Baca dulu "CALLIE SI BOCAH GENIUS"
Pergerakannya tidak bisa ditebak. Tingkahnya sangat random seperti remaja lainnya. Namun otaknya hampir 24 jam bekerja untuk membuat senjata dan sistem, meretas, dan melakukan eksperimen. Dunia bawah dan laboratorium khusus yang diwariskan padanya dari sang Opa, membuat gadis remaja itu tumbuh menjadi sosok yang cerdik. Dia adalah Callie Noura Eleanor.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eli_wi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Selalu Ada
Hiks... Hiks...
"Onty Callie kenapa cuma tampal pipinya doang? Ndak ditembak dol dol dol aja sih," seru Kai yang tiba-tiba menangis karena Callie hanya menampar Mayang.
Oma Sesil dan Ricko sampai melongo tak percaya mendengar ucapan Kai. Mereka pikir Kai akan ketakutan setelah melihat adanya kekerasan fisik di depannya. Namun ternyata Kai malah meminta Callie untuk menembak. Sepertinya Kai sangat kagum dan ngefans dengan cara menembak Callie. Sedangkan Callie langsung menggendong Kai sambil mengusap punggungnya dengan lembut. Dia pun pemikirannya sama dengan Ricko dan Oma Sesil. Dia tak mau terlalu brutal dalam menghukum Mayang karena khawatir kondisi psikis Kai.
"Jangan pergi dari keluarga Onty Callie. Kamu ini bagi kami..."
"Kai adalah belian kelualga lobelto," sela Kai dengan bangganya.
"Apa? Keluarga Roberto?" seru Oma Sesil dan Ricko bersamaan.
"Callie, beneran kamu dari keluarga Roberto? Anak dari Tuan Ronand?" cecar Ricko yang ingin mengetahui apakah penerus dari PT Juchi Tech itu adalah anak dari Ronand.
"Bukan lah. Onty Callie itu anak..."
"Anak kodok," sela Callie yang tak ingin Kai membongkar tentang keluarganya.
Bagi Callie, dunia bisnis itu bahaya jika sampai identitas diketahui. Apalagi dia seorang perempuan yang pasti akan diremehkan dan diincar oleh lawan bisnis. Kai memberengut sebal karena ucapannya disela oleh Callie. Namun Callie tak peduli akan hal itu kemudian membawa Kai pergi. Ricko dan Oma Sesil masih shock karena ternyata mereka mengenal anggota keluarga Roberto. Saat dulu pemakaman Papa Fabio, Oma Sesil pun menghadirinya. Tapi tidak melihat Callie yang kemungkinan masih kecil.
"Tuan Ricko, kirim tagihan ganti rugi kedai es krim ini ke email perusahaan. Nanti saya akan transfer gantinya," seru Callie sebelum benar-benar pergi dari kedai tersebut. Padahal Oma Sesil dan Ricko masih mencoba menelaah ucapan Kai.
"Ricko, Oma nggak salah dengar kan? Kai mengatakan kalau dia dari keluarga Roberto. Berarti Callie pun begitu," tanya Oma Sesil yang kemudian duduk di kursi.
"Nggak salah dengar, Oma. Ricko pun juga bingung dan kaget ini. Pantas saja identitas Callie itu sangat susah dicari. Hanya nama Callie saja dan penyuka telur gulung yang Ben dapatkan. Ternyata memang bukan dari keluarga sembarangan," ucap Ricko yang tampaknya juga bingung akan berkomentar apa.
Oma Sesil memilih segera keluar dari kedai es krim itu. Rasanya begitu sesak dan membingungkan. Fakta tentang Callie yang berasal dari keluarga Roberto itu membuat Oma Sesil hampir tak bisa berkata-kata. Akan sangat susah didekati keluarga itu. Apalagi Oma Sesil pernah mendengar bahwa keluarga Roberto itu juga mempunyai organisasi mafia. Namun organisasi dunia bawah itu jarang sekali muncul.
Ricko pun memilih segera mengurus ganti rugi untuk kedai es krim itu. Namun dia takkan mengirimkan tagihan apapun pada Callie. Anggap saja itu cara dia membuktikan bahwa seorang Ricko mampu mengeluarkan uang dalam sekejap. Baginya mengeluarkan uang tersebut sangat mudah sehingga tidak membutuhkan ganti dari Callie.
"Jika memang Callie salah satu anggota keluarga Roberto, pantas saja dia bisa menjabat sebagai CEO. Walaupun kemampuannya juga patut diperhitungkan," gumam Ricko masih mencoba menggabungkan fakta yang baru didengarnya dengan beberapa kejadian.
"Membuat dan memainkan senjata, menarik. Namun akan sangat susah untuk didekati. Apalagi keluarganya pasti tidak akan mudah menerima orang baru masuk," lanjutnya sambil menghela nafasnya kasar.
Semangat, Ricko. Untuk mendapatkan berlian memang harus berusaha lebih keras. Do'a, kerja, dan usaha.
***
"Kai, lain kali nggak boleh ngomong dari keluarga Roberto lagi kalau di depan Omamu dan orang asing." ucap Callie memberi peringatan pada Kai.
Kenapa?
Callie menghela nafasnya pelan untuk mengatur detak jantungnya. Dia tak menyangka kalau Kai akan mengungkapkan identitasnya. Jika dengan teman dekat, tidak masalah. Namun ini pada Mayang yang notabene adalah orang jahat dan serakah. Pasti jika Mayang mengetahui tentang identitas Mika, dia akan langsung bersikap baik demi mendapatkan hartanya. Callie tidak mau Mika dimanfaatkan oleh seseorang. Walaupun dia tahu kalau Mika ini juga sangat pintar.
Sedangkan untuk Ricko, dia belum mau mengungkapkan identitasnya. Dia ingin membuktikan bahwa dirinya ini juga berkompeten dan mempunyai skill dalam berbisnis. Dia ingin dilihat sebagai seorang Callie, tanpa embel-embel nama besar keluarganya. Walaupun beberapa karyawan dan teman sekolahnya sudah ada yang tahu tentang identitasnya. Namun Callie sudah memperingatkan mereka agar tidak membocorkan.
"Onty khawatir ada orang jahat yang akan memanfaatkan keluarga kita melalui Onty atau Kai. Tahu kan kalau keluarga kita itu kaya raya, punya banyak perusahaan, berlian, dan dolar. Nanti mereka iri terus..."
"Sombong mamat Onty Callie ini. Tapi benal juga sih. Nanti meleka malah ili dan mau mendekati kita sebagai temannya," sela Kai dengan yakin.
"Pokoknya ingat pesan Onty ya, Kai. Jangan ngomong apapun tentang keluarga kita," ucap Callie menegaskan kembali.
"Oke. Kalau ada olang beltanya kelualganya siapa dan pekeljaannya apa, jawab saja kelualga sedelhana. Pekeljaannya pemulung gitu ya, Onty Callie. Bial dapat bantuan dali pemelintah kita. Lumayan dapat belas glatis," celoteh Kai membuat Callie menganga tak percaya.
Nggak gitu juga, Kai. Itu mah minta dikasihani,
Callie sampai menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Rasanya dia sangat frustasi berbicara dengan Kai. Bisa-bisanya mempunyai ide ingin menjadi pemulung agar mendapatkan bantuan pemerintah. Sedangkan Kai tampak tidak peduli dengan protes dari Callie. Menurutnya demi mendalami peran, lebih baik dibuat hidupnya sangat menyedihkan. Callie pun memilih pulang saja daripada bertambah stress.
"Onty, kok tadi ndak ada tembak dol dol dol. Kai kangen lho mau tembak begitu," tanya Kai tiba-tiba.
"Pelurunya habis, Kai. Onty belum ada duit buat beli pelurunya," jawab Callie dengan asal.
"Onty sudah bangklut telus jadi kismis?" tanya Kai sambil membulatkan matanya.
"Kismin bukan kismis, Kai. Astaga... Jitak bocah cilik dosa nggak sih?" seru Callie yang rasanya ingin berteriak karena kesal.
"Cuma beda satu huluf aja, Onty." ucap Kai yang tak merasa bersalah sama sekali.
"Sudah lah, nggak benar ini emang si Kai. Mana bisa seorang Callie bangkrut? Kalau pun iya, uang tinggal minta sama Papa untung." ucap Callie menyombongkan dirinya sendiri.
Sombongnya,
Kai hanya bisa menggelengkan kepalanya mendengar Callie memamerkan miliknya. Jika bukan Onty-nya, mungkin dia akan mencekik itu lehernya. Kai pun menyandarkan kepalanya pada dada Callie. Perasaannya sedikit tidak enak setelah bertemu dengan Mayang. Ada sesuatu yang mengganjal dalam pikiran dan hatinya.
"Sebenalnya anak pungut itu apa? Apa aku coba cali tahu sendili ya?" gumam Kai dengan pelan.
"Tadi juga Oma bilang anak yang dibuang. Kai anak dibuang begitu maksudnya?" lanjutnya.
Jangan khawatirkan apapun, Kai. Onty dan keluarga Roberto akan selalu ada untuk Kai,
pokoknya buat mika hamil yea thourr,, bila perlu kembar