan model awal mendapat poin parsial."

Papan skor bertambah. Selisih Garuda tidak terpotong. Selisih itu melebar.

Pak Surya menutup mulut dengan tangan. Ia tidak sedang menahan batuk. Ia sedang menahan tawa seorang kepala sekolah yang tahu dirinya baru saja menyaksikan panitia sendiri memberi panggung tambahan kepada muridnya.

Rizky berbisik kepada Melati, "Catatan hari ini: jangan memberi Arya soal yang salah. Itu seperti melempar bensin ke orang yang membawa korek."

Putri melihat Arya duduk kembali. "Kamu bisa saja menjawab tanpa mempermalukan mereka."

"Bisa. Tapi nanti soal cacat itu dipakai lagi untuk melatih siswa lain. Kesalahan yang dibiarkan akan berkembang biak."

"Kamu baru saja memakai analogi bakteri untuk soal bakteri."

"Efisien."

Di belakang panggung, seorang pria berjaket abu-abu yang sama dengan hari sebelumnya berdiri dekat pintu staf. Ia tidak bertepuk tangan. Ia mengetik sesuatu di ponselnya: kemampuan lintas bidang terkonfirmasi, respons terhadap premis cacat sangat cepat, tidak takut otoritas.

Pesan itu terkirim ke kontak bernama tiga huruf.

Setelah keputusan juri, Buana meminta salinan perhitungan. Arya menyerahkannya tanpa ragu. Fadlan membacanya dengan wajah kaku, lalu menemukan bahwa tulisan Arya tidak hanya berisi rumus. Di pinggir kertas ada catatan kecil: jika panitia ingin mempertahankan model eksponensial, hapus frasa wadah tertutup dan batas nutrisi.

Fadlan merasa seperti ditampar dua kali. Arya tidak sekadar menyalahkan soal. Ia memperbaiki soal itu dalam satu kalimat.

Bu Mariska meminta kertas tersebut difoto untuk arsip panitia. Keputusan itu membuat beberapa guru pendamping berbisik. Mereka sadar rekaman hari ini mungkin dipakai dalam pelatihan juri berikutnya. Anak yang datang sebagai peserta telah memperbaiki standar lomba provinsi di tengah siaran langsung.

Rendy mencoba mengembalikan suasana ringan. "Baik, pemirsa, kita baru belajar bahwa bakteri pun tidak boleh dipaksa tumbuh sesuai kemauan pembuat soal."

Penonton tertawa. Arya tidak. Ia sedang melihat kamera kecil di sudut belakang yang sejak awal lebih sering mengarah kepadanya daripada papan skor. Kamera itu bukan milik tim produksi utama. Lensa hitamnya terlalu kecil, posisinya terlalu rapi.

Putri mengikuti arah pandangnya. "Ada yang merekam khusus?"

"Mungkin. Jangan lihat terlalu lama. Orang yang mengamati tidak suka tahu dirinya diamati."

Pak Surya kemudian meminta tim tidak terbawa emosi. "Mereka akan mencari cara lain di final. Jangan beri celah."

Arya menjawab tanpa melihat dari catatannya, "Celah terbesar mereka adalah berharap saya membuat kesalahan karena tekanan. Itu rencana yang buruk. Tekanan hanya mengurangi kemampuan orang yang berpikir dengan perasaan lebih dulu."

Rizky mengangkat tangan. "Sebagai perwakilan manusia biasa, saya tersinggung."

"Tersinggung juga perasaan."

"Nah, makin tersinggung."

UNG.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!