Saldo rekening Rp 350000
Pacar selingkuh
Harga diri nol
Lalu dunia berubah
Seluruh harga turun 1000000 kali Rumah mewah jadi Rp 50000 Mobil sport Rp 5000 Tapi uang Raka Tidak berubah
Rp 350000 Rp 350 MILIAR
Dari pemuda yang diludahi dunia menjadi pria yang membeli kotanya sendiri
Sistem Ilahi sudah aktif
Misi pertama beli rumah paling mahal di kota ini tunai
Misi kedua hancurkan semua yang pernah menghinamu
Harga Turun Sejuta Kali update setiap hari
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19
Bab 19: Mata yang Menembus Batu
"Anak kemarin sore mau main batu giok?"
Pak Hasan tertawa sambil memutar cincin giok besar di jarinya. Janggut putihnya rapi, kemejanya sederhana, tetapi semua pedagang di Pasar Batu Giok memberi ruang saat ia berjalan. Orang ini bukan pemilik pasar, namun matanya sudah cukup lama menimbang batu sampai sombongnya dianggap bagian dari aturan.
Fajar mencondongkan badan ke Raka. "Bang, om ini sombongnya kayak Pak Gunawan versi pasar."
Raka hampir tersenyum. "Jangan keras-keras."
"Aku justru sudah pelan."
Pak Hasan mendengar, tentu saja. Ia tertawa lebih keras.
"Tidak apa-apa. Anak muda harus diajari. Batu di sini bisa bikin orang kaya dalam semalam, bisa juga bikin orang pulang jual motor. Kalau cuma datang karena viral dan punya uang, lebih baik beli gelang jadi di toko depan."
Beberapa pedagang ikut tertawa. Pasar itu penuh meja kayu, ember air, mesin potong, debu halus, dan orang-orang yang berbicara dengan angka seperti sedang bertaruh nasib. Raka tidak datang untuk terlihat ahli. Ia datang karena Mimpi menyalakan sinyal hijau sejak kemarin.
"Saya lihat-lihat dulu," kata Raka.
"Lihat boleh. Sentuh bayar kalau pecah."
Fajar mengepalkan tangan. Raka menahannya dengan tatapan.
[Kemampuan Penilaian Dasar aktif.]
Dunia di mata Raka berubah. Di atas setiap batu muncul lapisan informasi: kualitas rendah, retak dalam, warna palsu, potensi sedang. Sebagian besar berwarna abu-abu. Beberapa hijau pucat. Lalu di pojok pasar, di meja pedagang muda yang nyaris tidak didatangi orang, tiga batu kusam menyala emas.
Raka berjalan ke sana tanpa mempercepat langkah.
Pedagang muda itu tampak gugup. "Mau lihat, Pak? Ini barang campur dari Kalimantan dan impor lama. Saya jual murah karena butuh putar modal."
Raka menunjuk tiga batu. "Ini, ini, dan ini. Berapa?"
"Lima juta satu, Pak."
Pak Hasan tertawa dari belakang. "Itu batu bentuknya jelek. Kulitnya mati. Kalau isinya bagus, saya sudah ambil dari tadi."
Pedagang muda itu merah padam, tetapi tidak berani membalas.
Raka membuka ponsel.
[Mimpi: harga sistem total Rp0,015. Konfirmasi?]
"Saya ambil tiga-tiganya. Potong di sini."
Pedagang muda hampir menjatuhkan nota. "Tidak ditawar, Pak?"
"Tidak."
Pembayaran selesai. Dalam pembukuan pedagang, transaksi lima belas juta masuk. Di saldo Raka, tidak sampai sepersekian rupiah yang terasa. Orang-orang mulai mendekat karena pembeli bodoh selalu menjadi tontonan baik di pasar batu.
Mesin potong dinyalakan.
Batu pertama dibelah.
Air menyiram permukaan potongan. Warna hijau bersih muncul dari balik kulit kusam.
Pedagang muda terkesiap. "Hijau apel... kualitas tinggi."
Tawa Pak Hasan berhenti.
Batu kedua dipotong lebih hati-hati. Lagi-lagi hijau, lebih dalam, lebih padat. Beberapa orang langsung mengangkat ponsel merekam.
"Dua kali jackpot," bisik seseorang.
Fajar menyenggol Raka. "Bang, kalau ini mimpi, jangan bangunin aku."
"Kamu yang rekam. Jangan gemetar."
"Tangan gue bukan kamera profesional."
Batu ketiga diletakkan di mesin. Tukang potong menatap Pak Hasan seolah meminta izin moral. Pak Hasan tidak bicara. Wajahnya sudah terlalu serius.
Pisau berlian menyentuh batu. Suara gesekan memenuhi pasar. Ketika kulit luar terbuka, cahaya hijau pekat seperti air dalam hutan memantul dari dalam.
Seseorang berteriak, "Imperial green!"
Pasar meledak.
Orang-orang mendorong maju. Pedagang muda sampai mundur karena takut batu itu disentuh sembarangan. Tukang potong mematikan mesin dengan tangan gemetar.
Pak Hasan mendekat. Ia mengambil kaca pembesar, memeriksa tanpa menyentuh terlalu banyak. Wajahnya, yang sejak tadi dipenuhi tawa tua, berubah menjadi hormat yang hampir tidak rela.
"Empat puluh tahun saya di pasar ini," katanya pelan, "belum pernah lihat orang pilih tiga batu dan semuanya hidup. Yang ini... Tuan, ini bukan keberuntungan biasa."
Kata Tuan dari mulutnya membuat pedagang lain saling pandang.
Penawaran datang seketika.
"Saya beli yang imperial green! Lima miliar!"
"Tujuh miliar! Cash!"
"Pak Raka, saya punya pembeli Singapura! Jangan jual ke orang lain!"
Raka mengangkat tangan. "Tidak dijual."
"Sepuluh miliar!"
"Tidak dijual," ulang Raka.
Ia menyimpan batu itu ke dalam kotak, lalu ke Pocket Space saat semua orang sibuk menawar dua batu lain. Bagi orang-orang itu, imperial green adalah profit. Bagi Raka, benda itu sudah punya tempat di pergelangan tangan Bibi Lestari.
Fajar menatap kotak yang tiba-tiba hilang dari tas kecil. Ia berkedip, lalu memilih tidak bertanya di depan umum.
Pak Hasan membungkuk sedikit.
"Pak Raka, izinkan saya mengenalkan pengrajin terbaik. Batu seperti itu tidak boleh jatuh ke tangan sembarang tukang."
"Saya butuh dibuat menjadi gelang. Satu. Untuk bibi saya."
Pak Hasan terdiam, lalu senyumnya berubah. Kali ini tidak sombong.
"Untuk orang tua yang membesarkan Tuan?"
"Ya."
"Kalau begitu, saya antar sendiri."
Di ujung pasar, seorang pria tua berpakaian sangat sederhana berdiri di dekat kios teh. Ia tidak ikut menawar. Jam di pergelangan tangannya justru yang menarik perhatian Mimpi.
[Mimpi: pengamat terdeteksi. Patek Philippe edisi langka. Nilai sosial tinggi. Niat belum terbaca.]
Raka tidak menoleh terlalu lama.
Orang seperti itu bukan pedagang biasa. Dan jika ia datang untuk melihat, berarti pertunjukan hari ini sudah mencapai mata yang lebih jauh.
Pak Hasan berkata pelan, "Tuan punya mata dewa."
Raka menatap batu hijau yang tersisa di meja.
Pak Hasan mencoba mempertahankan wibawanya setelah batu kedua terbuka. Ia berkata bahwa dua batu bagus masih bisa disebut keberuntungan, tetapi suaranya sudah tidak setegas tadi. Para pedagang tua yang biasanya mendukungnya mulai diam, karena pasar seperti itu menghormati hasil lebih dari usia. Setiap potongan hijau di meja mengurangi satu lapis kesombongan.
Pedagang muda pemilik lapak hampir menangis. Ia mengira hari itu akan menutup utang sewa, ternyata lapaknya mendadak dikerumuni pembeli. Raka memintanya tetap tenang dan tidak menaikkan harga sembarangan setelah viral. "Kalau kamu jujur hari ini, orang akan kembali besok," katanya. Nasihat itu sederhana, tetapi bagi pedagang muda yang sering diinjak senior, kalimat itu seperti modal kedua.
Ketika tawaran untuk imperial green naik, suasana berubah dari kagum menjadi lapar. Ada orang yang mendekat terlalu dekat, ada tangan yang mencoba menyentuh kotak tanpa izin. Fajar langsung masuk di antara kerumunan, tubuhnya menjadi pagar. Ia tidak mengancam, hanya menatap satu per satu sampai mereka mundur. Dari situ Raka melihat fungsi Fajar lagi: ia mencegah keributan sebelum punya kesempatan.
Pak Hasan akhirnya meminta semua orang memberi ruang. "Barang sebesar ini tidak boleh diperebutkan seperti ikan di pasar," katanya. Tadi ia mengejek Raka sebagai anak kemarin sore. Sekarang ia sendiri yang menjaga jalan Raka keluar.
"Bukan mata dewa, Pak Hasan. Saya hanya belajar melihat apa yang orang sombong lewatkan."