NovelToon NovelToon
Diusir Jadi Pembantu, Dipinang Sang Mayor

Diusir Jadi Pembantu, Dipinang Sang Mayor

Status: sedang berlangsung
Genre:Dijodohkan Orang Tua / Pengasuh / Menikahi tentara
Popularitas:131
Nilai: 5
Nama Author: Raven Ayu

Sepuluh tahun Arum jadi "calon menantu" keluarga Prasetyo. Nyatanya? Cuma pembantu tanpa gaji yang mencuci, memasak, dan menahan hinaan setiap hari.

Begitu Reyhan—putra keluarga itu—lulus dan kuliah di Jakarta, Arum langsung ditendang keluar. Alasannya satu: **"Kamu nggak sederajat lagi."**

Ia lalu dibuang ke rumah dinas Mayor Bramantyo Adiwangsa—**"Sang Macan"**, perwira berhati batu yang baru pulang terluka dari perbatasan. Konon tatapannya saja bikin prajurit menunduk. Arum pikir ia cuma akan jadi pengurus rumah biasa.

Tapi lelaki dingin yang katanya tak pernah melirik perempuan itu… malam demi malam menatapnya makin dalam.

Saat keluarga Prasetyo datang menghina, sang Mayor menendang pintu dan berdiri di depannya:
**"Di rumahku, dia orangku. Sentuh sehelai rambutnya, coba saja."**

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raven Ayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 25

Bab 25: Danbrig Turun Tangan, Pangkat Hartono Dicabut

Pintu utama aula terbuka.

Kolonel Wibowo masuk dengan dua staf di belakangnya. Semua yang masih duduk segera berdiri dan memberi hormat. Hanya Hartono yang terlambat bergerak, seolah lututnya tidak lagi mampu menahan tubuh.

"Lanjutkan dalam posisi siap," perintah Wibowo.

Ia naik ke depan tanpa pidato pembuka. Yusuf menyerahkan ringkasan perkara, sedangkan Iwan meletakkan tiga map bukti di atas meja pemeriksaan. Wibowo membaca halaman pertama, mencocokkan nomor segel, lalu meminta hasil pemeriksaan dokumen dan aliran dana.

Aula tetap hening. Tak ada yang berani mengubah kegelisahan menjadi bisik-bisik.

Hartono berdiri di antara dua petugas. Keringat mengilap di dahinya.

"Izin menjelaskan, Komandan," katanya. "Semua ini disusun untuk menjatuhkan saya. Mayor Bara punya kepentingan pribadi karena perempuan itu."

Wibowo tidak mengangkat kepala. "Kamu sudah bicara di depan satuan. Sekarang saya membaca bukti."

Ia memeriksa keterangan Adi, catatan pertemuan, dan hasil kecocokan tulisan. Lalu ia membuka map santunan Suryadi. Semakin jauh ia membaca, semakin keras garis rahangnya.

"Kapten Iwan, status barang bukti?"

"Asli dan salinan resmi sudah diamankan, Komandan. Pemilik rekening perantara berada dalam perlindungan pemeriksaan. Buku kas lama telah disegel. Tidak ada akses tunggal terhadap seluruh rangkaian."

"Hak terperiksa?"

"Akan diberikan sesuai proses. Pendampingan dan kesempatan menjawab dicatat."

Wibowo menutup map. "Mayor Bara, apakah kamu mengarahkan saksi untuk membuat keterangan tertentu?"

"Tidak, Komandan. Saya hanya meminta saksi menyebut yang ia lihat dan tidak menjawab hal yang tidak ia ketahui."

"Saudari Arum, apakah kamu diminta berbohong tentang perjodohanmu?"

Arum berdiri di sisi Persit. "Tidak, Komandan. Saya memang tidak pernah menyetujuinya."

"Duduk."

Wibowo kembali menatap Hartono. "Kamu mendengar sendiri. Perempuan dewasa menyatakan pilihannya. Namun, kamu mengubah penolakannya menjadi tuduhan moral terhadap perwira yang melindunginya. Kamu memakai juru tulis bawahan, menjanjikan keuntungan untuk keluarganya, lalu menyembunyikan tanganmu di balik surat anonim."

"Saya hanya khawatir pada nama baik keluarga."

"Nama baik tidak dibela dengan pemalsuan."

Satu kalimat itu memotong semua alasan.

Wibowo mengangkat map santunan. "Yang lebih berat, ditemukan bukti bahwa saat menjadi pendamping ahli waris, kamu memiliki akses terhadap santunan gugur mendiang Letda Suryadi Wijaya. Dana itu dipecah, dialihkan, dan tidak dipertanggungjawabkan kepada anak yang berhak."

Seorang prajurit di barisan depan mengepalkan tangan. Para anggota Persit menahan napas.

"Keluarga prajurit gugur bukan celah yang boleh dipakai untuk memperkaya diri," lanjut Wibowo. "Satuan berdiri karena prajurit percaya bahwa jika mereka tidak pulang, keluarga mereka tidak akan ditinggalkan. Kamu merusak kepercayaan itu."

Hartono menggeleng cepat. "Saya tidak mengambil semuanya. Ada biaya mengurus Arum. Kami memberinya rumah dan makan."

Arum seperti ditampar oleh kalimat itu.

Delapan tahun bekerja sebelum matahari terbit, mencuci pakaian, membersihkan lantai, menerima sisa makanan, dan tidur dengan rasa takut ternyata masih disebut biaya mengurusnya.

Ia berdiri sebelum Bu Yanti sempat menahan.

"Kalau saya dibiayai dari uang ayah saya sendiri," katanya, suaranya bergetar tetapi jelas, "mengapa setiap hari saya disebut anak yang hidup dari belas kasihan keluarga Bapak?"

Hartono terdiam.

"Mengapa saya tidak pernah diberi tahu ada santunan? Mengapa saya bekerja tanpa upah dan tetap dikatakan berutang?"

Tak satu pun jawaban keluar.

Arum duduk kembali dengan air mata di pipi. Bu Yanti memeluk bahunya. Bara tidak menoleh dari Hartono, tetapi tangan di samping tubuhnya mengepal keras.

Wibowo memberi isyarat kepada staf. Sebuah map keputusan administratif awal dan perintah penahanan diserahkan kepadanya.

"Berdasarkan hasil pemeriksaan pendahuluan, pengamanan bukti, dan pelanggaran berat terhadap kehormatan dinas, proses Pemberhentian Dengan Tidak Hormat terhadap Kapten Hartono Prasetyo dinyatakan berlaku melalui keputusan komando yang telah disiapkan. Pelaksanaan administratif mengikuti ketentuan, sedangkan perkara pidana diteruskan kepada Denpom dan pengadilan militer."

Aula membeku.

Hartono menatap kosong. "Tidak... Komandan, saya sudah puluhan tahun berdinas."

"Justru karena itu kamu tahu arti seragam yang kamu pakai."

Wibowo memberi perintah, "Lepaskan tanda pangkatnya."

Kapten Iwan maju bersama satu petugas. Hartono mundur, tetapi lengannya sudah ditahan. Iwan tidak merobek atau menghina seragam itu. Ia membuka tanda pangkat sesuai perintah, lalu meletakkannya di atas baki barang sitaan.

Bunyi logam kecil menyentuh baki terdengar sampai barisan belakang.

Hartono memandang bahunya yang kosong. Kesombongan yang bertahun-tahun membuatnya berdiri lebih tinggi daripada Arum runtuh dalam satu tarikan napas.

"Ini jebakan!" teriaknya. "Bara merencanakan semuanya karena ingin mengambil anak itu!"

Bara melangkah satu kali ke depan. "Arum bukan barang yang bisa kuambil atau kamu simpan. Dia orang dewasa yang memilih pergi dari rumahmu."

"Kamu akan menyesal!"

"Yang akan menilaimu bukan aku. Bukti dan pengadilan yang akan melakukannya."

Iwan memasang borgol sesuai prosedur penahanan. Ia membacakan alasan pengamanan, hak untuk didampingi, dan kewajiban mengikuti pemeriksaan. Tidak ada pukulan, tidak ada penghinaan tambahan. Kehancuran Hartono datang dari dokumen yang ia buat sendiri.

Ketika dibawa menuju pintu samping, suara perempuan menjerit dari luar aula.

Bu Yatmi berhasil menerobos barisan penjaga sampai teras. "Pak! Hartono! Mereka tidak boleh membawa suami saya!"

Ia mencoba masuk, tetapi petugas perempuan dari pengurus Persit dan penjaga menghentikannya. Wibowo memerintahkan agar ia tidak diperlakukan kasar.

"Bu, silakan menunggu informasi resmi," kata petugas. "Jangan menghalangi proses."

Yatmi melihat bahu suaminya yang kosong dan borgol di pergelangan. Tangisnya berubah menjadi umpatan.

"Semua karena kamu, Arum! Kami membesarkanmu!"

Arum berdiri di dalam aula. Wajahnya basah, namun kali ini ia tidak menunduk.

"Ayah saya yang membiayai hidup saya," jawabnya. "Dan saya membayar rumah Ibu dengan delapan tahun kerja."

Bu Yatmi terdiam sekejap. Petugas kemudian membawanya menjauh dari jalur tahanan.

Hartono digiring ke kendaraan Denpom. Pintu tertutup, mesin menyala, lalu mobil bergerak meninggalkan aula. Para prajurit mengikutinya dengan pandangan kaku. Tak ada sorak kemenangan. Yang tersisa adalah marah, malu, dan perasaan bahwa sebuah utang lama akhirnya mulai dihitung.

Wibowo kembali ke mikrofon.

"Pemeriksaan pidana belum selesai. Jangan menyebarkan dokumen, jangan menambah cerita, dan jangan mengganggu saksi. Kesatuan akan memberi informasi melalui jalur resmi."

Semua menjawab serempak, "Siap, Komandan."

Iwan kembali dari teras membawa berita acara serah terima. Ia berdiri di sisi Wibowo dan menjelaskan langkah berikutnya agar tak ada orang mengira keputusan di aula menggantikan proses hukum.

"Tersangka akan diperiksa oleh penyidik Denpom. Barang bukti dibawa dalam segel dan disaksikan petugas yang berbeda dari tim pemeriksa awal. Perkara penggelapan santunan dan pembuatan pengaduan palsu akan disusun terpisah sebelum diteruskan ke oditurat serta pengadilan militer."

Seorang perwira bekang mengangkat tangan. "Izin, Komandan. Bagaimana dengan arsip lain yang pernah ditangani Hartono?"

"Audit menyeluruh," jawab Wibowo. "Mulai hari ini, akses gudang dokumen dibatasi dua orang dan setiap pembukaan dicatat. Kalau ada keluarga prajurit lain yang dirugikan, kita temukan sebelum mereka harus datang mengemis haknya sendiri."

Jawaban itu menyapu aula seperti angin dingin. Beberapa orang yang pernah meminta bantuan Hartono tampak saling pandang. Perkara ini mungkin lebih lebar daripada satu santunan.

Yusuf menambahkan, "Tidak ada tindakan terhadap bawahan hanya karena pernah bekerja di bawah Hartono. Yang diperiksa adalah perbuatan dan bukti. Siapa pun yang mengetahui pemindahan dokumen atau uang, lapor melalui jalur perlindungan saksi."

Adi yang masih duduk dekat pintu menundukkan kepala. Ketegangan di bahunya sedikit turun. Perintah itu berarti ia tidak akan dibiarkan sendirian menghadapi kemarahan orang yang baru saja dijatuhkannya.

Arum mendengar semua itu dengan perasaan campur aduk. Di satu sisi, setiap penjelasan membuatnya yakin perkara ayahnya tidak akan dikubur lagi. Di sisi lain, angka-angka yang tadi tampil di layar terus berubah menjadi gambaran hidupnya sendiri: sepasang sandal yang tak pernah diganti, makanan yang harus ditunggu sampai orang lain selesai, demam yang dianggap alasan untuk malas.

Kalau hak itu sampai kepadanya, mungkin hidupnya tetap tidak mewah. Namun, ia tidak akan tumbuh dengan keyakinan bahwa keberadaannya adalah utang.

"Ada satu hal lagi."

Wibowo mengangkat berkas Suryadi, tetapi tidak membacanya. Tatapannya bergerak ke deret Persit dan berhenti pada Arum.

"Tadi kita mendengar santunan seorang prajurit gugur dirampas dari ahli waris. Siapa ahli waris itu dan bagaimana negara mengembalikan haknya akan diperiksa sampai tuntas."

Arum merasakan selendang ayahnya di dalam tas. Ia belum memahami mengapa Danbrig menatapnya begitu lama, seolah ada sesuatu yang lebih besar daripada uang yang hilang.

Setelah apel dinyatakan selesai, orang-orang berdiri tetapi tidak segera keluar. Bu Yanti membantu Arum bangkit. Bara baru mendekat setelah memastikan Iwan menyelesaikan serah terima tahanan.

"Kamu kuat?" tanyanya.

Arum mengangguk, lalu menggeleng. "Saya tidak tahu."

"Tidak perlu tahu sekarang."

Ia tidak mengusap air mata Arum di depan semua orang. Ia hanya berdiri di sisinya, cukup dekat untuk menjadi sandaran jika lutut perempuan itu menyerah.

Wibowo turun dari panggung dan berhenti di hadapan mereka.

"Saudari Arum," katanya, lebih rendah, "kasus ini belum selesai. Yang dicuri darimu bukan hanya uang."

Arum menatapnya dengan mata sembap.

Wibowo tidak menjelaskan lagi. Ia menyerahkan berkas kepada Yusuf dan memerintahkan pemeriksaan arsip keluarga Suryadi dilakukan menyeluruh.

"Temukan akta, catatan gugur, penerima manfaat yang sah, dan seluruh surat perwalian," katanya. "Jangan hanya kembalikan nominal. Kembalikan nama baik keluarga prajurit itu."

Yusuf memberi hormat. "Siap, Komandan."

Bara menangkap perbedaan dalam perintah tersebut. Jika hanya soal uang, audit cukup berhenti pada rekening. Wibowo meminta catatan gugur dan akta keluarga, seolah ada bagian dari riwayat Suryadi yang selama ini tidak pernah sampai kepada putrinya.

Arum juga mendengarnya. Jarinya masuk ke dalam tas dan menyentuh kain selendang. Sulaman inisial yang pernah ia tunjukkan kepada Bara tiba-tiba terasa seperti pintu lain yang belum terbuka.

Di belakang mereka, kursi-kursi aula masih penuh dan pintu kendaraan Denpom baru saja menelan seorang mantan perwira.

Namun, bagi Arum, pertanyaan terbesar justru baru dibuka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!