NovelToon NovelToon
Legenda Teratai Es Abadi

Legenda Teratai Es Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Epik Petualangan
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Syahriandi Purba

Di Benua Shenzhou yang dipenuhi oleh energi spiritual (Qi), hukum rimba berlaku: yang kuat dihormati, yang lemah diinjak-injak. Ye Chen, seorang pemuda dari Klan Ye, terlahir dengan meridian yang cacat sehingga ia tidak bisa menyerap Qi. Selama enam belas tahun, ia hidup sebagai lelucon dan bahan hinaan klannya.
​Namun, takdirnya berubah drastis di suatu malam yang berdarah. Saat ia dipukuli dan dibuang ke dasar Jurang Kematian oleh sepupunya sendiri, darahnya tanpa sengaja menetes ke sebuah liontin batu giok hitam peninggalan ibunya. Liontin itu ternyata menyimpan jiwa seorang Kaisar Naga Kuno yang telah tersegel selama puluhan ribu tahun. Dengan bimbingan sang Kaisar Naga, Ye Chen memulai jalan kultivasi yang menentang langit untuk membalas dendam dan mencari kebenaran di balik hilangnya kedua orang tuanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Panggung Sang Jenius Palsu

​Matahari pagi bersinar terik, menyinari Alun-alun Utama Klan Ye yang telah disulap menjadi arena pertarungan megah berbatu pualam. Ribuan pasang mata dari berbagai faksi di Kota Puncak Hijau hadir sebagai saksi. Bendera Klan Ye berkibar gagah tertiup angin.

​Di tribun kehormatan tertinggi, Kepala Klan Ye, Ye Zhan, duduk dengan ekspresi berwibawa. Di sebelah kanannya, duduk Tetua Pertama Ye Tian—ayah dari Ye Feng—yang sedari tadi tak bisa menyembunyikan senyum angkuhnya. Di sebelah kiri Kepala Klan, duduk seorang pria paruh baya berjubah abu-abu dengan lambang awan di dadanya. Ia adalah Diakon Liu, perwakilan dari Sekte Awan Putih yang datang khusus untuk melihat perkembangan murid luar baru mereka, Ye Feng.

​"Klan Ye sungguh beruntung tahun ini," ucap Diakon Liu sambil menyesap tehnya. "Tuan Muda Feng memiliki bakat elemen angin yang langka. Di usianya yang ketujuh belas, ia sudah mencapai Pengumpul Qi tingkat keenam. Di sekte kami, bakat seperti itu cukup untuk masuk ke pelataran dalam dalam waktu dekat."

​"Ah, Diakon Liu terlalu memuji," tawa Tetua Pertama Ye Tian, pura-pura merendah meski dadanya membusung bangga. "Ini semua berkat bimbingan Sekte Awan Putih."

​Sementara para petinggi saling melempar pujian, babak penyisihan turnamen di atas arena sedang berlangsung sengit. Para pemuda dan pemudi Klan Ye bertarung memperebutkan peringkat. Namun, rata-rata dari mereka hanya berada di Tahap Pengumpul Qi tingkat kedua atau ketiga. Pertarungan mereka, meski terlihat seru bagi rakyat biasa, hanyalah hiburan murahan di mata para ahli.

​"Pertandingan Ketujuh! Ye Ming melawan Ye Feng!" seru wasit dari pinggir arena, suaranya diperkuat dengan Qi hingga menggema ke seluruh alun-alun.

​Mendengar nama itu, sorak-sorai penonton meledak.

​Dari sisi timur arena, Ye Feng melompat ringan bagaikan burung layang-layang. Ia mendarat di tengah arena tanpa mengeluarkan suara sedikit pun. Jubah sutra putihnya berkibar elegan, wajahnya yang tampan memancarkan rasa percaya diri yang mutlak.

​Di seberangnya, Ye Ming—seorang pemuda bertubuh kekar dari cabang samping klan—melangkah naik dengan wajah tegang. Ye Ming baru saja menerobos ke Tahap Pengumpul Qi tingkat keempat. Di tahun-tahun sebelumnya, ia selalu masuk lima besar, namun hari ini nasibnya sial karena harus bertemu langsung dengan sang bintang utama.

​"Kakak Feng, mohon petunjuknya," ucap Ye Ming sambil memberi hormat, diam-diam mengalirkan seluruh Qi ke lengannya sebagai pertahanan.

​Ye Feng tidak membalas penghormatan itu. Ia hanya meletakkan satu tangan di punggungnya, menatap Ye Ming dari sudut matanya dengan jijik. "Keluarkan serangan terbaikmu. Aku sibuk, aku akan mengakhiri ini dalam satu gerakan."

​Wajah Ye Ming memerah karena dihina di depan ribuan orang. "Jangan terlalu meremehkanku, Kakak Feng! Tinju Pemecah Batu!"

​Ye Ming menerjang maju bagaikan banteng marah. Tinju kanannya dilapisi Qi berwarna kuning kusam, membelah udara dengan suara siulan yang keras. Ini adalah keterampilan bela diri tingkat rendah yang dikuasainya hingga tahap sempurna!

​Namun, Ye Feng hanya tersenyum meremehkan. Saat tinju itu hanya berjarak beberapa inci dari wajahnya, tubuhnya tiba-tiba menjadi buram.

​WUSSH!

​Ye Ming memukul angin kosong. Kecepatannya sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan Ye Feng.

​"Terlalu lambat. Kura-kura sepertimu tidak pantas berdiri di panggung yang sama denganku," bisik dingin Ye Feng dari arah belakang Ye Ming.

​Sebelum Ye Ming sempat berbalik, tangan kanan Ye Feng yang telah dilapisi energi angin berputar berwarna sian (biru kehijauan) menghantam punggung pemuda kekar itu.

​"Telapak Angin Pemotong!"

​CRAAAK!

​"AAAAAARRRGH!"

​Suara tulang rusuk yang patah terdengar jelas ke seluruh penjuru alun-alun. Tubuh Ye Ming terlempar ke udara bagaikan karung goni berisi pasir, menyemburkan darah segar dari mulutnya, sebelum akhirnya menabrak pilar batu di pinggir arena hingga retak. Ia jatuh terkapar dan langsung tak sadarkan diri.

​Keheningan sesaat menyelimuti arena, sebelum akhirnya disusul oleh sorak-sorai yang memekakkan telinga dari para pendukung Ye Feng.

​"Satu serangan! Dia benar-benar mengalahkan kultivator tingkat keempat hanya dengan satu serangan!"

​"Luar biasa! Itu pasti Keterampilan Bela Diri Tingkat Menengah dari Sekte Awan Putih! Pantas saja dia sangat percaya diri!"

​Di tribun kehormatan, Diakon Liu mengangguk puas. "Penguasaan Qi yang sangat baik. Kekejamannya dalam bertarung juga cocok dengan dunia kultivasi."

​Tetua Pertama tertawa terbahak-bahak, sementara Kepala Klan Ye Zhan hanya tersenyum tipis, matanya melirik ke arah arena dengan pandangan rumit. Di klan ini, kekuatan adalah segalanya. Ye Feng kini telah membuktikan dirinya pantas menjadi pewaris utama, menggantikan posisi Ye Chen yang telah "mati".

​Di atas arena, Ye Feng mengibaskan debu imajiner dari lengan bajunya. Ia menatap ke arah tribun penonton dengan dagu terangkat tinggi, menikmati setiap tatapan kagum, iri, dan takut yang diarahkan kepadanya. Ia merasa seperti raja di dunia ini.

​Namun, di tengah hiruk-pikuk pemujaan itu...

​TAP... TAP... TAP...

​Sebuah suara langkah kaki yang berat, lambat, namun sangat stabil, tiba-tiba terdengar. Suaranya tidak keras, tetapi entah bagaimana mengandung semacam ritme aneh yang membuat dada setiap orang yang mendengarnya terasa sesak, perlahan menenggelamkan sorak-sorai penonton.

​Semua mata, termasuk para petinggi di tribun kehormatan, perlahan beralih ke arah gerbang masuk alun-alun.

​Kerumunan penonton terbelah dengan sendirinya, memberikan jalan karena tekanan aura yang tidak kasat mata. Dari balik bayang-bayang lorong batu, muncullah sosok pemuda tinggi mengenakan jubah kulit binatang buas yang kasar. Di punggungnya, bertengger sebuah pedang besi raksasa berwarna hitam legam yang tampak sangat menakutkan.

​Setiap kali sepatu bot kulit pemuda itu menyentuh lantai pualam, bebatuan di sekitarnya tampak bergetar pelan.

​Ye Feng yang berada di atas arena mengerutkan kening. Ia tidak bisa melihat wajah pemuda itu dengan jelas karena tertutup bayangan rambutnya yang sedikit panjang, namun entah mengapa, postur tubuh itu memberinya perasaan yang sangat familiar dan menjijikkan di saat yang bersamaan.

​"Siapa kau?!" bentak wasit turnamen, melangkah maju untuk mengadang. "Ini adalah area khusus peserta Turnamen Klan Ye! Pengemis liar tidak diizinkan masuk!"

​Pemuda itu berhenti melangkah. Perlahan, ia mengangkat wajahnya, menatap lurus ke arah Ye Feng yang berdiri di atas arena. Sinar matahari akhirnya menerangi wajah tampannya yang memiliki garis rahang tegas dan sepasang mata sedingin jurang tanpa dasar.

​Melihat wajah itu, tubuh Ye Feng menegang kaku seolah baru saja disambar petir. Matanya melebar penuh kengerian.

​Di tribun kehormatan, Kepala Klan Ye Zhan berdiri mendadak hingga menjatuhkan cangkir tehnya. Tetua Pertama tersedak tawanya sendiri, wajahnya seketika pucat pasi.

​"M-mustahil..." gumam Ye Feng dengan suara bergetar, mundur selangkah tanpa sadar. "Kau... kau sudah mati!"

​Di tengah keheningan yang mencekam, suara pemuda itu bergema tenang, namun cukup dingin untuk membekukan seluruh alun-alun.

​"Aku lupa mendaftar di babak penyisihan." Pemuda itu mencabut pedang raksasa dari punggungnya dan menancapkannya ke lantai arena hingga menimbulkan retakan jaring laba-laba. "Jadi, mari kita persingkat waktu. Aku menantang Ye Feng untuk pertarungan hidup dan mati."

​Angin berhembus, menerbangkan jubah kulitnya. Ye Chen telah kembali.

1
Luo Zheng
💪💪💪💪💪👍
Luo Zheng
lanjutkan
Aman Wijaya
semangat Ye Chen jadilah kuat bunuh mereka semua yang membully mu
yos helmi
💪💪💪💪💪💪
yos helmi
🙏🙏🙏🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!